من جهل المريد أن يسيء الأدب فتؤخر العقوبةعنه فيقول لو كان هذا سوء أدب لقطع الإمداد وأوجب الإبعادفقد يقطع المدد عنه من حيث لا يشعر ولو لم يكن إلا منع المزيد وقد يقام مقام البعد وهو لا يدري ولو لم كن إلا أن يخليك وما تريد
“Termasuk kebodohan murid ialah suul adab (berperilaku buruk). Ketika siksa padanya ditangguhkan ia berkata “seandainya ini adalah suul adab pastilah kenikmatanku telah terputus dan di jauhkan dari Allah SWT”. Padahal terkadang tanpa ia rasakan kenikmatan telah terputus darinya, dengan tidak bertambahnya kenikmatan padanya. Dan terkadang tanpa ia ketahui ia telah dijauhi oleh Allah SWT, dengan kosongnya hatimu dari Allah SWT dan terhalangnya apa yang kamu inginkan”.
PENGERTIAN MURID
Murid menurut ulama suluk adalah orang yang menempuh perjalanan untuk membersihkan dan mensucikan diri dari kotoran-kotoran dan penyakit-penyakit dengan meminta arahan pada orang alim yang bersih hatinya dan bagus perilakunya.
Namun kata murid dalam hikmah ini hendaklah dipahami secara lebih luas. Sebab murid yang dikehendaki Ibnu ‘Athoillah adalah semua orang yang ingin mendekatkan diri  pada Allah SWT dengan istiqomah memperbaiki keadaan dirinya dan perilakunya.
KESALAHPAHAMAN SEORANG MURID
Terkadang dari seorang salik muncul perbuatan yang merusak agamanya, menafikan hukum-hukum syariat atau bertentangan dengan etika seorang salik. Perbuatan ini berlangsung hingga beberapa lamanya tanpa ia sadari bahwa perbuatan ini merupakan siksa dan pelajaran atas apa yang telah ia lakukan. Ia membayangkan bahwa hal yang ia anggap kemaksiatan atau kesalahan bukanlah sebuah kemaksiatan atau kesalahan. Ketidak sadarannya ini tidak lain merupakan akibat dari qoswah (kerasnya hati) yang menimpa dirinya tanpa ia rasakan. Karena jika tidak demikian pastilah kesalahan yang tidak ia sadari ini tidak terjadi dan ia merasa malu untuk melakukan kemaksiatan dan kesalahan. Jika ia melakukan kemaksiatan atau kesalahan ia merasa seperti orang yang ditangkap sebab kesalahannya, ia menunggu sanksi apa yang ia terima atas perbuatannya. Dan terkadang sanksi untuknya ditangguhkan, maka hatinya akan selalu bergejolak dan cemas.
Dari sini dapat kita pahami bahwa menganggap remeh kemaksiatan adalah akibat dari kerasnya hati. Dan cukuplah siksaan dari Allah SWT yang ditimpakan pada pelaku maksiat berupa lupanya hati pada Allah SWT yang sebelumnya hudlur pada Allah SWT. Ini adalah siksaan yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya, karena siksaan ini bukanlah hal yang kasat mata yang menimpa jasad, keamanan ataupun harta benda.
Seseorang hendaklah selalu waspada dengan berbagai macam bentuk teguran dari Allah ketika ia merasa melakukan kesalahan atau ceroboh dalam memenuhi hak-hak Allah SWT. Dan ia juga haruslah mengetahui bahwa berbagai macam teguran dari Allah SWT tidaklah selalu berupa teguran yang kongkrit atau kasat mata dan juga tidak serta merta menimpa ketika ia berbuat salah. Terkadang siksa itu berupa hilangnya kenikmatan dalam beribadah, dan ini merupakan musibah yang besar. Terkadang berupa terputusnya ia untuk bisa mengikuti suluknya pada Allah SWT, terkadang terperangkap cinta dunia di hatinya, terkadang juga Allah SWT menangguhkannya hingga hari kiamat.
Seorang yang selalu ingat Allah SWT dan selalu mendekatkan diri pada-Nya akan selalu ingat dan selalu berhati-hati dengan semua kemungkinan-kemungkinan ini. Jika sudah demikian ia akan selalu khawatir/waspada dengan siksa Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Hal demikian ini merupakan salah satu makna yang terkandung dalam firman Allah SWT
إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم (الأنفال 2)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya” (Q.S. Al-Anfal:2)
Jika ada yang bertanya, apakah  orang yang selalu ingat Allah SWT, taat dengan segala aturannya, masih harus merasa khawatir dengan ancaman-ancaman Allah SWT??
Semua manusia di dunia ini tidak ada yang ma’sum kecuali para Nabi dan Rosul. Semua Bani Adam pasti pernah melakukan kesalahan. Karenanya hendaklah kita selalu khawatir atas kemaksiatan-kemaksiatan yang  kita lakukan dan kewajiban-kewajiban yang kita tinggalkan atau kewajiban yang dilakukan tidak sesuai dengan aturannya. Orang yang mencapai derajat sholihin akan dihadapkan dengan berbagai macam kemaksiatan dan dosa. Hikmah dibalik semua itu adalah seorang muslim akan merasa khawatir dan tukut akan siksa Allah SWT, entah siksaan itu berupa peringatan di dunia atau berupa balasan kelak di akhirat. Agar dalam diri manusia semakin tanpak sifat kehambaannya kapada Allah SWT.
Adapun kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada manusia bisa menjadi barometer ketaqwaannya pada Allah SWT. Orang yang taat, istiqomah menjalankan perintah-perintah Allah SWT, berusaha untuk selalu menjauhi larangan-larangan-Nya lalu Allah SWT menganugrahinya kenikmatan, kesenangan hidup, jika suatu saat kenikmatannya itu di cabut ia merasa susah dan berputus asa, maka ia termasuk orang yang  kuwalitas ketaqwaannya masih rendah. Orang yang demikian ini telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran
وإذا أنعمنا على الإنسان أعرض ونأى بجانبه وإذا مسه الشركان يؤسا (الإسراء 83)
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kapada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong, dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa” (Q.S. Al-Isro’ 83)
Maksudnya ketika ia dalam keadaan enak, penuh kenikmatan ia bangga dengan amal-amal yang telah ia kerjakan, maka bagaimana mungkin ia bisa khawatir dan waspada dengan ancaman Allah SWT karena sedikit saja kesalahan yang mungkin ia  lakukan. Dan sebaliknya ketika ia dalam keadaan susah atau mendapat musibah ia berpaling dari hukum Allah SWT dan berputus asa dari kenikmatan dan rahmat Allah SWT yang telah dijanjikan. Atau mungkin sebaliknya ia akan semakin banyak berdoa dan berharap kepada Allah SWT 
