Hikmah 3 dari Kitab Hikam

سوابق الههم لا تخرق أسوار الأقدار

“Semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”

 1. Penjelasan

Etika yang harus dilakukan dalam maqam asbab adalah percaya akan takdir Allah. Etika ini sangat urgen untuk di pegang oleh salik yang ingin selamat dari kesesatan. Karena sebesar apapun usaha salik pasti tidak akan keluar dari takdir Allah. Oleh karena itu Ibnu Atha'illah menjelaskan dengan kata hikmahnya :

“Semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”.

"Semangat" disini adalah kemauan keras yang diberikan Allah kepada manusia untuk menghadapi kehidupan mereka seperti kerja, mengajar, dan sebagainya. Kemauan atau semangat keras yang diberikan Allah kepada manusia tersebut tidak akan mampu menembus dinding takdir Allah. Ibnu Atha'illah menyerupakan Qadar (takdir Allah) dengan dinding kokoh yang membentengi suatu negara. Jika ada seorang musuh yang ingin menghancurkan dinding tersebut maka dia tidak akan berhasil. Begitu juga manusia, dia tidak akan mampu membatalkan takdir Allah dengan kemauan dan semangat kerasnya tersebut.
Intisari makna kata hikmah Ibnu Atha'illah adalah lakukanlah asbab (bekerja) sesuai kemampuanmu, namun ketahuilah bahwa asbab yang kamu kerjakan walaupun disertai kemauan keras dan efektifitas akan menjadi sirna jika berhalangan dengaan Qadla’ dan hukum Allah yang telah digariskan.

Perlu kita ketahui bahwa Qadla' dan Qadar itu memiliki arti yang berbeda. Qadla' adalah ilmu Allah pada zaman azali dengan segala sesuatu yang akan terjadi, sedangkan Qadar adalah terjadinya sesuatu hal sesuai dengan ilmu Allah pada zaman azali tadi. Kemudian Qadla' yang namanya berubah menjadi Qadar ketika telah terealisasi, ada kalanya hanya Allah-lah sebagai pemegang kendali (kehendak manusia tidak ikut andil) seperti datangnya musibah dan bencana alam. Dan ada kalanya Qadla' Qadar terjadi atas kehendak Allah tetapi manusia memiliki andil di dalamnya seperti bekerja dan beribadah. Walaupun keduanya berbeda namun keduanya termasuk dalam Qadla' dan Qadar Allah SWT. Karena kesemuanya bekerja sesuai ilmu dan penciptaan Allah. Oleh karena itu segala sesuatu yang tunduk di bawah Qadla' dan Qadar Allah tidak ada hubungannya dengan ikhtiyar (usaha) dan idltirar (keterpaksaan) manusia.

2. Dalil
1. Al-Qur’an surat al-Dzariyyat : 58
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Artinya :
58. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.

Dan juga surat Al-Ankabut : 17
...فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya :
17. ...Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.

Serta hadist Nabi :
شرح الأربعين النووية في الأحاديث الصحيحة النبوية - (ج 1 / ص 9
إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ في بَطنِ أُمِّهِ أَربعينَ يَوماً نطفة ، ثمَّ يكونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلكَ ، ثمَّ يكونُ مُضغةً مِثلَ ذلكَ ، ثمَّ يُرسلُ إليه المَلَك ، فيَنْفُخُ فيه الرُّوحَ ويُؤْمَرُ بأربَعِ كلماتٍ  بِكَتْب رِزقه وأجَلِه وعمله ، وشقيٌّ أو سَعيدٌ
Artinya :
Sesungguhnya kejadian kalian di kumpulkan dalam perut ibu selama 40 hari berupa air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging juga selama 40 hari, lalu Allah mengirim malaikat untuk meniupkan ruh dan di perintah agar menulis 4 perkara yaitu rizqinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau beruntung.

Dari ketiga dalil diatas bisa kita ketahui bahwa rizqi telah digariskan dalam ilmu Allah dan masuk dalam genggaman Qadla'-Nya. Segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali telah tergaris dalam ilmu-Nya. Adapun kesungguhan dan kerja keras kita hanyalah sebagai pelayan bagi segala sesuatu yang telah termaktub (tertulis) dalam Qadla' dan hukum Allah dan juga sebagai pelayan bagi Qadar yang realisasinya pasti sesuai dengan ilmu dan Qadla'-Nya.

2. Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 255
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Artinya :
255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Allah mensifati Dzat-Nya dengan Al-Qoyyum yang artinya Dzat yang mengurusi segala urusan untuk selama-lamanya. Jadi tidak ada satu makhluk yang bergerak atau memberi pengaruh kecuali dengan tindakan langsung dari Allah SWT.

3. Al-Qur’an surat Al-Rum : 25
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ
Artinya :
25. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

Jadi bergeraknya Afaq (cakrawala) bumi dan apa saja yang ada di dalamnya tergantung dari rahmat Allah. Perlu kita ketahui, ayat di atas menggunakan kalimah “
تقوم ” yaitu fi'il mudlari’ yang menunjukkan zaman al-istimror (selama-lamanya dan terus-menerus). Segala sesuatu yang kita lihat baik berupa gerakan maupun perubahan, besar maupun kecil tidak akan sempurna tanpa kekuasaan dan perintah Allah SWT. Lalu (dengan penetapan ini) apakah ada yang mengatur segala sesuatu selain Allah?

4. Al-Qur’an surat Al-Fatir : 41
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
Artinya :
41. Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Perhatikanlah ayat di atas, Allah memberikan redaksi dengan kalimah “
يمسك” yaitu fiil mudlari’ yang juga bermakna zaman Al-istimror. Ayat di atas menjelaskan bahwa langit dan bumi bisa teratur dari waktu ke waktu karena aturan dan hukum Allah. Seandainya satu detik saja Allah tidak mengaturnya maka segala sesuatu pasti akan hancur dan tentunya sangat jauh apabila ada makhluk atau penyebab lain yang menempati posisi Allah sebagai pelaku utama yang mengatur alam ini.

5. Al-Qur’an surat Yasin : 41
وَآَيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
Artinya :
41. Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.

Jika memang perahu yang mengarungi gelombang laut itu adalah pelaku pengangkutan yang berpotensi dan mandiri, lalu kenapa Allah menisbatkan (menyandarkan) pekerjan mengangkut manusia di atas kapal kepada Dzat-Nya sendiri, dan tidak menisbatkannya pada kapal yang lahirnya memiliki kekuatan tersendiri?.
Ayat di atas dengan jelas menjelaskan bahwa yang mengangkut kapal dan manusia di dalamnya adalah Allah. Dengan demikian sirnalah kesalah pahaman dan benarlah bahwa al-Sababiyyah al-Haqiqiyyah (penyebab haqiqi) dalam pengangkutan hanyalah Allah SWT.

3. Aplikasi


a. Contoh
1) Kehidupan masyarakat
Banyak sekali cara yang dilakukan orang demi memperoleh rizqi. Namun setelah diteliti cara-cara tersebut tidak disyari'atkan (diperbolehkan) oleh agama. Suatu ketika ada orang yang menasehatinya agar menjauhi dan tidak melakukan cara tersebut karena tidak sesuai dengan syari'at. Lalu orang tersebut malah mencacinya dengan mengatakan : Sebenarnya cara yang saya kerjakan dalam mencari rizqi itu disyari'atkan dan diperintahkan, selain itu Allah juga tidak menyukai orang-orang yang malas dan tidak mau bekerja. Orang tersebut juga kadang membantah dengan mengatakan : Saya menjalankan kata hikmah dari Ibnu 'Atha'illah. Sesungguhnya Allah telah menempatkanku pada maqam asbab, lalu kenapa saya tidak boleh bekerja dengan caraku.

Fenomena di atas hanya dapat kita tepis dengan hikmah Ibnu 'Atha'illah bahwa semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah. Ketika kita merasa bahwa diri kita berada di daerah yang dipenuhi dengan keharaman-keharaman dan kita ikut terseret untuk melakukan dosa, maka kita harus menjauhkan tangan kita dari pekerjaan dan perdagangan itu. Kita juga harus pindah tempat yang di situ tidak ada maksiat dan dosa seperti tempat pertama. Jika syaitan membisiki kita dengan berkata : Cara yang kamu kerjakan itu telah ditakdirkan oleh Allah, lalu apakah kamu akan mendapatkan ganti jika kamu tidak bekerja?. Maka kita harus menjawabnya : Dari mana argumen bahwa pekerjaan dan rutinitasku di daerah tersebut adalah sumber rizqiku yang menjadi penyebab kenikmatan dan kehidupanku?, Dan bagaimana argumen tersebut harus aku terima padahal aku akan selalu hidup sebagaimana firman Allah bahwa hanya Allah-lah yang memberi rizqi.

