🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah  174*

تحقق بأوصافك يمدك بأوصافه، تحقق بذلك يمدك بعزه،تحقق بضعفك يمدك بحوله وقوته

*_Artinya_*
Perlihatkan sifatmu maka Allah akan menolong dengan sifatnya.Perlihatkanlah kehinaan mu maka Allah akan memberikan keagungannya. Perlihatkanlah kelemahanmu maka Allah akan membantumu dengan kekuasaan dan kekuatannya

*_Syarh:_*

Kalau engkau merasa kaya Maka jangan meminta-minta kepada orang lain.
Kalau engkau merasa kuat maka jangan minta pertolongan orang lain.
Kalau engkau merasa Mulia Maka jangan menghinakan dirimu untuk meminta keagungan dari orang lain.
Orang yang kaya itu adalah orang yang kekayaannya tidak tergantung pada orang lain.begitu juga orang yang kuat dan orang yang mulia.
Kalau kamu merasa kaya tapi tergantung pada lingkunganmu sehingga hilang kekayaanmu karena lingkunganmu tidak mendukungmu maka itu sebagai dalil bahwasannya kamu tidak kaya, kamu tidak kuat dan kamu tidak mulia.
Manusia itu fakir dalam kekayaannya, lemah dalam kekuatannya, hina dalam keagunganya, karena dia membutuhkan zat yang lain, bukan bersumber dari dirinya.
Allah mengatakan:
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ)
[سورة فاطر 15]
"Hai manusia, kalian faqir kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji".

Kamu  sebagai manusia jangan mengingkari Jati dirimu.
Menghadaplah kepada Allah dengan kehinaan mu, mendekatlah kepada Allah dengan kelemahanmu maka Allah akan memberikan kekuatannya kepadamu.
Manusia yang menghadap kepada Allah dengan melepaskan hayalan kekuatannya, kekayaannya, kehebatan nya pasti Allah akan menggantinya dengan kekayaan, kemulyaan dan kekuatan, menjadikannya seorang yang kaya, seorang yang kuat, seorang mulia.semuanya itu diberikan kepadanya tidak harus dia punya uang banyak, tidak harus mempunyai pengikut yang banyak, dan tidak harus mempunyai kekuatan para petinju karena banyak orang yang mempunyai harta padahal dia sebetulnya orang yang paling miskin di dunia, banyak orang yang mempunyai kursi jabatan tapi dia hina dina, banyak orang yang mempunyai kekuatan bertanding tapi dia matinya dimakan oleh hewan-hewan kecil.
Qorun sangat kaya tapi tidak ada arti kekayaan, kalau kekayaannya Qorun ini bener-bener Hakiki maka dia akan melindunginya dari bumi yang menelannya,sebagaimana yang dikatakan oleh Allah ta'ala :
(فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ)
[سورة القصص 81]
" Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)".

Syeh fudlel bin iyadl seorang yang tidak mempunyai harta, pada suatu pertemuan beliau dengan Amirul Mukminin Harun ar-rasyid, sang raja memberikan kantong berisi uang yang banyak akan tetapi fudlel bin iyadl mengembalikannya.Lalu siapa yang kaya dan siapa yang miskin?.jawabannya adalah syeh fudlel lah yang kaya karena dia tidak membutuhkan sesuatu kecuali dari Allah Ta'ala.
Diceritakan Syekh Said nursi ketika Perang Dunia Pertama dia tertawan oleh tentara Rusia dan dia dijebloskan di penjara, suatu ketika pimpinan Rusia menjenguk para tawanan, setiap dia melewati kelompok tawanan Semuanya berdiri untuk menghormatinya. ketika dia sampai pada kelompok Syekh Said nursi beliau tidak perduli dan tidak mau berdiri lalu pimpinan tadi Bertanya kepadanya: Apakah kamu tidak mengenalku?. Syekh Said nursi:  aku mengetahui mu, engkau yang dinamakan Nakula. Nakula: kalau begitu engkau telah menghina keagungan Rusia. Syeikh Sa'id : bukan begitu tapi Tuhan yang aku menjadi hambanya mencegahku untuk menghinakan diri kepada selainnya. perkataan ini sangat mempengaruhi Panglima Rusia ini.lalu dia mengampuninya sambil mengatakan: saya kagum dengan Agamamu yang menjadikan kamu Mulia seperti ini.

