SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 84*

اذا اَرَدتَ اَنْ يَكُونَ لكَ عِزًّ لاَ يَفْنىَ فَلاَ تَسْتَعِزَّنَّ بِعِزٍّ يُفـْنىٰ

Artinya:
"Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan yang tidak punah/rusak, maka jangan membanggakan kemuliaan yang rusak".

*_Syarh:_*

🔷 Ketika engkau mempunyai harta yang banyak maka engkau akan merasa kemuliaanmu ada dalam kekayaanmu. Ketahuilah bahwa harta yang diberikan oleh Allah kepadamu sebentar lagi akan hilang, dia datang karena qadla' dan qadar-Nya, begitu juga dia akan hilang dengan Qadla' Qadar-Nya.

🔷 Ketika engkau mendapatkan jabatan dan pangkat maka engkau akan menjadikannya sebagai lambang kemuliaanmu. Ketahuilah bahwa Allah yang memberikan jabatan padamu sebentar lagi akan mengambilnya darimu.

🔷 Ketika engkau mempunyai kekuatan yang tidak terkalahkan atau kecerdasan yang sangat maka engkau akan merasa terlindungi dari marabahaya. Ketahuilah bahwa Allah yang mengeluarkan kamu ke dunia ini dengan tanpa mempunyai kekuatan dan kecerdasan sebentar lagi akan menjadikan kamu keringkihan dalam masa tuamu.

ومنكم من يرد الى أرذل العمر لكي لا يعلم بعد علم شيئا.

✅ Orang yang ingin mendapatkan kemuliaan dari selain Allah itu seperti orang yang berpegangan pada dahan dan ranting, pasti tidak akan kuat menyangga tubuhnya. Kalau saja dia itu pintar dan berpikir dengan baik maka dia akan berpegangan pada batang pohon bukan pada dahan dan rantingnya. Yang saya maksud dengan batang pohon itu adalah hakikat sumber kekuatan yaitu Allah Swt.

_"Katakan!! Wahai Allah yang memiliki Kerajaan, Engkau memberikan Kerajaan pada orang yang Engkau kehendaki. Engkau yang mencabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Dan Engkau yang mengagungkan orang yang Engkau kehendaki.Dan Engkau yang merendahkan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah kebaikan itu. Engkau berkuasa pada segala sesuatu."_

Wallahu A'lam bishshowab.

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 172*

                   ﺍﻟﻔﺎﻗَﺎﺕُ ﺑُﺴُﻂُ ﺍﻟﻤَﻮَﺍﻫبِ

Artinya:
“Berbagai macam ujian bala’ (yang manjadikan engkau merasa fakir) itu, bagaikan hamparan (alas) untuk hidangan pemberian dan karunia dari Alloh.”

*_Syarh:_*

💎 Musibah yang mengingatkan seseorang akan kefakirannya akan menuntun dia kepada kedekatannya kepada Allah SWT berupa penghambaan diri, memelas kepada Allah meminta rahmat dan keselamatan. Seseorang yang meminta kepada Allah dengan mengedepankan kefakirannya dan kebutuhannya, maka Allah akan mengabulkan doanya, memberikan permintaannya serta memberikan pemberian yang tidak ada batasnya.

Sebagaimana badan ini tidak bisa hidup tanpa ruh, begitu juga ibadah tidak bisa hidup tanpa ruhnya. Ruhnya ibadah adalah "ubudiyah". Ubudiyah ini timbulnya dari kerendahan diri yang hakiki kepada Allah SWT. Dan kerendahan diri ini timbulnya karena perasaan butuh dalam segala hal kepada Allah SWT.

Kebanyakan manusia biasanya lupa akan penghambaannya kepada Allah SWT, ketika dia bergelimpangan dalam kenikmatan. Maka di sini pentingnya musibah untuk mengingatkan dia akan kefakirannya kepada Allah SWT. Perasaan ini yang dinamakan ubudiyah dan ini adalah ruhnya ibadah.

