ارح نفسك من التدبير فما قام به غيرك عنك لا تقم به لنفسك

Janganlah hatimu mengatur karena kamu tidak akan bisa mengurus urusan yang sudah diatur oleh Allah SWT.

Sebagian orang menyangka bahwa hikmah di atas bertentangan dengan salah satu hikmah yang pernah dikemukakan oleh Ibnu 'Athaillah.

Tetapi pada hakikatnya antara kedua hikmah tersebut tidak ada kontradiksi, bahkan keduanya adalah dua hal yang selaras dan saling melengkapi.

Bila di pandang dari pengertian dan sumbernya, maka diantara melakukan asbab dan mengatur urusan dengan hati (Sadar) terdapat perbedaan yang mencolok. Perbedaan itu adalah:

Melakukan asbab adalah suatu usaha yang dilakukan oleh anggota badan dengan sungguh-sungguh, seperti halnya orang mencari nafkah dengan cara pergi ke pasar untuk berdagang, orang mencari ilmu dengan cara belajar, orang mendatangi dokter atau pergi ke rumah sakit untuk berobat, orang manjauhi hal-hal yang bisa menimbulkan bahaya, dan lain-lain.

Sedangkan tadbir adalah suatu pekerjaan berfikir dan keadaan akal seperti seseorang merencanakan keuntungan dari dagangannya, merencanakan kesuksesannya, merencanakan kesembuhannya penyekitnya, merncanakan keselamatannya, dan lain-lain.

Didalam hal ini asbab berada pada pengawasan dan pengaturan, dan akalnya adalah kunci dari kesuksesan dan sumber pengaturannya.
Melakukan asbab sumbernya adalah anggota badan dan hal ini sangat dianjurkan dan disenangi oleh syara'.
Sedangkan tadabbur, sumbernya adalah hati dan akal. Hal ini sangat di larang dan dibenci oleh syara'.

Kedua hal ini bila dikendalikan dengan selaras maka akan mewujudkan metode kehidupan yang Islami pada pribadi seorang muslim. Dia akan pergi ke pasar untuk melakukan asbab dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Apabila ada orang mendatanginya dan bertanya; "Apa yang engkau harapkan dari pekerjaan dan kesungguhanmu ini?". Maka dia akan menjawab dengan mantap: "Ini adalah kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepadaku, aku melakukannya sesuai dengan cara yang telah ditentukan syari'at". Dan bila orang tersebut bertanya lagi: "Apa yang akan diberikan oleh Allah atas imbalan dari pekerjaanmu ini?", maka dia akan menjawab dengan tenang : "Itu semuanya sudah diatur oleh Allah SWT dan aku pasrah atas qadla'-Nya sera ridla atas semua keputusan-Nya".

Ini adalah metode kehidupan Islam yang diingatkan oleh Ibnu 'Atha'illah di dalam sebuah kalam hikmahnya yang bermakna "Melakukan asbab-asbab sesuai dengan syari'at dan pasrah terhadap keputusan dan pengaturan Allah SWT.

Metode ini sebenarnya pernah diamalkan oleh panutan kita Nabi Muhammad SAW. Kita bisa mempelajarinya dari perjalanan beliau saat hijrah dari Makkah Al-Mukarramah menuju ke Madinah Al-Munawwarah yang ditemani oleh sahabat beliau yang sangat setia yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Pada waktu hijrah, beliau melakukan asbab-asbab sehingga seolah-olah diyakini bahwa hal ini adalah sebuah syarat yang harus dilakukan untuk mencapai kesuksesan dan keselamatannya.

Nabi Muhammad SAW di dalam permulaan hijrahnya keluar dari rumah dengan sembunyi-sembunyi. Beliau meninggalkan Ali bin Abi Thalib ra. dalam keadaan tidur diranjangnya, sampai-sampai orang-orang musyrik menyangka bahwa yang tidur di ranjang adalah Rasulullah SAW, dan akhirnya mereka tidak bisa mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq menyuruh pembantunya yang bernama Amir bin Fuhairah untuk membuntuti jejak mereka berdua agar bisa menghapus bekas-bekas langkah kaki mereka berdua.

Kemudian mereka berdua sampai di gua Tsur dan bermukim di sana sampai tiga hari. Pada waktu itu beliau mengadakan akad ijarah (menyewa) dengan selaku seorang musyrik yang bisa dipercaya. Orang tersebut bernama Abdullah bin Arkqath. Dia di sana untuk menunjukkan jalan yang aman agar sampai di kota Madinah Al-Munawwarah dengan selamat. Ini semua adalah contoh-contoh melakukan asbab yang sempurna.

Di tengah-tengah persembunyian beliau di gua Tsur, tiba-tiba ada segerombolan orang-orang musyrik yang smpai di depan gua. Lubang gua pun mereka awasi dan perhatikan. Namun, di lubang gua tersebut terdapat laba-laba dan burung bersemayam di situ, sehingga mereka tidak mengintai ke dalam gua. Pada waktu itu Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat khawatir dan beliau membisikkan di telinga Nabi Muhammad SAW sembari berkata "Seandainya salah satu dari mereka melihat ke bawah telapak kakinya maka dia akan melihat kita", lalu Rasulullah SAW menjawabnya dengan tenang "Yang kamu sangka dua orang, maka Allah adalah yang ketiga". Ini adalah bentuk tawakkal dan pasrah atas qadla' dan pengaturan Allah SWT. Peristiwa ini telah di nash di dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah, ayat 40:


إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (40)
Artinya :

Jikalau kamu tidak menolomgnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (Musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang keduanya berada dalam gua (Tsur), di waktu dia berkata kepadanya "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan ketenangannya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimah Allah-lah yang tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Bijaksana.

Ketika Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra keluar dari gua Tsur dan meneruskan perjalanannya, tiba-tiba datanglah suraqah dengan menunggang kuda. Dia mengejar Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, dengan tujuan jelek yaitu ingin membunuh Nabi Muhammad karena tergiur dengan hadiah yang akan di berikan oleh orang-orang musyrik.

Saat itu Abu Bakar ra terus menoleh ke belakang dan mengkhawatirkan keadaan Rasulullah SAW yang terus melanjutkan perjalanan dengan tenang tanpa menoleh sedikitpun. Dan beliau membaca Al-Qur'an dengan tenang dan yakin atas perlindungan Allah SWT. Ini adalah contoh meninggalkan sifat mengatur (Tadabbur) dan berpegang pada pengaturan Allah SWT.

Beliau melakukan asbab-asbab dengan tenang dan sesuai dengan syari'at, karena mematuhi perintah-perintah Allah SWT, kemudian beliau melupakannya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT dan juga disertai kepercayaan yang sempurna atas kebijaksanaan, rahmat dan taufiq dari-Nya.

Jadi, ini semua bisa menjadi dalil kenabian yang menjelaskan makna hikamah yang dikemukakan oleh Ibnu 'Atha'illah yaitu: "Janganlah hatimu mengatur urusan yang sudah diatur oleh Allah SWT". Dan juga menjelaskan keselarasan hikmah ini dengan hikmah lain yang diungkapkan oleh Ibnu 'Atha'illah yang bermakna "Keinginanmu pada makam asbab adalah menuruti hawa nafsu yang samar".

Contoh lain yang menjelaskan hikamah ini adalah sebuah hikayah (cerita) tentang Ali bin Hasan ra. Diceritakan bahwa beliau adalah seorang pedagang di pasar. Beliau memiliki dagangan yang sangat banyak. Bila waktu shalat tiba maka beliau meninggalkan dagangannya dan menuju ke masjid untuk mengerjakan shalat.

Pada suatu hari ketika beliau sedang shalat di masjid tiba-tiba datang seseorang yang mengabarinya bahwa api sedang berkobar di pasar dan mulai membakar barang dagangannya, tetapi beliau tidak memperdulikan berita tersebut dan beliau terus menjalankan shalatnya dengan menghadap Allah SWT, lalu dzikir-dzikir seprti hari-hari biasa. Kemudian beliau baru menuju ke pasar dengan hati tenang dan tentram.

Lihatlah bagaimana Ali bin Hasan ra melakukan asbab, beliau bersungguh-sungguh dalam mencari nafaqah dengan cara berdagang di pasar karena hal ini termasuk salah satu tugas yang di bebankan Allah kepada hamba-hambanya.

Kemudian lihatlah bagaimana beliau menghilangkan sifat tadbir dan menyerahkan semua pengeturan kepada Allah SWT. Tatkala beliau selesai melakukan tugas yang dibebankan padanya maka beliau menghadap pada tugas yang lebih mulia yang menjadi tujuan utama Allah menciptakan manusia yaitu beribadah kepada-Nya.

Beliau tidak menoleh dan memperdulikan asbab ketika telah berpindah pada ruang lingkup makam tajrid. Bahkan beliau bertawakkal dan menyerahkan semua pengaturan dan hasil-hasil asbab kepada Allah SWT.

Pembuangan sifat tadbir ini bisa dihasilkan karena adanya kemantapan hati bahwa seseorang tidak akan bisa memberi pengaruh terhadap asbab-asbab yang dia lakukan. Dan adanya keyakinan bahwa semua peristiwa yang terjadi tidak akan berjalan kecuali sudah menjadi keputusan Allah SWT. Maka dari itu tidak ada gunanya katika seseorang bersedih atau tergoncang jiwanya sehingga dia berpaling dari Allah SWT Dzat yang memeberi rizqi dan mengatur semua hal itu.

Mungkin ada sebagian orang yang bertanya "Mengapa Ali bin Hasan ra. tidak meninggalkan ibadahnya ketika api sedang membakar pasar? dan mengapa tidak menyelamatkan dagangannya?, padahal ketika ada seseorang sedang menuju shalat kerahnya maka dia harus mempercepat shalatnya dengan melakukan hal-hal yang fardlu saja tanpa melakukan hal-hal yang sunnah di dalam shalat".

Adapun jawabannya adalah sebagai berikut, seandainya beliau menuju hal-hal yang berbau duniawi maka beliau harus menyerahkan tenaganya untuk melakukan asbab yang bisa menjaga dagangannya dan berda pada makam asbab. Padahal telah kita ketahui bahwa pada saat itu beliau sudah berpindah untuk mengerjakan hak-hak Allah yang lebih mulia dan beliau telah selesai melakukan tugasnya di maqam asbab dan beralih pada kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah SWT. Jadi tidak ada hal yang menuntut beliau utuk perpaling dari kewajiban-kewajiban tersebut ketika sedang dikerjakan lebih-lebih manghdap pada hal-hal yang bersifat duniawi setelah ditinggalkan.
سوابق الههم لا تخرق أسوار الأقدار

“Semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”
1. Penjelasan
Etika yang harus dilakukan dalam maqam asbab adalah percaya akan takdir Allah. Etika ini sangat urgen untuk di pegang oleh salik yang ingin selamat dari kesesatan. Karena sebesar apapun usaha salik pasti tidak akan keluar dari takdir Allah. Oleh karena itu Ibnu Atha'illah menjelaskan dengan kata hikmahnya :
“Semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”.