Wallahu a'lam bishowab.
Al-fatihah ila Syekh Ibnu Athoillah assakandari Wa syeh Said Al buthi

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 6*

لا يَكُنْ تأَخُّرُ أَمَدِ العَطاءِ مَعَ الإلْحاحِ في الدُّعاءِ مُوْجِباً لِيأْسِكَ. فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الإِجابةَ فيما يَخْتارُهُ لَكَ لا فيما تَخْتارُهُ لِنَفْسِكَ. وَفي الوَقْتِ الَّذي يُريدُ لا فِي الوَقْتِ الَّذي تُرْيدُ.

*_Artinya_*

Terlambat datangnya pemberian (Allah ﷻ), meski sudah dimohonkan berulang-ulang, janganlah membuatmu patah harapan. Karena dia telah menjamin untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut keinginan engkau sendiri. Juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.

*_Syarh:_*

Doa itu bisa dikatakan doa secara _syar'i_ kalau menetapi dua perkara :
☝🏾 Sadarnya perasaan dan hati, lalu mengarahkan keduanya dengan kerendahan pada Allah ﷻ. Maka seseorang yang mempunyai keinginan untuk mendapatkan sesuatu lalu dia mencari dan bertanya tentang doa-doa supaya doanya _diistijabahi_. Setelah dia menemukan doa-doa itu lalu dia ucapkan terus-menerus sebagaimana murid-murid Madrasah menghafalkan pelajarannya, kamu lihat keadaannya bersama Allah ﷻ ternyata dia tidak menetapi perintah-perintahnya Allah ﷻ. Kalau dia ini memperbanyak doa-doa yang dihafal lalu dia tidak di _istijabahi_ maka dia akan mengadu; _Kenapa Allah ﷻ tidak mengistijabahi doaku?_

✌🏾 Seorang yang berdoa pertama-tama harus bertaubat kepada Allah ﷻ dari maksiat-maksiat yang dilakukan. Maka orang yang terus menetapi maksiatnya, pada waktu yang bersamaan dia meminta kepada Allah ﷻ untuk mewujudkan angan-angannya, maka ini bukan doa namanya.

💠 Ketika doa sudah menetapi dua syarat yang kita sebutkan, maka jangan salah sangka bahwasannya Allah ﷻ pasti _mengistijabahi_ doa kita dengan memberikan sesuatu itu persis seperti yang kita minta. _Istijabahnya_ Allah ﷻ pada doa kita itu artinya Allah mewujudkan tujuan kita.

Saya meminta kepada Allah ﷻ sesuatu karena saya menyangka bahwa sesuatu tadi yang bisa mendatangkan kebaikan kepadaku. Akan tetapi Allah ﷻ tahu bila sesuatu itu kalau diberikan tidak akan memberikan kebaikan, melainkan akan memberikan sebaliknya, maka Allah ﷻ tidak memberikan sesuatu itu kepadaku karena rahmat-Nya kepadaku, dan Allah ﷻ memberikan yang lain yang baik untukku. Ini adalah arti dari firman Allah ﷻ:

(وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ)
[سورة البقرة 216]

Artinya:
_"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah ﷻ mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui"._

Dan ini yang dimaksud oleh Syekh Ibnu Atho'illah assakandari,

فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الإِجابةَ فيما يَخْتارُهُ لَكَ لا فيما تَخْتارُهُ لِنَفْسِكَ.