💎 Ketika kita melihat gambar-gambar keagamaan di masyarakat, maka kita akan melihat banyak gambar-gambar itu. Akan tetapi ketika kita melihat ke dalam ubudiyah yang berupa perendahan diri dan kehinaan diri di depan Allah SWT, maka kita akan melihat gambar yang banyak itu menjadi sedikit dan semakin sedikit, sehingga yang ada cuma golongan kecil dari orang-orang "Al Ghuroba" ( orang asing).

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang "Al Ghuroba".

*Syarh tambahan*

Musibah yang menjadikan seseorang merasakan kefakirannya kepada Allah SWT, maka musibah ini akan mengantarkannya kepada kedekatan dengan Allah SWT.

Sebagaimana jasad yang tidak bisa hidup tanpa ruh, begitu juga "ibadah" tidak bisa hidup tanpa ruhnya dan ruhnya ibadah adalah "ubudiyah". Yaitu merendahkan diri yang hakiki di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

_Merendahkan diri dihadapan Allah Swt ini bisa timbul karena perasaan hina, lemah, dan fakir (butuh) kepada Allah SWT._

Biasanya manusia lupa akan kelemahannya dan kefakirannya ketika dia mendapatkan kenikmatan-kenikmatan yang banyak. Maka di sini pentingnya peran musibah untuk mengingatkan akan kelemahannya. Perasaan kelemahannya ini dinamakan "Ubudiyah" yang menjadi ruh dari ibadah yang dilakukan oleh anggota badan kita.

Wallahu A'lam Bissowab.

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 245*

ﺩﻝ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﺁﺛﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ ﻭﺑﻮﺟﻮﺩ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ ﻋﻠﻰ ﺛﺒﻮﺕ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻭﺑﺜﺒﻮﺕ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺫﺍﺗﻪ ﺇﺫﺍ ﻣﺤﺎﻝ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﻮﺻﻒ ﺑﻨﻔﺴﻪ . ﻓﺄﺭﺑﺎﺏ ﺍﻟﺠﺬﺏ ﻳﻜﺸﻒ ﻟﻬﻢ ﻋﻦ ﻛﻤﺎﻝ ﺫﺍﺗﻪ ﺛﻢ ﻳﺮﺩﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﺷﻬﻮﺩ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﺛﻢ ﻳﺮﺟﻌﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﻌﻠﻖ ﺑﺄﺳﻤﺎﺋﻪ ﺛﻢ ﻳﺮﺩﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﺷﻬﻮﺩ ﺁﺛﺎﺭﻩ . ﻭﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻋﻜﺲ ﻫﺬﺍ ﻓﻨﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﻤﺠﺬﻭﺑﻴﻦ ﻭﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﺠﺬﻭﺑﻴﻦ . ﻟﻜﻦ ﻻ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻭﺍﺣﺪ ﻓﺮﺑﻤﺎ ﺍﻟﺘﻘﻴﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺗﺮﻗﻴﻪ ﻭﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺗﺪﻟﻴﻪ

Artinya:
Allah menunjukkan dengan wujud  ciptaanNya akan wujud namaNya. Allah menunjukkan dengan wujud asmaNya akan sifat-sifatNya. Allah menunjukan dengan wujud sifat-sifatNya akan wujud dzatNya, karena mustahil sifat itu berdiri dengan sendirinya. Allah membukakan kepada wali-wali _majdzub_ akan kesempurnaan DzatNya. Lalu mengembalikan mereka untuk melihat sifat-sifatNya. Adapun _salikin_  sebaliknya mereka ini. Maka akhir maqomnya salikin adalah permulaan maqomnya wali-wali _majdzub_, dan permulaan maqomnya salikin adalah akhir maqomnya wali-wali _majdzub_, akan tetapi bukan dengan arti yang satu, mereka berdua bisa bertemu dalam satu jalan. Ini (salikin) dalam naiknya dan itu (majdzubin) dalam turunnya.