"Semangat" disini adalah kemauan keras yang diberikan Allah kepada manusia untuk menghadapi kehidupan mereka seperti kerja, mengajar, dan sebagainya. Kemauan atau semangat keras yang diberikan Allah kepada manusia tersebut tidak akan mampu menembus dinding takdir Allah. Ibnu Atha'illah menyerupakan Qadar (takdir Allah) dengan dinding kokoh yang membentengi suatu negara. Jika ada seorang musuh yang ingin menghancurkan dinding tersebut maka dia tidak akan berhasil. Begitu juga manusia, dia tidak akan mampu membatalkan takdir Allah dengan kemauan dan semangat kerasnya tersebut.
Intisari makna kata hikmah Ibnu Atha'illah adalah lakukanlah asbab (bekerja) sesuai kemampuanmu, namun ketahuilah bahwa asbab yang kamu kerjakan walaupun disertai kemauan keras dan efektifitas akan menjadi sirna jika berhalangan dengaan Qadla’ dan hukum Allah yang telah digariskan.

Perlu kita ketahui bahwa Qadla' dan Qadar itu memiliki arti yang berbeda. Qadla' adalah ilmu Allah pada zaman azali dengan segala sesuatu yang akan terjadi, sedangkan Qadar adalah terjadinya sesuatu hal sesuai dengan ilmu Allah pada zaman azali tadi. Kemudian Qadla' yang namanya berubah menjadi Qadar ketika telah terealisasi, ada kalanya hanya Allah-lah sebagai pemegang kendali (kehendak manusia tidak ikut andil) seperti datangnya musibah dan bencana alam. Dan ada kalanya Qadla' Qadar terjadi atas kehendak Allah tetapi manusia memiliki andil di dalamnya seperti bekerja dan beribadah. Walaupun keduanya berbeda namun keduanya termasuk dalam Qadla' dan Qadar Allah SWT. Karena kesemuanya bekerja sesuai ilmu dan penciptaan Allah. Oleh karena itu segala sesuatu yang tunduk di bawah Qadla' dan Qadar Allah tidak ada hubungannya dengan ikhtiyar (usaha) dan idltirar (keterpaksaan) manusia.

2. Dalil
1. Al-Qur’an surat al-Dzariyyat : 58
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Artinya :
58. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.

Dan juga surat Al-Ankabut : 17
...فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya :
17. ...Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.

Serta hadist Nabi :
شرح الأربعين النووية في الأحاديث الصحيحة النبوية - (ج 1 / ص 9)
إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ في بَطنِ أُمِّهِ أَربعينَ يَوماً نطفة ، ثمَّ يكونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلكَ ، ثمَّ يكونُ مُضغةً مِثلَ ذلكَ ، ثمَّ يُرسلُ إليه المَلَك ، فيَنْفُخُ فيه الرُّوحَ ويُؤْمَرُ بأربَعِ كلماتٍ : بِكَتْب رِزقه وأجَلِه وعمله ، وشقيٌّ أو سَعيدٌ
Artinya :
Sesungguhnya kejadian kalian di kumpulkan dalam perut ibu selama 40 hari berupa air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging juga selama 40 hari, lalu Allah mengirim malaikat untuk meniupkan ruh dan di perintah agar menulis 4 perkara yaitu rizqinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau beruntung.

Dari ketiga dalil diatas bisa kita ketahui bahwa rizqi telah digariskan dalam ilmu Allah dan masuk dalam genggaman Qadla'-Nya. Segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali telah tergaris dalam ilmu-Nya. Adapun kesungguhan dan kerja keras kita hanyalah sebagai pelayan bagi segala sesuatu yang telah termaktub (tertulis) dalam Qadla' dan hukum Allah dan juga sebagai pelayan bagi Qadar yang realisasinya pasti sesuai dengan ilmu dan Qadla'-Nya.

2. Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 255
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Artinya :
255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Allah mensifati Dzat-Nya dengan Al-Qoyyum yang artinya Dzat yang mengurusi segala urusan untuk selama-lamanya. Jadi tidak ada satu makhluk yang bergerak atau memberi pengaruh kecuali dengan tindakan langsung dari Allah SWT.

3. Al-Qur’an surat Al-Rum : 25
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ
Artinya :
25. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

Jadi bergeraknya Afaq (cakrawala) bumi dan apa saja yang ada di dalamnya tergantung dari rahmat Allah. Perlu kita ketahui, ayat di atas menggunakan kalimah “تقوم ” yaitu fi'il mudlari’ yang menunjukkan zaman al-istimror (selama-lamanya dan terus-menerus). Segala sesuatu yang kita lihat baik berupa gerakan maupun perubahan, besar maupun kecil tidak akan sempurna tanpa kekuasaan dan perintah Allah SWT. Lalu (dengan penetapan ini) apakah ada yang mengatur segala sesuatu selain Allah?

4. Al-Qur’an surat Al-Fatir : 41
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
Artinya :
41. Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Perhatikanlah ayat di atas, Allah memberikan redaksi dengan kalimah “يمسك” yaitu fiil mudlari’ yang juga bermakna zaman Al-istimror. Ayat di atas menjelaskan bahwa langit dan bumi bisa teratur dari waktu ke waktu karena aturan dan hukum Allah. Seandainya satu detik saja Allah tidak mengaturnya maka segala sesuatu pasti akan hancur dan tentunya sangat jauh apabila ada makhluk atau penyebab lain yang menempati posisi Allah sebagai pelaku utama yang mengatur alam ini.

5. Al-Qur’an surat Yasin : 41
وَآَيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
Artinya :
41. Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.

Jika memang perahu yang mengarungi gelombang laut itu adalah pelaku pengangkutan yang berpotensi dan mandiri, lalu kenapa Allah menisbatkan (menyandarkan) pekerjan mengangkut manusia di atas kapal kepada Dzat-Nya sendiri, dan tidak menisbatkannya pada kapal yang lahirnya memiliki kekuatan tersendiri?.
Ayat di atas dengan jelas menjelaskan bahwa yang mengangkut kapal dan manusia di dalamnya adalah Allah. Dengan demikian sirnalah kesalah pahaman dan benarlah bahwa al-Sababiyyah al-Haqiqiyyah (penyebab haqiqi) dalam pengangkutan hanyalah Allah SWT.

3. Aplikasi

a. Contoh
1) Kehidupan masyarakat
Banyak sekali cara yang dilakukan orang demi memperoleh rizqi. Namun setelah diteliti cara-cara tersebut tidak disyari'atkan (diperbolehkan) oleh agama. Suatu ketika ada orang yang menasehatinya agar menjauhi dan tidak melakukan cara tersebut karena tidak sesuai dengan syari'at. Lalu orang tersebut malah mencacinya dengan mengatakan : Sebenarnya cara yang saya kerjakan dalam mencari rizqi itu disyari'atkan dan diperintahkan, selain itu Allah juga tidak menyukai orang-orang yang malas dan tidak mau bekerja. Orang tersebut juga kadang membantah dengan mengatakan : Saya menjalankan kata hikmah dari Ibnu 'Atha'illah. Sesungguhnya Allah telah menempatkanku pada maqam asbab, lalu kenapa saya tidak boleh bekerja dengan caraku.

Fenomena di atas hanya dapat kita tepis dengan hikmah Ibnu 'Atha'illah bahwa semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah. Ketika kita merasa bahwa diri kita berada di daerah yang dipenuhi dengan keharaman-keharaman dan kita ikut terseret untuk melakukan dosa, maka kita harus menjauhkan tangan kita dari pekerjaan dan perdagangan itu. Kita juga harus pindah tempat yang di situ tidak ada maksiat dan dosa seperti tempat pertama. Jika syaitan membisiki kita dengan berkata : Cara yang kamu kerjakan itu telah ditakdirkan oleh Allah, lalu apakah kamu akan mendapatkan ganti jika kamu tidak bekerja?. Maka kita harus menjawabnya : Dari mana argumen bahwa pekerjaan dan rutinitasku di daerah tersebut adalah sumber rizqiku yang menjadi penyebab kenikmatan dan kehidupanku?, Dan bagaimana argumen tersebut harus aku terima padahal aku akan selalu hidup sebagaimana firman Allah bahwa hanya Allah-lah yang memberi rizqi.

Kita juga harus menepis syaitan dengan jawaban : Jika memang Allah telah menakdirkan saya kaya, maka hal itu pasti akan terwujud di manapun saya pergi. Dan jika Allah menakdirkan diri saya miskin, maka hal itu juga akan terwujud walaupun saya telah bekerja keras dan pergi ke semua daerah untuk bekerja.

Sebagian orang juga terkadang berasumsi dengan mengatakan : Lalu apa gunanya bekerja jika memang hal itu tidak bisa merubah takdir Allah. Dan apa gunanya pergi ke penjuru daerah untuk mencari rizqi jika telah di gariskan Allah SWT?

Jawabannya adalah dalam bekerja kita itu berada pada salah satu posisi. Posisi pertama adalah jika bekerja itu terasa jauh dan tidak bisa mendorong semangat dan kerja keras kita. Jika kita berada dalam posisi ini, maka berarti kita berada pada maqam tajrid dan yang harus kita lakukan adalah pasrah serta menjauhi pekerjaan tadi.

Posisi kedua adalah jika bekerja itu ada di depan kita, maka kita harus menerima dan melakukannya. Tapi bukan karena bekerja itu memiliki kekuatan dan mampu melawan Qadla' dan Qadar Allah, melainkan karena Allah telah menempatkan kita pada maqam asbab dan memerintahkan kita untuk menjalankannya. Kita juga harus yakin bahwa yang menjadikan kita hidup adalah kehendak dan hukum Allah bukan pekerjaan yang kita lakukan tadi. Jadi pekerjaan yang kita tekuni hanyalah rutinitas yang telah ditempatkan dan diperintahkan oleh Allah kepada kita. Pada hakikatnya kita bisa hidup adalah dari Allah, bukan dari pekerjaan kita.

Sebagian orang Islam juga terkadang meyakini bahwa di dalam suatu perkara (seperti air, api, makanan) itu memiliki kekuatan atau potensi yang terpendam di dalamnya. Jadi dengan potensi tersebut perkara tadi bisa memberi atsar (efek) pada kita. Jika kita juga merasakan keyakinan tersebut, maka kita harus ingat akidah keimanan kita bahwa sebenarnya Allah-lah yang memberi kekuatan pada perkara tersebut, sehingga perkara tadi bisa memberi manfaat pada kita.

Kita juga harus meyakini bahwa Allah itu satu Dzat-Nya. Maka tidak ada Tuhan dalam alam semesta ini kecuali Dia. Allah juga satu sifat-Nya, dan Allah juga satu pekerjaan-Nya, maka tidak ada satu makhluk di dunia ini yang iktu campur dalam pekerjaan Allah, karena Allah adalah satu-satunya Dzat pencipta.