وإذا أنعمنا على الإنسان أعرض ونأى بجانبه وإذا مسه الشرفذو دعاء عريض (فصلت 51)
“Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa”. (Q.S. Fushilat:51)
Agar kita terbebas dari dua sifat manusia yang disebutkan Allah SWT di atas hendaklah kenikmatan yang kita terima bisa menjadikan kita selalu bersyukur, dan musibah yang kita hadapi mendorong kita untuk bersabar dan sadar akan kesalahan yang pernah kita lakukan. Sebab orang yang selalu bersyukur dengan nikmat yang ia terima ia tidak akan membanggakan amalnya dan tidak pula berdalih bahwa kemaksiatannya telah diampuni. Dan orang yang bersabar dan bertaubat ketika menghadapi musibah tidak akan berpaling dari Allah SWT ataupun berputus asa dari rahmat-Nya.
FENOMENA KESALAH PAHAMAN MURID DALAM MASYARAKAT
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa kaidah atau aturan yang bisa terapkan pada perseorangan atau perindividu bisa diterapkan dalam suatu kelompok atau masyarakat. Misalnya dalam sebuah organisasi atau masyarakat diberi ketentraman dan kemakmuran oleh Allah SWT, padahal mereka enggan menjalankan perintah Allah SWT dan menghina hukum-hukum Allah SWT. Sehingga nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka tidak menjadikan mereka menjadi lebih baik melainkan menjadikan mereka terlena dan jatuh dalam kemaksiatan, bahkan mereka beranggapan “ masyarakat kita adalah masyarakat yang  diridloi Allah SWT, buktinya masyarakat kita diberi nikmat yang melimpah, kemakmuran dan aman.  Padahal  anggapan mereka ini adalah anggapan yang keliru.
Bisa kita lihat masyarakat yang sebaimana di jelaskan di atas merupakan gambaran sebuah masyarakat yang mudah putus asa dan menentang hukum-hukum Allah SWT ketika sedang tertimpa musibah. Namun jika masyarakat ini adalah umat islam ,maka Allah SWT akan menjadikan umat islam terpuruk di dalam kehinaan setelah merasakan kejayaan. Tidak hanya itu bahkan Allah SWT juga menjadikan umat lain yang semula takut dan segan dengan umat islam menjadi umat yang lebih kuat dan mampu menguasai umat islam. Sehingga umat islam menjadi tak berdaya di bawah kekuasaan umat tersebut.
Problem yang demikian ini merupakan penyakit yang tak ada obatnya. Umat islam yang  terkena penyakit ini akan mengaku bahwa dirinya beragama islam, tetapi perbuatannya tidak mencerminkan islam. Sehingga sudah sepatutnya mereka tertimpa musibah dan di beri peringatan serta di jauhkan dari nikmat-nikmat Allah SWT. Namun jika mereka tertimpa musibah maka mereka akan mudah putus asa dan menentang hukum-hukum Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, jika mereka di beri kenikmatan oleh Allah SWT justru mereka malah menjadi semakin sombong.
Uraian di atas sesuai dengan kondisi umat islam sekarang ini. Hal ini menyebabkan umat islam menjadi terpuruk di bawah kendali umat lain. Sekarang jika kita mengingatkan mereka akan pentingnya dakwah islam dan memajukan islam dengan cara mencetak generasi islami yang berakhlak mulia maka kita akan di anggap sebagai orang yang mempunyai pola fikir yang kuno bahkan mereka menghina pendidikan , nilai-nilai islam dan akhlak yang terpuji.
Tak jauh berbeda ketika dengan perlahan-perlahan kita mengingatkan mereka agar mau melaksanakan hukum-hukum Allah SWT yang telah ditetapakan kepada hamba-Nya ,dengan tujuan supaya  pada akhirnya mereka bisa menjalankan islam dengan sepenuhnya, mereka justru menuduh kita sebagai orang yang fundamental yang menghadang kemodernan dan mengambing hitamkan kita sebagaii penyebab timbulnya fitnah dan pertikaian.
Tindakan dan pemikiran buruk yang sering beredar di sekitar kita merupakan sebuah tindakan dan pemikiran yang sudah melampaui batas kebebasan berfikir dan berekspresi. Namun jika kita mengingatkan mereka akan pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar maka masih saja mereka berdalih bahwa kebebasan berfikir dan berekspresi merupakan sesuatu yang harus di jaga.
 Jika ada orang mengatakan “perkataan yang kotor tidak ada hubungan dengan kebebasan berfikir karena pemikiran yang diberi ke bebasan adalah pemikiran yang berasal dari akal dan diucapkan dengan lisan bukan pemikiran yang timbul dari nafsu yang diucapkan seenaknya saja” maka orang yang berkata demikian inii akan dianggap sebagai orang yang kolot. Namun orang yang membela agama Allah SWT dan mengagungkan Al Quran menurut mereka merupakan orang yang berfikiran jumud. Sedangkan orang yang menghina Al Quran dengan kata-kata kotor malah dinilai sebagai seorang pencerah yang membawa kemajuan.
Sekarang kita tahu keadaan umat islam yang sebenarnya. Sehingga  tidak aneh Allah SWT menjadikan umat islam berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir.
Pernah terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan dan menjadikan warga arab naik darah, yaitu ketika orang  yahudi membuat tulisan yang menghina baginda Rosulullah SAW pada dinding Masjidil Aqsho dengan menggunakan tulisan yang besar yang menarik perhatian.Dengan adanya peristiwa tersebut sangat aneh jika orang islam yang mendengar   peristiwa ini hanya diam, acuh tak acuh dan tak peduli. Karena hinaan yang ditulis orang yahudi tersebut merupakan wujud hinaan yang keluar dari mulut orang-orang  yang melecehkan agama islam.
Sebagaimana yang telah mereka katakan bahwa perkataan yang jelek juga merupakan kebebasan berfikir yang sudah sepatutnya medapat tanggapan positif. Jika benar demikian berarti kata-kata kotor yang ditulis oleh orang yahudi juga merupakan kebebasan berfikir yang seharusnya mendapat apresiasi bagus. Namun faktanya orang-orang arab justru malah mengadakan demo karena tidak terima atas hinaan yang mereka lontarkan kepada agama islam. Jadi jelas bahwa orang yahudi dan antek-anteknya yang mengaku sebagai pencerah dan mengajak kemoderenan, justru sebenarnya  pemikiran merekalah yang harus dibenahi dan disingkirkan dari hadapan kaum muslimin.