💠 Arti dari Allah ﷻ _mengistijabahi_ doa kita itu bukan berarti Allah ﷻ cepat-cepat memberikannya kepada kita. Jangan sampai kesalahan ini mengenaimu. Kamu jangan menyangka bahwasannya doa itu adalah  _wasilah_ (sarana), akan tetapi doa itu sebagai _ghoyah_ (tujuan). Doa itu adalah ibadah tersendiri, dia sebagai tujuan bukan sarana. Manusia itu hamba, miliknya Allah ﷻ. Seorang hamba itu selalu membutuhkan kepada tuannya, dia harus memperlihatkan kehambaannya kepada tuannya dengan berdoa, meminta hajat-hajatnya dan memperlihatkan bahwasanya hidupnya bisa enak dan bahagia kalau dilindungi oleh-Nya. Kehambaan ini harus ada terus baik dia melihat Allah ﷻ memberikan hajat-hajatnya atau tidak mewujudkannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يستجاب لأحدكم مالم يعجل يقول قد دعوت فلم يستجب لي

_"Kalian diistijabah doanya selagi tidak tergesa-gesa. Kamu mengatakan, "saya telah berdoa tapi tidak diistijabahi"._

Kesimpulannya seorang muslim harus meminta dengan kerendahan hati kepada Allah ﷻ dalam segala tingkahnya dengan tanpa memandang hasil dari doanya, akan tetapi dia harus yakin akan kebaikan Allah ﷻ, dan Allah ﷻ akan _mengistijabahi_ doanya.

Ketika doanya belum diberikan oleh Allah ﷻ dia berkeyakinan bahwasanya ini didikan dari Allah ﷻ supaya dia tidak salah paham

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 5*

اجتهادُكَ فيما ضَمِنَ لكَ وتقصيرُكَ فيما طَلَبَ منكَ دليلٌ على انْطماسِ البصيرةِ منْكَ

*_Artinya_*

Bersungguh-sungguhnya kamu dalam masalah perkara yang sudah ditanggung oleh Allah ta'ala kepadamu, dan sembrononya kamu dalam masalah yang diperintahkan Allah kepadamu itu suatu dalil akan padamnya _nur bashiroh_mu.

*_Syarh:_*

🔷 Allah SWT berfirman:

وما خلقت الجن والانس إلا ليعبدون ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يططعمون إن الله هو الرزاق ذو القوى المتين
Artinya :
_"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Aku tidak mengharapkan dari mereka rizki dan aku tidak mengharapkan mereka memberi makan aku. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Memberi Rizki yang mempunyai kekuatan yang kokoh”._

Dalam ayat ini Allah Ta'ala menjelaskan bahwasanya manusia diberi tugas oleh Allah Ta'ala yaitu berupa menghambakan diri kepadanya. Lalu Allah Ta'ala menanggung manusia (yang menghambakan diri kepada Allah) sendi-sendi kehidupan dan rizkinya.
Lalu apa semestinya yang dilakukan manusia dari penjelasan Allah Ta'ala ini ?

Jawabnya, mestinya manusia yang beriman kepada Allah akan berusaha dengan segala kekuatannya untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala dan tidak memikirkan lagi tanggungan Allah Ta'ala berupa rizki-Nya dan penundukkan ciptaan-Nya untuk kemaslahatan dan kebahagiaan manusia. Akan tetapi banyak diantara manusia yang merasa susah dan bingung dalam masalah perkara yang sudah ditanggung oleh Allah Ta'ala (rizki), dan mereka lupa serta tidak menjalankan tugas yang diembankan oleh Allah Ta'ala. Ini adalah tanda akan padamnya _Nur Basiroh_ hati mereka.