Jika ada orang yang meyakini bahwa di dalam api itu ada kekuatan mambakar yang dititipkan Allah di dalamnya kemudian Allah meninggalkannya. Lalu dengan kekuatan ini api bisa membakar dengan sendirinya. Maka orang tersebut berarti menetapkan bahwa dalam suatu perkara ada kekuatan (selain kekuatan Allah) yang ikut andil dalam mengatur sesuatu. Dengan demikian orang tersebut telah menyekutukan Allah, dan keluar dari jalan yang lurus.

2) Cerita sayyidah Maryam

sesungguhnya pekerjaan yang kita lakukan hanyalah menuruti perintah dan aturan yang telah ditetapkan Allah pada semua makhluk. Kita diperintahkan untuk makan, minum dan berobat jika kita lapar, haus, dan sakit. Kita juga diperintah agar waspada pada penyakit dan musibah. Keyakinan bahwa tidak ada pelaku selain Allah harus ditancapkan dalam diri kita. Hanya Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu dan tidak ada pengaruh kecuali dari hukum-Nya. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-A'raf : 54 :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Artinya :
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy[548]. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.


Allah memerintahkan kita untuk mengerjakan pekerjaan, di sisi lain Allah juga memerintahkan pada kita untuk meyakini bahwa semangat yang kuat tidak mampu menembus dinding-dinding takdir.

Syari’at (aturan) yang dibebankan Allah dan keyakinan yang diajarkan-Nya (pelaku hakiki hanyalah Allah) teraplikasikan dalam khitabNya kepada Sayyidah Maryam ketika bersandar pada pohon kurma dalam keadaan hamil. Allah berfirman di dalam surat Maryam : 25 :
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
Artinya :
25. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,


Pohon yang disandari Sayyidah Maryam adalah pohon kurma yang sudah tua dan tentunya tidak berbuah lagi. Namun seketika itu pula Allah menumbuhkan buah kurma yang masih segar. Tidak perlu diragukan lagi bahwa Allah sangat mampu sekali untuk menurunkan buah kurma dalam pangkuan Sayyidah Maryam tanpa harus memerintahkan Sayyidah Maryam untuk menggoyang pohon kurma tersebut. Namun Allah ingin mengajarkan aturan dan syari’at kepada manusia. Oleh karena itu Allah berfirman :
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ ...
Artinya :
"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu"

Dengan demikian kita tahu bahwa yang menciptakan kurma adalah Allah, namun Allah mengajarkan sebab demi turunnya buah kurma yaitu dengan menggoyang pohonnya.

b. Efek Edukasi

Marilah kita melihat education efec (pengaruh edukasi) dengan melakukan asbab (pekerjaaan), namun didasari keyakinan bahwa tidak ada pelaku selain Allah dan segala sesuatu pasti tunduk pada Qadar Allah, maka kita akan menemukan efek yang baik pada diri manusia serta akan membentuk jiwa dan pikiran yang sehat.

Jika usaha kita yang berada di bawah Qadla' dan Qadar Allah, telah menghasilkan cita-cita kita, maka kita akan yakin bahwa anugerah ini adalah pemberian Allah SWT dan dari sinilah kita harus banyak bersyukur dan memuji Allah SWT. Sebaliknya, jika cita-cita kita belum terwujud maka kita menyadari bahwa semuanya telah menjadi takdir Allah. Oleh karena itu kita tidak akan kebingungan dalam menghadapi kehidupan ini dan kita tidak akan mengandai-andai bahwa jika kita melakukan seperti ini niscaya tidak akan terjadi seperti ini, dan jika kita melakukan seperti apa yang dilakukan seseorang niscaya kita akan sukses seperti mereka.

Fenomena di atas telah meracuni sebagian manusia yang mengakibatkan mereka stress dan hidup dalam kesedihan. Namun seorang mukmin yang patuh pada hukum-hukum syar’i serta dilandasi keyakinan pada qadla ilahi pasti akan selamat dari musibah dan penyakit ini. Karena mereka tahu bahwa ini semua terjadi atas kehendak Allah. Dengan percaya dan ridla atas kehendakNya, maka mereka semakin tenang dan yakin bahwa kehendak Allah tersebut adalah yang terbaik bagi mereka.

Pada akhirnya kita akan tunduk dan menjalankan wasiat Nabi Muhammad SAW, yaitu :
استعن بالله ولاتعجز وان أصابك شئ فلا تقل لو أني فعلت كذا لكان كذا, فان لو تفتح عمل الشيطان ولكن قل قدر الله وما شاء فعل. (رواه مسلم)
Artinya :
Mintalah pertolongan pada Allah dan janganlah lemah, jika kamu tertimpa sesuatu janganlah kamu mengatakan bahwa sendainya saya melakukan seperti ini niscaya tidak akan terjadi seperti ini, karena mengandai-andai itu akan membuka pintu sayetan. Akan tetapi katakanlah bahwa Allah telah menakdirkan seperti ini dan Allah berhak untuk melakukan apa saja yang Dia inginkan.

Kita juga harus tahu bahwa dengan adanya Qadla' dan Qadar Allah bukan berarti kita tidak memiliki ikhtiyar (usaha), karena masalah Qadla' dan Qadar itu tidak ada hubungannya dengan ada atau tidaknya usaha manusia. Inilah hal yang perlu kita perhatikan dan janganlah kita tertipu oleh asumsi sebagian manusia dalam memahami makna Qadla' dan Qadar. Dengan demikian kita akan selamat dari kesesatan dan hidup dalam penuh kehormatan dan ketenangan.
ارادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الاسباب من الشهوة الخفية,
وإرادتك الاسباب مع اقامة الله اياك في التجريد إنحطاط عن الهمة العلية

"Kamu ingin maqam tajrid padahal Allah menempatkanmu di maqam asbab itu termasuk syahwat yang samar,
sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur"

1. Dalil-Dalil
Mengenai maqam tajrid, terdapat dalam firmannya (dalam surat Al_Muzammil ayat 1-4) :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ . قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا . نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا . أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا .

Artinya :
1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Mengenai maqam asbab, terdapat dalam firmannya (dalam surat al-Furqan ayat 20) :
بعضكم لبعض فتنة اتصبرون وكان ربك بصيرا وجعلنا
Artinya :
20. dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.


2. penjelasan
a. Maqam Tajrid
Maqam Tajrid adalah dirimu jauh untuk melaksanakan asbab (berinteraksi dengan manusia lain/bekerja) karena posisi dan kondisi mu itu menuntut untuk meninggalkannya.atau bisa di istilahkan Hablun min Allah.

Ciri-cirinya adalah dirimu sudah ada yang menjamin dalam masalah rizqi, sehingga dengan mudah engkau dapat menghindar ke akhirat.

b. Maqam Asbab adalah selalu di kuasai oleh asbab(cara-cara interaksi dengan sesama), maksudnya di manapun ia bergerak, ia tidak bisa menghindar dari asbab tersebut.atau bisa di istilahkan dengan Hablun min an-nas.

Ciri-cirinya adalah dirimu adalah punya tanggung jawab terhadap kehidupan orang lain, sehingga harus memikirkan keberlangsungan kehidupan mereka.

Bagian pertama dari hikmah ini

إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من الشهوة الخفية...

Artinya:
sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur"

Oleh karena itu, yang dituntut oleh Allah SWT pada hambanya adalah melaksanakan segenap perintah-Nya dan meniggalkan segala larangan-Nya dengan memandang posisi dirinya, artinya tidak layak baginya untuk menjalankan asbab dan meninggalkannya dengan sesuka hati, tanpa memikir dan mengangan-angan posisi sebenarnya dirinya, begitu juga sebaliknya.

Untuk lebih jelasnya, akan kami paparkan beberapa contoh padamu. Ada seseorang yang bertanggung jawab keluarga, istri, dan anak-anak. Jadi dia diposisikan agar mencari dan bersusah payah dengan rizqi. Bayangkan, seandainya ia berkata pada dirinya sendiri : "Aku tidak butuh ke pasar, karena aku telah yakin semua rizqi itu telah ditentukan oleh Allah SWT". Kemudian orang itu benar-benar pasrah dan tidak berupaya untuk memperoleh rizqi.

Kami katakan padanya : engkau harus tahu situai dan posisi apa yang sedang Allah SWT tempatkan padamu. Ingatlah sekarang Allah sedang memposisikan dirimu di maqam asbab. Buktinya ia bebankan padamu tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Apabila kau berpaling dari posisi ini, ingat engkau sedang melakukakan ta'at secara lahiriyyah, tetapi sebenarnya kau mengikuti hawa nafsumu, agar kelihatan zuhud dan sufi di mata orang lain. Dan ini adalah kesalahan besar dan bahaya dalam syari'at agama Islam. Adapun metode dan sistem semestinya engkau harus tahu apabila Allah menjadikan dirimu pemimpin keluarga berarti artinya Dia telah memberikan tanggung jawab urusan keluarga padamu. Artinya engkau tidak bisa bermuamalah dengan Allah atas dasar keadaan dirimu sendiri saja, tapi kamu perlu memperhatikan kahidupan istri-istri dan anak-anakmu. Dengan kata lain, apabila engkau menyangka dirimu telah percaya penuh dengan pembagian Allah SWT sehingga kau konsen penuh untuk beribadah dan meninggalkan dunia, lalu kenapa engkau paksa istri dan anakmu untuk menjalankan kepercayaan itu? Dan untuk menjalankan zuhud yang kau inginkan itu?

Katakan pada orang ini : "Allah SWT telah menempatkan di antara dua piringan timbangan syari'atNya. Firman Allah SWT :

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ . أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ . وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ.

Artinya :
7. Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).
8. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.
9. Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Ingatlah! hidup ini untuk keluargamu bukan untuk dirimu sendiri, dan yang dapat mengatur perjalanan agamamu adalah ketentuan syari'at-Nya. Sementara syara' menyuruhmu untuk mempersiapkan-semampumu- kehidupan yang layak bagi keluargamu, dan untuk mendidik putra-putrimu lahir dan batin dengan didikan yang baik lagi sempurna. Apabila engkau berpaling dari asbab ini, itu artinya kau telah berbuat buruk dan su'ul-adab kepada allah SWT. Karena kau telah berpaling dari aturan-aturan(SunnatuLlah) yang semestinya. Allah SWT berfirman padamu : metode untuk menjaga keluargamu itu harus menjalankan asbab. Bila kau berkata : "tidak mau. Karena aku ingin murni bersimpuh di hadapanmu, maka Allah berfirman : "Tinggalkan keinginanmu dan lakukan apa yang aku katakana padamu, keluarlah ke pasar, bekerjalah, berdagang dan lakukanlah sesuatu yang membuka jalan rizqimu!.