Perjanjian di Depan Allah
1.      Memulai aktifitas dengan sholat shubuh berjama’ah di masjid terdekat -lebih baik lagi jika bisa bangun sebelum shubuh dan sholat tahajjud dahulu- lantas kita berdzikir, bermunajat, dan berdoa menghadap Allah sampai terbitnya matahari.
2.   Ketika mendengar suara adzan di mana pun kita berada dan dalam keadaan apapun, maka kita harus cepat-cepat menuju ke masjid terdekat untuk melakukan solat berjamaah. Karena seorang muslim yang selalu menuju dan mengungsi ke rumah Allah lima kali dalam sehari semalam, maka aktifitas keduniaannya tidak akan membahayakannya.
3.  Berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak menggunakan umur kita yang berharga kecuali untuk taat pada Allah, bekerja untuk mencari ilmu atau rizki yang halal, dan untuk beristirahat ketika merasa bosan dan lelah.
4.   Ketika kita hendak tidur, maka kita harus membayangkan bahwa kemungkinan tidur ini adalah tidur untuk selama-lamanya, tidur terakhir kita di alam dunia. Sebelum tidur, kita mengingat-ingat umur kita yang telah lalu yang kita gunakan untuk permainan dan maksiat. Lalu kita beristighfar kepada Allah dengan perasaan susah dan menyesal. Kemudian membaca surat al-Naas, al-Falaq, al-Ikhlas, al-Kafirun, dan doa-doa tidur. Setelah itu, kita berusaha untuk tidur dalam keadaan membaca tasbih, tahmid, takbir, istighfar, dan dzikir.
5.   Ketika kamu mendapatkan kenikmatan atau cobaan, maka jangan lupa hakekat bahwa tidak ada yang memberi manfaat dan tidak ada yang menolak madhorot (bahaya) kecuali Allah. Semua manusia tidak bisa mengatur dirinya apa lagi mengatur orang lain. Lalu gantungkan hatimu pada Allah semata, bersyukur atas nikmat-Nya, sabar atas cobaan-Nya, dan bersimpuh di depan pintu-Nya.
6.    Sesudah kamu melakukan sholat dan selesai dari aurod-aurodmu, maka jangan berdiri dulu sebelum mengangkat tanganmu pada Allah seraya berdo’a dengan segala kerendahan hati dan penuh kehinaan, meminta pada-Nya untuk memberikan hajat-hajatmu, menghindarkan dari segala ketakutanmu, dan mengampuni segala kesalahanmu. Tidak ada kebaikan dalam sholat yang tidak diakhiri dengan do’a kepada Allah.
7.    Ketika kamu merasa ditinggalkan manusia dan dibenci oleh mereka, maka jadikan ridlo Allah sebagai pelipur hatimu. Dan ketahuilah bahwa hal itu lebih baik daripada manusia menyukaimu tetapi engkau dibenci Allah.
8.  Ketika nafsumu menarikmu untuk ghibah (membicarakan kejelekan) pada saudaramu, maka ingatlah bahwasanya kamu mempunyai banyak kecacatan yang apabila Allah membukanya, niscaya kecacatanmu itu menjadi pembicaraan manusia dan menjadi bahan pergunjingan di antara mereka. Jika kamu mengingat hal ini, maka kamu akan menjadi malu kepada Allah untuk melakukan ghibah yang diharamkan ini. Lalu kamu akan fokus pada syukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang berupa ditutupinya kecacatanmu.
9.  Berusahalah sekuat tenaga untuk menjadikan modalmu yang kamu haturkan nanti di hadapan Allah berupa hati yang suci dari kotoran kebencian. Karena taat yang sedikit itu menjadi cukup kalau keluar dari hati yang bersih. Dan banyaknya taat tidak mencukupi kalau keluar dari hati yang kotor dan penuh dengan kebencian.
10.Ketika nafsumu mengajak untuk melakukan keharaman atau keluar dari perjanjian ini, maka ingatlah akan kematian. Karena kematian itu ketika diingat akan mengecilkan besarnya maksiat dan menjadikan  besar dan banyaknya ibadah dan taat.

