PERSAMAAN GENDER
01:52
Muhammad Wafi
Posted in
nisaiyyat
HAK PEREMPUAN UNTUK BERSOSIAL
01:21
Muhammad Wafi
".
Posted in
nisaiyyat
Nasehat Pada Pemimpin
15:51
Muhammad Wafi
Langkah-langkah yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin adalah sebagai berikut ;
Memulai perbaikan dari dalam
Hal ini sangat ditekankan sekali karena seorang pemimpin adalah tokoh panutan, terutama bagi rakyatnya. Tidak bijak dan tidak etis sama sekali jika seorang pemimpin hanya bisa memerintahkan ini itu dengan seenaknya sendiri, sedangkan ia sendiri atau keluarganya masih sering melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. Ada baiknya jika kita menilik ke belakang, nun jauh sana di era daulah umayyah. Di sana kita akan mengetahui seorang pemimpin yang menerapkan poin ini dengan sangat baik. Dia adalah Umar bin Abdul Aziz. Salah satu kebijakan yang ia terapkan adalah memerintahkan anggota keluarganya dan para keluarga umayyah untuk mengembalikan harta yang bukan milik mereka yang hakikatnya adalah milik rakyat. Pernah suatu kali ia mengumpulkan sanak familinya untuk makan-makan, lantas mereka dibiarkan kelaparan tanpa makanan dalam jangka lama. Kemudian ia memberikan makanan sederhana, gandum, kurma. Setelah mereka melahap semua dan kenyang, baru ia menghidangkan kepada mereka makanan yang enak dan lezat. Namun mereka tidak bernafsu lagi. Lantas ia berkata: “kenapa kalian berani masuk neraka hanya dalam urusan makan minum ?.”
Jujur tapi waspada
Merupakan keharusan bagi seorang mukmin untuk bersikap jujur, terutama orang yang diberi amanat untuk mengurusi rakyat. Namun juga jangan sampai terlena akan senyuman orang yang kita jumpai. Yakni sikap waspada juga perlu dimiliki. Umar bin alkhottob radliallahu anhu pernah berkata : “aku bukanlah penipu, tapi aku tidak bisa ditipu”. Beliau memang diberi firasat yang tajam. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibn Jawzy dalam kitab “al adzkiya’”, sayyidina Umar alfaruq saat duduk bersama para sahabat beliau melihat seseorang yang lewat didepannya. Lantas ia berkata : “firasatku mengatakan bahwa orang tersebut adalah dukun dan peramal, semoga saja firasatku tidak salah’. Beliau memanggil orang tadi dan menanyakan perihal dirinya dan ternyata memang benar ia adalah seorang dukun dan peramal.
Memilih pembantu yang baik
Sebagai orang yang mempunyai beban yang sangat berat, seorang pemimpin memang harus memilih pembantu yang akan ia jadikan orang terdekatnya, sebagai tempat curhat dan meminta pertimbangan dalam urusan-urusannya, terlebih urusan rakyat.
Orang terbaik untuk dijadikan teman dekat sekaligus penasehat adalah ulama yang baik. Contoh dari pemimpin terdahulu adalah kholifah Harun arrosyid dari daulah Abbasiyyah. Suatu hari ia ingin menemui ulama untuk mendengar nasehat dari mereka. Diantara ulama yang ia temui adalah Al fudloil bin Iyadl. Ia masuk ke rumah Al Fudloil sebagai seorang murid yang hendak sowan ke rumah gurunya. Harun arrosyid suatu kali pernah didatangi oleh syeh Ibn Sammak, dan saat ia mengambil kendi yang berisi air untuk ia minum, syeh Ibn Sammak tadi mencegahnya seraya berkata : “baginda, andai baginda tidak diperbolehkan minum air itu, maka dengan apa baginda akan membelinya?” Harun arrosyid menjawab : “ aku akan membelinya dengan setengah kerajaanku.” Dan setelah ia meminumnya, syeh Ibn Sammak tadi berkata lagi: “wahai baginda, seandainya apa yang anda minum tadi tidak bisa keluar dari tubuh anda, maka apakah yang akan anda serahkan?’. Harun pun menjawab dengan jawaban yang sama. Lantas syeh Ibn Sammak meneruskan nasehatnya; “baginda, sungguh kekuasaan yang harganya Cuma seceguk minuman dan air kencing alangkah baiknya kalau tidak diperebutkan”.lalu Harun arrosyid menangis dengat sangat.
Setiap orang mempunyai dua pendamping, ada yang menyuruhnya pada kebaikan dan ada yang menyuruhnya keburukan, sebagaimana dalam hadits nabawy berikut:
وَفِي صَحِيح الْبُخَارِيّ عَنْ أَبِي سَعِيد عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " مَا اِسْتَخْلَفَ اللَّه خَلِيفَة إِلَّا كَانَ لَهُ بِطَانَتَانِ : بِطَانَة تَأْمُرهُ بِالْخَيْرِ , وَتَحُضّهُ عَلَيْهِ , وَبِطَانَة تَأْمُرهُ بِالشَّرِّ , وَتَحُضّهُ عَلَيْهِ , وَالْمَعْصُوم مَنْ عَصَمَ اللَّه "
Artinya: “Allah tidak mengangkat seorang pemimpin kecuali ia akan didampingi dua pendamping; ada yang menyuruhnya berbuat kebaikan dan ada yang menyuruhnya berbuat keburukan. Hanya orang yang dijaga Allah lah yang akan selamat”.