Dan ingatlah! mematuhi perintah-perintah ini adalah ibadah bagimu, itu adalah tasbih dan tahmidmu.

Yang perlu di perhatikan, ta'at dan ibadah itu tidak tertentu hanya pada amalan-amalan khusus saja, lalu bila tidak melakukan amalan-amalan itu ia di sebut materialistis (bersifat duniawi).

Tapi semua amal kebaikan itu ibadah, apabila ada niat dan tujuan Allah SWT tergantung situasi dan kondisi. Sebagaimana hikmah Ibnu 'Atha'illah :

تنوعت اجناس الأعمال بتنوع واردات الاحوال

Artinya :
"Amal itu bermacam-macam sesuai keadaan manusia"

Oleh karena itu, amal shalih bagi orang yang tidak ada hubungan dengan masyarakat dan jauh dari tanggung jawab(seperti santri) itu adalah ibadah yang kembali pada dirinya seperti sholat, puasa, dzikir dan lain-lain. Adapun ibadah orang yang mempunyai tanggung jawab dalam keluarga politik atau masyarakat, maka amal shalih baginya adalah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan semestinya, begitu juga bagi penjaga benteng pertahanan, amal shalih untuknya adalah ikhlas dan benar-benar memperhatikan musuh yang ada di sekelilingnya, begitulah seterusnya. Disini perlu di ingat, bahwa ada ibadah-ibadah yang wajib di laksanakan oleh semua golongan dengan tanpa memandang situasi dan kondisi tertentu, yaitu ibadah-ibadah yang pokok, misalnya shalat fardlu, puasa, ibadah haji serta dzikir-dzikir yang pokok.
Bagian kedua dari hikmah ini

...وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية

Artinya :
"…Sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur."

Penjelasan
Ada sebagian orang yang sudah tidak memerlukan lagi mencari rizki karena dia tidak mengurusi keluarga dan orang lain dan sudah di anugrahi Allah kecukupan rizki, maka dia harus menggunakan waktunya untuk mencari ilmu, ibadah dan dzikir (mengingat Allah).disini Ibnu Athoillah menyarankan untuk tidak terjun masalah duniawi karena itu akan menurunkannya dari cita-cita luhur

Artinya: Apabila engkau ingin bermalas-malasan karena telah percaya pada hartamu, lalu kamu hanya makan, minum dan tidur sampai kamu mati, ini artinya kahidupanmu seperti hewan. Adapun jika kamu ingin mempelajari agama-Nya dimana karena kamu telah kecukupan dalam segi materi, maka inilah metode terbaik dan paling tepat bagi orang yang memiliki cita-cita luhur. Itu di karenakan ketika Allah SWT menjauhkan dirimu dari tanggung jawab, itu berarti Allah menempatkan dirimu pada maqam tajrid. Maka konsenterasikan fikiranmu untuk mempelajari agama dan syari'at-Nya atau kau berada di antara berisan pasukan perang demi membela agama-Ny, apabila itu memungkinkan.

Apabila orang ini berkata : "Tapi bekerja kan juga ibadah, sesuai dengan firman Allah SWT ……dan sabda Rasul…. ?".
maka ketahuilah! bahwa gejolak jiwa yang menggodanya ini adalah rayuan syaitan dan itu hanyalah penurunan dari derajat yang tinggi sebagaimana pernyataan Ibnu 'Atha'illah.

Jika perkataan ini benar perintah ketuhanan, itu berarti kita akan menyalahkan perbuatan para santri-santri yang mondok diberbagai pondok. Yaitu para pemuda yang di tempatkan Allah pada maqam tajrid dan bebas dari beban asbab lalu mendarmakan hidupnya untuk mempelajari agama Islam dan hukum-hukumnya. Para pemuda-pemuda ini selama belum memiliki beban tanggung jawab keluarga atau masyarakat, dan mereka masih tetap dan semangat belajar ilmu-ilmu agama Islam, maka kita menganggap mereka adalah orang-orang besar dan orang-orang yang lebih di antara manusia,kita mengharap turunnya rahmat Allah bertawassul dengan mereka.

Dari sini kami dapat menyimpulkan bahwa syara' itulah yang menjadi barometer seorang apakah dia ada di maqam tajrid atau asbab?. Apabila sampai melewati ketentuan-ketentua syari'at demi mengikuti keinginan dan kesukaan hatinya, maka akan terjebak dalam kondisi yang disebut syahwat yang samar(الشهوة الخفية), atau turun dari cita-cita tinggi(انحطاط عن الهمة العلية).

3. Contoh-Contoh
Akan saya paparkan beberapa contoh untuk memudahkan mengaplikasikan peraturan-peraturan syari'at :

a. Contoh Pertama
Sekelompok orang bersiap-siap untuk haji, sebagian ada yang terbebas dari tanggung jawab dan berkonsentrasi untuk melaksanakan ibadah dan ta'at. Dan sebagian lain ada yang menjadi dokter yang bertanggung jawab untuk menangani serta mengobati para jamaah haji. Maka orang pertama berada pada maqam yang di sebut Ibnu 'Atha'illah dengan maqam tajrid dan dia di tuntut untuk memperbanyak ibadah, dzikir-dzikir atau banyak-banyak melakukan shalat sunnah. Sedangkan orang nomer dua ada pada maqam yang di sebut maqam asbab, dan dia dituntut untuk mengurusi asbab, Jadi para dokter-dokter itu di suruh untuk memperhatikan kesehatan para pasien yang sedang menjalankan ibadah haji itu.

b. Contoh Kedua
Ada pemuda yang di perintah oleh ayahnya : "Aku akan mengurusi dan memenuhi segala keperluanmu, yang aku kehendaki kamu Cuma konsentrasi mempelajari kitab Allah dan syari'at-Nya!"
Maka santri ini oleh Allah SWT telah di tempatkan di maqam tajrid. Oleh karena itu dia dituntut untuk melakukan hal yang sesuai dengan maqamnya, yaitu mempelajari al-Quran dan ilmu syri'at.

Orang seperti ini tidak boleh dikataan : "Syara' memerintahmu untuk mencari rizqi dan mencegah untuk melakukan pengangguran". karena yang diperintahkan syara' untuk pergi ke pasar dan mencari rizqi itu adalah orang-orang yang tidak memiliki tanggung jawab seperti orang tua dan para pejabat. Adapun orang yang telah di beri Allah SWT kebutuhan rizqi, seperti santri maka di dia syari'atkan tidak mencari rizqi. Yang di larang Syara' adalah jadi pengangguran padhal santri bukan menganggur tetapi waktunya di alihkan dari maqam asbab(cari rizki) ke maqam tajrid (mempelajari agama).

c. Contoh Ketiga
Seseorang yang bekerja di sebuah toko, dia mengetahui jika dia bekarja dari jam 07.00 pagi sampai jam 17.00 sore, maka dia akan mendapatkan uang yang cukup. Maka syara' akan berkata kepadanya : "Allah SWT telah menempatkan dirimu dari jam 07.00 pagi-jam17.00 sore di maqam asbab dan kamu wajib bekerja dengan keras. Adapun sebelum dan sesudah waktu tersebut, Allah menepatkan dirimu pada maqam tajrid. Oleh karena itu kamu harus menggunakan waktu untuk mendalami pengetahuan tentang Islam dan beribadah.

d. Contoh keempat
Seseorang yang sedang berada di Amerika untuk belajar, setelah itu dia berkeinginan mendapatkan harta dan kehidupan baik. Kemudian dia menetap bersama keluarganya dan mencari pekerjaan disana. Apakah yang demikian itu sesuai dengan tuntunan syari'at?
Realitalah yang akan menjawabnya.realita yang ada mengatakan bahwa orang yang hidup di Amerika dan Eropa bersama anak-anak dan keluarganya rusak moralnya karena lingkungan di Amerika dan Eropa yang bebas dalam pergaulan. Oleh karena itu semestinya orang tersebut sedang menjalankan maqam tajrid bukan maqam asbab, buktinya jika orang tersebut masih mencari harta di Amerika, maka anak-anaknya akan terjerumus pada pemikiran-pemikiran yang tidak Islami. Inilah yang di sebut Ibnu 'Atha'illah :

...وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية

Artinya :
"…Sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur."
Hikmah Ibnu Atha'illah As-Sakandary
Print this page Generate PDF
HIKMAH 1 : Tidak Mengandalkan Amal dan Alamatnya

KH. Muhammad Wafi, Lc
من علامات الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

"Termasuk tanda berpegang pada amal adalah kurang mengharapkan ampunan Allah SWT ketika berbuat kesalahan"

1. Penjelasan

Berpegang pada amal (mengandalkan amal) adalah suatu hal yang tercela. Ibnu Atha’illah menasehati kita : “Takutlah kamu berpegang pada amal seperti shalat, puasa, shadaqah, dan lain-lain untuk mencapai ridla Allah SWT dan memperoleh balasan yang Allah SWT janjikan. Tetapi berpeganglah pada pemberian Allah dan anugrah-Nya.

Al-Allamah Burhanuddin Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan Al-Laqqoni di dalam kitab Jauharotul Al- Tauhid :

وان يعذب فبمحض العدل  فإن يثبنا فبمحض الفضل

Artinya :

Apabila Allah memberi pahala kepada kita maka itu adalah murni dari anugrah-Nya, dan bila Allah menyiksa kita maka itu adala murni keadilan-Nya.

Ini adalah salah satu konsep aqidah yang harus dimiliki oleh setiap muslim sebagaimana aqidah ulama-ulama salaf.

Terkadang ada orang yang berkata, secara lahir pahala yang berhak dimiliki seseorang adalah karena amal shaleh yang dia lakukan. Namun ketika kita mau berfikir dan merenung tentang hubungan antara hamba dan Tuhannya, maka kita akan mengerti bahwa apa yang diucapkan oleh orang tersebut adalah salah.

Kesalahan tersebut muncul ketika dia mengatakan bahwa surga bisa diperoleh dengan amal ibadah. Maka maknanya, Allah telah menentukan harga surga bukan dengan dinar atau dirham, melainkan dengan taat beribadah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan konsekwensinya ketika dia telah menyerahkan ibadah sebagai harga, maka dia telah memiliki surga dan berhak mengeluarkan penjualnya (Allah) seperti halnya hubungan antara penjual dan pembeli.

Tentunya ini adalah kesalahan yang sangat fatal sekali. Ingatlah ketika Allah SWT memerintah kita untuk beribadah dan melarang dari maksiat serta memberi taufiq dan hidayah kepada kita sehingga kita bisa beribadah. Siapakah Dzat yang telah memberi kita kekuatan untuk shalat dan puasa? Siapakah Dzat yang telah memberikan kelapangan dada untuk beriman?. Jawabannya tidak lain adalah hanya Allah SWT semata.

2. Dalil

a. Firman Allah dalam surat Al-Hujurat : 17 :

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [الحجرات/17]

Artinya :

Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuk kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Hujurat : 17)

Jadi sangat tidak pantas sekali ketika seseorang mengatakan bahwa ibadah adalah harga untuk membeli surga Allah SWT.