Doakanlah saudaramu ini untuk bisa menetapi perjanjian ini, dan aku doakan kamu juga bisa menetapinya. Aamiin…

خف من وجود احسانه اليك ودوام اساءتك معه ان يكون ذلك استدراجا لك سنستدرجهم من حيث لايعلمون
Takutlah dengan adanya kebaikan Allah kepadamu sementara kamu durhaka kepada-Nya, karena mungkin saja itu adalah bentuk istidroj kepadamu. “Kelak akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang mereka tidak ketahui”.
PENGERTIAN ISTIDROJ
Sebelum kita mengetahui makna istidroj, ada baiknya kita mengetahui dahulu dua sikap yang berkenaan dengan nikmat Allah SWT. Yakni syukur nikmat dan kufur nikmat. Syukur dan kufur adalah dua sikap yang bertentangan. Kebanyakan orang memahami syukur adalah  sebagai ungkapan pujian kepada Allah SWT seperti الحمد لله, الشكر لله ,نشكرالله  atas nikmat yang telah karuniakan oleh Allah SWT kepadanya. Jadi orang yang mengucap الحمد لله, الشكر لله ,نشكرالله  dan sejenisnya ketika mendapatkan nikmat adalah orang yang bersyukur menurut kebanyakan orang. Tapi bagaimana menurut Allah SWT?
Allah SWT berfirman:
 و قليل من عبادي الشكور (سباء 13)
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang bersyukur”. (Q.S. Saba’:13)
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa syukur yang dikehendaki Allah SWT dan yang di perintahkan kepada kita adalah syukur yang memiliki makna yang lain, tidak hanya sekedar ungkapan pujian semata. Syukur yang di maksud adalah penggunaan segala sesuatu yang telah diberikan Allah SWT sesuai dengan fungsi dan tujuannya menurut agama. Dan kebalikannya adalah kufur, yakni tidak mengakui adanya anugerah dari Allah SWT kepadanya atau tidak menggunakan nikmat sesuai fungsi dan tujuanya menurut agama. Dan dari dua sikap yang berbeda ini pula Allah SWT menjanjikan dua hal yang berbeda. Allah SWT berfirman:
 لئن شكرتم لازيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد (ابراهيم 7)
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepada mu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrohim:7)

Setelah kita mengetahui makna syukur dan kufur, maka kita tahu bahwa orang yang kufur nikmat berarti ia menawarkan dirinya untuk terhalang dari nikmat yang dianugerahkan kepadanya atau bahkan terputus dari nikmat tersebut. Namun bagaimana jika ada orang yang terus  berada dalam kenikmatan padahal ia adalah orang yang kufur nikmat? Ketahuilah bahwasannya orang tersebut adalah orang yang mendapatkan istidroj, seperti yang dimaksud dalam ayat di bawah ini:

 فذرني ومن يكذب بهذا الحديث سنستدرجهم من حيث لا يعلمون وأملي لهم إنَ كيدي متين (القلم 44-45)
Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan orang-orang yang mendustakan perkataan  ini (Al-Quran). Kelak akan kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang mareka tidak ketahui. Dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh rencana-Ku sangat teguh”. (Q.S. Al-Qolam:44-45)