Tegas dalam memberantas kemungkaran
Dalam sejarah pemerintahan kholifah rosyidin, kita menemukan tindakan tegas dalam memberantas kemungkaran. Yaitu saat sayyidina Umar Ibn khottob mengetahui bahwa ada jual beli minuman keras di sebuah desa. Lantas beliau memerintah untuk membakar desa tersebut. Mungkin ini salah satu hal yang menyebabkan syetan menjauh dari jalan yang beliau lewati, sebagaimana sabda nabi Muhammad shallallahu alaihi wasaallam.
Berpijak pada akidah yang benar
Dulu Sholahuddin al ayyubi sebelum berhasil membebaskan AlQuds(masjid al Aqsho) ia terlebih dahulu membersihkan daerah kekuasaan Islam dari syiah. Kala itu di Mesir terdapat daulah fathimiyyah yang bermadzhab syiah. Lantas oleh Sholahuddin dihancurkan. Mungkin di Indonesia paham-paham yang layak untuk diberantas adalah liberal, syiah dan wahhabi.
Selalu mengharap kepada Allah
Tidak dipungkiri bahwa kekuatan ruhiyah mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun atau menjaga suatu negara. Salah satu hal yang dilakukan oleh nabi Muhammad pada malam perang badr, beliau tidak henti-hentinya memohon kepada Allah, bersimpuh dengan penuh penghambaan kepadaNya. Begitu juga apa yang dilakukan oleh Muhammad al fatih sang penakluk Konstantinopel saat melawan romawi. Diceritakan pada suatu malam pembantunya masuk ke baraknya, ia dikagetkan dengan menemukan tuannya menaruh dahinya di tanah tanpa alas apapun. Ia melakukannya dalam tempo yang lama.
Menjaga dan membangun syiar Islam
Salah satu hal yang perlu diketengahkan disini adalah bahwa pentingnya sebuah identitas. Logo atau simbol merupakan salah satu cara menunjukkan sebuah identitas dan ciri khas sesuatu. simbol dalam Islam lebih disering disebut dengan syiar. Allah sendiri telah memerintahkan nabi Ibrohim alaihis salam untuk membangun sebuah simbol agung atas ketauhidan Allah yaitu ka’bah di Mekkah. Demikian halnya sikap kita terhadap syiar-syiar islam yang lain semisal masjid, pondok pesantren dam buku-buku agama. Untuk pemerintah sekarang dapat melakukan poin ini dengan membantu pembangunan masjid, madrasah atau pondok pesantren. Tentu semua itu dengan pengawasan orang ahli mengenai kepantasan suatu masjid atau madrasah tersebut untuk menjadi penerima bantuan. Bentuk lain dari penjagaan terhadap syiar Islam adalah dengan mempermudah jamaah haji untuk melakukan ibadah haji dengan segala tetek bengeknya. []
(Wasiat pendiri khilafah utsmaniyyah “Utsman Artoghrul” kepada anaknya “Urukhan”)
Wahai anakku, janganlah engkau menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah Tuhan semesta alam, dan jika engkau dihadapkan pada suatu permasalahan yang pelik maka mintalah petunjuk pada para ulama.
Wahai anakku, hormatilah orang yang taat padamu, berilah kesejahteraan pada perajurit, jangan sampai engkau ditipu syetan dengan tentara dan hartamu, dan janganlah engkau menjauh dari ulama syariah.
Wahai anakku, sungguh engkau telah mengetahui bahwa tujuan kita adalah mencapai ridlo Allah, dan dengan berjihad cahaya agama kita akan menyebar ke seluruh penjuru dunia, maka timbullah ridloNya.
Wahai anakku, kita ini bukan termasuk orang-orang yang mengobarkan perang dengan tujuan menguasai kebijakan atau menguasai individu, hidup dan mati kita adalah demi islam. Dan inilah wahai anakku apa yang pantas untukmu.
Dalam riwayat lain sebagai berikut :
Ketahuilah wahai anakku, sesungguhnya menyebarkan islam, mengajak manusia padanya dan menjaga harga diri serta harta orang muslim merupakan amanat di pundakmu yang akan dimintai pertanggung jawabannya besok.
Dalam buku “penderitaan keturunan Utsman” terdapat redaksi berbeda mengenai wasiat Utsman kepada anaknya Urukhan :
Wahai anakku, aku akan kembali kepada Tuhanku dan aku sangat bangga terhadapmu dengan (harapan) engkau bersikap adil terhadap rakyat dan berjihad di jalan Allah untuk menyebarkan Islam.
Wahai anakku, aku berpesan padamu tentang ulama, jagalah mereka baik-baik, hormati mereka dan ikutilah petunjuk mereka karena mereka tidak memerintahkan kecuali hal yang baik.
Wahai anakku, jangan sekali-kali engkau berbuat sesuatu yang tidak Allah ridloi, dan jika engkau menghadapi suatu kesulitan maka bertanyalah pada ulama syariah karena mereka menunjukkan kepada kebaikan.
