لا تنفعه طاعتك ولا تضره معصيتك وإنما أمرك بهذه ونها ك عن هذه لما يعود عليك
“Ketaatanmu tidak bermanfat bagi Allah SWT, dan kemaksiatanmu tidak membahayakan-Nya. Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu berbuat taat, dan melarangmu berbuat maksiat, karena setiap perbuatan kembalinya kepadamu juga”
ENGKAU TAAT ATAU DURHAKA, ALLAH SWT TIDAK UNTUNG JUGA TIDAK RUGI
Syariat yang diturunkan oleh Allah SWT dan ditaklifkan kepada hamba-Nya merupakan jalan yang paling ideal untuk kebaikan kehidupan manusia baik secara individual ataupun secara sosial. Karenanya kewajiban seorang hamba adalah mentaati Allah SWT, tetapi bukan untuk Allah SWT, melainkan untuk kepentingan si hamba sendiri. Allah SWT tidak akan beruntung apabila semua manusia di permukaan bumi ini mentaati-Nya, juga tidak akan rugi apabila manusia semesta alam bersama-sama makhluk lainnya bermaksiat kepada Allah SWT. kepatuhan hamba kepada Allah SWT tidak memberi  manfaat dan tidak mendatangkan bahaya kepada Allah SWT.
Allah SWT dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya tidak bergantung kepada siapa pun,dan  tidak mengambil manfaat dari siapa pun. Karena itu, selain Allah SWT tidak patut dijadikan tempat menghambakan diri dan tidak patut untuk tempat memohon pertolongan.
Di dunia ini Allah SWT memberlakukan dua hukum yang saling berkaitan. Pertama adalah nidhom kauny (hukum alam) dan yang kedua adalah nidhom tasyri’i (hukum syariat). Nidhom kauny adalah hukum atau aturan yang berlaku pada alam raya ini. Hukum ini adalah hukum yang telah Allah SWT isyaratkan dalam Al Quran ketika menceritakan pertemuan antara Nabi Musa a.s dan Fir’aun.
قال ربنا الذي أعطي كل شيئ ثم هدي (طه:50)
Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang Telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, Kemudian memberinya petunjuk” (Q.S. Thoha:50)
Maksudnya, Tuhan kami ialah Dia yang telah menciptakan segala sesuatu dan  memberikan akal, instink (naluri) dan kodrat alamiyah untuk kelanjutan hidupnya masing-masing.
Pada tempat yang lain Allah SWT juga menyebutkan tentang kejadian ini
سبح اسم ربك الأعلي الذي خلق فسوي والذي قدر فهدي(الأعلي:1-3)
 "Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi. Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk” (Q.S. Al A’la:1-3)
Sedangkan nidhom tasyri,i ialah hukum atau aturan yang Allah SWT tetapkan untuk menyelaraskan hubungan antara manusia dengan alam dan dengan sesama manusia itu sendiri. Bagaimana ia bersikap dengan lingkungan sekitar, alam ,bumi dan segala hal yang terkandung didalamnya. Bagaimana ia menyesuaikan diri dengan zaman dan tempat yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Dan bagaimana menjalani hubungan dengan sesama manusia. Semua itu di atur dalam nidhom tasyri’i.
Agar nidhom tasyri’i ini dapat terealisasi dalam kehidupan manusia, maka dibutuhkan adanya suatu pendorong yang dapat mengajak manusia untuk menjalankan nidhom tasyri’i ini dengan suka rela tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Pendorong ini tidak lain adalah aqidah islam serta segala bentuk ibadah yang mencakup perintah dan larangan-Nya yang dapat menguatkan aqidah tersebut.
KEWAJIBAN TAAT PADA ALLAH SWT
Setelah kita mengetahui bahwa perintah dan larangan Allah SWT adalah bagian dari nidhom tasyri’i, maka apa bukti yang bisa meyakinkan kita dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Athoillah dibagian kedua yakni   bahwa sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kita berbuat taat, dan melarang kita berbuat maksiat, karena setiap perbuatan kembalinya kepada kita juga.