Jadi secara ringkas istidroj  adalah pemberian nikmat kapada orang yang mengkufurinya dalam rangka agar orang tersebut semakin lupa dan terus dalam kekufurannya atas nikmat yang diterimanya tersebut  sebagai bentuk murka Allah SWT kepadanya.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN KETIKA MENDAPAT NIKMAT?
Ketika seorang muslim mendapat nikmat dari Allah SWT, maka hendaknya orang tersebut bisa lebih waspada dalam dirinya, mau meraba apakah nikmat yang begitu besar berupa iman sudahkah disyukuri atau belum, sehingga muhasabah dan mawas diri seperti ini akan menjadikan kita takut akan nikmat yang kita terima ,apakah ini nikmat dari Allah SWT atau istidroj.
Adapun  dampak positif yang timbul dari mawas diri dan takut atas nikmat Allah SWT adalah timbulnya perasaaan yang mendorong diri kita untuk selalu memperbaiki diri dan bersyukur. Namun jika ada orang berkata “ketika aku mengintropeksi diri aku merasa sudah melaksanakan hak-hak Allah SWT dan mensyukuri nikmat-Nya, sehingga aku bingung bagaimana aku bisa merasa takut kepada Allah SWT sedangkan aku sudah menjalankan hak-hak Nya”. Maka orang semacam ini orang yang merasa telah  menjalankan hak-hak Allah SWT, tidak melakukan kesalahan dan bersyukur atas nikmat Allah SWT merupakan orang yang mempunyai prasangka yang salah.
Dari keterangan diatas bisa kita pahami, bahwa orang yang mengetahui keagungan Robbnya maka ia akan merasa bahwa begitu banyak hak-hak Allah SWT yang belum ia kerjakan dan begitu banyak kesalahan-kesalahan yang ia perbuat. Tetapi hal ini berbeda dengan seorang hamba yang merasa bahwa dirinya telah menjalankan hak-hak Allah SWT dan merasa nikmat Allah SWT yang diberikan kapadanya merupakan hasil jerih payahnya, maka orang yang demikian ini adalah orang yang jauh dari Allah SWT dan terjatuh pada lubang kesalahan.
Bisa kita simpulkan seorang mukmin disamping husnudzon hendaknya selalu waspada akan nikmat-nikmat Allah SWT yang telah diberikan, apakah ini istidroj atau  bukan. Banyak dari kita yang telah mencapai derajat yang tinggi disisi Allah SWT sebagaiman derajat yang di capai oleh sayyidina Umar r.a, diceritakan ketika sayyidina Umar mendapat ghonimah dari ekspansi islam, beliau merasa sedih dan susah karena takut akan nikmat-nikmat yang ia terima merupakan istidroj dari Allah SWT. Bahkan diceritakan oleh Ibnu Umar dalam kitab Bidayah Wannihayah dan di dalm kitab Thobaqot oleh Ibnu Sa’ad, diceritakan ketika Umar r.a diberi harta ghonimah hasil dari ekspansi islam di Qodisiyah Persi, sayyidina Umar r.a seraya menangis berkata,”jangan sekali–kali, demi Dzat yang jiwaku berada pada kekuasaaNya, Allah SWT menahan (tidak memberi kemenangan) kepada Nabi dan Abu Bakar r.a karena menghendaki kejelekan kepada mereka, bukan pula Allah SWT memberi kemenangan kepada Umar karena menghendaki kebaikan kepadanya”.
Jadi tak aneh jika seorang muslim yang telah mencapai derajat robbaniyyun sebagaimana sayyidina Umar r.a akan selalu hidup dengan disertai kewaspadaan atas nikmat-nikmat Allah SWT yang diberikan kepadanya, apakah ini merupakan nikmat  atau merupakan istidroj ? Karena orang yang seperti ini merasa bahwa  dirinya masih berprilaku buruk. Sehingga ia selalu merasa bahwa nikmat Allah SWT yang diberikan kepadanya merupakan istidroj.

BAROMETER ISTIROJ
Dalam kapasitas orang awam seperti kita, barometer untuk membedakan nikmat yang datang dari Allah SWT sebagai kemuliaan atau sebagai sebuah istidroj adalah dengan melihat aqidah dan suluk penerima nikmat. Ketika seseorang yang mendapatkan nikmat, dia beranggapan bahwa nikmat yang diterima adalah murni pemberian dari Allah SWT bukan disebabkan amal-amalnya kemudian dia tidak memperdulikan banyak sedikitnya nikmat serta tidak menganggapnya penting dan dalam setiap langkahnya dia selalu mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya serta menggunakan nikmat yang telah diterimanya itu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjauhkannya dari hal-hal yang di benci Allah SWT, maka bisa di simpulkan bahwa nikmat yang di terimanya tersebut adalah sebuah kebaikan dan kemuliaan yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya. Namun sebaliknya, jika ada seseorang yang mendapatkan nikmat dia menganggap nikmat yang diterimanya adalah sebab atau hasil dari kerja atau usahanya sendiri sampai-sampai dia lupa Allah SWT sebagai musabbibul asbab,  kemudian bersamaan dengan itu dia selalu menuruti hawa nafsu dan kasenangannya dan melupakan Allah SWT sang pemberi nikmat serta melupakan perintah dan wasiat Allah SWT, juga melanggar batas-batas perkara yang di haramkan-Nya, maka jelaslah bahwa nikmat yang diterimanya adalah sebuah istidroj dari Allah SWT yang akan menterpurukannya dan akan menambahkan siksa baginya.

CONTOH-CONTOH ISTIDROJ
Perlu kita ketahui bahwasannya  istidroj yang diberikan pada sebuah kelompok atau negara yang mana kelompok atau negara tersebut telah lalim/angkuh dan bertindak semena-mena bukanlah suatu hal yang dianggap aman atau nikmat yang akan bertambah terus-menerus. Bahkan hal yang seperti itu menjadi tanda-tanda kehancuran kelompok atau negara tersebut. Akan tetapi tanda kehancuran suatu negara itu berbeda dengan tanda kehancuran yang dialami perorangan , yang mana kehancuran suatu negara akan terjadi ketika negara tersebut menuai masa kejayaan sebagaimana yang dialami oleh perorangan pada umumnya. Jika mengetahui tanda kehancuran pada suatu negara, maka jangan dikira negara tersebut akan hancur begitu saja dalam jangka waktu 2 atau 3 tahun yang mendatang sebagaimana hancurnya manusia yang penyakitnya telah menyebar ke seluruh tubuhnya, karena kehancuran suatu organisasi atau negara dihitung dengan jangka waktu yang lama sedangkan seorang manusia kehancurannya bisa dihitung dengan hitungan hari atau tahun. Yang terpenting kita harus memperhatikan bahwasannya sudah menjadi sunatullah bahwa kehancuran suatu negara yang lalim itu terjadi ketika negara yang angkuh akan kesombongannya tersebut mencapai puncak kejayaan maka disitulah Allah SWT akan manghancurkan atau menjatuhkan negara tersebut dari kejayaannya.
Ketahuilah bahwasannya Qorun ketika dia membangga-banggakan atau sombong dengan hartanya dan kekuasaannya maka disitulah Allah SWT memberikan tambahan istidroj atas apa yang telah di lakukunnya dan juga Allah SWT memberinya waktu yang cukup untuk dia mencapai puncak kedurhakannya tersebut, sehingga orang-orang yang bodoh berperasangka atau mengira bahwa Qorun telah di anugerahi kebahagiaan dan kekuasaan yang bisa di nikmati sebagaimana layaknya seorang raja, sehingga mereka berangan-angan ingin mendapatkan seperti apa yang di dapat oleh Qorun. Sebagaiman firman Allah SWT:

 يا ليت لنا مثل ما اوتي قارون إنه لذو حظ عظيم (القصص 79)
“mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah di berikan kepada Qorun, sesungguhnya dia mempunyai keberuntungan yang besar”. (Q.S. Al Qoshosh:79)

Namun ketika Qorun telah mencapai puncak kelaliman, kekayaan serta kekuasaan maka Allah SWT dengan sekejap saja menghancurkan dan membinasakan kekuasaan dan kekayaannya. Sebagaimana firman Allah SWT:

 فخسفنا به وبداره الارض (القصص 81)
“Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya kedalam bumi”. (Q.S. Al Qoshosh:81)

Jika kita menengok cerita Fir’aun yaitu seorang yang keras kepala, congkak, lalim yang tak mau menerima saran dan nasehat dari orang lain bahkan ia menganggap remeh ancaman dari Allah SWT yang di tujukan kepadanya sehingga Allah SWT membiarkan semua perbuatannya dan memberinya harta dunia yang melimpah hingga ia menjadi lebih congkak dan sombong bahkan merasa bahwa dunia berada di genggamannya serta ia beranggapan bahwa tidak ada qodlo’ atau putusan kecuali darinya hingga akhirnya Allah SWT menenggelamkannya dalam laut dan membinasakannya. Sebagaimana firman Allah SWT:

 ودمرنا ماكان يصنع فرعون وقومه وما كانوا يعرشون (الاعراف 137)
“Maka Kami hancurkan apa yang telah di perbuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun”. (Q.S. Al A’rof:137)    

PENJAJAHAN ORANG BARAT TERHADAP ORANG ISLAM
Kebanyakan orang-orang zaman sekarang menanyakan tentang menguasainya orang-orang kafir terhadap orang-orang islam. Mungkin diantara mereka akan  bertanya; apabila ini merupakan sunatullah yang berupa istidroj kepada mereka, maka kapankah kehancuran mereka? Apakah kekuasaan mereka itu bisa menguasai orang-orang islam dan merebut hak-hak mereka?
Jawabannya adalah muslim yang sekarang bukanlah muslim yang dijanjikan oleh Allah SWT dengan dianugerahi pertolonganan, yakni orang-orang yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

 إنا لننصر رسلنا والذين امنوا في الحياة الدنيا ويوم يقوم الاشهاد (غافر 51)
“Sesungguhnya Kami akan  menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari kiamat)”. (Q.S. Ghofir:51)

Dan juga bukan muslim yang dikhitobi oleh Allah SWT dalam ayat:

 لنهلكن الظالمين ولنسكننكم الارض من بعدهم (ابراهيم 13-14)  
Kami pasti akan membinasakan orang yang dholim itu. Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka”. (Q.S. Ibrohim:13-14)

Dan juga bukan orang-orang yang dijanjikan oleh Allah SWT  dalam ayat:

 وعدالله الذين أمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الارض كما استخف الذين من قبلهم (النور 55)
“Allah telah menjajikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa”. (Q.S. Annur:55)

Tapi muslim yang sekarang ini adalah muslim yang bermodel-model yang mengherankan. Sesungguhnya mereka mengklaim dirinya sebagai orang islam dengan menggunakan ucapan-ucapan dan lambang-lambang islam belaka. Sebenarnya mereka bosan dengan aturan-aturan islam, mereka menganggapnya kuno yang tidak ngetrend pada zaman sekarang. Mereka suka merubah semua hukum-hukum islam, karena mereka menganggap sekarang sudah zaman modern, dan kemungkaran tersebut sudah masyhur dikalangan masyarakat, sehingga kemungkaran tersebut seakan-akan menjadi hal baik yang mereka sukai. Maka bagaimana mungkin mereka mendapat pertolongan dari Allah SWT sedangkan mereka  tidak berpegangan dengan hukum-hukum islam.

Ketahuilah bahwasannya sunatullah di dunia ini akan berjalan sesuai dengan keadaannya penghuninya. Hanya saja keberadaan orang-orang mukmin yang patuh pada aturan-aturan Allah SWT dan orang-orang yang ingkar kepada Allah SWT dan aturan-aturan-Nya ibarat timbangan yang berat salah satunya. Apabila orang-orang mukmin itu memang benar-benar iman kepada Allah SWT, memenuhi hak serta kewajibannya kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan menjadikan pimpinan kehidupan dipegang oleh mereka, memberikan kemulyaan, kenikmatan dan pertolongan kepada mereka yang tidak terhingga dan mengangkat derajat mereka.