Oleh karena itu, jangan sampai terbesit sedikit pun dalam hati kita bahwa kita berhak memperoleh surga dan pahala sebab telah melakukan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah SWT dan telah menjauhi larangan-larangan-Nya, karena bila kita meyakini hal tersebut, maka itu merupakan salah satu bentuk dari kemusyrikan.

Hubungan antara manusia dan Tuhannya tidak bisa disamakan dengan hubungan antar sesama manusia sebab Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan manusia dan segala apa yang dia lakukan, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya.
لا حولا ولا قوّة إلا بالله

Artinya :
Tidak ada daya untuk melakukan ibadah dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali Allah.

Ketika kita memuji Allah dengan mulut kita, maka kita wajib bersyukur kepada Allah karena dia telah menggerakkan mulut untuk memuji-Nya, ketika kita melakukan shalat tahajjud, maka wajib bagi kita untuk bersyukur karena Allah telah memberikan taufiq-Nya, dan seandainya bukan karena rahmat, inayah dan hidayah-Nya, maka kita pasti masih tenggelam dalam lelap tidur.

Dari penjelasan-penjelasan di atas terkadang timbul pertanyaan mengenai makna firman Allah yang terdapat di dalam surat An-Nahl : 32

...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]

Artinya :
Masuklah kamu ke dalam surga itu di sebabkan apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl :32)

Bila dilihat dari dhahirnya, seolah-olah ayat di atas memberi kesan bahwa masuk surga itu disebabkan oleh amal seseorang, apakah memang demikian?, jawabannya adalah tidak, karena kalam tersebut hanya berasal dari satu pihak yaitu Allah SWT, bukan dari dua pihak yang sedang melakukan akad. Pertama kali Allah memberi kita taufiq sehingga kita bisa beramal shalih dan melakukan kebaikan. Setelah itu Allah SWT berfirman :

...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]

Artinya :
…Masuklah kedalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl : 32)


Maka kesimpulannya, masuk surga bukanlah sebab amal kita tetapi murni dari anugrah dan ihsan Allah SWT. Dan bila perasaan tersebut (masuk surga karena amal sholih) sulit dihilangkan, maka kita harus memahami makna ubudiyyah kepada Allah SWT dan kita juga harus ingat bahwa kita sangat butuh pada pertolongan dan inayah Allah SWT.

b. Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ra. :

لن يدخل أحدكم الجنة عمله قالوا ولا أنت يا رسول الله قال : "ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة".

Artinya :
Salah satu diantara kalian amalnya tidak akan memasukkannya ke surga. Para Shahabat bertanya : Dan bukan engkau ya Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab : “Dan bukan aku, hanya saja Allah meliputi rahmat-Nya kepadaku”.


Jadi amal ibadah bukanlah harta yang bisa untuk membeli surga. Oleh karena itu yang dituntut dari seseorang yang diberi hidayah Allah SWT ketika dia mampu melakukan ibadah adalah merasa bahwa dia bisa mendapatkan ridla Allah SWT karena anugrah dan rahmat-Nya, bukan karena amal ibadah yang dia lakukan.


3. Aplikasi

a. Contoh
Sebuah perumpamaan yang bisa menggambarkan penjelasan di atas adalah kejadian sebagai berikut :
Ada seorang ayah yang ingin melatih amal kebaikan kepada anaknya. sang ayah pun berkata kepada anaknya : "Bila kamu bershadaqah kepada orang miskin, maka aku akan memberimu hadiah". Setelah itu sang ayah meletakkan sejumlah uang di dalam saku sang anak tanpa sepengetahuannya, lalu sang anak merenungkan perkataan ayahnya. Kemudian sang anak bershadaqah dengan uang tersebut kepada orang miskin. Sehingga sang ayah gembira melihat hal tersebut karena sang anak bisa melakukan kebaikan. Lalu dia pun memberi hadiah kepada anaknya.

Dari perumpamaan tersebut tidak bisa diragukan lagi bahwa uang yang di gunakan shadaqah adalah milik sang ayah. Sedangkan pemberian hadiah kepada sang anak walaupun secara dhahirnya dinamakan imbalan (jaza’), namun pada hakikatnya pemberian hadiah tersebut karena sang ayah sayang dan mendorongnya untuk melakukan amal sosial.

Diceritakan bahwa ada sebagian ulama’ ketika tidur bermimpi bertemu dengan salah satu waliyullah yang sudah wafat. Di dalam mimpinya dia bertanya kepada wali tersebut “Apa yang Allah lakukan kepadamu?”, wali tadi menjawab : ”Aku dihadapkan kepada Allah SWT dan Allah bertanya kepadaku : ”Dengan apa engkau datang kesini?”, lalu aku menjawab : “Ya Rabbi, saya adalah seorang hamba sahaya (budak), sedangkan hamba itu tidak memiliki apa-apa yang bisa diberikan. Aku datang kepada-Mu dengan penuh harapan mendapat ampunan dan rahmat-Mu”.

Jawaban yang disampaikan wali tersebut merupakan salah satu bentuk ubudiyyah yang bisa difaham dari hadist Abi Hurairah :


لن يدخل أحدكم الجنة عمله قالوا ولا أنت يا رسول الله قال : "ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة.
Artinya :
"Salah satu diantara kalian amalnya tidak akan memasukkannya ke surga. Para Shahabat bertanya : Dan bukan engkau ya Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab : “Dan bukan aku, hanya saja Allah memberikan rahmat-Nya kepadaku”.

Ibarat yang digunakan Rasulullah di dalam hadist di atas adalah عمله dan tidak menggunakan kata بعمله , karena seandainya Rasulullah menggunakan kalimat بعمله , maka akan bertentangan dengan ayat :
...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]

Hadist tersebut juga mengandung makna bahwa berpegang pada amal tanpa mengharapkan ampunan dan rahmat dari Allah SWT, bisa menyebabkan kerugian dan tidak akan mencapai impian-impian yang dicita-citakan. Hal ini di disebabkan Allah telah menjadikan amal yang sangat rendah dan kurang sebagai jalan untuk memperoleh ampunan dan rahmat-Nya seperti di dalam ayat :

...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]

Lihatlah ketika ada orang bershadaqah kepada fakir miskin, maka kamu akan mengetahui betapa berat rahmat Allah kepada hamba-Nya. Karena pada hakikatnya harta yang dia shadaqahkan adalah milik Allah SWT.

Di dalam surat An-Nur : 33 dijelaskan :
...وَآَتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آَتَاكُمْ... [النور/33]
Artinya :
Dia berikan kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.(QS. An-Nur : 33)

Kemudian Allah mengkhitabi manusia di dalam surat Al-Baqarah :240 :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (245)
Artinya :
Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (QS. Al-Baqarah : 245)

Di dalam ayat di atas Allah menempatkan Dzat-Nya seolah-olah sebagai orang yang berhutang kepada manusia yang bershadaqah dan Allah akan memberi balasan yang berlipat atas shadaqahnya.

Bila kita menyangka bahkan yakin bahwa Allah berhutang, sehingga kita bisa menuntut pahala ketika sudah bershadaqah, maka berarti kita telah mabuk dan gila, karena kita lupa bahwa apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Allah SWT.

Terkadang timbul pertanyaan apakah ada pertentangan antara Allah memasukkan manusia dengan rahmat-Nya dan Allah memerintah manusia untuk beribadah? .

Jawabannya adalah tidak. Ibadah merupakan hak Allah yang wajib dilakukan manusia sebagai pembuktian bahwa dia adalah hamba Allah. Sedangkan surga adalah karunia Allah sebagai bukti sifat-sifat rahmat-Nya dan Allah telah memutuskan bahwa orang yang paling berhak mendapat rahmat adalah yang paling banyak melakukan kewajiban-kewajiban. Di dalam surat Al-A’raf : 156, dijelaskan :
...وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف/156]
Artinya :
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-A’raf : 156)

b. Alamat I'timad Pada Amal

Kurang percaya terhadap rahmat Allah SWT termasuk mengandalkan amal. Adapun cara menghilangkannya adalah dengan tidak mengandalkan pada suatu amal dan selalu mengharap rahmat dan ampunan Allah SWT serta takut akan siksa dan adzab-Nya ketika melakukan kesalahan. Sehingga ketika seseorang merasa tidak memiliki kekuatan untuk melakukan ibadah dan kewajiban yang sangat banyak maka akan timbul dua perasaan, yaitu perasaan mengharap ampunan dan rahmat Allah SWT dan perasaan malu dan takut di sisi Allah SWT.

Terkadang syetan akan menghasut manusia bahwa ibadah dan takut itu tidak berperan dalam memperoleh rahmat Allah sehingga tidak ada perbedaan antara melakukan ibadah dan meniggalkannya (melakukan maksiat).

Hasutan ini tidak boleh di turuti. Karena dalam ayat :

...وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف/156]
ternyata Allah menggunakan kalimat لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ(Bagi orang-orang bertaqwa) Dan tidak menggunakan kalimat ِللنَّاِس (semua manusia).
Ayat ini juga mengandung dua hal yang saling talazum (bergantung dan mengisi), yaitu:
1) Seseorang harus berjalan di jalan yang benar dengan melakukan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.
2) Seseorang harus mengerti bahwa surga dan pahala itu diperoleh dengan rahmat dan ampunan Allah, bukan dengan amal ibadah.

Dua hal ini juga terkandung di dalam surat Thaha : 82 :

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى (82)
Artinya :
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. Thaha : 82)

Dari ayat di atas bisa difahami bahwa iman dan amal shalih adalah hal yang wajib, sedangkan pahala itu diperoleh dari ampunan dan rahmat Allah SWT.

Mungkin di dalam hati kita timbul sebuah pertanyaan : Allah telah menakut-nakuti orang yang berdosa dan berbuat maksiat dengan siksa-siksa-Nya, lalu bagaimana mungkin orang yang berbuat dosa tidak berkurang harapannya terhadap ampunan dan rahmat Allah? padahal Allah juga mensyaratkan iman dan takwa untuk memperoleh rahmat-Nya. Seperti pada surat Al-A'raf ayat 156 :

...فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ... (156)
Artinya :
Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-A’raf : 156)

Jawabannya adalah orang yang berbuat maksiat harus bertaubat karena dia tidak mungkin bisa menghadap Allah dengan mengharapkan rahmat-Nya kecuali dengan bertaubat dan menyesali dosa-dosanya.