Coba renungkanlah tentang nidhom kauny yang berlaku di dunia ini. Tentang benda-benda  angkasa yang tak terhitung jumlahnya, tentang angkasa raya yang begitu luas, yang dengan segala keteraturan dan keselarasannya pergerakan mereka merupakan suatu keseimbangan dan keajaiban yang maha dahsyat. Tentang angin, udara dan awan yang berada diantara langit dan bumi serta hal-hal yang berkaitan dengannya seperti proses kejadian hujan. Tentang permukaan bumi yang bulat namun terasa terhampar sehingga kita dapat menjelajah sentero penjuru dunia ini tanpa harus terperosok ataupun terjatuh. Tentang gaya gravitasi bumi yang sesuai dengan seluruh pergerakan di muka bumi ini. Juga tentang kekayaan yang terkandung di dalam perut bumi, sesuatu yang tumbuh di permukaannya, maupun sesuatu yang terpancar darinya dan segala hal yang ada di dunia yang begitu luas ini.
Segala keteraturan dan ketelitian hukum alam ini adalah untuk kemaslahatan manusia. Bumi dengan segala hal yang terkandung di dalamnya seperti air, gas, tumbuh-tumbuhan dan lain-lainnya ini Allah SWT sediakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Begitu juga benda-benda langit yang telah Allah SWT rancang dengan sedemikian teliti dapat membantu kita untuk menunjukan waktu dan menyesuaikan keadaan zaman yang berhubungan dengan kehidupan kita.
Setelah kita mengetahui bahwa Allah SWT yang telah menetapkan –untuk memenuhi kebutuhan manuasia- nidhom kauny, kemudian Dia juga yang telah menetapkan –agar menjadi tujuan hidup manusia- nidhom tasyri’i untuk mengatur hubungan antar sesama manusia maupun manusia dengan alam. Maka  sangat tidak mungkin Allah SWT yang telah merintahkan kita untuk menjalankan nidhom tasyri’i akan melanggarnya sendiri. Tidak mungkin Dzat yang telah menciptakan alam ini serta menetapkan aturan-aturannya agar alam tetap terpelihara demi terpenuhinya kebutuhan hidup manusia akan rela begitu saja merusaknya dan hanya menjadikannya mainan saja.
Nidhom kauny dan nidhom tasyri’i ini bisa kita analogikan pada sebuah perusahaan atau produsen yang memproduksi alat guna mempermudah kehidupan manusia. Langkah pertama ia akan memperkenalkan alat yang dibuatnya serta cara kerja dan fungsinya. Ini merupakan contoh nidhom kauny Allah SWT. setelah memperkenalkan alat yang diproduksinya tentu ia juga akan memberikan buku pedoman bagi pengguna alat tersebut. Langkah yang kedua ini adalah contoh nidhom tasyri’i Allah SWT.
Bagi seorang yang cerdas pastinya akan mengetahui bahwa alat yang dimilikinya itu tidak akan berfungsi optimal jika tidak ada buku pedoman untuk menggunakan serta merawatnya. Selain itu dia juga tidak akan puas begitu saja atas alat yang didapatnya itu. Karenanya pasti dia akan berusaha mengoptimalkan fungsinya dan juga merawatnya dengan cara melaksanakan apa yang telah dijelaskan pada buku pedoman yang didapatkannya dari dari pihak produsen.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa seseorang yang hanya mau menerima nidhom kauny saja namun tidak mau melaksanakan nidhom tasyri’i adalah orang yang bodoh. Ini merupakan salah satu bukti bahwa perintah dan larangan Allah SWT merupakan bentuk hadiyah dari Allah SWT demi kesejahteraan hidup manusia. Namun hal ini jarang sekali dipahami oleh kebanyakan orang.   
Selain bukti diatas masih ada lagi bukti-bukti yang lain, misalnya aturan atau hukum-hukum Allah SWT. Hukum–hukum Allah SWT yang begitu teliti ini Allah SWT tetapkan untuk mengatur berbagai macam kemaslahatan untuk manusia. jika kita cermati maka kita tahu bahwa kemaslahatan manusia itu terkandung  dalam lima hal, yakni kemaslahatan agama, hidup, akal atau jiwa, nasab dan harta. Dan semua ini telah termaktub dalam hukum-hukum Allah Yang Maha Bijaksana.
