CALEG IDEAL

بسم الله الرحمن الرحيم
CALEG IDEAL
Oleh : KH. Muhammad Wafi, LC

A. PENDAHULUAN
April tahun 2009 M merupakan waktu bagi calon legislatif yang akan bertarung dalam menentukan siapa yang berhak untuk menjalankan roda pemerintahan baik di daerah tingkat I, II maupun pusat. Untuk mewujudkan impiannya, mereka harus berjuang keras dengan berbagai cara baik legal maupun illegal walaupun terkadang menuai banyak kecaman dan kontroversi di berbagai kalangan.


Para caleg harus bisa menarik simpati masyarakat baik dari kalangan bawah maupun kalangan atas. Mereka harus mengajak masyarakat agar mau memilih mereka dalam pencoblosan yang dilakukan secara langsung tersebut. Namun masyarakat sekarang ini terlebih umat islam sedang dihadapkan pada masalah yang sangat pelik. Problema mereka sangat kompleks, meliputi krisis kepercayaan dan kurang menyadari urgensi demokrasi dalam pembangunan negara ini. Dalam konteks ini diperlukan adanya penjelasan dan pemahaman terhadap umat islam bagaimana menentukan pilihan mereka secara tepat dan benar.

B. KRITERIA PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Islam adalah agama yang detail dalam mengatur kehidupan umat manusia. Hal itu dilakukan agar kehidupan ini bisa berjalan secara serasi, seimbang dan mengikuti norma-norma ilahi. Islam telah memberi garis-garis besar untuk menjadi seorang pemimpin yang notabene adalah khalifatullah di bumi ini. Ada beberapa kriteria untuk menjadi pemimpin yang baik menurut islam, diantaranya adalah :
Wali Adil
Salah satu sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah adil. Adil adalah menyelaraskan antara hak dan kewajiban. Banyak sekali ayat Al-Qur'an maupun Hadits Nabi yang menjelaskan tentang pentingnya adil. Dalam Surat An-Nisa': 58 Allah telah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58)
Artinya :
58.Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.

Adapun hadits Nabi yang menjelaskan tentang pentingnya adil diantaranya adalah sebagai berikut :

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا .....
Artinya :
"Ya Abdurrohman bin Samuroh janganlah engkau meminta jadi pemimpin karena apabila engkau diberinya dengan meminta maka engkau tidak akan diberi pertolongan, dan apabila engkau diberi dengan tanpa meminta maka engkau akan di beri pertolongan"(HR. Muslim)

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى الْقَطَّانِ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya :
"Ada tujuh golongan yang akan diberi tempat berteduh oleh Allah pada hari ketika tidak ada tempat berteduh kecuali tempat teduhnya Allah yaitu Imam yang adil, Pemuda yang tumbuh dan taat pada Allah, laki-laki yang hatinya bergantung pada masjid, dua orang yang saling mencintai dan bertemu serta berpisah karena Allah, Orang laki – laki yang ketika dirayu wanita yang memiki pangkat dan kecantikan dia berkata : sesungguhnya saya takut pada Allah, laki – laki yang bershodaqoh dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui yang dishodaqohkan oleh tangan kanannya dan laki-laki yang ingat pada Allah di waktu sepi hingga meneteskan air mata." (HR. Muslim)

قال رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: "ثَلاَثَةٌ لا تُرَدّ دَعْوَتُهُمْ: الصّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ، وَالإمَامُ العَادِلُ، وَدَعْوَةُ المَظْلُومِ يَرْفَعُهَا الله فَوْقَ الغَمَام وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السّمَاءِ، ويَقُولُ الرّبّ وعِزّتِي لأنُصُرَنّك وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ".
Artinya :
"Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak yaitu : orang yang berpuasa sampai berbuka, imam yang adil, dan doanya orang yang dianiaya yang diangkat Allah di atas mendung. Dan Allah membuka pintu-pintu langit sambil berkata : Demi keagunganku pasti Aku akan menolongmu wulaupun setelah masa yang lama"(HR. Turmudzi)



حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ وَأَبُو بَكْرٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي حَدِيثِ زُهَيْرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا
Artinya :
"Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah itu berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya tangan kanan Allah dan kedua tangan-Nya adalah tangan kanan, yaitu orang yang berbuat adil dalam putusannya, keluarganya dan sesuatu yang mereka urusi" (HR. Muslim)

Menjadi pemimpin memang merupakan suatu ibadaah yang sangat utama jika disertai dengan adil dan sabar. Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas disebutkan :
ليوم من امام عادل خير من عبادة الرجل وحده ستين عاما
Artinya :
"Satu hari dari imam yang adil niscaya lebih baik dari pada ibadah seseorang dalam 60 tahun"(HR. Tabrani dan Al-Baihaqi)
Namun apabila pemimpin tersebut adalah orang yang tidak adil atau jair (jahat), maka dia akan hancur dan satu hari baginya lebih jelek dari pada fasiq 60 tahun sebagaimana mafhum hadits di atas. Karena bahaya inilah maka banyak sekali sahabat dan ulama' yang melarang seseorang untuk mencari jabatan sebagai leader tersebut.

Sahabat Abu Bakar ra. pernah melarang Rafi' ibn Umar untuk menjadi seorang pemimpin karena khawatir jika tidak bisa berbuat adil sehingga akhirnya mendapatkan laknat dari Allah swt. Rasulullah saw pernah bersabda :

ما من والي عشرة الا جاء يوم القيامة مغلولة يده الي عنقه اطلقه عدله او اوبقه جوره
Artinya :
"Tiada seseorang yang menguasai urusan sepuluh orang kecuali besok hari kiamat dia akan datang dengan terbelenggu tangan sampai lehernya, sehingga adilnyalah yang akan melepaskannya atau kejahatannyalah yang akan menetapkannya seperti semula" (HR. Ahmad dan Bazzar)
ما من عبد يسترعيه الله رعية لم يحطها بنصيحة الا لم يرح رائحة الجنة
Artinya :
"Tiada seseorang yang diberi kekuasaan Allah pada suatu rakyat dan tidak menjalankannya dengan kebaikan kecuali dia tidak akan bisa mencium bau surga"

Dari hadits-hadits di atas bisa diambil garis besar bahwa pemimpin yang tidak bisa berbuat adil maka sangat besar bahayanya dan sebaliknya pemimpin yang mampu berbuat adil merupakan suatu amal yang dapat menjadikannya lebih dekat dengan Allah swt.
Amanah
Amanah merupakan suatu tugas yang paling sulit dilaksanakan oleh banyak orang, lebih-lebih seorang pemimpin. Dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab: 72 telah disebutkan :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا (72)
Artinya :
72. Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Seorang pemimpin yang baik harus memiliki sifat amar ma'ruf nahi munkar. Dengan sifat ini kehidupan masyarakat akan berjalan dengan aman dan mengikuti aturan-aturan syari'at. Amar ma'ruf memang suatu pekerjaan dan tugas yang berat, sehingga tidak semua orang bisa melakukannya. Oleh karena itu Allah berfirman dalam surat Al-Imran: 104 :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104)
Artinya :
104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

C. BAGAIMANA MENJADI PEMIMPIN DALAM ISLAM
Untuk menjadi pemimpin sesuai syariat islam, maka seseorang harus bisa mengikuti Rasulullah saw yang merupakan uswatun hasanah bagi semua golongan maupun etnis di dunia ini. Sudah maklum bahwa Rasulullah bukan hanya seorang utusan yang diperintahkan Allah untuk menyebarkan agama islam dan menunjukkan umat ini dari kesesatan. Rasulullah adalah seorang pemimpin yang mampu merubah masyarakat arab waktu itu menjadi masyarakat yang baik dan menjalankan ajaran-ajaran Allah swt.