*_Syarh:_*

Hamba Allah yang diberikan _kema'rifatan_ kepada Allah itu ada dua golongan,

*1. _Al Majdzubin_*, yakni golongan yang berpindah dari menyaksikan keagungan Allah menuju menyaksikan ciptaan Allah.

*2. _As Salikin_*, yakni golongan yang berpindah dari menyaksikan ciptaan Allah menuju menyaksikan keagungan Allah Ta'ala.

الله بجتبي اليه من يشاء ويهدي اليه من ينيب

_"Ijtiba"_ (الله يجتبي ) isyaroh pada orang _majdzubin_, golongan ini khusus dan sedikit.
_"Al-Hidayah"_ (ويهدي) isyaroh pada orang _salikin_. Kebanyakan washilin dari golongan ini.

Salikin bisa mendapatkan _ma'rifatullah_ dengan cara mengangan-angan ciptaan Allah Ta'ala. Ketika dia melihat ciptaan Allah ini penuh dengan keindahan dan hikmah maka dia mengetahui bahwa di balik penciptaan ini ada Dzat yang dinamakan Sang Pengatur. Lalu salik ini meneruskan angan-angannya bahwasanya Sang Pengatur ini tidak mungkin kecuali mempunyai sifat-sifat kesempurnaan seperti sifat _'Ilmu, Qudroh, Irodat, Hayat_, dan seterusnya. Ketika dia meneruskan pemikirannya maka dia akan berkesimpulan bahwasanya sifat itu tidak mungkin berdiri dengan sendirinya, pasti membutuhkan Dzat, yaitu Allah Ta'ala.

Adapun wali-wali _majdzub_ tidak melalui proses yang seperti ini, akan tetapi sebaliknya, mereka pindah dari kelalaiannya menuju _ma'rifatullah_ dengan tanpa proses menggunakan akal dan ilmiah dan tidak perlu menyaksikan ciptaan-ciptaan Allah SWT.

Wallahu A'lam Bisshowab.

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 22*

ما من نفس تمضيه الا وله قدر فيك يمضيه

*_Artinya_*

Tidak ada nafas yang kau keluarkan kecuali di situ Allah Ta'ala mempunyai _Qadar_ yang berlaku.

*_Syarh_*

Setiap keadaanmu dan gerakanmu baik yang kecil ataupun yang besar, baik yang samar atau yang kelihatan, semuanya itu masuk pada _Qodlo'_ dan _Qadarnya_ Allah  SWT. Sehingga kamu tidak mengeluarkan nafasmu kecuali dia masuk dalam catatan _Ilmu_nya Allah Ta'ala.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan, "Segala sesuatu itu dengan _Qadar_Nya sehingga kelemahan dan kecerdasan".

Buah dari keyakinan ini adalah seorang muslim akan merasa ringan dan rela untuk mengorbankan harta dan hidupnya dalam perjuangan di jalan Allah, karena dia tahu bahwa segala sesuatu itu telah dicatat oleh Allah Ta'ala dan pasti akan terjadi, baik dia melakukannya atau tidak melakukannya, baik dia berjuang atau tidak berjuang.

Keyakinan akan _Qodlo' dan Qadar_ Allah Ta'ala ini menghasilkan perjuangan tanpa pamrih dan semangat orang-orang Islam pada masa yang lalu _(Salafus Sholeh)_ dalam jihad, dakwah, dan menyebarkan panji-panji Islam, sehingga mereka menjadi percontohan dalam mengorbankan harta, nyawa, meninggalkan tanah air, dan sabar menghadapi segala macam marabahaya. Kita bisa melihat pejuang-pejuang Islam dahulu kuburannya ada di segala penjuru negara-negara Islam. Semuanya itu mereka lakukan karena mereka yakin bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia itu pasti sudah ada catatannya.

Wallahu A'lam Bisshowab

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 84*

اذا اردت أن يكون لك عز لا يفنى فلا يستعزن بعز يفنى

*_Artinya_*

Kalau engkau menghendaki keagungan yang tidak akan sirna maka jangan cari keagungan dengan keagungan yang sirna.