Kita juga harus menepis syaitan dengan jawaban : Jika memang Allah telah menakdirkan saya kaya, maka hal itu pasti akan terwujud di manapun saya pergi. Dan jika Allah menakdirkan diri saya miskin, maka hal itu juga akan terwujud walaupun saya telah bekerja keras dan pergi ke semua daerah untuk bekerja.

Sebagian orang juga terkadang berasumsi dengan mengatakan : Lalu apa gunanya bekerja jika memang hal itu tidak bisa merubah takdir Allah. Dan apa gunanya pergi ke penjuru daerah untuk mencari rizqi jika telah di gariskan Allah SWT?

Jawabannya adalah dalam bekerja kita itu berada pada salah satu posisi. Posisi pertama adalah jika bekerja itu terasa jauh dan tidak bisa mendorong semangat dan kerja keras kita. Jika kita berada dalam posisi ini, maka berarti kita berada pada maqam tajrid dan yang harus kita lakukan adalah pasrah serta menjauhi pekerjaan tadi.

Posisi kedua adalah jika bekerja itu ada di depan kita, maka kita harus menerima dan melakukannya. Tapi bukan karena bekerja itu memiliki kekuatan dan mampu melawan Qadla' dan Qadar Allah, melainkan karena Allah telah menempatkan kita pada maqam asbab dan memerintahkan kita untuk menjalankannya. Kita juga harus yakin bahwa yang menjadikan kita hidup adalah kehendak dan hukum Allah bukan pekerjaan yang kita lakukan tadi. Jadi pekerjaan yang kita tekuni hanyalah rutinitas yang telah ditempatkan dan diperintahkan oleh Allah kepada kita. Pada hakikatnya kita bisa hidup adalah dari Allah, bukan dari pekerjaan kita.

Sebagian orang Islam juga terkadang meyakini bahwa di dalam suatu perkara (seperti air, api, makanan) itu memiliki kekuatan atau potensi yang terpendam di dalamnya. Jadi dengan potensi tersebut perkara tadi bisa memberi atsar (efek) pada kita. Jika kita juga merasakan keyakinan tersebut, maka kita harus ingat akidah keimanan kita bahwa sebenarnya Allah-lah yang memberi kekuatan pada perkara tersebut, sehingga perkara tadi bisa memberi manfaat pada kita.

Kita juga harus meyakini bahwa Allah itu satu Dzat-Nya. Maka tidak ada Tuhan dalam alam semesta ini kecuali Dia. Allah juga satu sifat-Nya, dan Allah juga satu pekerjaan-Nya, maka tidak ada satu makhluk di dunia ini yang iktu campur dalam pekerjaan Allah, karena Allah adalah satu-satunya Dzat pencipta.

Jika ada orang yang meyakini bahwa di dalam api itu ada kekuatan mambakar yang dititipkan Allah di dalamnya kemudian Allah meninggalkannya. Lalu dengan kekuatan ini api bisa membakar dengan sendirinya. Maka orang tersebut berarti menetapkan bahwa dalam suatu perkara ada kekuatan (selain kekuatan Allah) yang ikut andil dalam mengatur sesuatu. Dengan demikian orang tersebut telah menyekutukan Allah, dan keluar dari jalan yang lurus.

2) Cerita sayyidah Maryam

sesungguhnya pekerjaan yang kita lakukan hanyalah menuruti perintah dan aturan yang telah ditetapkan Allah pada semua makhluk. Kita diperintahkan untuk makan, minum dan berobat jika kita lapar, haus, dan sakit. Kita juga diperintah agar waspada pada penyakit dan musibah. Keyakinan bahwa tidak ada pelaku selain Allah harus ditancapkan dalam diri kita. Hanya Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu dan tidak ada pengaruh kecuali dari hukum-Nya. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-A'raf : 54 :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ</div>
Artinya :
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy[548]. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.


Allah memerintahkan kita untuk mengerjakan pekerjaan, di sisi lain Allah juga memerintahkan pada kita untuk meyakini bahwa semangat yang kuat tidak mampu menembus dinding-dinding takdir.

Syari’at (aturan) yang dibebankan Allah dan keyakinan yang diajarkan-Nya (pelaku hakiki hanyalah Allah) teraplikasikan dalam khitabNya kepada Sayyidah Maryam ketika bersandar pada pohon kurma dalam keadaan hamil. Allah berfirman di dalam surat Maryam : 25 :
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
Artinya :
25. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,


Pohon yang disandari Sayyidah Maryam adalah pohon kurma yang sudah tua dan tentunya tidak berbuah lagi. Namun seketika itu pula Allah menumbuhkan buah kurma yang masih segar. Tidak perlu diragukan lagi bahwa Allah sangat mampu sekali untuk menurunkan buah kurma dalam pangkuan Sayyidah Maryam tanpa harus memerintahkan Sayyidah Maryam untuk menggoyang pohon kurma tersebut. Namun Allah ingin mengajarkan aturan dan syari’at kepada manusia. Oleh karena itu Allah berfirman :
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ ...
Artinya :
"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu"

Dengan demikian kita tahu bahwa yang menciptakan kurma adalah Allah, namun Allah mengajarkan sebab demi turunnya buah kurma yaitu dengan menggoyang pohonnya.

b. Efek Edukasi

Marilah kita melihat education efec (pengaruh edukasi) dengan melakukan asbab (pekerjaaan), namun didasari keyakinan bahwa tidak ada pelaku selain Allah dan segala sesuatu pasti tunduk pada Qadar Allah, maka kita akan menemukan efek yang baik pada diri manusia serta akan membentuk jiwa dan pikiran yang sehat.

Jika usaha kita yang berada di bawah Qadla' dan Qadar Allah, telah menghasilkan cita-cita kita, maka kita akan yakin bahwa anugerah ini adalah pemberian Allah SWT dan dari sinilah kita harus banyak bersyukur dan memuji Allah SWT. Sebaliknya, jika cita-cita kita belum terwujud maka kita menyadari bahwa semuanya telah menjadi takdir Allah. Oleh karena itu kita tidak akan kebingungan dalam menghadapi kehidupan ini dan kita tidak akan mengandai-andai bahwa jika kita melakukan seperti ini niscaya tidak akan terjadi seperti ini, dan jika kita melakukan seperti apa yang dilakukan seseorang niscaya kita akan sukses seperti mereka.

Fenomena di atas telah meracuni sebagian manusia yang mengakibatkan mereka stress dan hidup dalam kesedihan. Namun seorang mukmin yang patuh pada hukum-hukum syar’i serta dilandasi keyakinan pada qadla ilahi pasti akan selamat dari musibah dan penyakit ini. Karena mereka tahu bahwa ini semua terjadi atas kehendak Allah. Dengan percaya dan ridla atas kehendakNya, maka mereka semakin tenang dan yakin bahwa kehendak Allah tersebut adalah yang terbaik bagi mereka.
Pada akhirnya kita akan tunduk dan menjalankan wasiat Nabi Muhammad SAW, yaitu :
استعن بالله ولاتعجز وان أصابك شئ فلا تقل لو أني فعلت كذا لكان كذا, فان لو تفتح عمل الش¡0;طان ولكن قل قدر الله وما شاء فعل. (رواه مسلم)
Artinya :
Mintalah pertolongan pada Allah dan janganlah lemah, jika kamu tertimpa sesuatu janganlah kamu mengatakan bahwa sendainya saya melakukan seperti ini niscaya tidak akan terjadi seperti ini, karena mengandai-andai itu akan membuka pintu sayetan. Akan tetapi katakanlah bahwa Allah telah menakdirkan seperti ini dan Allah berhak untuk melakukan apa saja yang Dia inginkan.

Kita juga harus tahu bahwa dengan adanya Qadla' dan Qadar Allah bukan berarti kita tidak memiliki ikhtiyar (usaha), karena masalah Qadla' dan Qadar itu tidak ada hubungannya dengan ada atau tidaknya usaha manusia. Inilah hal yang perlu kita perhatikan dan janganlah kita tertipu oleh asumsi sebagian manusia dalam memahami makna Qadla' dan Qadar. Dengan demikian kita akan selamat dari kesesatan dan hidup dalam penuh kehormatan dan ketenangan.