Bila dia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh maka harapan terhadap rahmat Allah akan selalu bertambah dan Allah pasti akan menerima taubatnya, Allah SWT berfirman di dalam surat At-Taubah : 104 :

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ [التوبة/104]
Artinya :
Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah : 104)

Demikian pula di dalam hadist qudsi di terangkan :
اذ نب عبد ذنبا فقال : اللهم اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب فقال اي رب اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب ثم عاد فأذنب فقال اي رب اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب قد غفرت لعبدي فليفعل ما شاء.(الحديث)
Artinya :

Ada seseorang melakukan dosa lalu dia berdo’a : Ya Allah ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Kemudian sang hamba kembali melakukan dosa, lalu dia berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Kemudian sang hamba kembali melakukan dosa, lalu dia berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memilik Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Sungguh aku telah mengampui hambaku, maka hendaknya dia berbuat apa yang dia mau.

Semua penjelasan diatas juga bisa difaham balik (Mafhum Mukholafah) bahwa orang yang bertambah harapannya terhadap rahmat Allah SWT ketika melakukan amal shalih, maka dia termasuk orang yang mengandalkan amalnya.

Hal tersebut bisa divisualisasikan dengan keadaan seseorang yang sudah tua yang selalu melakukan ibadah dan memperbanyaknya sampai-sampai dia merasa bahwa dengan ibadah yang banyak dia akan memperoleh pahala yang banyak dan pasti termasuk penghuni surga.

Adapun cara menjauhinya adalah dengan mengetahui bahwa hak-hak Allah SWT yang wajib dilakukan hambanya tidak bisa dipenuhi dengan banyak atau sedikitnya taat. Seandainya hak tersebut bisa dipenuhi dengan taat, maka orang yang paling utama melakukan hal tersebut adalah para Nabi dan Rasul. Tetapi tidak ada satu pun Nabi dan Rasul yang menghubungkan harapan rahmat Allah dan ampunan-Nya dengan taat dan ibadah mereka, namun mereka selalu mengharapkan ampunan Allah SWT.

Contohnya adalah Nabi Ibrahim, beliau merasa di bawah derajat orang-orang yang shalih dan selalu meminta kepada Allah agar dipertemukan dengan orang-orang yang shalih.

Di dalam Al-Qur’an di jelaskan :
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ [الشعراء/83]
Artinya :
(Ibrahim berdo’a), Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih. (QS. Syu’ara’ : 83)

Dan beliau selalu mengharapkan ampunan dari Allah SWT seperti yang diterangkan di dalam surat Ibrahim : 41.
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ [إبراهيم/41]
Artinya :
Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada terjadinya hisab (Hari Kiamat). (QS. Ibrahim:41)

Demikian pula Nabi Yusuf, beliau merasa jauh untuk sampai pada derajat shalihin dan beliau selalu meminta Allah agar dipertemukan dengan orang-orang shalih.
رَبِّ قَدْ آَتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ [يوسف/101]
Artinya :

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugrahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengerjakan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhanku) pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku dengan orang-orang shalih.(QS. Yusuf:101)

Begitu pula baginda Nabi Muhammad SAW, seperti yang dijelaskan di dalam hadist.
...ولا اتا الا ان يتغامدني الله برحمته

Jadi amal ibadah yang dilakukan manusia hanyalah bayaran yang sangat kecil akan kewajiban mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung. Maka bagaimana mungkin hal itu bisa dijadikan imbalan (ganti) untuk masuk surga?.

Seseorang setelah mengetahui dan mengerti bahwa dia adalah hamba yang di miliki Allah, maka dia wajib untuk menyembah Allah, baik akan diberi pahala atas ibadahnya atau pun tidak. Kemudian dia harus meminta surga kepada Allah dengan rahmat-Nya dan ihsan-Nya, serta meminta perlindungan dari api neraka dengan kelembutan dan ampunan-Nya.

Seandainya seseorang mengaku bahwa dia menyembah Allah karena mengharapkan surga-Nya, sekiranya jika dia tahu bahwa dia tidak akan memperoleh surga dengan amalnya, lalu dia berhenti beribadah dan tidak mempedulikan hukum (syari’at Allah), maka dia bukanlah orang yang mukmin. Karena dia telah memperlihatkan bahwa dia bukan hamba Allah, melainkan hamba surga.

Dari sini kita mengetahui betapa tingginya ajaran tauhid dalam munajat Rabi’ah Al-Adawiyyah ketika berdo’a. Beliau berdo’a : ”Ya Allah sesungguhnya aku tidak menyembah-Mu ketika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu dan takut dari neraka-Mu. Tetapi aku mengetahui bahwa Engkau adalah Tuhan yang berhak untuk disembah sehingga aku menyembah-Mu".

Sebagian orang yang dangkal pemikirannya menyangka bahwa Rabi’ah tidak membutuhkan surga yang telah dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang shalih, sehingga mereka mencela Rabi’ah. Persangkaan ini sangatlah keliru, karena di dalam munajat-munajat yang lain, Rabi’ah meminta surga dan dijauhkan dari neraka. Hanya saja Rabi’ah tidak meminta hal tersebut sebagai upah atas shalat dan ibadah-ibadahnya, melainkan beliau meminta hal tersebut karena Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Mulia. Sedangakan Rabi’ah adalah orang yang fakir dan mengharap kemurahan Allah SWT.

Ini semua adalah salah satu kunci hidup yang harus dipegang oleh setiap orang islam yakni tidak mengandalkan amal ibadahnya, tetapi yakin atas rahmat dan ampunan dari Allah SWT.
HIKMAH 5 : Yakin pada Janji Allah

KH. Muhammad Wafi, Lc.

اجتهادك فيماضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة فيك

"Usaha kamu pada perkara yang sudah dijamin Allah dan lalai kamu akan tugas yang diwajibkan padamu adalah sebagai pertanda akan padamnya mata hatimu"

1. Penjelasan
Etika yang tidak kalah penting bagi seorang mukmin adalah yakin akan janji Allah. Seorang yang patuh kepada Allah harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepadanya. Jika kewajiban tersebut telah dilaksanakan dengan baik dan benar, maka Allah akan memenuhi janjinya, yaitu mensejahterakan kehidupan dan menjadikan masyarakat disekelilingnya patuh demi kebaikan mukmin tadi. Hal tersebut tidak lain karena Allah telah memerintahkan kita, dan di sisi lain Allah juga telah berjanji akan menanggung kehidupan kita. Oleh karena itu, yang harus kita laksanakan adalah mencurahkan segala kemampuan dan pikiran untuk melakukan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan Allah. Kita juga harus yakin akan tanggungan Allah yang telah dijanjikan kepada kita, sehingga kita tidak perlu pusing untuk memikirkan diri kita sendiri.
Sebagai manusia kita harus tahu bahwa semua makhluk baik hewan, tumbuh-tumbuhan, maupun benda mati pasti diberi kewajiban oleh Allah SWT. Coba kita amati makhluk-makhluk kecil yang tidak bisa tampak kecuali dengan pembesar (mikroskop). Kemudian makhluk yang lebih besar dan lebih besar lagi sampai planet dan bintang-bintang dengan berbagai jenisnya, burung-burung serta ikan yang ada di laut. Maka kita akan menemukan bahwa semua makhluk tersebut melaksanakan kewajiban atau rutinitas yang telah di tetapkan Allah. Semuanya tidak ada yang melanggar atau keluar dari jalur hukum Allah. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat Al-Nur ayat 41:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ.
Artinya :
41. Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing Telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Manusia bukanlah makhluk yang baru, namun manusia sangat berbeda dengan makhluk yang lain karena manusia diberi petunjuk pada sesuatu yang penting. Kalau makhluk lain melaksanakan kewajibannya dengan paksaan dan tabiat (insting), maka manusia diciptakan oleh Allah memiliki kemauan dan keinginan (ikhtiar). Oleh karena itu, manusia melaksanakan kewajibannya dengan ikhtiar tersebut bukan dengan paksaan pada dirinya. Hal ini tidak lain untuk memuliakan dan mensucikan manusia agar tidak disamakan seperti hewan dan makhluk lainnya yang hanya berdasar pada insting belaka.
Hal di atas lah yang menjadikan sebagian besar manusia durhaka, bahkan menyimpang dari kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan. Sementara itu, makhluk-makhluk lain dengan berbagai jenisnya selalu patuh dan melaksanakan kewajiban serta tugas yang diciptakan untuknya. Ini karena manusia melakukan kewajiban atau rutinitasnya dengan hurriyyah (kemerdekaan, kemandirian) dan kesenangannya. Jadi penyimpangan dan kepatuhan pasti bisa timbul pada diri manusia. Adapun makhluk lain, dalam melaksanakan kewajibannya, sebagaimana pada benda-benda mati dan tumbuh-tumbuhan maka dengan menggunakan tabiat / insting seperti halnya pada binatang-binatang. Jadi penyelewengan akan tertutup dan tidak akan timbul. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 18 :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ.
Artinya :
18. Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang Telah ditetapkan azab atasnya. dan barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dia kehendaki.

Dalam ayat di atas sudah sangat jelas bahwa yang dimaksud sujud adalah patuh pada kewajiban atau tugas yang dibebankan Allah pada makhluk. Coba kita lihat dalam ayat tersebut bahwa Allah mengumumkan kepatuhan semua makhluk yang disebut, pada perintah-perintah yang telah dibebankan-Nya. Lalu ketika sampai pada manusia, maka Allah menjelaskan bahwa pada manusia itu ada yang patuh dan ada yang durhaka. Oleh karena itu, Allah mengatakan (menyambung) dengan lafadz كثير من الناس (sebagian banyak manusia), bukan dengan lafadz كل الناس (semua manusia), lebih-lebih setelah itu Allah menjelaskan bahwa yang paling banyak adalah manusia yang durhaka sehingga mereka akan mendapatkan siksa-Nya.
Dari fenomena itulah, maka banyak sekali orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari kebutuhan hidup (padahal hal tersebut sudah ditanggung oleh Allah), namun mereka malah lalai dalam melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban yang telah dibebankan oleh Allah SWT. Ini menunjukkan betapa buramnya hati mereka sebagaimana kata hikmah Ibnu 'Atho'illah : "Kesungguhanmu dalam hal-hal yang telah di tanggung oleh Allah dan kecerobohanmu dalam hal-hal yang di perintahkan kepadamu adalah bukti betapa buramnya hatimu".

2. Dalil a. Surat Al-Dzariyyat ayat 56-58
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Artinya :
56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
57. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.
58. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.

Dan surat Thaha ayat 132
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.
Artinya :
132. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

b. Surat Al-Nahl ayat 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
Artinya :
97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.

c. Surat Al-Nur ayat 55
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya :
55. Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.

3. Aplikasi
Allah memang tidak akan mengingkari janji-Nya dan seandainya saja sejarah tidak menyaksikan kebenaran janji Allah tersebut, maka akan ada keraguan pada diri orang Islam. Mereka pasti akan ragu pada janji Allah, melihat zaman sekarang ini banyak orang Islam yang sangat lemah keyakinannya atas janji Tuhan mereka sendiri.