Dalam Al Qur’an juga dijelaskan bahwa Allah SWT  tidak menghendaki adanya syariat Allah SWT ini menjadi beban bagi kita, melainkan  Allah SWT menghendaki adanya  hukum-hukum tersebut  menjadi kebaikan yang kembali kepada kita. Sebagaimana firman Allah SWT :
tPöqu‹ø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3ø‹n=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊu‘ur ãNä3s9 zN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ  (المائدة : 3)
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmatmu bagimu dan telah Aku ridloi islam sebagai agamamu”. (Q.S. Al-Maidah:3)
ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍ‹ósãZn=sù Zo4qu‹ym Zpt6ÍhŠsÛ (   (النحل : 97)
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan padanya kehidupan yang baik”. (Q.S. An-Nahl:97)
߉ƒÌãƒ ª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߉ƒÌãƒ ãNà6Î/ uŽô£ãèø9$#   (البقرة : 185)
“Allah SWT menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (Q.S. Al-Baqoroh:185)
$tBur Ÿ@yèy_ ö/ä3ø‹n=tæ ’Îû ÈûïÏd‰9$# ô`ÏB 8ltym 4   (الحج : 78)
“Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama” (Q.S. Al-Hajj:78)
Apakah  terbesit dalam benak kita bahwa kalam Allah SWT adalah  perkara  yang dusta ? Na’udzubillah mindzdalik.
PENTINGNYA AQIDAH
Aqidah sangat penting bagi kita, sebab dengan aqidah kita bisa mengenal Dzat yang mengatur alam semesta khususnya pada urusan kita, entah dalam urusan yang baik atau dalam urusan yang buruk. Dengan aqidah pula kita bisa mengetahui Dzat yang memperkenalkan dan mengatur alam semesta ini untuk kemaslahatan kita yaitu Tuhan kita Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka jika kita sudah mengenal-Nya, percaya akan cinta dan kasih sayang-Nya kapada kita niscaya kita bisa menerima hukum-hukum syariat Allah SWT dengan kemantapan dan hati yang lapang. Sehingga dengan perasaan yang demikian kita bisa terdorong untuk menjalankan dan memposisikan syariat-syariat Allah SWT menjadi bagian yang terpenting dalam hidup kita.
Misalnya, ketika ada seseorang yang sakit maka dia akan mencari seorang dokter yang  bisa dia harapkan untuk menanganinya. Dia akan mencari informasi tentang seorang dokter spesialis yang ahli dan terpercaya untuk menangani penyakitnya. Setelah ia mendapatkan dokter tersebut, dan ia pun yakin dan percaya penuh padanya maka ia akan menjalankan segala hal yang disarankan oleh dokter tersebut.
Begitu juga seorang hamba, agar ia bisa menjalankan syariat Allah SWT dengan penuh kepercayaan dan keikhlasan maka ia harus melakukan langah-langkah sepeti yang dilakukan orang yang sakit tadi. Langkah bagi hamba tersebut tak lain adalah aqidah yang memang dibutuhkan oleh seorang hamba.
Adapun ibadah-ibadah dengan segala bentuknya merupakan  suatu kebutuhan seorang hamba untuk memperkuat aqidahnya tersebut dan dapat mengantarkannya pada derajat yang luhur di sisi Allah SWT.

فاللهم حققنا بذلك كله وارزقنا الإستسلام لحكمك والرضا بقضائك والإلتزام بهديك  . . . .