Hikmah 2 Dari Kitab Hikam

ارادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الاسباب من الشهوة الخفية,
وإرادتك الاسباب مع اقامة الله اياك في التجريد إنحطاط عن الهمة العلية


"Kamu ingin maqam tajrid padahal Allah menempatkanmu di maqam asbab itu termasuk syahwat yang samar, sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur"

1. Dalil-Dalil
Mengenai maqam tajrid, terdapat dalam firmannya (dalam surat Al_Muzammil ayat 1-4) :


يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ . قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا . نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا . أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا .


Artinya :
1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Mengenai maqam asbab, terdapat dalam firmannya (dalam surat al-Furqan ayat 20) :
بعضكم لبعض فتنة اتصبرون وكان ربك بصيرا وجعلنا
Artinya :
20. dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.


2. Penjelasan
a. Maqam Tajrid
Maqam Tajrid adalah dirimu jauh untuk melaksanakan asbab (berinteraksi dengan manusia lain/bekerja) karena posisi dan kondisi mu itu menuntut untuk meninggalkannya.atau bisa di istilahkan Hablun min Allah.

Ciri-cirinya adalah dirimu sudah ada yang menjamin dalam masalah rizqi, sehingga dengan mudah engkau dapat menghindar ke akhirat.


b. Maqam Asbab
adalah selalu di kuasai oleh asbab(cara-cara interaksi dengan sesama), maksudnya di manapun ia bergerak, ia tidak bisa menghindar dari asbab tersebut.atau bisa di istilahkan dengan Hablun min an-nas.

Ciri-cirinya adalah dirimu adalah punya tanggung jawab terhadap kehidupan orang lain, sehingga harus memikirkan keberlangsungan kehidupan mereka.

Bagian pertama dari hikmah ini


إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من الشهوة الخفية...



Artinya:
sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur"

Oleh karena itu, yang dituntut oleh Allah SWT pada hambanya adalah melaksanakan segenap perintah-Nya dan meniggalkan segala larangan-Nya dengan memandang posisi dirinya, artinya tidak layak baginya untuk menjalankan asbab dan meninggalkannya dengan sesuka hati, tanpa memikir dan mengangan-angan posisi sebenarnya dirinya, begitu juga sebaliknya.

Untuk lebih jelasnya, akan kami paparkan beberapa contoh padamu. Ada seseorang yang bertanggung jawab keluarga, istri, dan anak-anak. Jadi dia diposisikan agar mencari dan bersusah payah dengan rizqi. Bayangkan, seandainya ia berkata pada dirinya sendiri : "Aku tidak butuh ke pasar, karena aku telah yakin semua rizqi itu telah ditentukan oleh Allah SWT". Kemudian orang itu benar-benar pasrah dan tidak berupaya untuk memperoleh rizqi.

Kami katakan padanya : engkau harus tahu situai dan posisi apa yang sedang Allah SWT tempatkan padamu. Ingatlah sekarang Allah sedang memposisikan dirimu di maqam asbab. Buktinya ia bebankan padamu tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Apabila kau berpaling dari posisi ini, ingat engkau sedang melakukakan ta'at secara lahiriyyah, tetapi sebenarnya kau mengikuti hawa nafsumu, agar kelihatan zuhud dan sufi di mata orang lain. Dan ini adalah kesalahan besar dan bahaya dalam syari'at agama Islam. Adapun metode dan sistem semestinya engkau harus tahu apabila Allah menjadikan dirimu pemimpin keluarga berarti artinya Dia telah memberikan tanggung jawab urusan keluarga padamu. Artinya engkau tidak bisa bermuamalah dengan Allah atas dasar keadaan dirimu sendiri saja, tapi kamu perlu memperhatikan kahidupan istri-istri dan anak-anakmu. Dengan kata lain, apabila engkau menyangka dirimu telah percaya penuh dengan pembagian Allah SWT sehingga kau konsen penuh untuk beribadah dan meninggalkan dunia, lalu kenapa engkau paksa istri dan anakmu untuk menjalankan kepercayaan itu? Dan untuk menjalankan zuhud yang kau inginkan itu?

Katakan pada orang ini : "Allah SWT telah menempatkan di antara dua piringan timbangan syari'atNya. Firman Allah SWT :


وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ . أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ . وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ.



Artinya :
7. Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).
8. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.
9. Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Ingatlah! hidup ini untuk keluargamu bukan untuk dirimu sendiri, dan yang dapat mengatur perjalanan agamamu adalah ketentuan syari'at-Nya. Sementara syara' menyuruhmu untuk mempersiapkan-semampumu- kehidupan yang layak bagi keluargamu, dan untuk mendidik putra-putrimu lahir dan batin dengan didikan yang baik lagi sempurna. Apabila engkau berpaling dari asbab ini, itu artinya kau telah berbuat buruk dan su'ul-adab kepada allah SWT. Karena kau telah berpaling dari aturan-aturan(SunnatuLlah) yang semestinya. Allah SWT berfirman padamu : metode untuk menjaga keluargamu itu harus menjalankan asbab. Bila kau berkata : "tidak mau. Karena aku ingin murni bersimpuh di hadapanmu, maka Allah berfirman : "Tinggalkan keinginanmu dan lakukan apa yang aku katakana padamu, keluarlah ke pasar, bekerjalah, berdagang dan lakukanlah sesuatu yang membuka jalan rizqimu!.

Dan ingatlah! mematuhi perintah-perintah ini adalah ibadah bagimu, itu adalah tasbih dan tahmidmu.

Yang perlu di perhatikan, ta'at dan ibadah itu tidak tertentu hanya pada amalan-amalan khusus saja, lalu bila tidak melakukan amalan-amalan itu ia di sebut materialistis (bersifat duniawi).

Tapi semua amal kebaikan itu ibadah, apabila ada niat dan tujuan Allah SWT tergantung situasi dan kondisi. Sebagaimana hikmah Ibnu 'Atha'illah :


تنوعت اجناس الأعمال بتنوع واردات الاحوال



Artinya :
"Amal itu bermacam-macam sesuai keadaan manusia"

Oleh karena itu, amal shalih bagi orang yang tidak ada hubungan dengan masyarakat dan jauh dari tanggung jawab(seperti santri) itu adalah ibadah yang kembali pada dirinya seperti sholat, puasa, dzikir dan lain-lain. Adapun ibadah orang yang mempunyai tanggung jawab dalam keluarga politik atau masyarakat, maka amal shalih baginya adalah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan semestinya, begitu juga bagi penjaga benteng pertahanan, amal shalih untuknya adalah ikhlas dan benar-benar memperhatikan musuh yang ada di sekelilingnya, begitulah seterusnya. Disini perlu di ingat, bahwa ada ibadah-ibadah yang wajib di laksanakan oleh semua golongan dengan tanpa memandang situasi dan kondisi tertentu, yaitu ibadah-ibadah yang pokok, misalnya shalat fardlu, puasa, ibadah haji serta dzikir-dzikir yang pokok.
Bagian kedua dari hikmah ini


...وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية



Artinya :
"…Sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur."

Penjelasan
Ada sebagian orang yang sudah tidak memerlukan lagi mencari rizki karena dia tidak mengurusi keluarga dan orang lain dan sudah di anugrahi Allah kecukupan rizki, maka dia harus menggunakan waktunya untuk mencari ilmu, ibadah dan dzikir (mengingat Allah).disini Ibnu Athoillah menyarankan untuk tidak terjun masalah duniawi karena itu akan menurunkannya dari cita-cita luhur


Artinya: Apabila engkau ingin bermalas-malasan karena telah percaya pada hartamu, lalu kamu hanya makan, minum dan tidur sampai kamu mati, ini artinya kahidupanmu seperti hewan. Adapun jika kamu ingin mempelajari agama-Nya dimana karena kamu telah kecukupan dalam segi materi, maka inilah metode terbaik dan paling tepat bagi orang yang memiliki cita-cita luhur. Itu di karenakan ketika Allah SWT menjauhkan dirimu dari tanggung jawab, itu berarti Allah menempatkan dirimu pada maqam tajrid. Maka konsenterasikan fikiranmu untuk mempelajari agama dan syari'at-Nya atau kau berada di antara berisan pasukan perang demi membela agama-Ny, apabila itu memungkinkan.

Apabila orang ini berkata : "Tapi bekerja kan juga ibadah, sesuai dengan firman Allah SWT ……dan sabda Rasul…. ?".
maka ketahuilah! bahwa gejolak jiwa yang menggodanya ini adalah rayuan syaitan dan itu hanyalah penurunan dari derajat yang tinggi sebagaimana pernyataan Ibnu 'Atha'illah.