Dan ketahuilah wahai anakku bahwa jalan kita satu-satunya di dunia ini adalah jalan Allah dan tujuan kita satu-satunya adalah menyebarkan agama islam. Dan kita bukanlah orang-orang yang memburu pangkat dan dunia.
Dalam buku “sejarah utsmani” berwarna ada beberapa redaksi wasiat Utsman pada anaknya :
Pesanku pada anak-anakku dan teman-temanku : Jagalah keagungan agama Islam yang mulia ini dengan selalu melakukan jihad di jalan Allah, junjung tinggi panji islam dengan jihad yang sempurna, bekerjalah untuk Islam selalu, sebab Allah telah menugaskan seorang hamba yang lemah sepertiku untuk membuka negeri-negeri . Pergilah kalian dengan membawa kalimat tauhid ke ujung dunia dengan berjihad di jalan Allah, dan siapa saja dari keturunanku yang menyimpang dari kebenaran dan keadilan, ia tidak akan mendapat syafaat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kelak di hari mahsyar.
Wahai anakku, tidak seorangpun di dunia ini yang bisa menghindar dari kematian, dan ajalku pun telah tiba, aku serahkan negeri ini padamu dan aku titipkan dirimu pada Tuhan. Berbuat adil-lah engkau dalam segala urusanmu.
Posted in
politik
Hikmah 259 Fikiran yang bisa mendekatkan diri kepada Allah
09:16
Muhammad Wafi
الفكرة فكرتان فكرة تصديق وإيمان وفكرة شهود وعيان
فالأولى لأرباب الاعتبار والثانية لأرباب الشهود والاستبصار
"Fikiran dibagi menjadi dua, fikiran yang timbul dari tashdiq dan iman, dan fikiran yang tumbuh dari menyaksikan Allah dan membuktikan wujudNya, yang pertama buat orang-orang yang mempunyai pertimbangan sedangkan yang kedua bagi orang-orang yang mempunyai persaksian kepada Allah dan penglihatan dengan menggunakan hati".
A. Penjelasan.
Dalam hikmah ini, Ibnu Athoillah menerangkan tentang perjalanan orang-orang yang ingin taqorub (mendekatkan diri) kepada Allah subhanahu wata'ala. Perjalanan tersebut dibagi menjadi dua, salikun dan madzdub.
Salikun ialah orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala dengan cara berangan-angan tentang ciptaanNya dan berusaha untuk bias mendekatkan diri kepadaNya. Jika keadaan ini diteruskan, maka akan menemukan atsar pada dirinya tentang tafakur tersebut, dan mereka bias sampai pada derajat ma'rifat kepada Allah.
Madzdub ialah orang-orang yang telah diberi keanugerahan oleh Allah yang tidak bias dimiliki orang banyak. Mereka bias melihat langsung kepadaNya melalui mata hati yang dimilikinya, dan bias menyaksikan kepadaNya tanpa memikirkan ciptaanNya secara mendalam, terkadang keadaan mereka bisa melupakan pekerjaan yang berhubungan dengan duniawi.
Allah memberikan keterbukaan dalam hati orang yang madzdub tanpa berfikir atau berangan-angan dahulu. Keadaan ini bias memberikan kepada hati mereka kesenangan tentang sang pencipta dan tahu tentangNya. Tetapi madzdub dan salikun sama-sama diturunkan ke Alam dunia ini, yang akhirnya mereka akan mendapatkan derajat yang sama dihadapan Allah dengan perjalanan yang berbeda.
B. Perjalanan salikun dan madzdub.
Alam semesta merupakan tempat berteduh bagi makhluq Allah, baik yang berada di lur angkasa maupun di dunia ini, dan disana pulalah makhluq tersebut bisa mencari rezeqi untuk kehidupannya. Disamping itu dialam tersebut antara makhluq yang satu dengan lainnya ada saling membutuhkan. Ini semua bertujuan untuk saling membantu dalam segi apapun terutama bagi manuisa.
Hal ini menjadikan sebuah pekerjaan bagi seorang hamba Allah untuk bisa tambah imannya jika dia mau berangan-angan atas ciptaan Allah subhanahu wata'ala seperti diatas, karena dalam ciptaan tersebut mengandung kekuasaan Nya. Dan akan terbuka juga sifat-sifat yang wajib diketahui oleh makhluqNYa.
Jika seorang hamba sudah melaksanakan seperti ini, maka akan bertambah keimanannya dan mempunyai kemantapan pada hatinya tentang wajud Allah san sifat-sifatNya. Ini merupakan perjalanan yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Dengan metode seperti ini, Ibnu Atho'illah memberikan nama terhadap hamba tersebut dengan sebutan salikun.
Sedangkan madzdub, tanpa berangan-angan terhadap ciptaan Allah subhanahu wata'ala, langsung bisa menyaksikan Nya dalam hati dan senang tentang Nya. Ini semua merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada hambaNya, karena dalam diri hamba tersebut tidak mempunyai rasa takabur (sombong) kepadaNya. Dalam hal ini, dia mendapatkan derajat disisi Allah dengan sebutan Wahdatussyuhud.
Dia melakukan ma'siat atau sesuatu yang bias dibenci Allah, bukan karena menantang perintahNya. Tetapi kelemahan dan ketidak kuasaan untuk meninggalkan ma'siat yang dilakukannya, dan akhirnya dia akan mengembalikan semuanya kepada sang kholiq. Ini adalah perjalanan seorang madzdub yang telah dipilih oleh Allah untuk bisa dekat dengan Nya.