Perdagangan Dan Pernikahan  Nabi SAW Dengan Khodijah

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Atsir dan Ibnu Hisyam bahwasannya Khodijah adalah   janda yang memiliki  kekayaan dan kemuliaan ya. Ia bekerjasama dengan para pedagang untuk memperdagangkan hartanya dengan cara bagi hasil. Ketika Khodijah mendengar sosok Muhammad yang  terkenal dengan akhlaknya yang mulia dan sifatnya yang amanah  maka dengan segera Khodijah mengirim utusan kepada Muhammad dengan tujuan agar ia mau memperdagangkan hartanya. Khodijah menawarkan kepada Muhammad akan memberikan modal yang  lebih besar daripada pedagang-pedagang yang lain. Nabi Muhammad pun menerima tawaran khodijah. Dengan disertai Maesaroh, Nabi Muhammad berangkat berdagang ke negeri Syam dengan modal dari Khodijah.
Tak disangka perjalanan beliau ke Syam  mendapatkan keuntungan dan keberkahan yang  tidak  bisa didapatkan oleh   para pedagang pada umumnya. Sehingga  dengan sifat amanah dan keuletan Rosulullah akhirnya beliau mampu menyerahkan hasil perdagangannya kepada Khodijah dengan laba yang melimpah.
Setelah menemani Nabi berdagang ke Syam, Maesaroh-pelayan khodijah-menjadi  kagum dan tercengang karena melihat  akan akhlak nabi yang begitu mulia dan keistimewaan-keistimewaan  yang ada pada diri Nabi. Hingga akhirnya Maesaroh menceritakan semua yang ia saksikan kepada Khodijah.
Khodijah merasa takjub dan kagum setelah mendengar cerita dari Maesaroh akan sifat amanah  dan  keberkahan-keberkahan yang timbul dari Nabi. Sehingga dengan perantara Nafisah binti Maniyah, Khodijah  mencoba menawarkan dirinya untuk menjadi pendamping hidup Nabi. Rasulullah pun menerima tawaran Khodijah, dengan meminta tolong kepada paman-paman beliau agar mau meminang Khodijah untuknya kepada  Amr bin Asad paman khodijah. Akhirnya bertepatan dengan usia Nabi 25 tahun, Nabi menikah dengan Khodijah seorang janda yang berusia 40 tahun.
Sebelum Khodijah menikah dengan Nabi, Khodijah pernah menikah dengan ‘Atiq bin ‘Aidz Attamimi dan Abu Hallah.
Adapun pelajaran yang bisa diambil dari tarikh diatas adalah :
1.       Manusia juga perlu mencari rizki sebagaimana yang dilakukan Rosulullah,misalnya beliau pernah bekerja sebagai buruh penggembala kambing dan berdagang ke Syam.
2.       Khodijah merupakan sosok seorang wanita yang berarti dalam diri Nabi,sehingga tak diragukan lagi Khodijah merupakan wanita paling mulia dizamannya.
3.       Rosulullah bukanlah orang yang mengedepankan nafsu birahi atau seksualitas sebagaimana yang telah dituduhkan oleh musuh-musuh islam, buktinya Nabi menikah dengan seorang janda yang usianya jauh lebih tua dari beliau. Padahal dengan usia Nabi yang sedemikiaan,  layaknya seorang pemuda akan memilih seorang istri yang lebih muda darinya.

من جهل المريد أن يسيء الأدب فتؤخر العقوبةعنه فيقول لو كان هذا سوء أدب لقطع الإمداد وأوجب الإبعادفقد يقطع المدد عنه من حيث لا يشعر ولو لم يكن إلا منع المزيد وقد يقام مقام البعد وهو لا يدري ولو لم كن إلا أن يخليك وما تريد
“Termasuk kebodohan murid ialah suul adab (berperilaku buruk). Ketika siksa padanya ditangguhkan ia berkata “seandainya ini adalah suul adab pastilah kenikmatanku telah terputus dan di jauhkan dari Allah SWT”. Padahal terkadang tanpa ia rasakan kenikmatan telah terputus darinya, dengan tidak bertambahnya kenikmatan padanya. Dan terkadang tanpa ia ketahui ia telah dijauhi oleh Allah SWT, dengan kosongnya hatimu dari Allah SWT dan terhalangnya apa yang kamu inginkan”.
PENGERTIAN MURID
Murid menurut ulama suluk adalah orang yang menempuh perjalanan untuk membersihkan dan mensucikan diri dari kotoran-kotoran dan penyakit-penyakit dengan meminta arahan pada orang alim yang bersih hatinya dan bagus perilakunya.