Namun jika orang-orang mukmin menyia-nyiakan syariat Allah SWT, menganggap remeh aturan-aturan Allah SWT, lisannya tidak sesuai dengan hatinya, serta mereka sudah tidak punya himmah untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar atau bahkan mereka merasa muak dengan hal-hal yang ma’ruf, maka Allah SWT akan menjadikan kelangsungam hidup dan kekuasaan yang semestinya mereka miliki barada pada genggaman umat lain, meskipun umat tersebut merupakan orang yang durhaka dan kafir.
Aturan dalam dunai ini akan terus berjalan, dan adanya orang-orang mukmin yang durhaka serta tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajibannya tidak menjadikan aturan-aturan tersebut lenyap begitu saja. Akan tetapi Allah SWT akan menyerahkan kendali dunia yang seharusnya dimiliki orang mukmin kepada umat lain sebagai akibat atas perbuatan-perbuatan orang-orang mukmin yang telah menyia-nyiakan amanah dan mengingkarinya. Dijelaskan dalam Al-Quran:
 و كذلك نولي بعض الظالمين بعضا بما كانوا يكسبون (الانعام 129)
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang dholim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan”. (Q.S. Al An’am:129)

Di ayat lain juga menerangkan aturan-aturan Allah SWT yang ditujukan kepada Bani Israil, sebagaimana firman Allah SWT:

 فاذا جاء وعد اولا هما بعثنا عليكم عبادا لنا اولي بأس شديد فجاسوا خلال الديار وكان وعدا مفعولا (الاسراء 5)
“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”. (Q.S. Al Isro’:5)

Sebagaimana yang telah kita ketahui dari ayat diatas, bahwa Bani Israil merupakan contoh segolongan kaum yang mengingkari janji dan mengkufuri nikmat-nikmat Allah SWT yang diberikan kepada mereka, sehingga Allah SWT membiarkan mereka dalam kesengsaraan dibawah penindasan Bukhtanashoro dan kaumnya.
Di dalam sabda Nabi SAW juga disebutkan:
 إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لاينزع حتى ترجعوا إلى  دينكم
“Jika kalian jual beli dengan barang riba, memegang ekor sapi (beternak hingga lupa ibadah), ridlo dengan tanamannya (bekerja hingga lupa ibadah) dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan membiarkan kalian semua dalam kesengsaraan hingga kalian semua kembali kepada agama kalian semua”.

Dahulu ketika Sa’ad bin Abi Waqosh berangkat bersama dengan pasukannya untuk menaklukan Qodisiyah, sayidina Umar r.a sempat menghimbau tentaranya agar menjauhi perbuatan-perbuatan dosa. Karena dengan adanya kemaksiatan akan menyebabkan terkalahkan oleh orang-orang dholim. Sayidina Umar r.a berwasiat kepada Sa’ad, “Wahai Sa’ad, sesungguhnya Allah SWT tidak menghapus kejelekan dengan kejelekan, tetapi Allah SWT menghapus kejelekan dengan kebaikan. Jagalah pemimpinmu dan orang-orang yang  bersamamu dari berbuat dosa, karena dosa-dosa tentara lebih berbahaya dari pada musuh mereka. Umat muslim diberi kemenangan karena adanya kemaksiatan musuh kepada Allah SWT. Sehingga jika tidak demikian maka kita tidak punya kekuatan, karena jumlah kita tidak sama sengan jumlah mereka. Karenanya, jika kita juga berbuat maksiat kepada Allah SWT seperti halnya mereka, maka mereka akan unggul dan mengalahkan kita. Janganlah kalian berkata “sesungguhnya musuh kita lebih jelek, mereka tidak bisa mengalahkan kita. Cukup banyak kaum yang di kalahkan oleh kaum yang lebih jelek dari mereka karena, seperti Bukhtanashoro yang mengalahkan Bani Israil dan merajalela di kampung”.