*_Syarh_*

Manusia ditakdirkan Allah dalam keadaan lemah. Oleh karena itu manusia membutuhkan penolong dan yang menolong itu tidak ada kecuali Allah Ta'ala. Bukan harta, bukan jabatan dan bukan kekuatan. Di dalam Al-Quran disebutkan,

اليس الله بكاف عبده.ويخوفونك بالذين من دونه

Artinya:
_Bukankah Allah itu mencukupi hamba-Nya dan mereka menakut-nakutimu dengan orang-orang selain Allah?_

_Allah Ta'ala mencukupi hamba-Nya_, kata-kata ini berarti Perlindungan Allah Ta'ala (wilayatullah).

_Dan mereka menakut-nakutimu dengan orang-orang selain Allah_, kata-kata ini menunjukkan kebatilannya segala perlindungan selain Allah SWT.

Diceritakan bahwa Sayyidina 'Umar bin Khottob _radliyallaahu 'anhu_ ketika pergi ke Baitul Maqdis, beliau memakai pakaian yang sangat sederhana, penuh dengan tambalan. Abu Ubaidah, Panglima Muslimin, berbisik kepada beliau supaya mengganti pakaiannya dengan pakaian yang pantas untuk berhadapan dengan pemuka-pemuka agama negara Syam. Lalu Umar mengatakan, "Kita ini kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Kalau kita mencari kemuliaan dengan selain perkara yang dengan perkara itu Allah memuliakan kita, maka Allah akan merendahkan kita".

Arti dari perkataan Sayyidina 'Umar ini adalah,  kita mulia karena kita berpegang teguh kepada ajaran Allah Ta'ala, bukan karena banyaknya harta, bukan karena kuatnya pasukan bala tentara, bukan karena kemodernan, bukan karena keilmiahan dan teknologi. Tetapi karena kita mencari keagungan dengan Islam, maka Allah memberikan kekayaan, kekuatan, dan kemodernan.

Alangkah indahnya seandainya orang Islam sekarang ini memahami perkataan Sayyidina Umar _radliyallaahu 'anhu_ ini. Alangkah indahnya kalau mereka sadar akan kesalahan mereka berupa bosannya mereka kepada Islam yang menjadi sumber kemuliaan mereka. Sadar akan kesalahan mereka berupa mencari-cari keagungan melalui kemodernan, melalui liberalisasi Islam (Islam Liberal), dan meniru orang-orang kafir.

Wallahu A'lam Bisshowab

SUARA NAHDLIYYIN:
*Kajian Kitab Al Hikam*

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

Hikmah ke 12

مانفعَ القَلبَ شَيءٌ مثلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بها ميدان فِكرةٍ

"Tidak ada sesuatu yang sangat berguna bagi hati [jiwa], sebagaimana menyendiri untuk masuk ke medan tafakur."

*_Syarah_*:

Disini kita diajak untuk melakukan dua perkara,  yakni uzlah dan tafakur.

🎀 Uzlah disamakan dengan Tarak (pantangan) bagi orang sakit.
🎀 Tafakur diumpamakan dengan obatnya.

Orang yang sakit pasti akan diberi nasehat oleh dokter supaya tarak dan meminum obat.

Syekh Ibnu 'Athoillah mengajak kita sebagai orang Islam untuk melakukan 'Uzlah. 'Uzlah sangat penting untuk kesehatan roh kita, sebagaimana pentingnya Tarak untuk kesehatan badan.

Lalu Syekh mengajak kita untuk Tafakur, demi kesehatan akal dan roh kita, sebagaimana pentingnya obat untuk memulihkan kondisi orang yang sakit.

Wallahu A'lam

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah ke 23*

 لا تَتَرقَّب فراغَ الأَغْيارِ، فإنَّ ذلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجودِ المُراقَبَةِ لَهُ فيما هُوَ مُقيمُكَ فيهِ.

*Artinya:*

"Jangan mengharapkan kosongnya selain Allah, karena itu akan menjauhkan kamu dari adanya pengingatan kepada Allah di dalam maqom yang telah diberikan kepadamu"

*_Syarh:_*

Allah ﷻ berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
[سورة آل عمران 14]

Artinya:
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)".