Jika perkataan ini benar perintah ketuhanan, itu berarti kita akan menyalahkan perbuatan para santri-santri yang mondok diberbagai pondok. Yaitu para pemuda yang di tempatkan Allah pada maqam tajrid dan bebas dari beban asbab lalu mendarmakan hidupnya untuk mempelajari agama Islam dan hukum-hukumnya. Para pemuda-pemuda ini selama belum memiliki beban tanggung jawab keluarga atau masyarakat, dan mereka masih tetap dan semangat belajar ilmu-ilmu agama Islam, maka kita menganggap mereka adalah orang-orang besar dan orang-orang yang lebih di antara manusia,kita mengharap turunnya rahmat Allah bertawassul dengan mereka.

Dari sini kami dapat menyimpulkan bahwa syara' itulah yang menjadi barometer seorang apakah dia ada di maqam tajrid atau asbab?. Apabila sampai melewati ketentuan-ketentua syari'at demi mengikuti keinginan dan kesukaan hatinya, maka akan terjebak dalam kondisi yang disebut syahwat yang samar(الشهوة الخفية), atau turun dari cita-cita tinggi(انحطاط عن الهمة العلية).


3.Contoh-Contoh
Akan saya paparkan beberapa contoh untuk memudahkan mengaplikasikan peraturan-peraturan syari'at :

a.Contoh Pertama
Sekelompok orang bersiap-siap untuk haji, sebagian ada yang terbebas dari tanggung jawab dan berkonsentrasi untuk melaksanakan ibadah dan ta'at. Dan sebagian lain ada yang menjadi dokter yang bertanggung jawab untuk menangani serta mengobati para jamaah haji. Maka orang pertama berada pada maqam yang di sebut Ibnu 'Atha'illah dengan maqam tajrid dan dia di tuntut untuk memperbanyak ibadah, dzikir-dzikir atau banyak-banyak melakukan shalat sunnah. Sedangkan orang nomer dua ada pada maqam yang di sebut maqam asbab, dan dia dituntut untuk mengurusi asbab, Jadi para dokter-dokter itu di suruh untuk memperhatikan kesehatan para pasien yang sedang menjalankan ibadah haji itu.

b. Contoh Kedua
Ada pemuda yang di perintah oleh ayahnya : "Aku akan mengurusi dan memenuhi segala keperluanmu, yang aku kehendaki kamu Cuma konsentrasi mempelajari kitab Allah dan syari'at-Nya!"
Maka santri ini oleh Allah SWT telah di tempatkan di maqam tajrid. Oleh karena itu dia dituntut untuk melakukan hal yang sesuai dengan maqamnya, yaitu mempelajari al-Quran dan ilmu syri'at.

Orang seperti ini tidak boleh dikataan : "Syara' memerintahmu untuk mencari rizqi dan mencegah untuk melakukan pengangguran". karena yang diperintahkan syara' untuk pergi ke pasar dan mencari rizqi itu adalah orang-orang yang tidak memiliki tanggung jawab seperti orang tua dan para pejabat. Adapun orang yang telah di beri Allah SWT kebutuhan rizqi, seperti santri maka di dia syari'atkan tidak mencari rizqi. Yang di larang Syara' adalah jadi pengangguran padhal santri bukan menganggur tetapi waktunya di alihkan dari maqam asbab(cari rizki) ke maqam tajrid (mempelajari agama).

c. Contoh Ketiga
Seseorang yang bekerja di sebuah toko, dia mengetahui jika dia bekarja dari jam 07.00 pagi sampai jam 17.00 sore, maka dia akan mendapatkan uang yang cukup. Maka syara' akan berkata kepadanya : "Allah SWT telah menempatkan dirimu dari jam 07.00 pagi-jam17.00 sore di maqam asbab dan kamu wajib bekerja dengan keras. Adapun sebelum dan sesudah waktu tersebut, Allah menepatkan dirimu pada maqam tajrid. Oleh karena itu kamu harus menggunakan waktu untuk mendalami pengetahuan tentang Islam dan beribadah.


d. Contoh keempat
Seseorang yang sedang berada di Amerika untuk belajar, setelah itu dia berkeinginan mendapatkan harta dan kehidupan baik. Kemudian dia menetap bersama keluarganya dan mencari pekerjaan disana. Apakah yang demikian itu sesuai dengan tuntunan syari'at?
Realitalah yang akan menjawabnya.realita yang ada mengatakan bahwa orang yang hidup di Amerika dan Eropa bersama anak-anak dan keluarganya rusak moralnya karena lingkungan di Amerika dan Eropa yang bebas dalam pergaulan. Oleh karena itu semestinya orang tersebut sedang menjalankan maqam tajrid bukan maqam asbab, buktinya jika orang tersebut masih mencari harta di Amerika, maka anak-anaknya akan terjerumus pada pemikiran-pemikiran yang tidak Islami. Inilah yang di sebut Ibnu 'Atha'illah :


...وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية



Artinya :
"…Sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur."
Amal Ibadah
Hikmah 1 Dari Kitab Hikam
من علامات الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

"Termasuk tanda berpegang pada amal adalah kurang mengharapkan ampunan Allah SWT ketika berbuat kesalahan"


1. Penjelasan

Berpegang pada amal (mengandalkan amal) adalah suatu hal yang tercela. Ibnu Atha’illah menasehati kita : “Takutlah kamu berpegang pada amal seperti shalat, puasa, shadaqah, dan lain-lain untuk mencapai ridla Allah SWT dan memperoleh balasan yang Allah SWT janjikan. Tetapi berpeganglah pada pemberian Allah dan anugrah-Nya.

Al-Allamah Burhanuddin Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan Al-Laqqoni di dalam kitab Jauharotul Al- Tauhid :



فإن يثبنا فبمحض الفضل¯وان يعذب فبمحض العدل

Artinya :
Apabila Allah memberi pahala kepada kita maka itu adalah murni dari anugrah-Nya, dan bila Allah menyiksa kita maka itu adala murni keadilan-Nya.

Ini adalah salah satu konsep aqidah yang harus dimiliki oleh setiap muslim sebagaimana aqidah ulama-ulama salaf.



Terkadang ada orang yang berkata, secara lahir pahala yang berhak dimiliki seseorang adalah karena amal shaleh yang dia lakukan. Namun ketika kita mau berfikir dan merenung tentang hubungan antara hamba dan Tuhannya, maka kita akan mengerti bahwa apa yang diucapkan oleh orang tersebut adalah salah.


Kesalahan tersebut muncul ketika dia mengatakan bahwa surga bisa diperoleh dengan amal ibadah. Maka maknanya, Allah telah menentukan harga surga bukan dengan dinar atau dirham, melainkan dengan taat beribadah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan konsekwensinya ketika dia telah menyerahkan ibadah sebagai harga, maka dia telah memiliki surga dan berhak mengeluarkan penjualnya (Allah) seperti halnya hubungan antara penjual dan pembeli.

Tentunya ini adalah kesalahan yang sangat fatal sekali. Ingatlah ketika Allah SWT memerintah kita untuk beribadah dan melarang dari maksiat serta memberi taufiq dan hidayah kepada kita sehingga kita bisa beribadah. Siapakah Dzat yang telah memberi kita kekuatan untuk shalat dan puasa? Siapakah Dzat yang telah memberikan kelapangan dada untuk beriman?. Jawabannya tidak lain adalah hanya Allah SWT semata.

2. Dalil
a. Firman Allah dalam surat Al-Hujurat : 17 :

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [الحجرات/17
Artinya :

Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuk kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Hujurat : 17)

Jadi sangat tidak pantas sekali ketika seseorang mengatakan bahwa ibadah adalah harga untuk membeli surga Allah SWT.

Oleh karena itu, jangan sampai terbesit sedikit pun dalam hati kita bahwa kita berhak memperoleh surga dan pahala sebab telah melakukan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah SWT dan telah menjauhi larangan-larangan-Nya, karena bila kita meyakini hal tersebut, maka itu merupakan salah satu bentuk dari kemusyrikan.

Hubungan antara manusia dan Tuhannya tidak bisa disamakan dengan hubungan antar sesama manusia sebab Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan manusia dan segala apa yang dia lakukan, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya.

لا حولا ولا قوّة إلا بالله

Artinya :

Tidak ada daya untuk melakukan ibadah dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali Allah.


Ketika kita memuji Allah dengan mulut kita, maka kita wajib bersyukur kepada Allah karena dia telah menggerakkan mulut untuk memuji-Nya, ketika kita melakukan shalat tahajjud, maka wajib bagi kita untuk bersyukur karena Allah telah memberikan taufiq-Nya, dan seandainya bukan karena rahmat, inayah dan hidayah-Nya, maka kita pasti masih tenggelam dalam lelap tidur.