Keadaan seperti ini, akan menimbulkan kedengkian pada seorang hamba yang tidak diberi oleh sang kholiq tentang perjalanan yang kedua. Tetapi jika hamba tersebut banyak bertafakur tentang keadaan tersebut, maka dia akan mengetahui tentang tujuan Allah yang sebenarnya. Hal itu akan tumbuh pada dirinya dengan mengetahui bahwasanya semua budi pekerti yang dimiliki manusia adalah haq progresif Nya, Sedangkan manusia tidak akan bias menetang Nya, walaupun dengan kekutaan yang sangat penuh.
Seorang hamba yang masih manjalankan pada tingkatan pertama tidak boleh meniru seorang hamba yang sudah masuk pada tingkatan kedua, karena dia tidak akan mampu untuk mengikuti jejak hamba tersebut, dan juga merupakan anugerah Allah yang telah diberikan kepadanya.
Kalau dipandang secara kebiasaan yang sering dilakukan oleh makhluq Allah tersebut, maka kebanyakan dari mereka tidak akan menerima tentang keadaan seorang hamba yang diberi keanugerahan oleh Allah seperti diatas. Karena hal tersebut diluar jangkauannya.
Mu'jizat adalah salah satu contoh dalam pembahsan ini. Disamping itu karomah dan ma'unah yang diberikan kepada kekasih Allah untuk meneguhkan hati seseorang yang tidak tahu tentang kekuasaan Nya.
C. Dalil
a. Firman Allah
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26) (البقرة2/26)
Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (Q.S. Al-Baqoroh : 26).
Lalat, semut, tinggi (red. jawa) dan binatang yang paling kecil merupakan tanda kekuasaan Allah. Dan tidak akan ada seorangpun yang bias membuat hewan yang diciptakan-Nya. Ayat ini menunjukan kekuasaanNya.
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (13) ( الشورى42/13)
Artinya : "Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Q.S. As-Syura' : 13).
Kebiasaan yang dilakukan seorang hamba merupakan suatu yang lazim dan tidak asing dikalangan orang lain, tetapi terkadang Allah menjadikan seseorang berbeda dari kebiasaannya. Hal ini menunjukan segala sesuatu adalah milik Allah, dan Allahlah yang berhak memilih dan berkehendak, seperti ayat disini.
ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (4) (الجمعة 62/4)
Artinya : "Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar". (Q.S.Al-Jum'ah : 4).
Ayat ini menunjukan, segala sesuatu yang dimiliki oleh seorang hamba baik dari segi kemuliaan, ilmu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT, merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.
D. Aplikasi
Allah menjadikan makhluq didunia ini bermacam-macam dari segi bentuk, sifat, ataupun bahasa. Hal ini yang menjadikan Dia menyuruh kepada hambaNya untuk banyak bertafakur atas ciptaanNya, supaya bias meningkatkan iman kepadaNya.
Seperti semut kecil atau tinggi (red. Jawa) Allah menjadikan binatang tersebut bisa menggigit manusia, dan hal tersebut merupakan rezeqi yang dimilikinya. Tetapi Allah menjadikan hikmah dibalik semua itu, gigitan binatang tersebut bisa menegluarkan darah kotor dari jasad manusia.
Nyamuk juga merupakan makhluq yang mempunyai hikmah dibalik ciptaanNya, padahal binatang tersebut dipandang secara dlohir, gigitannya sangat membahayakan manusia karena dengan gigitan tersebut telah membawa penyakit yang dinamakan dengan demam berdarah.
Tetapi Allah menjadikannya hikmah pada binatang tersebut. Jika tidak ada nyamuk yang berkeliaran disekililing menusia, maka sebagian makhluq Allah yang mempunyai aqal tersebut akan kesulitan dalam mencari ekonomi untuk kehidupannya.
Di karenakan nyamuk yang selalu menggit manusia, perlu ada pembasmi yang bias menghancurkannya. Sedangkan pembasmi tersebut perlu pengolahan yang memerlukan biaya yang akan dijual belikan dipasaran untuk kemaslahatan manusia. Ini merupakan berkah dari nyamuk yang diciptakanNya.
Disamping itu juga, Allah menjadikan pada bintang yang bertaring tersebut, sebuah senjata yang bisa menghirup bau manusia untuk digigitnya walaupun jarak yang ditempuh sangat jauh, dan dia tahu tentang mana yang perlu disuntik atau digigit dan tidak.
Tetapi hal ini, akan berbeda dengan orang yang sedang memperbaiki jam, dia akan kesulitan dalam memperbaiki jam yang kecil dibandingkan dengan jam yang besar, karena unsur-unsur yang ada dijam kecil tersebut sangan sulit sekali untuk dilihat dan diterpkan, berbeda dengan jam yang besar.
Semua ini merupakan kekuasaan Allah subhanahu wata'ala yang tidak akan bisa di tiru oleh manusia ataupun makhluq lain, karena semua itu merupakan makhluq yang diciptakanNya. Sedangkan segala sesuatu yang diciptakan Nya akan kesuliatan untuk bisa menirukannya.
