HIKMAH 81 : MAKAM BASTU DAN MAKAM QOBDHU

( 81 ) العارفون إذا بسطوا أخوف منهم إذا قبضوا ولا يقف على حدود الأدب في البسط إلا قليل


"Orang arif lebih hawatir ketika lapang ketimbang ketika sempit. Hanya sedikit sekali yang tetap dalam batas-batas kesopanan ketika lapang"


Orang yang ahli makrifat ketika berada dalam makam bastu (lapang) itu lebih takut dari pada dalam makam qobdhu (sempit). Hal ini karena ketika menempati makam bastu, dia ingat kepada Allah sangat sedikit karena dia merasa akan ada kebahagiaan yang diberikan oleh Allah. Oleh karena itu ketika condong ke makam bastu itu lebih takut dari pada makam qobdhu, jadi yang paling dikhawatirkan adalah makam bastu. Makam bastu itu condong kepada hawa nafsu. Seperti orang yang mempunyai hati tenang dan selalu ditempatkan pada kesenangan berarti orang tersebut telah menuruti hawa nafsunya. Sekarang kalau diterus-teruskan seperti ini maka orang tersebut akan merasa bahwa dia telah diampuni oleh Allah. Dengan melihat ayat Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Mengampuni, maka hal seperti ini akan bahaya jika diterus-teruskan. Seperti seseorang yang memiliki keramat, jika diterus-teruskan maka masyarakat akan heran karena keramat tersebut selalu diceritakan oleh murid-muridnya. Terkadang dia menggunakan dalil :


وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11) [الضحى/11]

11. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.

Karena itulah, orang yang ahli makrifat lebih takut ketika berada pada makam bastu dari pada dalam makam qobdhu karena dia akan malas dan kendor dalam beribadah.

Qobdhu itu takut kepada siksa Allah. Kalau memikir-mikir siksanya Allah maka akan melupakan pada dzatnya Allah. Oleh karena itu makam qobdhu sangat dihawatirkan. Dalam Al-Qur'an telah dijelaskan :

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (175) [آل عمران/175]

175. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.


Sekarang ada guru membawa cambuk, pasti murid takut pada cambuk tersebut bukan kepada gurunya. Murid takut dipukul dengan cambuk tersebut. Padahal yang dituntut oleh orang muslim adalah bisa menggabungkan antara khouf (takut) dan hub (cinta). Kalau sudah seperti ini maka orang tersebut sudah memenuhi kriteria sifat-sifat orang mukmin seperti yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur'an :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ (165) [البقرة/165]

165. Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

[106] yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

Kalau seseorang sudah terlanjur tidak memiliki rasa takut kepada orang lain atau rasa takut seseorang kepada orang lain itu tidak dibarengi dengan kesenangan maka orang tersebut tidak bisa menggabungkan antara khouf (takut) dan hub (cinta). Senang itu ada sebabnya sendiri. Yang pasti orang senang dan takut bukan karena dirinya sendiri. Sebabnya adanya siksa dan nikmat. Contohnya, kita takut sama guru karena kita akan dipukul.

Orang yang telah mempunyai kedua sifat bastu dan qobdhu maka dia akan suka dan takut kepada Allah hanya karena dzat Allah sendiri bukan yang lainnya. Kita takut kepada Allah karena dia adalah tuhan kita. Dan yang paling bahaya adalah orang takut kepada Allah karena siksa-Nya dan senang kepada Allah karena adanya nikmat, bukan murni karena dzat Allah.

Lalu bagaimana caranya agar kita suka kepada Allah karena dzat-Nya?

Kita takut kepada Allah karena Dzat-Nya memang sangat sulit, seperti dalam hikmah Ibnu Atho'illah :

ولا يقف على حدود الأدب في البسط إلا قليل

Sekarang ini orang yang menetapi tata krama kepada Allah sangat sedikit sekali karena memiliki sifat seperti di atas. Jika demikian maka syaitan akan datang dan berkata : maghfirah Allah itu banyak. Dengan adanya godaan syaitan ini maka orang tersebut akan bersantai-santai dalam beribadah. Syaitan juga berkata : maghfirah Allah tidak akan ada kalau kamu tidak maksiat terlebih dahulu. Kebanyakan, orang sekarang ini sudah tidak memiliki tata krama kepada Allah. Hal seperti ini sangat berbahaya bagi orang yang baru mendalami tasawuf. Contohnya, dia merasa tinggi derajatnya ketika memiliki banyak santri. Hal seperti ini akan wujud ketika seseorang memiliki sifat bastu. Orang ahli tasawuf sangat takut dengan adanya sifat bastu. Oleh karena itu kita harus selalu ingat kepada hikmah Ibnu Athoillah :

العارفون إذا بسطوا أخوف منهم إذا قبضوا ولا يقف على حدود الأدب في البسط إلا قليل

"Orang arif lebih hawatir ketika lapang ketimbang ketika sempit. Hanya sedikit sekali yang tetap dalam batas-batas kesopanan ketika lapang"

0 komentar:

Poskan Komentar