Dari penjelasan-penjelasan di atas terkadang timbul pertanyaan mengenai makna firman Allah yang terdapat di dalam surat An-Nahl : 32


...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32

Artinya :

Masuklah kamu ke dalam surga itu di sebabkan apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl :32)

Bila dilihat dari dhahirnya, seolah-olah ayat di atas memberi kesan bahwa masuk surga itu disebabkan oleh amal seseorang, apakah memang demikian?, jawabannya adalah tidak, karena kalam tersebut hanya berasal dari satu pihak yaitu Allah SWT, bukan dari dua pihak yang sedang melakukan akad. Pertama kali Allah memberi kita taufiq sehingga kita bisa beramal shalih dan melakukan kebaikan. Setelah itu Allah SWT berfirman :



...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32

Artinya :
…Masuklah kedalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl : 32)

Maka kesimpulannya, masuk surga bukanlah sebab amal kita tetapi murni dari anugrah dan ihsan Allah SWT. Dan bila perasaan tersebut (masuk surga karena amal sholih) sulit dihilangkan, maka kita harus memahami makna ubudiyyah kepada Allah SWT dan kita juga harus ingat bahwa kita sangat butuh pada pertolongan dan inayah Allah SWT.


b. Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ra. :

لن يدخل أحدكم الجنة عمله قالوا ولا أنت يا رسول الله قال : "ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة

Artinya :

Salah satu diantara kalian amalnya tidak akan memasukkannya ke surga. Para Shahabat bertanya : Dan bukan engkau ya Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab : “Dan bukan aku, hanya saja Allah meliputi rahmat-Nya kepadaku”.


Jadi amal ibadah bukanlah harta yang bisa untuk membeli surga. Oleh karena itu yang dituntut dari seseorang yang diberi hidayah Allah SWT ketika dia mampu melakukan ibadah adalah merasa bahwa dia bisa mendapatkan ridla Allah SWT karena anugrah dan rahmat-Nya, bukan karena amal ibadah yang dia lakukan.


3. Aplikasi
a. Contoh

Sebuah perumpamaan yang bisa menggambarkan penjelasan di atas adalah kejadian sebagai berikut :
Ada seorang ayah yang ingin melatih amal kebaikan kepada anaknya. sang ayah pun berkata kepada anaknya : "Bila kamu bershadaqah kepada orang miskin, maka aku akan memberimu hadiah". Setelah itu sang ayah meletakkan sejumlah uang di dalam saku sang anak tanpa sepengetahuannya, lalu sang anak merenungkan perkataan ayahnya. Kemudian sang anak bershadaqah dengan uang tersebut kepada orang miskin. Sehingga sang ayah gembira melihat hal tersebut karena sang anak bisa melakukan kebaikan. Lalu dia pun memberi hadiah kepada anaknya.

Dari perumpamaan tersebut tidak bisa diragukan lagi bahwa uang yang di gunakan shadaqah adalah milik sang ayah. Sedangkan pemberian hadiah kepada sang anak walaupun secara dhahirnya dinamakan imbalan (jaza’), namun pada hakikatnya pemberian hadiah tersebut karena sang ayah sayang dan mendorongnya untuk melakukan amal sosial.

Diceritakan bahwa ada sebagian ulama’ ketika tidur bermimpi bertemu dengan salah satu waliyullah yang sudah wafat. Di dalam mimpinya dia bertanya kepada wali tersebut “Apa yang Allah lakukan kepadamu?”, wali tadi menjawab : ”Aku dihadapkan kepada Allah SWT dan Allah bertanya kepadaku : ”Dengan apa engkau datang kesini?”, lalu aku menjawab : “Ya Rabbi, saya adalah seorang hamba sahaya (budak), sedangkan hamba itu tidak memiliki apa-apa yang bisa diberikan. Aku datang kepada-Mu dengan penuh harapan mendapat ampunan dan rahmat-Mu”.

Jawaban yang disampaikan wali tersebut merupakan salah satu bentuk ubudiyyah yang bisa difaham dari hadist Abi Hurairah :

لن يدخل أحدكم الجنة عمله قالوا ولا أنت يا رسول الله قال : "ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة
Artinya :
Salah satu diantara kalian amalnya tidak akan memasukkannya ke surga. Para Shahabat bertanya : Dan bukan engkau ya Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab : “Dan bukan aku, hanya saja Allah memberikan rahmat-Nya kepadaku”.

Ibarat yang digunakan Rasulullah di dalam hadist di atas adalah عمله dan tidak menggunakan kata بعمله , karena seandainya Rasulullah menggunakan kalimat بعمله , maka akan bertentangan dengan ayat :

...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32



Hadist tersebut juga mengandung makna bahwa berpegang pada amal tanpa mengharapkan ampunan dan rahmat dari Allah SWT, bisa menyebabkan kerugian dan tidak akan mencapai impian-impian yang dicita-citakan. Hal ini di disebabkan Allah telah menjadikan amal yang sangat rendah dan kurang sebagai jalan untuk memperoleh ampunan dan rahmat-Nya seperti di dalam ayat :



...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32

Lihatlah ketika ada orang bershadaqah kepada fakir miskin, maka kamu akan mengetahui betapa berat rahmat Allah kepada hamba-Nya. Karena pada hakikatnya harta yang dia shadaqahkan adalah milik Allah SWT.

Di dalam surat An-Nur : 33 dijelaskan :

...وَآَتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آَتَاكُمْ... [النور/33

Artinya :
Dia berikan kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.(QS. An-Nur : 33)

Kemudian Allah mengkhitabi manusia di dalam surat Al-Baqarah :240 :

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (245

Artinya :

Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (QS. Al-Baqarah : 245)



Di dalam ayat di atas Allah menempatkan Dzat-Nya seolah-olah sebagai orang yang berhutang kepada manusia yang bershadaqah dan Allah akan memberi balasan yang berlipat atas shadaqahnya.


Bila kita menyangka bahkan yakin bahwa Allah berhutang, sehingga kita bisa menuntut pahala ketika sudah bershadaqah, maka berarti kita telah mabuk dan gila, karena kita lupa bahwa apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Allah SWT.

Terkadang timbul pertanyaan apakah ada pertentangan antara Allah memasukkan manusia dengan rahmat-Nya dan Allah memerintah manusia untuk beribadah? .



Jawabannya adalah tidak. Ibadah merupakan hak Allah yang wajib dilakukan manusia sebagai pembuktian bahwa dia adalah hamba Allah. Sedangkan surga adalah karunia Allah sebagai bukti sifat-sifat rahmat-Nya dan Allah telah memutuskan bahwa orang yang paling berhak mendapat rahmat adalah yang paling banyak melakukan kewajiban-kewajiban. Di dalam surat Al-A’raf : 156, dijelaskan :

...وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف/156

Artinya :

Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-A’raf : 156)


b. Alamat I'timad Pada Amal

Kurang percaya terhadap rahmat Allah SWT termasuk mengandalkan amal. Adapun cara menghilangkannya adalah dengan tidak mengandalkan pada suatu amal dan selalu mengharap rahmat dan ampunan Allah SWT serta takut akan siksa dan adzab-Nya ketika melakukan kesalahan. Sehingga ketika seseorang merasa tidak memiliki kekuatan untuk melakukan ibadah dan kewajiban yang sangat banyak maka akan timbul dua perasaan, yaitu perasaan mengharap ampunan dan rahmat Allah SWT dan perasaan malu dan takut di sisi Allah SWT.


Terkadang syetan akan menghasut manusia bahwa ibadah dan takut itu tidak berperan dalam memperoleh rahmat Allah sehingga tidak ada perbedaan antara melakukan ibadah dan meniggalkannya (melakukan maksiat).


Hasutan ini tidak boleh di turuti. Karena dalam ayat :

...وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف/156

ternyata Allah menggunakan kalimat لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ(Bagi orang-orang bertaqwa) Dan tidak menggunakan kalimat ِللنَّاِس (semua manusia).

Ayat ini juga mengandung dua hal yang saling talazum (bergantung dan mengisi), yaitu:

1) Seseorang harus berjalan di jalan yang benar dengan melakukan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

2) Seseorang harus mengerti bahwa surga dan pahala itu diperoleh dengan rahmat dan ampunan Allah, bukan dengan amal ibadah.


Dua hal ini juga terkandung di dalam surat Thaha : 82 :

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى (82

Artinya :
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. Thaha : 82)

Dari ayat di atas bisa difahami bahwa iman dan amal shalih adalah hal yang wajib, sedangkan pahala itu diperoleh dari ampunan dan rahmat Allah SWT.