Dalam pembahsan diatas, Ibnu Atho'illah menerangkan tentang orang yang langsung bisa syuhud (menyaksikan Allah dalam hati) atau bisa disebut dengan madzdub. Banyak sekali kejadian yang bisa menimbulkan heran pada diri manusia. Dan hal itu merupakan kejadian yang berada diluar kebiasaan mereka.
Seperti keadaan di pondok pesantern yang diprioritaskan untuk mencari ilmu syari'at. Kebanyakan dari mereka setelah menyelesaikan belajarnya dari tempat ini akan mendapatkan gelara seorang tokoh agama atau bisa dikatakan dengan nama kiyai (red. jawa). Jika orang tersebut bersungguh-sungguh dalam belajar ditempat tersebut.
Tetapi kejadian tersebut akan menjadi heran. Jika salah satu dari mereka mendapatkan gelar seperti diatas kelak dirumah, keheranan tersebut terjadi atas orang yang belajar tetapi tidak dengan sungguh-sungguh atau sama sekali tidak pernah belajar.
Semua ini tidak bias diprediksi oleh siapapun dan tidak boleh membuat hukum sendiri yang bisa mengakibatkan su'u dzon (berburuk sangka) kepada Allah. Dan ini merupakan kehendak Allah yang tidak bisa dibantah oleh siapappun. Dibalik semua itu ada tujuan yang bisa membangkitkan seorang hamba untuk bias mendekatkan diri kepada Allah, dengan selalu menetap di pondok tidak cepat mukim yang nantinya akan selalu berhubungan dengan masyarakat dan hal ini pasti akan membutuhkan obat yang bias diaplikasikan kedalam hati.
E. Bukti sejarah.
Waliyullah (kekasih Allah) mempunyai perjalanan yang sangat panjang dalam mencari jati dirinya untuk bias dekat dan menyaksikan-Nya dalam hati. Sebagian dari mereka, ada yang diberi langsung oleh Allah bisa syuhud (menyaksikan dalam hati) kepada-Nya. Dan juga ada yang melalui tafakur kepada-Nya, kemudian Allah memberikan keterbukaan dalam hati- Nya untuk bisa syuhud kepada -Nya.
Fudail bin iyad adalah salah satu dari kekasih Allah dengan melalui perantara kedua. Beliau bisa menjadi kekasih-Nya karena telah mendengar ayat yang menerangkan tentang perintah untuk berhenti menjalankan maksiat kepada Allah. Hal ini juga terjadi kepada Abdullah bin Mubarok.
Maksiat yang telah dilakukan oleh para kekasih Allah seperti diatas merupakan maksiat yang bukan karena sombong terhadap Allah. Akan tetapi maksiat tersebut yang bisa menyebabkan dekat dengan Allah. Disamping itu Allah juga memberikan kekayaan yang melimpah kepada orang yang durhaka dan sombong, yang akhirnya Allah memilih orang tersebut menjadikan kekasih-Nya.
Misalnya Bisyr bin Harist, Hal ini terjadi ketika ada orang yang sedang berbincang-bincang membicarakan tentang masalahnya didepan rumahnya, salah satu dari mereka berkata: siapakah orang yang mempunyai rumah ini, apakah seorang budak atau orang yang benar-benar kaya. Kemudian salah satunya lagi menjawab: kamu tidak tahu, dia adalah orang yang paling kaya tidak ada yang menyaingi, lihatlah rumahnya, kendaraannnya, dan lain-lain merupakan bukti kekayaannya.
Akhirnya pertanyaannya seorang hamba sampai pada Bisyr bin Harist orang yang paling kaya, setelah mendengarkan pertanyaan tersebut beliau langsung sadar atas kekayaan yang dimilikinya dan keangkuhan terhadap orang lain. Karena perkataan seorang hamba yang diuraikan dengan pertanyaan tersebut membuat dia bisa berfikir.
Manusia diciptakan oleh Allah tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, dan menjadi hamba-Nya. Kekayaan, kehormatan dan kemuliaan merupakan pemberian dari Allah SWT. Oleh karena itu tidak layak , jika seorang hamba memiliki berbudi pekerti sombong, angkuh, dan kikir terhadap orang lain. Karena berbudi pekerti sombong, angkuh dan kikir itu tidak disenangi Allah Swt, Setelah beliau berangan-angan tentang hal tersebut, semua harta yang dimilikinya ditinggalkan dan akhirnya beliau menjadi orang yang zuhud, tidak lama kemudian beliau menjadi kekasih Allah SWT.
Posted in
Hikam
HIKMAH 258 Cahaya dalam fikiran
09:14
Muhammad Wafi
الفكرة سراج القلب فإذا ذهبت فلا إضاءة له
"Pikiran merupakan lampu hati, ketika hilang pikiran tersebut, maka tidak ada penerangan baginya".
A. Penjelasan
Memikirkan sesuatu yang bisa menerangi hati dan aqal merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh seorang hamba yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Dan ketika hilang memikirkan hal tersebut, maka aqalnya tidak ada penerangan sama sekali. Dalam hikmah ini yang dimaksud dengan kata Al-Qolbu ialah Al-‘Aqlu.
Yang menjadi kesemangatan pada diri seorang hamba untuk berangan-angan dan bertafakur terhadap sesuatu apapun bukanlah aqal, tetapi kesungguhan nya. Dan yang membangkitkannya yaitu penemuan terhadap sesuatu yang dia lihat.