Sebelum menjadi utusan nabi Muhammad (ketika mendekati umur 40 tahun) senang untuk melakukan uzlah (mengasingkan diri dari kehidupan manusia). Nabi sering menyendiri di gua hira' dan beribadah di sana dalam beberapa malam, terkadang 10 hari dan terkadang lebih bahkan sampai 1 bulan. Setelah itu nabi kembali ke rumah untuk membawa perbekalan dan menuju gua lagi sampai akhirnya beliau diberi wahyu oleh Allah swt.

Dari fenomena kholwat nabi di atas terdapat hikmah yang besar sebagai cermin bagi kehidupan manusia secara global dan bagi para pemimpin secara spesifik. Seseorang tidak akan sempurna islamnya hanya dengan melakukan ibadah-ibadah dan fadhailul amal. Dia harus meluangkan waktunya untuk melakukan uzlah dan menyendiri dari keramaian masyarakat. Dalam uzlah ini dia harus berfikir dan muhasabatun nafsi (instropeksi diri) serta mengangan-angan kebesaran Allah swt. Uzlah di sini tidaklah harus dilakukan dengan menyendiri di dalam gua sebagaimana yang telah dilakukan oleh nabi Muhammad saw, namun bisa juga dilakukan dengan menyendiri di dalam kamar khusus yang jauh dari keramaian.

Ini adalah amaliyah yang harus dilakukan seseorang agar sempurna keislamannya. Lalu bagaimana dengan seorang pemimpin yang akan menunjukkan masyarakat pada jalan yang benar?

Manusia memiliki penyakit-penyakit nafsu yang tidak akan bisa dihilangkan kecuali hanya dengan uzlah dari manusia di sekitarnya. Dari uzlah tersebut mereka akan berpikir bagaimana bisa selamat dari dunia yang hina ini dengan berbagai gemerlapnya. Senang pada jabatan, suka hidup glamour, acuh tak acuh pada masyarakat rendah dan lupa pada janji-janji adalah penyakit-penyakit yang tumbuh pada diri dan menetap pada hati seorang pemimpin. Sifat-sifat ini tidak bisa lepas bahkan dari seseorang yang telah menjalankan amal shalih dan beribadah secara benar tak terkecuali alumni pondok pesantren sarang yang notabene telah berkecimpung dalam dakwah dan memberi mauidhah pada masyarakat.

Penyakit-penyakit di atas hanya bisa disembuhkan dengan menyendiri dan mengangan-angan hakikat dari penyakit, siapa yang menciptakannya dan meminta pertolongan kepada Allah swt. Seorang pemimpin harus berpikir dan menyadari bahwa dirinya adalah mahluk yang lemah dihadapan Allah swt sehingga tidak ada gunanya pujian ataupun hinaan yang dilontarkan masyarakat kepada mereka.

Salah satu kiat lain yang tak kalah penting adalah menanamkan mahabbatullah (cinta kepada Allah) dalam hati seorang pemimpin. Cinta kepada Allah adalah sumber dari pengorbanan dan perjuangan dalam berdakwah secara benar. Cinta kepada Allah tidak akan muncul hanya dengan beriman kepada-Nya dan suatu perkara yang rasional saja pun tidak bisa mempengaruhi hati seseorang dalam beriman. Seandainya demikian, tentu para orientalis akan menjadi orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ketika mendengar dakwah seorang ulama' secara matematis.

Adapun cara untuk menuju mahabbatullah adalah dengan banyak berpikir dalam segala nikmat dan anugrah yang telah diberikan Allah serta mengangan-angan kebesaran dan keagungan-Nya. Selain itu seorang pemimpin juga harus banyak berdzikir kepada Allah baik dengan hati maupun lisan. Dan semua itu bisa sempurna dengan cara uzlah dan menjauhi kesibukan dunia dalam waktu yang berulang-ulang.