Mungkin di dalam hati kita timbul sebuah pertanyaan : Allah telah menakut-nakuti orang yang berdosa dan berbuat maksiat dengan siksa-siksa-Nya, lalu bagaimana mungkin orang yang berbuat dosa tidak berkurang harapannya terhadap ampunan dan rahmat Allah? padahal Allah juga mensyaratkan iman dan takwa untuk memperoleh rahmat-Nya. Seperti pada surat Al-A'raf ayat 156 :

...فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ... (156

Artinya :
Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-A’raf : 156)

Jawabannya adalah orang yang berbuat maksiat harus bertaubat karena dia tidak mungkin bisa menghadap Allah dengan mengharapkan rahmat-Nya kecuali dengan bertaubat dan menyesali dosa-dosanya.

Bila dia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh maka harapan terhadap rahmat Allah akan selalu bertambah dan Allah pasti akan menerima taubatnya, Allah SWT berfirman di dalam surat At-Taubah : 104 :

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ [التوبة/104

Artinya :

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah : 104)


Demikian pula di dalam hadist qudsi di terangkan :

اذ نب عبد ذنبا فقال : اللهم اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب فقال اي رب اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب ثم عاد فأذنب فقال اي رب اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب قد غفرت لعبدي فليفعل ما شاء.(الحديث(

Artinya :

Ada seseorang melakukan dosa lalu dia berdo’a : Ya Allah ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Kemudian sang hamba kembali melakukan dosa, lalu dia berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Kemudian sang hamba kembali melakukan dosa, lalu dia berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memilik Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Sungguh aku telah mengampui hambaku, maka hendaknya dia berbuat apa yang dia mau.


Semua penjelasan diatas juga bisa difaham balik (Mafhum Mukholafah) bahwa orang yang bertambah harapannya terhadap rahmat Allah SWT ketika melakukan amal shalih, maka dia termasuk orang yang mengandalkan amalnya.


Hal tersebut bisa divisualisasikan dengan keadaan seseorang yang sudah tua yang selalu melakukan ibadah dan memperbanyaknya sampai-sampai dia merasa bahwa dengan ibadah yang banyak dia akan memperoleh pahala yang banyak dan pasti termasuk penghuni surga.


Adapun cara menjauhinya adalah dengan mengetahui bahwa hak-hak Allah SWT yang wajib dilakukan hambanya tidak bisa dipenuhi dengan banyak atau sedikitnya taat. Seandainya hak tersebut bisa dipenuhi dengan taat, maka orang yang paling utama melakukan hal tersebut adalah para Nabi dan Rasul. Tetapi tidak ada satu pun Nabi dan Rasul yang menghubungkan harapan rahmat Allah dan ampunan-Nya dengan taat dan ibadah mereka, namun mereka selalu mengharapkan ampunan Allah SWT.

Contohnya adalah Nabi Ibrahim, beliau merasa di bawah derajat orang-orang yang shalih dan selalu meminta kepada Allah agar dipertemukan dengan orang-orang yang shalih.


Di dalam Al-Qur’an di jelaskan :

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ [الشعراء/83
Artinya :
(Ibrahim berdo’a), Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih. (QS. Syu’ara’ : 83)

Dan beliau selalu mengharapkan ampunan dari Allah SWT seperti yang diterangkan di dalam surat Ibrahim : 41.

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ [إبراهيم/41
Artinya :
Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada terjadinya hisab (Hari Kiamat). (QS. Ibrahim:41)

Demikian pula Nabi Yusuf, beliau merasa jauh untuk sampai pada derajat shalihin dan beliau selalu meminta Allah agar dipertemukan dengan orang-orang shalih.


رَبِّ قَدْ آَتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ [يوسف/101]

Artinya :

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugrahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengerjakan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhanku) pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku dengan orang-orang shalih.(QS.Yusuf:101)

Begitu pula baginda Nabi Muhammad SAW, seperti yang dijelaskan di dalam hadist.


...ولا اتا الا ان يتغامدني الله برحمته

Jadi amal ibadah yang dilakukan manusia hanyalah bayaran yang sangat kecil akan kewajiban mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung. Maka bagaimana mungkin hal itu bisa dijadikan imbalan (ganti) untuk masuk surga?.

Seseorang setelah mengetahui dan mengerti bahwa dia adalah hamba yang di miliki Allah, maka dia wajib untuk menyembah Allah, baik akan diberi pahala atas ibadahnya atau pun tidak. Kemudian dia harus meminta surga kepada Allah dengan rahmat-Nya dan ihsan-Nya, serta meminta perlindungan dari api neraka dengan kelembutan dan ampunan-Nya.

Seandainya seseorang mengaku bahwa dia menyembah Allah karena mengharapkan surga-Nya, sekiranya jika dia tahu bahwa dia tidak akan memperoleh surga dengan amalnya, lalu dia berhenti beribadah dan tidak mempedulikan hukum (syari’at Allah), maka dia bukanlah orang yang mukmin. Karena dia telah memperlihatkan bahwa dia bukan hamba Allah, melainkan hamba surga.

Dari sini kita mengetahui betapa tingginya ajaran tauhid dalam munajat Rabi’ah Al-Adawiyyah ketika berdo’a. Beliau berdo’a : ”Ya Allah sesungguhnya aku tidak menyembah-Mu ketika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu dan takut dari neraka-Mu. Tetapi aku mengetahui bahwa Engkau adalah Tuhan yang berhak untuk disembah sehingga aku menyembah-Mu".

Sebagian orang yang dangkal pemikirannya menyangka bahwa Rabi’ah tidak membutuhkan surga yang telah dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang shalih, sehingga mereka mencela Rabi’ah. Persangkaan ini sangatlah keliru, karena di dalam munajat-munajat yang lain, Rabi’ah meminta surga dan dijauhkan dari neraka. Hanya saja Rabi’ah tidak meminta hal tersebut sebagai upah atas shalat dan ibadah-ibadahnya, melainkan beliau meminta hal tersebut karena Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Mulia. Sedangakan Rabi’ah adalah orang yang fakir dan mengharap kemurahan Allah SWT.

Ini semua adalah salah satu kunci hidup yang harus dipegang oleh setiap orang islam yakni tidak mengandalkan amal ibadahnya, tetapi yakin atas rahmat dan ampunan dari Allah SWT.
Perjalanan ini bersama rombongan dari sarang dan dan purworejo, kami ditemani beberapa kerabat dan temen-temen kami, Abah, Ibu Heny, Istri serta keleluarga dr purworejo.kh achmad halwani ibu saadah dik salik.
*selasa 24 mei 2011/ 21 jum tsani 1432
@jam 8 00 berangkat dari berjan.
@jam 11 00 dr jogja ke jakarta.
@jam 14 00 ke abu dabi.
@sampai jiddah jam 4 00.
@sampai madinah jam 1.

+catatan
@perjalanan jkt - abu dabi 8 jam.
@perjalan abu dabi - jiddah 3 jam.
@perjalanan jiddah - madinah 5 jam.
@tafawut antara indo saudi 4 jam.
@tafawut antara indo abu dabi 3 jam.

## madinah
#rabu 26-05-11/22 jum tsani 1432
@sampai hotel andalus jam 1 30 trus makan.
@sholat asar dgn dik sidqi di roudloh.

#kamis 26-05-11
#ba'da duhur ketemu dgn syeh abd salam di bab jibril.

+catatan
#syeh abd salam adalah putra DR buti yg termasuk orang soleh.
#nmr hp beliau +966551240082 menjaga took di seberang jalan makam nabi.

#jumah 27-05-2011

#jam 8 00 ziyarah sekitar madinah.
#pingin ketemu nabi

#sabtu 28-05-2011

#pingin ketemu nabi

#ahad 29-05-2011

#jam 9 30 ke musium madinah di toilet ke 2.
#jam 11 00 sowan ke syeh abd salam bersama dik salik sidqi dan mas ja'far.
#bakda solat duhur makan trus pamitan nabi.
#solat asar di bir ali.
#jam 22 00. Sampai hotel.
#jam 02 towaff sa'i tahallul.
#solat subuh di haram trus ke hotel.

#senen 30-05-2011

#magriban di sayyid ahmad sampai jam 23.00.

#selasa 31-05-2011

#ibadah ibadah.