Namun kata murid dalam hikmah ini hendaklah dipahami secara lebih luas. Sebab murid yang dikehendaki Ibnu ‘Athoillah adalah semua orang yang ingin mendekatkan diri  pada Allah SWT dengan istiqomah memperbaiki keadaan dirinya dan perilakunya.
KESALAHPAHAMAN SEORANG MURID
Terkadang dari seorang salik muncul perbuatan yang merusak agamanya, menafikan hukum-hukum syariat atau bertentangan dengan etika seorang salik. Perbuatan ini berlangsung hingga beberapa lamanya tanpa ia sadari bahwa perbuatan ini merupakan siksa dan pelajaran atas apa yang telah ia lakukan. Ia membayangkan bahwa hal yang ia anggap kemaksiatan atau kesalahan bukanlah sebuah kemaksiatan atau kesalahan. Ketidak sadarannya ini tidak lain merupakan akibat dari qoswah (kerasnya hati) yang menimpa dirinya tanpa ia rasakan. Karena jika tidak demikian pastilah kesalahan yang tidak ia sadari ini tidak terjadi dan ia merasa malu untuk melakukan kemaksiatan dan kesalahan. Jika ia melakukan kemaksiatan atau kesalahan ia merasa seperti orang yang ditangkap sebab kesalahannya, ia menunggu sanksi apa yang ia terima atas perbuatannya. Dan terkadang sanksi untuknya ditangguhkan, maka hatinya akan selalu bergejolak dan cemas.
Dari sini dapat kita pahami bahwa menganggap remeh kemaksiatan adalah akibat dari kerasnya hati. Dan cukuplah siksaan dari Allah SWT yang ditimpakan pada pelaku maksiat berupa lupanya hati pada Allah SWT yang sebelumnya hudlur pada Allah SWT. Ini adalah siksaan yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya, karena siksaan ini bukanlah hal yang kasat mata yang menimpa jasad, keamanan ataupun harta benda.
Seseorang hendaklah selalu waspada dengan berbagai macam bentuk teguran dari Allah ketika ia merasa melakukan kesalahan atau ceroboh dalam memenuhi hak-hak Allah SWT. Dan ia juga haruslah mengetahui bahwa berbagai macam teguran dari Allah SWT tidaklah selalu berupa teguran yang kongkrit atau kasat mata dan juga tidak serta merta menimpa ketika ia berbuat salah. Terkadang siksa itu berupa hilangnya kenikmatan dalam beribadah, dan ini merupakan musibah yang besar. Terkadang berupa terputusnya ia untuk bisa mengikuti suluknya pada Allah SWT, terkadang terperangkap cinta dunia di hatinya, terkadang juga Allah SWT menangguhkannya hingga hari kiamat.
Seorang yang selalu ingat Allah SWT dan selalu mendekatkan diri pada-Nya akan selalu ingat dan selalu berhati-hati dengan semua kemungkinan-kemungkinan ini. Jika sudah demikian ia akan selalu khawatir/waspada dengan siksa Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Hal demikian ini merupakan salah satu makna yang terkandung dalam firman Allah SWT
إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم (الأنفال 2)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya” (Q.S. Al-Anfal:2)
Jika ada yang bertanya, apakah  orang yang selalu ingat Allah SWT, taat dengan segala aturannya, masih harus merasa khawatir dengan ancaman-ancaman Allah SWT??
Semua manusia di dunia ini tidak ada yang ma’sum kecuali para Nabi dan Rosul. Semua Bani Adam pasti pernah melakukan kesalahan. Karenanya hendaklah kita selalu khawatir atas kemaksiatan-kemaksiatan yang  kita lakukan dan kewajiban-kewajiban yang kita tinggalkan atau kewajiban yang dilakukan tidak sesuai dengan aturannya. Orang yang mencapai derajat sholihin akan dihadapkan dengan berbagai macam kemaksiatan dan dosa. Hikmah dibalik semua itu adalah seorang muslim akan merasa khawatir dan tukut akan siksa Allah SWT, entah siksaan itu berupa peringatan di dunia atau berupa balasan kelak di akhirat. Agar dalam diri manusia semakin tanpak sifat kehambaannya kapada Allah SWT.