Sejarah Islam telah berbicara kepada telinga dunia ini atas kebenaran janji-janji Allah. Pada awal pertumbuhan Islam, orang muslim hanyalah sekelompok kecil dari orang-orang Arab. Namun setelah mereka mendengarkan perintah Allah, menjalankan tugas yang telah dibebankan oleh-Nya, beriman kepada-Nya, percaya akan janji dan hukum Allah, serta berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan tugas-tugas yang diwajibkan (beribadah kepada Allah), maka Allah memenuhi janji yang telah disanggupi-Nya.

Allah telah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 13-14 :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ . وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ
Artinya :
13. Orang-orang kafir Berkata kepada rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu,
14. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku".

Kita telah mengetahui bahwa Allah telah menaklukkan kerajaan Romawi, Persia dan Yunani, serta menjadikan orang Islam (sekelompok kecil orang Arab) sebagai pemimpin di negara-negara tersebut. Allah juga telah mewariskan bumi dan kekayaan yang ada dalam negara-negara tersebut kepada mereka.
Orang yang mau berfikir pada sejarah tersebut pasti akan heran atas apa yang telah Allah penuhi sebagai ganti atas apa yang telah bangsa Arab lakukan. Orang tersebut akan menemukan bahwa kejadian tersebut tidak ada keraguan lagi.
Contoh realita yang lebih jelas lagi adalah ucapan Sayyidina Umar ra. kepada Abu Ubaidah. Suatu ketika Sayyidina Umar ra. sampai ke negara Syam dan bertemu dengan pembesar-pembesar negara tersebut. Waktu itu Sayyidina Umar memakai baju yang tidak kurang dari dua belas tambalan. Pada waktu itu juga Abu Ubaidah berbisik pada telinga Sayyidina Umar supaya beliau mengganti pakaianya, maka Sayyidina Umar mengatakan:
"Kita adalah suatu kelompok yang dimuliakan Allah dengan Islam. Dan kapan saja kita mencari kemuliaan dengan cara yang tidak dimuliakan Allah, maka Allah pasti akan menghina kita".
Seandainya saja Sayyidina Umar ra. memakai baju yang mewah dan menghadap pembesar-pembesar Syam dengan sombong, pasti hal tersebut akan mengisyaratkan bahwa bangsa Arab bisa menang dan mengalahkan mereka dengan kemewahan tersebut. Dengan demikian akan muncul distorsi pada sebab yang hakiki dan akan melupakan anugerah Allah yang telah menolong dan memuliakan orang Arab. Oleh karena itu, pembesar-pembesar Syam harus melihat realita keadaan bangsa Arab pada waktu itu, sehingga mereka tahu bahwa yang mengangkat bangsa Arab hanyalah Allah SWT.

Itulah sikap yang ditampilkan Sayyidina Umar ra. pada pembesar-pembesar Syam, yaitu dengan memakai baju tambalan yang mengandung dua hal pokok :
1). Sangat minimnya sarana dan prasarana untuk mencapai kemenangan orang arab dan sungguh tidak ada tipe untuk bisa mengalahkan musuh-musuhnya yang sangat kuat.
2). Kekuasaan Tuhanlah yang telah mengangkat derajat dan mengharumkan nama mereka dan Allahlah yang menganugrahi segala keagungan padahal mereka sangat-sangat lemah.
Adapun kita sekarang ini sebagai generasi mereka, maka kita justru tidak mau bangkit dengan tugas yang dibebankan Allah kepada kita. Kita juga tidak mempercayai janji Allah dan tidak mau berkaca pada sejarah Islam. Kebanyakan dari kita justru berkelana ke penjuru dunia dan mencari pintu-pintu kehinaan, bukannya pintu kemuliaan Allah. Hal itu akan semakin menambah kerugian jika kita tidak mau kembali pada pintu yang telah di tunjukkan Allah dan melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan-Nya.

b. Kewajiban seorang mukmin
Adapun kewajiban agama yang dibebankan Allah kepada mukmin dan keluarganya dalam etika ini adalah belajar hukum-hukum agama, mengetahui aqidah-aqidah islam beserta dalil-dalinya, belajar Al-Qur'an beserta tafsir dan mendidik keluarganya dengan tarbiyyah (pendidikan) Islam. Dia juga harus bersungguh-sungguh dalam mencari rizqi dengan cara-cara yang di syari'atkan oleh Allah. Walaupun pada kenyataannya mencari rizqi adalah kebutuhan duniawi, namun pada hakekatnya adalah bagian dari tugas yang dibebankan oleh Allah SWT, lebih-lebih jika dalam mencari rizqi tersebut bertujuan untuk menjalankan perintah Allah sebagaimana dalam Al-Qur'an surat Al Mulk ayat 15 :
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Artinya :
15. Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Bahkan mencari rizqi dengan cara dan tujuan seperti di atas merupakan bagian dari jihad di jalan Allah.
Imam Thabarani dalam kitab mu'jamnya, meriwayatkan hadist dari Ka'ab bin Ujrah. Suatu ketika Rasulullah SAW keluar bersama shahabatnya. Kemudian mereka melihat seseorang yang bekerja pagi-pagi sekali. Mereka sangat heran ketika melihat kerja keras dan semangat orang itu. Lalu salah satu dari shahabat berkata : "Celaka orang ini. Seandainya saja dia mau jihad di jalan Allah". Kemudian Rasulullah bersabda :

إن كان خرج يسعى على ولد له صغارا فهو في سبيل الله وان كان خرج يسعى على ابوين شيخين فهو في سبيل الله وان كان خرج يسعى على نفسه ليعفها فهو في سبيل الله وان كان يسعى على اهله فهو في سبيل الله وان كان خرج يسعى تفاخرا فهو في سبيل الشيطان

Artinya :
"Jika orang tersebut bekerja untuk anak-anak kecilnya, maka orang tersebut berda dalam jalan Allah. Dan jika orang tersebut bekerja untuk kedua orang tuanya, maka dia juga berada di jalan Allah. Dan jika orang tersebut bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri maka orang tersebut juga berada di jalan Allah dan jika orang tersebut bekerja untuk kesombongan dan mencari kekayaan, maka dia berada di jalan syaitan."

Memang ibadah itu tidak hanya tertentu dalam sholat, puasa, haji, membaca al-Qur'an dan berdzikir. Ibadah juga mencakup semua perbuatan-perbuatan untuk mencari kedekatan kepada Allah. Oleh karena itu, semua jenis pekerjaan, perdagangan, pertanian dan pembangunan adalah bagian dari ibadah.

Namun yang perlu diketahui adalah semua usaha yang dilakukan untuk mencari ridla Allah itu harus disyari'atkan dan diperbolehkan. Usaha-usaha tersebut juga harus dilakukan setelah ibadah-ibadah wajib yang menjadi rukun islam di kerjakan dengan baik. Sebelum itu salik juga harus mengatahui dua sumber utama hukum Islam, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadist. Salik juga harus mengetahui hukum-hukum syari'at islam yang menjadi dasar dan hukum-hukum yang berhubungan dengan individu.
Jika tidak demikian, lalu bagaimana mungkin perdagangan, pekerjaan, dan kegiatan politik itu dikatakan usaha di jalan Allah atau salah satu dari ibadah dan amal untuk mendekatkan kepada Allah, jika orang yang melakukannya lupa pada shalat, ibadah dan berpaling dari pendidikan Islam, sedangkan dia juga tidak mau tahu-menahu akan aqidah dan hukum-hukum Islam?
Orang yang demikian pasti tidak mungkin tujuan dari amal dan kegiatan duniawinya itu termasuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Karena jika tujuannya adalah untuk Allah, maka hal itu pasti akan mendorongnya untuk menghadiri shalat jumuah, jamaah, majlis ilmu dan juga majlis dzikir.
Memang kebanyakan kegiatan duniawi sekarang ini sangat jauh dari apa yang telah dikatakan Rasulullah bahwasanya dia berada di jalan Allah. Jika kita melihat mayoritas masyarakat, maka kita akan tahu bahwa mereka memang lupa atau sengaja melupakan perintah-perintah dan tugas-tugas yang telah di bebankan Allah. Mereka tidak mau tahu hukum agama Islam dan membuang serta melupakan risalah Al-Qur'an yang telah diturunkan Allah SWT. Lafadz-lafadz Al-Qur'an asing di lidah mereka apalagi artinya. Merekalah realita dari ucapan Ibnu 'Atha'illah :
"Kesungguhanmu dalam hal-hal yang telah di tanggung oleh Allah dan kecerobohanmu dalam hal-hal yang diperintahkan kepadamu adalah bukti betapa buramnya hatimu".
c. Kesimpulan
Sebagai hamba Allah yang shalih, kita memang harus terus percaya kepada janji-janji-Nya. Marilah kita berkaca pada pemimpin-pemimpin pada awal perkembangan Islam. Allah telah membukakan kepada mereka pintu-pintu kemenangan dan juga menjadikan mereka kaya setelah fakir. Hal tersebut terjadi tidak lain karena mereka menjalankan agama Allah, menjadikan diri mereka sebagai pasukan untuk memenuhi tugas-tugas yang telah dibebankan Allah dan mereka juga membenarkan Allah atas apa yang telah disanggupi mereka. Oleh karena itu, benarlah firman Allah (surat Ibrahim ayat 13-14) :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ . وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ.
Artinya :
13. Orang-orang kafir Berkata kepada rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu,
14. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku".

Dan juga lihatlah orang-orang setelah mereka yang juga menjalankan tugas-tugas yang telah dibebankan oleh Allah seperti Nuruddin zinki, Shalahuddin Al-Ayyubi, Usman Arthagrul (pendiri khilafah Umayyah), Muhammad Al-Fatih (penakluk Al-Qustantiniyyah) dan Abdul Al-Rahman Al-Dakhil (pendiri daulah Umayyah di Eropa).

Dan marilah kita juga berkaca pada orang-orang yang hanya ingin merasakan manisnya dunia, yaitu orang-orang yang datang setelah para pimpinan-pimpinan yang sholih. Orang-orang tersebut lupa akan tugas suci yang di bebankan kepada mereka. Mereka hanya mengumpulkan harta, membangun istana yang indah, mencari kesenangan dan kenikmatan. Mereka menganggap bahwa yang menjadikan mereka hidup enak adalah kekuatan dan kemenangan mereka.

Sungguh suatu musibah tampak pada buramnya mata hati mereka. Mereka lupa bahwa sumber kemuliaan mereka adalah Islam. Mereka mengingkari dan berpaling dari Islam. Mereka mencoba mencari-cari apa yang menjadikan mereka mulia, tapi mereka tidak menemukannya.
Sungguh benar perkataan Ibnu 'Atha'illah,

"Kesungguhanmu dalam hal-hal yang telah di tanggung oleh Allah dan kecerobohanmu dalam hal-hal yang di perintahkan kepadamu adalah bukti betapa buramnya hatimu."
HIKMAH 4 : Tidak Mengatur

Oleh: KH Muhammad Wafi Maimoen, Lc
ارح نفسك من التدبير فما قام به غيرك عنك لا تقم به لنفسك
Janganlah hatimu mengatur karena kamu tidak akan bisa mengurus urusan yang sudah diatur oleh Allah SWT.