🔷 Allah Ta'ala berfirman:

(وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ)

Artinya:
_"Perintahlah keluargamu untuk melakukan sholat, dan sabar untuk melakukannya. Aku tidak memintamu rizki, Aku yang memberimu rizki, dan kemenangan itu bagi orang yang bertaqwa"._

Banyak manusia yang tidak memperdulikan keluarganya serta anak-anaknya akan pendidikan sholat dan keagamaannya dengan alasan dia tidak mempunyai waktu luang untuk itu karena dia sibuk dengan perdagangan dan mencari rizki.

🔷 Allah Ta'ala berfirman :

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya:
_Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya._

Akan tetapi manusia mempermainkan takaran timbangan dan terus menerus melakukan penipuan untuk mendapatkan rizki yang sudah ditanggung oleh Allah Ta'ala. Mereka mengharapkan kekayaan dengan cara kezoliman dan penipuan.

🔷 Allah Ta'ala berfirman :

_مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya:
_"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."_ (An Nahl : 97).

Akan tetapi manusia berpaling menjauh dari amal shaleh yang diperintahkan Allah, lalu dia mencari kehidupan yang bahagia dalam kesesatan dan kemaksiatan.

🔷 Allah Ta'ala berfirman:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡ‍ٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 

Artinya:
_“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum merek

KAJIAN KITAB AL HIKAM

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 7*

  لا يَكُنْ تأَخُّرُ أَمَدِ العَطاءِ مَعَ الإلْحاحِ في الدُّعاءِ مُوْجِباً لِيأْسِكَ. فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الإِجابةَ فيما يَخْتارُهُ لَكَ لا فيما تَخْتارُهُ لِنَفْسِكَ. وَفي الوَقْتِ الَّذي يُريدُ لا فِي الوَقْتِ الَّذي تُرْيدُ.

*_Artinya_*

Terlambat datangnya pemberian (Allah ﷻ), meski sudah dimohonkan berulang-ulang, janganlah membuatmu patah harapan. Karena Dia telah menjamin untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut keinginan engkau sendiri. Juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.

*_Syarh:_*

Banyak sekali janji-janji Allah  ﷻ dalam al Qur'an al Karim, seperti janji Allah ﷻ dalam surat an Nahl:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

_"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An Nahl : 97)_

Allah ﷻ berjanji pada surat Muhammad:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

_"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS Muhammad: 7)_

Sebagian orang ketika membaca ayat-ayat ini dia ragu akan janji Allah ﷻ, karena sekarang ini orang Islam tidak dalam keadaan yang bagus sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah ﷻ.

Sedangkan orang-orang kafir yang diancam oleh Allah ﷻ ternyata mereka mendapatkan kenikmatan duniawi yang melimpah. Maka Syekh Ibnu Athoillah as Sakandari menasehati dalam hikmah ini kepada orang-orang yang ragu akan janji-janji Allah ﷻ.

⭕ Orang yang ragu akan janji Allah ﷻ ini adalah orang-orang yang selalu menuntut haknya kepada Allah ﷻ, tapi dia tidak memperhatikan kewajiban-kewajiban yang ditugaskan oleh Allah ﷻ padanya. Biasanya orang seperti ini mengatakan,

_"Kita ini kan sebagai orang mukmin, kita kan sudah Islam, masjid kita penuh dengan orang sholat, bulan Romadlon penuh dengan orang yang puasa, orang yang berhaji jutaan orang, bukankah kita telah menolong agamanya Allah ﷻ? Lalu mana pertolongannya Allah ﷻ? Kenapa Allah ﷻ  justru menjadikan musuh-musuh kita berkuasa atas kita?_