#rabu 01-06-2011
#bakda subuh towaf.
#jam 9 00 rekaman hikam.trus ngirim email di hotel ilaf .
+catatan
#kode wifi hotel ilaf 98765432

#kamis 02-6-2011
#solat subuh di haram.
#jam 7 00 brangkat ziarah ke hudaibiyyah dgn rombongan berjan.
#jam 10 00 sampai hotel trus towaf sa'i.
#ba'da solat dhuhur trus makan .
#jam 13 30 ke sayyid abbas.
#jam 17 00 ke aziziyyah di suq jawwal.dgb rojih memprogram ta'rib(mengarabkan hp sony satio).
#jam 23 tidur di haram
#jam 2 30 towaf
+catatan
#telepon abu faruq jasim Syria(teman kuliah di damaskus).karena supir bisnya abu toriq juga orang jasim.
#harga bis 500 rs
#harga ta'rib hp 50 rs.

#jumah 03-6-2011/01-rjb-1432
#jumatan di haram trus makan.
#jam 15 00 towaf wada' trus solat asar.
#jam 17 15 brangkat ke jiddah
#jam 18 00. Berhenti setengah jam karena ada masalah dgn perjanjian bis.
#jam 00 15 sampai bandara.lalu solat.
#jam 2 00 chek in.

#sabtu 04-06-2011/02-rajab-1432
#jam 5 00 terbang.
#jam 12 00 sampai bandara bagdad.
#jam 14 00 solat jama' taqdim di bandara.
#jam 15 00 berangkat ke najf.
#jam 18 30 sampai hotel qasr abbasi najf.trus makan trus istirahat.

#ahad 05-06-2011/03-rajab-1432

#jam 7 00 makan di hotel nurul abbasi.
#jam 9 00 menuju kuffah
#jam 10 00 ziyarah ke masjid kufah dan rumah sayyidina ali.
#jam 14 00 sampai hotel rosul karbalak.lalu makan.trus istirahat.
#jam 20 00 ziyarah ke sayyidina husain dan abbas. Dll.

#senen 06-06-2011/04-rajab-1432

#jam 7 00 makan di hotel ar-rosul.
#jam 9 00 berangkat ke bagdad.
#jam 11 30 sampai syeh abd qadir al jailani.
#jam 14 30 sampai hotel yamamah.lalu makan dan istirahat.
#jam 18 00 ziarah ke abu hanifah dan solat magrib disana.
#jam 20 00 sampai kadzimiyyah tuk ziarah sayyid musa al kadhim.
# jam 23 00 sampai hotel yamamah.

+ catatan
#pemeriksaan di bagdad sangat ketat sekali.
#pagi itu ada 5 tentara amerika mati.

#selasa 07-06-2011/05-rajab-1432

#jam 5 sarapan .
#jam 6 30 ke bandara.
#jam 11 00 sampai bandara karena ketatnya pemeriksaan.
#jam 13 00 terbang ke abu dabi.
#jam 16 00 waktu abu dabi sampai abu dabi.
+ catatan
#pemeriksaan mau masuk bandara sangat sangt ketat sampai ada anjing pelacaknya.



=Di jakarta
@rabu 20 april 2011

#Berangkat dari berjan jam 16 00 bersama bpk dan ibu.
#naik pesawat garuda ke jakarta jam 19.00 sampai jkt jam 20 00.
#ketemu ibu dani susilo perwakilan pak rozak travel di shafer.
#brangkat dari jakarta ke qatar jam 01 00.

*catatan
#pak rozak travel tdk profesional krn ada kesalahan info jam keberangkatan ke syria.dan belum adanya tiket dari syria ke jeddah.

=Di Dauhah

@ kamis 21 april 201y

#sampai di dauhah jam 05 30 waktu qatar.
#menunggu jam 12 50 kita gunakan tuk istirahat makan dan lihat 2 matar dauhah.
#brangkat ke damaskus 12 50.

*catatan
#tidur di musholla trus kedinginan sehingga jadi pilek.

=Di damaskus
#sampai damaskus jam 16 00.
#langsung kerumahnya zubair di mazzeh basatin.

@ jumah 22 april 2011

# jam 07 jalan jalan di sekitar rumah.ke sidy dihyah al-kalabi.cari makan.baba gonnuj, hummush dan khubuz.
#jam 10 paindah rumah ke ruknuddin dekat jami' hamu lela.
#jumatan di masjid mulla romadlon.dgn khotib dr taufiq bouty.
#jam 18 00 jalan-jalan ke abu nur dan abd ghoni nabulsi.

*catatan
#nyewa rumah satu minggu 6000 lira.atau 1 jutaan lebih sedikit.

@ sabtu 23 april  
#pagi ziyarah ke makam imam ibn malik.nabi dzulkifli.
#solat dzuhur di masjid muhyiddin.
#nerima tamu: fajar.kurdi.dan ibrahim taiwan.
#jam 19 00 solat magrib di masjid jami.
# bakda isya sowan ke syeh hisyam burhani
*catatan
#alhamdulillah dapat izin dari syeh hisyam.beliau ingin mengunjungi indonesia.

@ahad 24 april
#pagi jam 12 ke syeh mahir.syeh abdul hadi.
#ke maqbarah dahdah.
#ke masjid umawi.
#bakda asar ke syeh samir an-nas.ijazah hadits awwaliyah,mahabbah,musyabakah,musofahah.
#bakda isya ke syeh mu'taz.ijazah musalsal dimasyqiyyin.dll.


@senen 25 april
#setelas subuh, pergi ke jami' taubah.majlis sholat ala nabi.sampai jam 8.
#jam 9 ke maqam arbain sampai jam 12.makan di sana.
#bakda isya sowan ke DR taufiq

*Catatan
# Makam arbaian adalah salah satu tempat mustajabah di damaskus.tempat dibunuhnya habil oleh qabil.


@selasa 26 april
#jam 8 jalan jalan ke saedah zaenab.maqam syeh aruslan.maqam dahdah.sayyidah ruqayyah.makan budhoh(es krim arab ) dan muhallabah di RM baqdisy.
#sholat dhuhur di jami umawi.
#makan siang di mandi yaman (nasi arab) barzeh.
#qabla magrib ziyarah ke bang amir.
#bakda isyak ke rumah cak kholik

@rabu 27 april
#pagi di rumah saja.
#jam 17 00 jalan jalan ke abunur dan pasar syeh muhiddin.
*catatan
#rumah kita airnya diputus karena bocor ke rumah bawah.

@kamis 28 april
#jam 8 brangkat ke amman.
#jam 11 15 keluar dari hudud.
#jam  14 00 sampai amman.turun di abdaly.
#di jemput oleh mas himawan trus makan trus ke sekertariat hpmi.
#jam 19 00 jalan cari makan trus dapat hotel al asry di tengah tengah daerah balad.

 *catatan
# banyak penjagaan di jalan ke daraa.
#nyewa hotel dua hari 30 dinar.
#terima kasih pada mas himawan yang sangat ramah.

@jumah 29 april
#jam 9 berangkat ke ashabulah kahfi.
#jam 12 nyampai laut mat.
#jam 3 sampai muktah.
#jam 17 sampai qalah karak.
#jam 19 sampai hotel al asri
*catatan
#nyewa mobil dua hari 36 dinar.
#di katakan laut mati karena tidak ada kehidupan di situ karena kadar garamnya yg sangat tinggi.

@sabtu 30 april
#jam 9 30 chec out dr hotel lalu jalan2.
#jam 10 30 makan di suweleh.
#jam 12 00 ziarah maqam abd rohman bin auf.
#jam 1300 ke zarqah tuk naik bis.
#jam 15 00 brangkat dari zarqa ke madinah.
*catatan
#di hudud jordan ada 4 penumpang bermasalah.
#kita ada masalah dlm pembayaran pajak di hudud jordan.

=Di madinah
#jam 16 30 sampai hudud saudi.
#jam 22 00 keluar dari hudud
#jam 22 15 istiraht setengah jam.
#jam 11 00  sampai madinah.
#jam 11 15   sampai hotel al-wasl.
#langsung solat dhuhur dst.

*catatan
#di hudud hampir 6 jam.
#pemeriksaan ketat dan ada masalah dgn penumpanh arab.
#sampai hudud Saudi kita  langsung tlpn bpk ibu.
#hotelnya wasl.

@ahad@senen 1-2 mei
#ibadah sholat jamaah dan baca quran .

@selasa 3 mei
#bakda isya khatam dalail

@rabu 4 mei
#shalat subuh trus pamitan sama jeng nabi.
#jam 7 00 brangkat ke makkah.
#jam 8 00 brangkat dari bir ali ke makkah.
#jam 11 sampai makkah.
#jam 11 30 towaf sa'i dan tahallul.
#jam 14 00 sampai hotel sofwah almuhammadiyah dekat ittisolat misfalah.
# bakda isya hasyim alumni berjan ke hotel.