Begitu juga dengan penggunaan nikmat yang telah diberikan Allah subhanahu wata'ala berupa aqal, yang digunakan untuk memikirkan nikmat yang dirasakan seorang hamba. Disamping itu alam yang bermacam-macam juga merupakan bahan untuk menjadi tafakur seorang hamba, tujuan dari tafakur ini ialah untuk bisa whusul (sampai) kepada Allah subhanahu wata'ala. Sedangkan alat untuk berfikir ialah aqal, yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya tidak kepada makhluq selainnya.
B. Perumpamaan
Dalam hikmah ini, Ibnu Atho'illah memberikan perumpamaan dengan seseorang yang sedang berada di dalam kamar dengan keadaan gelap, dikarenakan tidak ada lampu yang menerangi kamar tersebut, sama halnya, otak seorang hamba tidak akan berfungsi kecuali diterangkan dengan bertafakur terhadap ciptaan Allah subhanahu wata'ala.
Ada dua cara untuk memahami hubungan antara fikiran dan aqal.
1. Jadikanlah aqal tersebut sebuah lampu untuk berfikir. Karena berfikir tentang alam semesta membutuhkan sebuah lampu untuk bias menerangkan hatinya yaitu aqal.
2. Jadikanlah fikiran tersebut sebuah lampu untuk aqal. Jika diibaratkan aqal sebuah pedang atau alat dan bayangan yang menunjukannnya terhadap gerakan ialah fikiran.
Sesungguhnya aqal merupakan alat yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk selalu tunduk kepada menusia. Dengan tujuan, supaya dia menggunakannya untuk bias mencapai pada tingkatan yang lebih tinggi yatiu ma'rifat. Tetapi cahaya yang keluar dari tingkatan itu tidak akan bias bersinar kecuali dengan bergerak dan amal. Hal itu bias dilakukan dengan adanya tafakur dan berangan-angan.
C. Akibat tidak bertafakur
Di dunia ini banyak sekali orang-orang yang pinter tetatipi tidak digunakan dalam hal untuk memikirkan ciptaan dan sang pencipta, terutama orang barat, yang selalu mengedepaankan realita dibandingkan dengan sesuatu yang tidak bias dilihat, sedangkan Allah subnahau wata'ala adalah Dzat yang go'ib, dan kita sebagai seorang yang beragama islam wajib untuk beriman kepada alam gho'ib.
Hal ini terjadi pada ilmuwan barat, yang tidak menggunakan aqalnya untuk bertafakur terhadap ciptaan Allah secara mendalam yang akhirnya akan mengetahui sang pencipta. Tetapi berhenti pada titik temu yang dicarinya. Adapun tentang wujudnya sang pencipta dia tidak menghiraukan. Hal ini dilandaskan rasa malas yang dialaminya. Sedangkan jalan tersebut merupakan pekerjaan yang tercela dan pemikiran yang menyesatkan.
D. Dalil
a. Firman Allah dalam surat Al-‘Arof ayat : 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف : 7/179)
Artinya : "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai". (Q.S. Al-‘Arof : 179)
Ilmuwan barat merupakan orang yang suka meneliti tentang alam yang diciptakan Allah, tetapi penelitian tersebut tidak bisa menjadikannya iman kepada-Nya, karena dia hanya mengandalkan keilmiyahannya saja.
Posted in
Hikam
Hikmah 257 Berfikir positif
09:10
Muhammad Wafi
الفكرة سير القلب و ميادين الاغيار
"Berfikir merupakan perjalanan hati dan lapangan selain Allah (makhluq Allah)".
A. Penjelasan.
Yang dimaksud dengan Al-Aghyar disini ialah segala sesuatu selain Allah, dalam kata lain yaitu makhluq Allah. Kata tersebut terkadang diungkapkan dengan bentuk mufrod yaitu ghoir karena dipandang dari jenis berupa makhluq Allah, tidak memandang anwa'nya (macam-macam). Dalam hal ini, akan menimbulkan sebuah pertanyaan. Kenapa dalam hikmah ini, Ibnu Atho'illah memakai ‘ibarat Al-Aghyar yang berupa jama' bukan menggunakan mufrodnya?
Semua ini karena memandang dari nau'nya. Menurut aqal, memandang selain Allah itu akan terfokus hanya pada satu yaitu makhluqNya, akan tetapi kalau melihat isinya maka akan terlihat juga macam-macam dari makhluk tersebut seperti nikmat, laut, langit, bumi dan sebagainya. Maka dari itu Ibnu Atho'illah meng'ibaratkan pada hikmah ini dengan lafadz jama'. Berfikir tentang makhluq Allah membuthkan pemikiran yang positif ialah menjalankan hati melalui pemikiran tentang ciptaan Allah, dan berfikir tentang keadaan sekitarnya.
B. Macam-macam tafakur dan perbedaannya.
Tafakur merupakan perantara untuk bisa wushul (sampai) kepada Allah subhanahu wata'ala, dengan berfikir tentang ciptaan atau makhluq Nya. Akan tetapi dalam bertafakur, Allah memberikan dua macam cara untuk melakukannya yaitu dengan bertafakur secara mutlaq atau secara muqoyyad sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an tentang masalah tersebut.