Ayat ini menunjukkan bahwasanya dunia ini penuh dengan perkara menawan dan melalaikan yang menyebabkan jauhnya hamba dari Allah ﷻ. Bagaimanapun manusia berusaha untuk membersihkan dirinya dari kesibukan dunia, maka dia tidak akan bisa, selama dia hidup di dunia ini.

🍎 Ketika dia masih muda maka dia menganggap masa muda adalah masa yang harus dilalui dengan menuruti nafsu birahi. Setelah melewati masa muda akan hilang sendiri nafsu birahi itu. Pemikiran ini menjadikan dia semakin tenggelam dalam nafsunya.

🍎 Ketika dia hidup di Eropa, Amerika, atau di belahan dunia yang lain, baik untuk belajar atau bekerja, dia berangan-angan bahwasannya dia tidak bisa lepas dari lingkungan yang merusak agama ini. Pilihannya cuma satu, yaitu menunggu selesainya tugas yang dia lakukan di tempat itu. Keadaan ini menyebabkan dia semakin tenggelam dalam kerusakan dengan tanpa merasa dia butuh meminta perlindungan kepada Allah ﷻ.

Maka di sini Syekh Ibnu 'Athoillah menasehati supaya kita tidak menunggu bisa lepas dari urusan duniawi, karena hal itu tidak akan bisa dihindari. Ketika muda dia mempunyai urusan duniawi yang membahayakan. Begitu juga di usia tua juga banyak rintangan. Ketika hidup di negara Eropa, tidak akan hilang urusan dunia dengan pindah ke negara aslinya, karena di negara aslinya juga banyak urusan dunia.
Bagaimana bisa lepas dari urusan dunia padahal dirimu penuh dengan urusan dunia?

🍎 Hatimu berbicara tentang keistimewaanmu, amal ibadahmu, itu adalah urusan dunia yang merusakmu walaupun engkau hidup sendirian di tempat tersembunyimu.

🍎 Gundah hatimu karena dicaci orang, perasaan sakit hatimu karena dimusuhi orang, itu juga termasuk bahaya yang terus-menerus akan bersamamu.

🍎 Keinginanmu untuk mempunyai rumah yang bagus, keinginanmu kepada kesenangan-kesenangan yang tidak kau dapatkan, semuanya itu perkara yang menyibukkanmu sehingga engkau rusak karena engkau lupa akan Allah ﷻ.

Lalu bagaimana kita menghadapi kesibukan kita dengan urusan dunia ini? Cara satu-satunya adalah lari kepada Allah ﷻ. Arti lari kepada Allah ﷻ adalah memperbanyak berdoa, mengadu ringkihnya kekuatanmu, beserta memperbanyak ingat kepada Allah ﷻ dengan berdzikir. Manusia yang mengobati dirinya dengan obat ini maka Allah ﷻ akan menjadikan obat ini sebagai perahu penyelamat di bahtera lautan yang penuh dengan ombak keduniawian. Dia melakukan perdagangan, berinteraksi dengan masyarakat yang banyak ada yang baik ada yang jelek, banyak teman disekolah yang jauh dari Allah ﷻ.

Di dalam lingkungan yang rusak ini, dia akan mendapatkan kapal penyelamat kalau dia lari meminta kepada Allah ﷻ supaya dilindungi dari kerusakan-kerusakan lingkungannya. Penyelamat itu adalah berdoa kepada Allah ﷻ dengan sepenuh hati, dan memperbanyak dzikir mengingat Allah ﷻ.
Hal-hal semacam itulah yang dilakukan para sahabat-sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Mereka menyebarkan agama Islam di penjuru dunia yang penuh dengan kerusakan, kefasikan, fitnah harta dan jabatan. Mereka selamat dari fitnah dunia karena mereka _bertawakkal_ kepada Allah ﷻ dengan _tawakkal_ yang hakiki (bukan hanya ucapan sebagaimana tawakal