Dia selalu membanggakan akan syiar-syiar Islam, masjidnya yang penuh orang solat, bulan Romadlonnya, hajinya yang penuh dengan ibadah, dll. Tapi dia tidak melihat di belakang itu semuanya. Dia tidak melihat akhlak orang Islam sekarang ini, tidak melihat rumah orang-orang Islam, yang mana Islam di rumah itu sekarang menjadi aneh, keluarga menghabiskan malamnya di dalam kesenangan dan syahwat-syahwat saja, pemikiran-pemikiran yang tidak senang dengan hukum-hukum Islam, begitu banyaknya mulai yang pokok sampai cabang-cabangnya, orang Islam banyak sekali yang sudah bosan dengan hukum Allah ﷻ yang dianggap ketinggalan zaman, mereka mengajak pada kemodernan, mengajak kepada pluralisme, mengajak kepada liberalisme, sekularisme, dan kebebasan yang bertujuan untuk lepas dari hukum-hukum agama. Bukankah orang-orang Islam sekarang ini kebanyakan modelnya seperti ini? Adapun masjid, puasa, hajinya orang-orang Islam, itu cuma sebagai tutup yang tipis sekali, menutupi fenomena gelap yang menakutkan yang menimpa orang Islam.

⭕ Sesungguhnya Allah ﷻ tidak pernah mengingkari janji sama sekali kepada orang yang melakukan syari'at Allah ﷻ dengan jujur dan ikhlas. Orang yang mengetahui syarat-syarat yang harus dilakukan untuk mendapatkan janji Allah ﷻ adalah orang-orang yang ahli makrifat, yang hatinya penuh dengan cinta dan ta'dzim kepadanya, bukan orang yang mengaku-ngaku Islam yang tidak mengenal Allah ﷻ. Orang di bawah ini tidak mengenal firman Allah ﷻ:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

_"Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).'' (QS al Baqoroh: 40)_

☝ Salah satu tentara muslim yang kalah dalam perang 1976 ketika dia kembali ke Damaskus bersama teman-temannya, di jalan mereka melakukan sholat, disaat mereka selesai sholat, orang-orang mengatakan kepada mereka, "Allah ﷻ tidak menolong kalian dalam perang ini, kenapa kalian melakukan shalat kepadanya?" Beginilah perkataan orang-orang yang tidak tahu apa-apa akan hak-hak Allah ﷻ.

✌ Beda dengan cerita di bawah ini :

Ada seorang soleh, dia ditanya, "Wahai tuanku, kenapa engkau tidak memperlihatkan keramat-keramatmu supaya kita tambah mantap dan iman kepadamu?" Beliau menjawab, "Apakah kalian tidak melihat keramatku yang sebesar ini yang diberikan oleh Allah ﷻ setiap saat kepadaku?".
Mereka berkata, "Kita tidak melihat apa-apa". Beliau menjawab, "Apakah kalian tidak melihatku berjalan di muka bumi ini dengan aman tanpa Allah ﷻ mengkubur diriku, tidak diturunkan meteor-meteor menimpaku? Apakah ini bukan pemberian Allah ﷻ yang sangat besar kepadaku? Mestinya aku ini berhak untuk dihancurkan karena kesalahan-kesalahanku yang sangat banyak, tapi Allah ﷻ memberiku kehidupan, menjagaku, tidak merusakku sebagaimana Allah ﷻ merusak orang-orang sebelumku. Ini adalah keramatku yang paling besar."

Perkataan orang sholeh ini benar-benar keluar dari perasaannya, bukan pura-pura. Beginilah keadaan orang yang hatinya penuh dengan ta'dzim, takut, cinta kepada Allah ﷻ. Dia merasa akan diturunkan azab Allah ﷻ ketika dia membaca:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

_"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah ﷻ yang (berkuasa) di langit, bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?'' (QS al Mulk: 16)._

Wallahu A'lam Bisshowab
Perbanyak Baca Sholawat

KAJIAN KITAB AL HIKAM

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah* 4

ﺃﺭِﺡْ ﻧَﻔْﺴَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺘَّﺪْﺑِﻴﺮِ ﻓﻤﺎ ﻗﺎﻡَ ﺑﻪِ ﻏﻴﺮُﻙَ ﻋﻨْﻚَ ﻻ ﺗَﻘُﻢ ﺑﻪِ ﻟﻨﻔﺴِﻚَ

Artinya:
Istirahatkan hatimu dari pengaturan. Karena apa yang sudah ditanggung pihak lain (Allah) untukmu, kau tidak perlu ikut menanggungnya.