Dalam hal ini, tafakur dibagi menjadi dua, tafakur mutlaq dan tafakur muqoyyad. Ibnu Atho'illah membedakan antara kedua tafakur tersebut, karena disesuaikan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an. Tafakur mutlaq ialah memikirkan tentang ciptaan Allah tanpa ada pembatas. Hal ini dikarenakan perintah Allah dalam Al-Qur'an dengan menggunakan fi'il (kata kerja) yang lazim, sehingga dalam permasalahan disini bisa dikatakan tafakur yang tidak membutuhkan maf'ul (obyek).
Tafakur muqoyyad ialah memikirkan sesuatu yang ada di alam semesta ini, tetapi pemikiran tersebut diberi batas-batas oleh Allah sesuai dengan firmanNya, dan Al-qur'an menyebutkannya dengan menggunakan fi'il (kata kerja) yang muta'adi. Hal ini obyek sangat berperan sekali dalam menentukan sesuatu yang akan dijadikan sebuah tafakur oleh seorang hamba.
C. Kenapa bertafakur harus terhadap makhluq Allah tidak terhadapNya. ?
Alam semesta dan isinya bahkan alam ghoib (tidak kelihatan) merupakan ciptaan Allah. Seluruh makhluq hidup yang ada di alam semesta ini menyukai ciptaanNya.Dan ini merupakan dari kekuasaan, keesaan dan keagunganNya. Dengan adanya seperti ini, maka mereka akan senang jika bisa mengetahui sang penciptaNya.
Dalam permasalahan ini akan timbul pertanyaan seperti diatas. Kenapa bertafakur harus terhadap makhluq Allah tidak terhadapNya, sedangkan bertafakur kepada selain Allah akan menyebabkan sibuk kepada selainNya?
Bertafakur tentang Dzat Allah merupakan hal yang mustahil, Karena aqal manusia tidak akan mampu untuk memikirkanNya, sebab aqal tersebut diciptakan olehNya dan ada batasnya, bahkan bisa terjerumus pada kekafiran. Hal ini akan menjadikan kebingungan bagi orang yang memikirkanNya.
Maka dari itu, ketika ada orang yang bertanya tentang Allah. Apakah Allah itu pendek, tinggi, laki-laki, perempuan, atau banci ? sedangkan Allah bukan merupakan Dzat yang sebagaimana ditanyakan dan dalil yang menunjukan hal ini tidak ada.
Ketidakmampuan mereka terhadap memikirkan Allah subhanahu wata'ala, kerena kemampun manusia untuk berfikir sesuatu yang bisa dilihat dan diindra terbatas. Disamping itu, Dia berbeda dengan makhluq yang diciptakanNya, sama halnya dengan orang yang pekerjaannya membuat kursi, meja, lemari dan lainnya, maka hal tersebut yang dia kerjakan tidak akan sama dengan dirinya dari segi bentuk atau sifat-sifatnya.
Begitu juga dengan rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam. Ketika orang quraisyi ‘arab bertanya kepadanya tentang Allah, karena mereka penasaran terhadap tuhan yang disembah rasulallha shalallahu ‘alaihi wasalam, maka beliau menjawabnya dengan sifat-sifat Allah yang sudah tertera didalam Al-Qur'an.
Padahal mereka menanyakan tentang Dzat Allah yang sudah lama menjadikan penasaran begi nya, karena mereka menyembah tuhan yang sudah diketahui bentuk dan sifat nya. Tetapi rasulalah shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab dangan sifat-siafatNya, supaya manusia bertafakur terhadap sifat-sifat Allah atau ciptaan Nya.
D. Aplikasi
Allah Dalam menciptakan alam semesta dan isinya, banyak sekali yang bisa dijadikan bahan pemikiran bagi seorang hamba yang sedang mempertebal imannya, seperti halnya amal yang sering kita kerjakan yaitu tho'at. Tho'at merupakan ibadah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala. Dengan melalui hal tersebut, kita bisa bermunajat kepadaNya. Shalat, puasa, zakat dan perintah-perintah lainnya, merupakan bentuk ketaatan terhadapNya dengan dibarengi sifat roja', khouf, dan tawadlu'. Hal ini, ketika diangan-angan maka akan timbul rasa mengharapkan ridhonya.
Begitu juga, dengan maksiat yang telah dikerjakan oleh seorang hamba. Jika dia memikirkan apa yang di kerjakannya,bahwa hal itu akan menjerumuskannya kedalam murka Allah dan membuat hidupnya tidak nyaman. Maka akan timbul pada dirinya rasa atau sifat seperti yang sudah diterangkan diatas. Hal ini masuk pada perkataan Ibnu ‘Athoillah dengan ‘ibarot mayadiinul aghyar.
Disamping itu, siksa Allah kelak diakhirat juga merupakan pemikiran bagi hambaNya, karena dengan adanya siksa tersebut akan menimbulkan prasangka pada dirinya tentang masuk surga atau neraka. Ketika kamu banyak memikirkan hal seperti ini, maka kamu akan mendapatkan rasa khouf terhadap Allah subhanahu wata'ala yang bisa mengakibatkan dekat dengan Nya. Langit dan bumi, juga menjadi sebuah tafakur bagi hamba Nya, karena hal itu bisa menjadikan nya ingat atas sang pencipta.