Sebagian orang menyangka bahwa hikmah di atas bertentangan dengan salah satu hikmah yang pernah dikemukakan oleh Ibnu 'Athaillah.
Tetapi pada hakikatnya antara kedua hikmah tersebut tidak ada kontradiksi, bahkan keduanya adalah dua hal yang selaras dan saling melengkapi.
Bila di pandang dari pengertian dan sumbernya, maka diantara melakukan asbab dan mengatur urusan dengan hati (Sadar) terdapat perbedaan yang mencolok. Perbedaan itu adalah:
• Melakukan asbab adalah suatu usaha yang dilakukan oleh anggota badan dengan sungguh-sungguh, seperti halnya orang mencari nafkah dengan cara pergi ke pasar untuk berdagang, orang mencari ilmu dengan cara belajar, orang mendatangi dokter atau pergi ke rumah sakit untuk berobat, orang manjauhi hal-hal yang bisa menimbulkan bahaya, dan lain-lain.

Sedangkan tadbir adalah suatu pekerjaan berfikir dan keadaan akal seperti seseorang merencanakan keuntungan dari dagangannya, merencanakan kesuksesannya, merencanakan kesembuhannya penyekitnya, merncanakan keselamatannya, dan lain-lain.

Didalam hal ini asbab berada pada pengawasan dan pengaturan, dan akalnya adalah kunci dari kesuksesan dan sumber pengaturannya.
• Melakukan asbab sumbernya adalah anggota badan dan hal ini sangat dianjurkan dan disenangi oleh syara'.
Sedangkan tadabbur, sumbernya adalah hati dan akal. Hal ini sangat di larang dan dibenci oleh syara'.

Kedua hal ini bila dikendalikan dengan selaras maka akan mewujudkan metode kehidupan yang Islami pada pribadi seorang muslim. Dia akan pergi ke pasar untuk melakukan asbab dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Apabila ada orang mendatanginya dan bertanya; "Apa yang engkau harapkan dari pekerjaan dan kesungguhanmu ini?". Maka dia akan menjawab dengan mantap: "Ini adalah kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepadaku, aku melakukannya sesuai dengan cara yang telah ditentukan syari'at". Dan bila orang tersebut bertanya lagi: "Apa yang akan diberikan oleh Allah atas imbalan dari pekerjaanmu ini?", maka dia akan menjawab dengan tenang : "Itu semuanya sudah diatur oleh Allah SWT dan aku pasrah atas qadla'-Nya sera ridla atas semua keputusan-Nya".

Ini adalah metode kehidupan Islam yang diingatkan oleh Ibnu 'Atha'illah di dalam sebuah kalam hikmahnya yang bermakna "Melakukan asbab-asbab sesuai dengan syari'at dan pasrah terhadap keputusan dan pengaturan Allah SWT.

Metode ini sebenarnya pernah diamalkan oleh panutan kita Nabi Muhammad SAW. Kita bisa mempelajarinya dari perjalanan beliau saat hijrah dari Makkah Al-Mukarramah menuju ke Madinah Al-Munawwarah yang ditemani oleh sahabat beliau yang sangat setia yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Pada waktu hijrah, beliau melakukan asbab-asbab sehingga seolah-olah diyakini bahwa hal ini adalah sebuah syarat yang harus dilakukan untuk mencapai kesuksesan dan keselamatannya.

Nabi Muhammad SAW di dalam permulaan hijrahnya keluar dari rumah dengan sembunyi-sembunyi. Beliau meninggalkan Ali bin Abi Thalib ra. dalam keadaan tidur diranjangnya, sampai-sampai orang-orang musyrik menyangka bahwa yang tidur di ranjang adalah Rasulullah SAW, dan akhirnya mereka tidak bisa mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq menyuruh pembantunya yang bernama Amir bin Fuhairah untuk membuntuti jejak mereka berdua agar bisa menghapus bekas-bekas langkah kaki mereka berdua.

Kemudian mereka berdua sampai di gua Tsur dan bermukim di sana sampai tiga hari. Pada waktu itu beliau mengadakan akad ijarah (menyewa) dengan selaku seorang musyrik yang bisa dipercaya. Orang tersebut bernama Abdullah bin Arkqath. Dia di sana untuk menunjukkan jalan yang aman agar sampai di kota Madinah Al-Munawwarah dengan selamat. Ini semua adalah contoh-contoh melakukan asbab yang sempurna.

Di tengah-tengah persembunyian beliau di gua Tsur, tiba-tiba ada segerombolan orang-orang musyrik yang smpai di depan gua. Lubang gua pun mereka awasi dan perhatikan. Namun, di lubang gua tersebut terdapat laba-laba dan burung bersemayam di situ, sehingga mereka tidak mengintai ke dalam gua. Pada waktu itu Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat khawatir dan beliau membisikkan di telinga Nabi Muhammad SAW sembari berkata "Seandainya salah satu dari mereka melihat ke bawah telapak kakinya maka dia akan melihat kita", lalu Rasulullah SAW menjawabnya dengan tenang "Yang kamu sangka dua orang, maka Allah adalah yang ketiga". Ini adalah bentuk tawakkal dan pasrah atas qadla' dan pengaturan Allah SWT. Peristiwa ini telah di nash di dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah, ayat 40:

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (40)
Artinya :

Jikalau kamu tidak menolomgnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (Musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang keduanya berada dalam gua (Tsur), di waktu dia berkata kepadanya "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan ketenangannya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimah Allah-lah yang tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Bijaksana.
• Ketika Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra keluar dari gua Tsur dan meneruskan perjalanannya, tiba-tiba datanglah suraqah dengan menunggang kuda. Dia mengejar Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, dengan tujuan jelek yaitu ingin membunuh Nabi Muhammad karena tergiur dengan hadiah yang akan di berikan oleh orang-orang musyrik.

Saat itu Abu Bakar ra terus menoleh ke belakang dan mengkhawatirkan keadaan Rasulullah SAW yang terus melanjutkan perjalanan dengan tenang tanpa menoleh sedikitpun. Dan beliau membaca Al-Qur'an dengan tenang dan yakin atas perlindungan Allah SWT. Ini adalah contoh meninggalkan sifat mengatur (Tadabbur) dan berpegang pada pengaturan Allah SWT.

Beliau melakukan asbab-asbab dengan tenang dan sesuai dengan syari'at, karena mematuhi perintah-perintah Allah SWT, kemudian beliau melupakannya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT dan juga disertai kepercayaan yang sempurna atas kebijaksanaan, rahmat dan taufiq dari-Nya.
Jadi, ini semua bisa menjadi dalil kenabian yang menjelaskan makna hikamah yang dikemukakan oleh Ibnu 'Atha'illah yaitu: "Janganlah hatimu mengatur urusan yang sudah diatur oleh Allah SWT". Dan juga menjelaskan keselarasan hikmah ini dengan hikmah lain yang diungkapkan oleh Ibnu 'Atha'illah yang bermakna "Keinginanmu pada makam asbab adalah menuruti hawa nafsu yang samar".
Contoh lain yang menjelaskan hikamah ini adalah sebuah hikayah (cerita) tentang Ali bin Hasan ra. Diceritakan bahwa beliau adalah seorang pedagang di pasar. Beliau memiliki dagangan yang sangat banyak. Bila waktu shalat tiba maka beliau meninggalkan dagangannya dan menuju ke masjid untuk mengerjakan shalat.
Pada suatu hari ketika beliau sedang shalat di masjid tiba-tiba datang seseorang yang mengabarinya bahwa api sedang berkobar di pasar dan mulai membakar barang dagangannya, tetapi beliau tidak memperdulikan berita tersebut dan beliau terus menjalankan shalatnya dengan menghadap Allah SWT, lalu dzikir-dzikir seprti hari-hari biasa. Kemudian beliau baru menuju ke pasar dengan hati tenang dan tentram.
Lihatlah bagaimana Ali bin Hasan ra melakukan asbab, beliau bersungguh-sungguh dalam mencari nafaqah dengan cara berdagang di pasar karena hal ini termasuk salah satu tugas yang di bebankan Allah kepada hamba-hambanya.
Kemudian lihatlah bagaimana beliau menghilangkan sifat tadbir dan menyerahkan semua pengeturan kepada Allah SWT. Tatkala beliau selesai melakukan tugas yang dibebankan padanya maka beliau menghadap pada tugas yang lebih mulia yang menjadi tujuan utama Allah menciptakan manusia yaitu beribadah kepada-Nya.
Beliau tidak menoleh dan memperdulikan asbab ketika telah berpindah pada ruang lingkup makam tajrid. Bahkan beliau bertawakkal dan menyerahkan semua pengaturan dan hasil-hasil asbab kepada Allah SWT.
Pembuangan sifat tadbir ini bisa dihasilkan karena adanya kemantapan hati bahwa seseorang tidak akan bisa memberi pengaruh terhadap asbab-asbab yang dia lakukan. Dan adanya keyakinan bahwa semua peristiwa yang terjadi tidak akan berjalan kecuali sudah menjadi keputusan Allah SWT. Maka dari itu tidak ada gunanya katika seseorang bersedih atau tergoncang jiwanya sehingga dia berpaling dari Allah SWT Dzat yang memeberi rizqi dan mengatur semua hal itu.
Mungkin ada sebagian orang yang bertanya "Mengapa Ali bin Hasan ra. tidak meninggalkan ibadahnya ketika api sedang membakar pasar? dan mengapa tidak menyelamatkan dagangannya?, padahal ketika ada seseorang sedang menuju shalat kerahnya maka dia harus mempercepat shalatnya dengan melakukan hal-hal yang fardlu saja tanpa melakukan hal-hal yang sunnah di dalam shalat".
Adapun jawabannya adalah sebagai berikut, seandainya beliau menuju hal-hal yang berbau duniawi maka beliau harus menyerahkan tenaganya untuk melakukan asbab yang bisa menjaga dagangannya dan berda pada makam asbab. Padahal telah kita ketahui bahwa pada saat itu beliau sudah berpindah untuk mengerjakan hak-hak Allah yang lebih mulia dan beliau telah selesai melakukan tugasnya di maqam asbab dan beralih pada kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah SWT. Jadi tidak ada hal yang menuntut beliau utuk perpaling dari kewajiban-kewajiban tersebut ketika sedang dikerjakan lebih-lebih manghdap pada hal-hal yang bersifat duniawi setelah ditinggalkan.
1.penerjemahan tidak leterlek.
2.yang di anggap tidak perlu boleh di buang.
3.memakai sub judul/judul kecil.
4.memakai bahasa santri dan arab.
5.menjauhi bahasa intelek.
6.memakai kitab matan dan syarah.
7.quran dan hadits di beri surat ayat dan perowi.