*_Syarh:_*

Ada perbedaan antara melakukan usaha (Asbab) dengan mengatur (Tadbir) sesuatu melalui Asbab.

*1*. " _Melakukan Usaha_ " adalah perbuatan anggota badan yang lahir, maka dia dianjurkan.

*2*. " _Mengatur_ " adalah perbuatan akal. Seseorang mengatakan dalam hatinya bahwa kalau dia melakukan sesuatu ini maka dia akan mendapatkan keuntungan, kesuksesan, dan hasil yang baik. Pengaturan seperti ini tidak diperbolehkan.

Dengan pertemuan dua perkara ini, (positif dan negatif) maka akan sempurna kehidupan seorang muslim.

Dia pergi ke pasar sebagaimana yang lainnya, dia melakukan usaha -usaha sesuai dengan aturan syari'at. Ketika ia ditanya, "Apa prediksi dan angan-anganmu dengan melakukan usaha-usahamu ini?". Dia menjawab, "Ini adalah tugas yang dibebankan Allah Ta'ala kepadaku. Adapun apa yang akan terjadi dan apa hasil dari kerjaanku ini, itu kembali kepada hukum dan aturan Allah SWT, Aku pasrah akan qodlo' dan hukumNya.

Cara hidup yang seperti ini adalah kehidupan panutan kita, Baginda Nabi Muhammad _Shallallahu 'alaihi wa Sallam_. Ketika beliau hijrah ke Madinah bersama sahabat Abu Bakar RA, beliau melakukan segala sesuatu untuk bisa menyelamatkan diri dari awasan orang-orang Quraisy. Beliau berhijrah dengan menyamar, dan menyuruh Sayyidina Ali untuk tidur di ranjangnya sehingga orang musyrik menyangka bahwasanya Nabi tetap di rumahnya, tidak keluar. Jejak-jejak Nabi dan sahabat dihilangkan dengan jejak domba-domba Abu Bakar. Bersembunyi tiga hari di Gua Tsur, sehingga orang-orang Quraisy tidak mengejarnya. Kemudian meminta bantuan orang musyrik yang bisa dipercaya untuk menunjukkan jalan alternatif untuk ke Madinah. Ini semuanya adalah usaha-usaha Nabi SAW.

Ketika Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur, datanglah sekelompok orang musyrikin. Lalu Abu Bakar mengatakan, "Seandainya diantara mereka ada yang melihat ke kakinya maka dia akan melihat kita". Lalu Nabi menjawab, "Bagaimana kamu menyangka yang jelek dengan dua orang yang ketiganya adalah Allah?".

Ketika beliau sudah selamat dan menuju ke Madinah, di perjalanan dikejar oleh Suroqoh dengan memakai kuda untuk melakukan kejahatan kepada beliau. Abu Bakar sangat mengkhwatirkan keadaan beliau. Akan tetapi Nabi SAW terus berjalan, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Beliau SAW terus membaca Al Qur'an, pasrah tawakkal akan pengaturan Allah Ta'ala. Ini adalah pengguguran pengaturan ( _Isqatu Tadbir_ ).

Semoga Allah Ta'ala mengangkat kita ke makom " _Isqatut Tadbir_" ini.

Wallahu A'lam Bisshowab.

KAJIAN KITAB AL HIKAM

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 3*

سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ

*_Artinya:_*
"Kekuatan himmah(kemauan) tidak akan mampu mengoyak tembok qadar Allah SWT."

*_Syarah:_*

📚 Berusahalah dan Bekerjalah, untuk menghasilkan apa yang kamu mau. Akan tetapi ketahuilah, bahwa usahamu dan jerih payahmu walaupun sudah semaksimal mungkin tidak akan berhasil kalau dia bertentangan dengan hukum dan qadarnya Allah.