Adapun kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada manusia bisa menjadi barometer ketaqwaannya pada Allah SWT. Orang yang taat, istiqomah menjalankan perintah-perintah Allah SWT, berusaha untuk selalu menjauhi larangan-larangan-Nya lalu Allah SWT menganugrahinya kenikmatan, kesenangan hidup, jika suatu saat kenikmatannya itu di cabut ia merasa susah dan berputus asa, maka ia termasuk orang yang  kuwalitas ketaqwaannya masih rendah. Orang yang demikian ini telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran
وإذا أنعمنا على الإنسان أعرض ونأى بجانبه وإذا مسه الشركان يؤسا (الإسراء 83)
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kapada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong, dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa” (Q.S. Al-Isro’ 83)
Maksudnya ketika ia dalam keadaan enak, penuh kenikmatan ia bangga dengan amal-amal yang telah ia kerjakan, maka bagaimana mungkin ia bisa khawatir dan waspada dengan ancaman Allah SWT karena sedikit saja kesalahan yang mungkin ia  lakukan. Dan sebaliknya ketika ia dalam keadaan susah atau mendapat musibah ia berpaling dari hukum Allah SWT dan berputus asa dari kenikmatan dan rahmat Allah SWT yang telah dijanjikan. Atau mungkin sebaliknya ia akan semakin banyak berdoa dan berharap kepada Allah SWT 
وإذا أنعمنا على الإنسان أعرض ونأى بجانبه وإذا مسه الشرفذو دعاء عريض (فصلت 51)
“Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa”. (Q.S. Fushilat:51)
Agar kita terbebas dari dua sifat manusia yang disebutkan Allah SWT di atas hendaklah kenikmatan yang kita terima bisa menjadikan kita selalu bersyukur, dan musibah yang kita hadapi mendorong kita untuk bersabar dan sadar akan kesalahan yang pernah kita lakukan. Sebab orang yang selalu bersyukur dengan nikmat yang ia terima ia tidak akan membanggakan amalnya dan tidak pula berdalih bahwa kemaksiatannya telah diampuni. Dan orang yang bersabar dan bertaubat ketika menghadapi musibah tidak akan berpaling dari Allah SWT ataupun berputus asa dari rahmat-Nya.
FENOMENA KESALAH PAHAMAN MURID DALAM MASYARAKAT
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa kaidah atau aturan yang bisa terapkan pada perseorangan atau perindividu bisa diterapkan dalam suatu kelompok atau masyarakat. Misalnya dalam sebuah organisasi atau masyarakat diberi ketentraman dan kemakmuran oleh Allah SWT, padahal mereka enggan menjalankan perintah Allah SWT dan menghina hukum-hukum Allah SWT. Sehingga nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka tidak menjadikan mereka menjadi lebih baik melainkan menjadikan mereka terlena dan jatuh dalam kemaksiatan, bahkan mereka beranggapan “ masyarakat kita adalah masyarakat yang  diridloi Allah SWT, buktinya masyarakat kita diberi nikmat yang melimpah, kemakmuran dan aman.  Padahal  anggapan mereka ini adalah anggapan yang keliru.
Bisa kita lihat masyarakat yang sebaimana di jelaskan di atas merupakan gambaran sebuah masyarakat yang mudah putus asa dan menentang hukum-hukum Allah SWT ketika sedang tertimpa musibah. Namun jika masyarakat ini adalah umat islam ,maka Allah SWT akan menjadikan umat islam terpuruk di dalam kehinaan setelah merasakan kejayaan. Tidak hanya itu bahkan Allah SWT juga menjadikan umat lain yang semula takut dan segan dengan umat islam menjadi umat yang lebih kuat dan mampu menguasai umat islam. Sehingga umat islam menjadi tak berdaya di bawah kekuasaan umat tersebut.