Semua ini sebagai pelantara untuk mengetahui wujud (ada) Allah secara hakikat, seperti yang sudah diterangkan pada hikmah sebelumnya, karena rasa ingin mengetahui Allah dengan melalui DzatNya, akan mengalami kebingungan bahkan stress. Sebab dalam permasalahan ini ada unsur daur (mengelilingi tidak ada ujungnya).
E. Dalil
a. Allah subhanahu wata'ala, menyuruh kepada hambaNya untuk berfikir atau tafakur terhadap ciptaanNya yang tidak dibatasi, hal ini bias dinamakan dengan tafakur mutlaq, sebagaimana firman Allah dalam surat yunus ayat 24.
كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (يونس : 10/ 24)
Artinya : "Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir". (Q.S. Yunus : 24).
b. Firman Allah dalam surat Al-Imron : 191
وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (ال عمران :3/ 191)
Artinya : "Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi". (Q.S. Al-Imron : 191).
Ayat ini menunjukan bahwasanya tafakur, selain mutlaq juga ada yang muqoyyid yaitu bertafakur terhadap ciptaan Allah dengan adanya pembatas seperti ayat di atas. Dan fi'il yang digunakan berupa muta'adi.
c. Pahala bertafakur lebih baik dari pada melaksanakan ibadah malam hari seperti perkataan syaikh Hasan bishri.
تفكر ساعة خير من قيام ليلة
Artinya : "Bertafakur satu jam lebih baik daripada mendirikan shalat pada waktu malam".
Hal ini, kebaikan tafakur dipandang dari segi pahala bukan hakikatnya.
d. Firman Allah dalam surat Al-Ikhlas.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) (الاخلاص :112/ 1-4)
Artinya : "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Q.S. Al-Ikhlas : 1-4).
Ayat ini merupakan jawaban rasulallah pada waktu di beri pertanyaan oleh kafir Quraisyi tentang Dzat Allah subhanahu wata'ala. Dan juga sebuah himbauwan bagi umatnya supaya bertafakur terhadap sifat-sifat atau makhluqNya.
e. Banyak sekali dalam Al-qur'an, ayat yang menerangkan tentang ciptaan Allah, salah satunya yaitu tentang langit, bumi dan juga bergantinya malam dan siang seperti firman Allah dalam surat Al-Imron ayat 190.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (ال عمران : 3 /190)
Artinya : "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal".(Q.S. Al-Imron : 190).
f. Firman Allah dalam surat At-Thoriq.
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7) (الطارق :86/ 5-7)
Artinya : "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan". (Q.S. At-Thoriq : 5-7).
Ayat ini menerangkan tentang Allah menciptakan manusia melalui proses yang tidak akan bias dilakukan oleh makhluq lain. Hal ini menunjukan adanya kekuasaan Allah dan wujudNya.
g. Firman Allah dalam surat An-Nahl.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ (10) يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (11) (النحل :16/ 10-11)
Artinya : "Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan". (Q.S. An-Nahl : 10-11).
Allah memberikan rizqi kepada hambaNya melalui air tawar yang turun dari langit ataupun langsung dari bumi dengan perantara tumbuh-tumbuhan, seperti firman Allah diatas.
h. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh.
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا (البقرة : 2/ 219)
Artinya : "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". (Q.S. Al-Baqoroh : 219).
Dalam firman ini Allah juga menyuruh kepada hambaNya, untuk bertafakur tentang masalah khomr (minuman keras) yang bias menyebabkan murka Allah terhadap hambaNya.
i. Begitu juga dengan shadaqoh yang telah diperintahkan oleh Nya seperti Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh : 219
وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ (البقرة : 2/219)
Artinya : "Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir". (Q.S. Al-Baqoroh : 219).
j. Firman Allah dalam surat Thoha.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126). (طه :20/ 124-126).
Artinya : "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (Q.S. At-Thoha : 124-126).
Dalam ayat ini Allah menyuruh kepada hamabNya untuk bertafakur tentang siksa hari qiyamat, yang akan mengakibatkan rasa khouf dan roja' kepada Allah subhanahu wata'ala kelak di hari akhir tersebut. Disamping itu, dalam ayat ini Allah berfirman dengan menggunakan lapadz فَنَسِيتَهَا . Hal ini menunjukan bahwasanya, Allah telah memberikan pengetahan kepada hambaNya tentang wujudNya dialam dunia tetapi mereka berpura-pura lupa tentang hal itu.
F. Kesimpulan.
Segala sesuatu yang ada dialam semesta ini semuanya tercantum didalam Al-Qur'an tanpa terkecuali baik itu yang paling kecil, tidak kelihatan, atau yang paling tinggi dan besar. Karena yang menciptakan semua itu adalah Allah subhanahu wata'ala, sedangkan Al-Qur'an merupakan firman Allah secara langsung dengan melalui malaikat jibril.
Maka dari itu. Allah menyuruh kepda hambaNya untuk memperbanyak baca Al-Qur'an, supaya bisa menambah iman pada dirinya karena dalam Al-qur'an sendiri banyak sekali menerangkan tentang ayat-ayat yang mrnunjukan wujud Allah subhanahu wata'ala.
Posted in
Hikam