Pendiri Daulah Usmaniyah membuktikan kebenaran sunatullah ini dan dia melihat bagaimana sunatullah ini berlaku pada zaman sesuai dengan umat yang ada didalamnya. Hingga ketika ia merasa ajalnya sudah dekat ia mendatangi putra sulungmya, menceritakan bukti sunatullah ini dan memberikan nasihat yang berharga “Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini seperti seekor semut yang lemah. Lalu Allah SWT memberikan nikmat yang agung ini kepadaku. Maka ikutilah jejakku, amalkan ajaran agama ini dengan teguh dan mulyakanlah pemeluknya. Ini adalah tugas para raja di bumi ini”.
Namun kita harus tahu bahwa kenyataan sekarang ini yang telah berlangsung sejak lama bukanlah dinamakan kemenangan orang-orang kafir atas orang-orang islam. Hal ini tidak adalah taslith atau tauliyah.
Saya mengatakan demikian bukanlah untuk menghibur orang islam dengan kenyataan yang menimpa mereka, tetapi mengungkap kenyataan yang ada pada orang mereka. Sama benarnya, apakah kita memahami bahwa dunia barat unggul dan menang atau taslith dan istidroj bahwa mereka menguasai orang islam dengan paksa dan hina dan orang islam menjadi terendahkan di bawah kekuasan mereka. Fakta ini bukanlah terjadi tanpa sebab. Ini terjadi akibat perbuatan orang islam itu sendiri. Mereka telah mengganti nikmat Allah SWT yang diberikan kepada mereka dengan kekufuran, lebih-lebih nikmat islam yang Allah SWT ridloi dan menjadikan mereka berkedudukan tinggi yang tidak dimiliki oleh seorangpun dari selain orang islam.
Walaupun demikian mayoritas dari kita tidaklah termasuk golongan yang berada pada tingkatan istidroj dengan adanya kenikmatan dan berlimpahnya kenikmatan. Tetapi kita masih berada pada tingkatan kesadaran pada Allah SWT. Dengan bukti anugerah besar yang kita nikmati terkadang hilang dan terhalang dari kita.
Semoga Allah SWT menjadikan nikmat yang diberikan kepada kita sebagai nikmat yang menjadikan kita semakin dekat kepada-Nya dan mengantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiiin……
Keluarga harmonis Kalau kita mengamati pada keseluruhan hukum islam, maka kita akan menemukan bahwa hukum islam itu terbagi menjadi tiga, yaitu: Pertama : tazkiyatunnafsi al-insaniyyah atau memperbaiki diri dari sifat-sifat tercela. Kedua : tandzimul usroh atau mengatur keluarga menuju keluarga yang bahagia. Ketiga : tandzimul usroh al- insaniyyah atau mengatur hubungan satu manusia dengan lainnya. Hukum-hukum islam ini adalah suatu anugerah dan nikmat yang tiada terkira dari Tuhan kita Allah S.W.T. Hukum Allah segi dhohirnya adalah kewajiban yang berat untuk kita lakukan tapi sebetulnya merupakan anugerah dan kemulyaan bagi kita, karena kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang hakiki kecuali melalui menerapkan hukum dan aturan allah swt. Ini yang di maksud dalam firman allah اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا Ketiga tingkatan tersebut adalah tingkatan yang berurutan, dengan kata lain suatu keluarga tidak mungkin bisa bahagia kalau anggota keluarga tidak menghilangkan sifat-sifat tercelanya (tazkiyatun nafsi), dan kita tidak akan bisa mewujudkan masyarakat yang bersih dan baik tanpa mendaki lebih dahulu pada dua tangga sebelumnya yaitu tazkiyatunnafsi dan tandzimul usroh. Disini kita dapat mengatakan bahwa seberapa keluarga taat pada perintah agama dengan menerapkan aturan-aturan Allah S.W.T, maka semakin kokoh dan bahagia keluarga tersebut. Sebaliknya seberapa keluarga jauh dari agama dan menyimpang dari aturan Allah S.W.T maka sebera besar itu juga dia dihinggapi keretakan dan dijauhkan. Mari kita lihat realita kehidupan keluarga di negara-negara yang jauh dari petunjuk Allah S.W.T di negara-negara maju barat, di sana sudah tidak lagi mengenal arti keluarga karena keluarga di sana telah cerai berai tanpa ada ikatan, anak tidak kenal ayah-ibunya, saudara tidak kenal saudaranya. Kemajuan tidak bisa mengganti kedudukan agama, kemoderenan tidak akan mampu membahagiakan manusia ketika mereka menjauh dari rahmah agama Allah S.W.T. Untuk kesemuanya ini Allah memerintahkan manusia untuk menegakkan aturan- aturannya. Allah menjadikan dalam keluarga suatu pemimpin yaitu seorang ayah, kemudian Allah memerintahkan anak-anak untuk berbuat baik pada kedua orang tua وقضى ربك أن لا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا إما إن يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا معروفا Nabi muhammad s.a.w ketika ditanya siapa dari manusia yang patut untuk aku temani? Nabi saw menjawab ibumu . Sail : lalu siapa? Nabi saw : ibumu. Sail : lalu siapa? Nabi saw: ibumu. Sail : lalu siapa? Nabi : bapakmu. ayah dan ibu dalam berumah-tangga adalah penyangga rumah tangga pemimpin dan nahkoda seisi rumah. وقضى ربك ان لا تعبدوا الا إياه وبالوالدين احسانا إما يبلغن عندك الكبر أحدهما او كلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما. روى احمد والترمذي وابن ماجه عن أبي الدرداء رضي الله عنه ان رجلا أتاه فقال : ان لي امرأة وان امي تأمرني بطلاقها قل ابو الدرداء سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : الوالد اوسط ابواب الجنة فان شئت فأضع ذلك الباب او احفظه. Diriwayatkan bawa ibnu umar punya istri yang dicintai tapi umar ayahnya tidak menyukainya lalu memerintahkannya supaya mentalak istrinya tapi sang anak tidak mau, lalu sang ayah matur pada rosulullah saw lalu nabi memerintahkan untuk menalaknya. Hadis ini bukan berarti orang tua boleh semena-mena memerintahkan anaknya dengan serampangan karena allah juga merintahkan orang tua bertaqwa pada Allah, kalau orang tua sudah bertaqwa pada Allah, maka dia akan memerintah dengan kebaikan. Ayat dan hadits-hadits itu menunjukkan pentingnya birrul walidain dan kita mesti berbangga dengan syariat islam yang telah membuka jalan menuju kehidupan harmonis dan bahagia dalam keluarga, islam adalah sumber kebahagiaan kita dalam kehidupan di dunia dan akherat, tidak mungkin kita bahagia kalau tidak menerapkan ajarannya. Bagaimana kita meninggalkan Tuhan kita yang menunjukkan jalan kebahagiaan, lalu kita mencari jalan kebahagian di kotoran tong-tong sampah. Sebagian kita ketika mendengar bahwa orang-orang kafir barat memperingati hari ibu lalu dia mengikutinya, mestinya dia bangga dengan syariat islam tapi dia justru bangga dengan budaya barat tersebut. Orang-orang barat mengadakan hari ibu karena kerusakan yang menimpa mereka sudah sangat parah sehingga mereka mengadakan peringatan hari ibu untuk mengembalikan anak-anak dalam mengingat lagi ibunya walau dalam satu hari saja. Agama kita memberitahukan dan memerintahkan supaya kita selalu dalam naungan aturannya. Maka angkat kepala kalian sebagai tanda kebanggaan Tanda kebanggaan akan syareat allah! Jangan mencari kebanggaan pada selain agama Allah! Jangan sampai menjauh dari aturan Allah, sebab kalau kalian membuang anugerah Allah ini maka kalian akan celaka selama lamanya. Wallahu a'lam.