@kamis 5 mei
#jam 3 siang telpon indo ngaji

@jumah 6 mei
#Jumatan di haram berdesak desakan sampai sujud di bokong.

@sabtu 7 mei
#bakda isya halim dan istri dan orang purworejo datang ke hotel.

@ ahad 8 mei
#pagi jalan2 dgn halim ke hudaibiyyah dan ma'laa.
#bakda isya pertemuan di rubat dgn fas saudi.

*catatan
* FAS forum alumni sarang saudi
#ketua FAS abd rohim baslum sidoarjo

@senen 9 mei
#jam 7 30 ziarah ke toif.maqam ibnu abbas.masjid adas dan masjid kuu'.

 *catatan
#nyewa mobil ke toif 300 real.
#alhamdulillah ke toif tdk ada taftisy.
#perjanjian dgn supir taksi kalau tidak bisa ke toif cuma bayar 100 real.
#sayangnya batu bekas sikutanya nabi (al-kuu’) sudah tidak ada.

@selasa 10 mei
# tidak sarapan krn katering kita ganti.
# bakda magrib ke rusaifah sama rozak senori.
#trus ke tan'im melakukan umrah trus langsung pulang ke hotel.

@ rabu 11 mei
#sholat subuh trus towaf sa'i.
# qabl magrib ke rusaifah dgn izzudin dan muadz kakaknya ahsin syria
#ke rumah sayyid abdullah fad'aq
#ngobrol sama muhlisin trus pulang ke hotel.

*catatan
#di rumah sayyid fad'aq ada majlis roohah baca kita bukhori.
#muhlisin mengatakan siap dukung pak marzuki tuk jadi bupati jepara .
#dikasih oleh sy ahmad 400 real.

@ kamis 12 mei
# jam 11 00 syukur dari madura,halim(nganter hajar), razak,dan abd rohim ke hotel.
#jam 12 00 makan dgn razak dan abd rohim
#12 30 tawaf wadak lalu makan.
# jam 12 40 ke jiddah
# jam 18 00 terbang ke qatar
#jam  20 00 sampai qatar.
#di Qatar ketemu sama mubarak atau pak mad wonosobo.
#makan trus leyeh2 di ruang istirahat.

*catatan
#hampir tdk dapt zamzam krn ketinggal dihotel
#di bandara abd aziz kita salah jalur, mestinya lewat bandara haji dan umrah.
#kata mubarok wonosobo travel razak murah cuma 13 dan pelayanannya enak.

=perjalanan pulang

@jumah
#jam 02 00 terbang dari Dauhah ke indo.
#jam 15 00 sampai jakarta.
#jam 19 00 terbang ke jogja.
#jam 20 00 sampai jogja.
#jam 22 00 sampai berjan

Alhamdulila ala salamah.umrah maqbulah.amin
=kenalan
@jakarta
#bu dani susilo
#mbak dani pramugari mengantar bording di jkt mau ke dauhah.
@syria
#najih pati alumni mus.keponakan lek aniq.
#rofik alumni mus.
#ahmad selamet dari banten.gaide kita tuk sowan sowan ke masyayeh syam
#ahsin dan adik perempuannya ayak.yaitu muridnya dik nawal.
#zubair dan istri mbak hana.dan ali bin abd rozak srumbung magelang.
#as'ad dan
#balya' jombang.
#ahsin senori adik iparnya rohman.
#muhammad alkurdi.pengagum abah muridnya syeh rojab
#ibrahim taiwan.

@jordan
#gus reza blog agung banyuwangi.
#himawan banten tinggal di amman mahasisiwa abu nur yg tdk bisa kembali ke suriah.
#
@saudi
#abd rohim baslum
#pak jazuli cirebon kasih 100 ringgit.
#syakur madura kasih 100 real.

Hikam hikmah cobaan


HIKMAH 40 : Husnuzh Zhan
إن لم تحسن ظنك به لاجل حسن وصفه فحسن ظنك به لوجود معاملته معك فهل عودك الا حسنا وهل اسدى إليك الا مننا

"Jika kamu tidak bisa berprasangka baik kepada Allah SWT karena kebagusan sifatNya maka kamu berprasangka baiklah kepada Allah karena wujudnya perlukuanNya padamu. Bukankah Allah biasanya berbuat baik padamu? Bukankah Dia selalu memberikan padamu keanugrahan? "

Mu'min terbagi menjadi dua

Pertama: mu'min yang meyakini betul akan keindahan, kebagusan dan kasih-sayang Allah karena Allah adalah tuhan.
Orang ini adalah orang pilihan Allah.karena dia tidak memerlukan dalil dan tanda akan ke bagusan Allah.dia telah husnuddzon pada Allah dengan tanpa memandang akan kenyataan yang ada di lapangan.

Kedua: mu'min yang meyakini akan kebaikan Allah tapi setelah melihat kenyataan di lapangan bahwa Allah selalu memberikan kebaikan padanya.

Nikmat Allah
Allah telah memberikan nikmat yang tak ternilai bagi kita. Mulai kecil (dalam janin) kita sudah dijaga oleh Allah SWT. Sebagaimana dalam Al-Qur'an Surat Al-Mu'minun : 13

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13)13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Begitu juga ketika kita telah lahir, Allah memerintahkan malaikat untuk menjaga kita. Sebagaimana dalam surat Al-Ra'du ayat 11:


لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
(11)

11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Allah juga memberikan nikmat kepada kita dengan menciptakan siang dan malam. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat Al-Isra' ayat 12 :
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آَيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آَيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آَيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا (12)
12. Dan kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu kami hapuskan tanda malam dan kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu Telah kami terangkan dengan jelas.

Kalau kita menjabarkan nikmatNya maka tidak ada habisnya.Dalam surat Al-Kahfi ayat 109 Allah telah berfirman :

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
109. Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".

PERUMPAMAAN
Anak kecil selalu diberi uang dan disayang oleh orang tuanya, maka ketika disuruh, anak kecil tersebut selalu menurut karena orang tua mereka telah baik kepadanya. Kita juga telah diberi nikmat-nikmat dan kebaikan dari Allah SWT, lalu bagaimana mungkin kita tidak percaya kepadaNya.

Perintah takwiny dan perintah tasyri'i
Dalam Al-Qur'an Surat Al 'A'rof : 54 :
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (54)
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mempunyai perintah dua.
Satu: takwiny atau dalam bahasa Quran Kholq.yaitu penciptaan.
Ketika Allah mengtakan "KUN" maka terjadilah alam semesta ini.lalu Allah menjadikan alam ini mempunyai tugas sendiri-sendiri yang tidak bisa dihindari oleh alam semesta ini.
Amr takwiny ini mengenai mulai benda yang paling kecil yang tidak kasat mata sampai benda-benda besar seperti matahari rembulan dan planet-planet di atas kita.amr takwiny ini juga berlaku pada fungsi anggota badan kita.
Allah mengatakan
رينا الذي أعطى كل شيئ خلقه ثم هدى

Kedua: tasyri'i atau dalam bahasa Quran al-amr.
Yaitu undang-undang Allah untuk mengatur ciptaanNya.yaitu perintah-perintah Allah pada aqal manusia, untuk dilakukannya sesuai dengan kemampuannya tanpa ada paksaan.
Allah menciptakan undang-undang tersebut untuk memandu manusia agar menuju pada jalan yang lurus. Dalam surat Al-Maidah ayat 15-16 telah disebutkan :
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16)

15. Hai ahli kitab, Sesungguhnya Telah datang kepadamu Rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya Telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.
16. Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
Sebetulnya Allah dengan amr takwiny bisa saja menjadikan manusia seperti makhluq-makhluq yang lain, yang cuma menuruti insting dan perasaan yang ditanamkan Allah pada dirinya, tapi Allah memulyakan manusia sehingga dia di berrikan amr tasyri'i untuk dilakukan dengan baik tanpa ada pemaksaan(ikhtiyary)

PERUMPAMAAN
Hubungan antara amr takwiny dan amr tasyri'i seperti alat televisi.televisi ketika dibuat oleh pabriknya maka dia akan memberikan buku panduan sebagai penunjuk cara memakai televisi tersebut.
Televisi dalam pembahasan kita adalah alam ray ini, adapun buku panduannya adalah perintah-perintah dan larangan-larangan yang termaktub dalam quran dan hadits.
Sungguh sangat mengherankan ketika manusia di anugrahi Allah undang-undang takwiny dengan bumi yang datar udara yang segar cakrawala di atasnya yang kesemuanya itu untuk kepentingan manusia, lalu dia menaruh curiga akan undang-undang tasyri'i yang berupa perintah-perintah Allah.
walhamdulillah