📚 Ketika ada seseorang yang bekerja untuk mendapatkan rizqi, namun melalui jalan yang tidak halal, maka dia harus menjauhi pekerjaannya itu dan berpegang kepada yang dikatakan Syekh pada hikmah ini.

📚 Blia setan membisikinya, "Ini adalah pekerjaan yang menghasilkan rizkimu. Kalau engkau meninggalkannya maka tidak akan ada gantinya". Maka katakan pada setan itu, "Dari mana engkau tahu bahwasanya pekerjaanku ini adalah sumber rizkiku dan sebab yang hakiki untuk kelangsungan hidupku? Saya tidak akan terjerumus dalam kesalahan ini karena saya selalu berpegangan pada firman Allah:

ان الله هو الرزاق ذو القوة المتين

"Sesungguhnya Allah sajalah yang memberikan rizki, yang mempunyai kekuatan yang kokoh“

Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi Wasallam mengatakan, "Sungguh kalian dikumpulkan ciptaannya di perut ibumu 40 hari berupa mani, lalu berupa darah 40 hari, lalu berupa daging 40 hari, lalu dikirimlah malaikat untuk meniup ruh, dan diperintahkan 4 perkara, mencatat rizkynya, ajalnya, amalnya dan celaka atau selamatnya".

Lalu katakan juga pada setan tersebut, "Kalau Allah SWT sudah mencatatku sebagai orang kaya maka harta akan datang kepadaku dengan sendirinya. Kalau Allah SWT mencatatku sebagai orang miskin maka hartaku akan sedikit walaupun usahaku sangat banyak".

📚 Kalau begitu Kenapa orang harus bekerja? Jawabannya adalah, bekerja adalah tugas dari Allah Ta'ala, kita bekerja karena perintah-Nya, dan apa yang kita hasilkan dari pekerjaan kita adalah dari-Nya bukan dari hasil usaha pekerjaan kita.

Wallahu A'lam Bisshowab.

KAJIAN KITAB AL HIKAM

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah ke 2*

إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ. وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

Artinya:
"Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menempatkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwat yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menempatkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah (cita-cita) yang tinggi."

*_Syarh:_*

Diperintahkan kepada orang yang beriman kepada Allah ketika mau melakukan perintah-NYA  untuk mengetahui keadaan atau maqom yang sedang Allah tempatkan di maqom itu. Artinya jangan sampai cepat-cepat dia mengambil keputusan untuk bermuamalah dengan maqom asbab atau menjauh dari maqom asbab tanpa mengetahui keadaan atau maqom yang diberikan oleh Allah. Karena kalau dia terlalu cepat dan salah maka sebetulnya dia menuruti hawa nafsunya walaupun lahirnya dia melakukan perintah Allah dan hukum-hukumnya.

Seorang laki-laki yang telah mempunyai keluarga, istri, dan anak, maka dia ditempatkan oleh Allah pada maqom asbab. Dia harus mencari rizki dan sumber penghidupan. Maka ketika dia mengatakan dalam hatinya, "Saya tidak perlu ke pasar untuk mencari rizki, karena saya yakin Allah-lah yang memberi rizki", maka kepada orang seperti ini Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan padanya, "Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwat yang tersamar (halus)".

Kemudian ada juga seorang laki-laki yang tidak mempunyai tanggungan untuk menafkahi keluarganya, dan dia mempunyai sumber rizki yang cukup maka sebaiknya dia menggunakan waktunya untuk mempelajari agama, berkhidmah kepada syariat, dan menjauh dari memperluas rizkynya. Jalan ini adalah yang pantas untuk orang-orang yang mempunyai cita-cita tinggi, karena dia ditempatkan di maqom tajrid oleh Allah.

Wallahu A'lam