Problem yang demikian ini merupakan penyakit yang tak ada obatnya. Umat islam yang  terkena penyakit ini akan mengaku bahwa dirinya beragama islam, tetapi perbuatannya tidak mencerminkan islam. Sehingga sudah sepatutnya mereka tertimpa musibah dan di beri peringatan serta di jauhkan dari nikmat-nikmat Allah SWT. Namun jika mereka tertimpa musibah maka mereka akan mudah putus asa dan menentang hukum-hukum Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, jika mereka di beri kenikmatan oleh Allah SWT justru mereka malah menjadi semakin sombong.
Uraian di atas sesuai dengan kondisi umat islam sekarang ini. Hal ini menyebabkan umat islam menjadi terpuruk di bawah kendali umat lain. Sekarang jika kita mengingatkan mereka akan pentingnya dakwah islam dan memajukan islam dengan cara mencetak generasi islami yang berakhlak mulia maka kita akan di anggap sebagai orang yang mempunyai pola fikir yang kuno bahkan mereka menghina pendidikan , nilai-nilai islam dan akhlak yang terpuji.
Tak jauh berbeda ketika dengan perlahan-perlahan kita mengingatkan mereka agar mau melaksanakan hukum-hukum Allah SWT yang telah ditetapakan kepada hamba-Nya ,dengan tujuan supaya  pada akhirnya mereka bisa menjalankan islam dengan sepenuhnya, mereka justru menuduh kita sebagai orang yang fundamental yang menghadang kemodernan dan mengambing hitamkan kita sebagaii penyebab timbulnya fitnah dan pertikaian.
Tindakan dan pemikiran buruk yang sering beredar di sekitar kita merupakan sebuah tindakan dan pemikiran yang sudah melampaui batas kebebasan berfikir dan berekspresi. Namun jika kita mengingatkan mereka akan pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar maka masih saja mereka berdalih bahwa kebebasan berfikir dan berekspresi merupakan sesuatu yang harus di jaga.
 Jika ada orang mengatakan “perkataan yang kotor tidak ada hubungan dengan kebebasan berfikir karena pemikiran yang diberi ke bebasan adalah pemikiran yang berasal dari akal dan diucapkan dengan lisan bukan pemikiran yang timbul dari nafsu yang diucapkan seenaknya saja” maka orang yang berkata demikian inii akan dianggap sebagai orang yang kolot. Namun orang yang membela agama Allah SWT dan mengagungkan Al Quran menurut mereka merupakan orang yang berfikiran jumud. Sedangkan orang yang menghina Al Quran dengan kata-kata kotor malah dinilai sebagai seorang pencerah yang membawa kemajuan.
Sekarang kita tahu keadaan umat islam yang sebenarnya. Sehingga  tidak aneh Allah SWT menjadikan umat islam berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir.
Pernah terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan dan menjadikan warga arab naik darah, yaitu ketika orang  yahudi membuat tulisan yang menghina baginda Rosulullah SAW pada dinding Masjidil Aqsho dengan menggunakan tulisan yang besar yang menarik perhatian.Dengan adanya peristiwa tersebut sangat aneh jika orang islam yang mendengar   peristiwa ini hanya diam, acuh tak acuh dan tak peduli. Karena hinaan yang ditulis orang yahudi tersebut merupakan wujud hinaan yang keluar dari mulut orang-orang  yang melecehkan agama islam.
Sebagaimana yang telah mereka katakan bahwa perkataan yang jelek juga merupakan kebebasan berfikir yang sudah sepatutnya medapat tanggapan positif. Jika benar demikian berarti kata-kata kotor yang ditulis oleh orang yahudi juga merupakan kebebasan berfikir yang seharusnya mendapat apresiasi bagus. Namun faktanya orang-orang arab justru malah mengadakan demo karena tidak terima atas hinaan yang mereka lontarkan kepada agama islam. Jadi jelas bahwa orang yahudi dan antek-anteknya yang mengaku sebagai pencerah dan mengajak kemoderenan, justru sebenarnya  pemikiran merekalah yang harus dibenahi dan disingkirkan dari hadapan kaum muslimin.