Selain uzlah seorang pemimpin juga harus banyak melakukan qiyamul lail. Sebagaimana Allah telah memerintahkan nabi Muhammad saw dalam surat Al Muzammil : 1-4 :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا (4)
Artinya :
1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

D. DO'A PEMIMPIN YANG BAIK
Dan yang terakhir, seorang pemimpin juga harus banyak berdo'a sebagaimana do'a nabi :
اللهم لا تجعل الدنيا اكبر همنا ولا مبلغ علمنا ولا غاية جهدنا ولا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا
Artinya : "Ya Allah janganlah engkau jadikan dunia ini sebagai kesusahan besar kami, akhir pengetahuan kami, dan tujuan kepayahan kami,dan jangan berikan kekuasaan pada kami karena dosa-dosa kami orang-orang yang tidak takut padamu dan tidan belas kasihan pada kami"
دعاء الحاجة

من كـــانت له حــاجة إلى الله أو إلى أحـد من بنى آدم فليتوضأ وليحسن الوضوء ثم ليصل
ركعتين، ثم ليثن على الله - عز وجل - وليصل على النبي ثم ليقل:

"لا إله إلا الله الحكيم الكريم، سبحان الله رب العرش العظيم، الحمد لله رب العالمين، أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك، والغنيمة من كل بر، والسلامة من كل إثم لا تدع لي ذنباً إلا غفرته، ولا هماً إلا فرجته، ولا حاجة هي لك رضاً إلا قضيتها يا أرحم الراحمين"
رواه الترمذى وابن ماجه

"لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله رب العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات ورب الأرض رب العرش الكريم"
رواه الترمذى

دعاء الكرب

"لا إله إلا الله العظيم الحليم لا إله إلا الله رب العرش العظيم. لا إله إلا الله رب السماوات ورب الأرض ورب العرش الكريم"
رواه البخاري ومسلم
***
"لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين" لم يدع بها رجل في شئ قط إلا استجاب له.
رواه الترمذي
***

"اللهم رحمتك أرجو فلا تكلني إلي نفسي طرفة عين وأصلح لي شأني كله لا إله إلا أنت"
رواه أبو داود


دعاء ذهاب الهم والحزن
وقضاء الدين

"اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك ناصيتي بيدك ماضٍ فيَّ حكمك عدل فيَّ قضاؤك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحداً من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلبي ونور صدري وجلاء حزني وذهاب همي " إلا أذهب الله همه وحزنه وأبدله مكانه فرحا.

رواه أحمد وابن حبان
***

أبو أمامة: قل إذا أصبحت وإذا أمسيت
: "اللهم إنى أعوذ بك من الهم والحزن والعجز والكسل وأعوذ بك من الجبن والبخل وأعوذ بك من غلبة الدين وقهر الرجال"
رواه البخاري


دعاء الاستخارة

"اللهم أنى استخيرك بعلمك، واستقدرك بقدرتك، واسأل من فضلك العظيم فانك تقدر ولا اقدر وتعلم ولا اعلم وأنت علام الغيوب، اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر - ويسمى حاجته - خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة امري - او قال عاجله واجله - فاقدره لي ويسره لي ثم بارك لي فيه وان كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري - او قال: عاجله واجله - فاصرفه عني واصرفني عنه واقدر لي الخير حيث كان ثم ارضني به"
رواه البخاري





Dengan memperbanyak do'a ini maka seorang pemimpin akan diberi pertolongan oleh Allah swt dalam menghadapi tugas dan amanat yang diembannya demi menjalankan kewajiban kepada Allah maupun kepada masyarakat.
E. SIKAP KITA MENGHADAPI PEMILIHAN LEGISLATIF

Setelah melihat pemaparan-pemaparan di atas, maka kita harus menggunakan hak pilih kita dan memilih calon pemimpin yang sesuai dengan kriteria-kriteria di atas. Jangan sampai kita salah dalam menentukan pilihan karena satu suara sangat berarti dalam berjalannya demokrasi di Negara tercinta ini. Memang banyak sekali calon-calon legislatif yang memberikan janji-janji kepada masyarakat jika dia terpilih, namun hal itu bukanlah sesuatu yang menakjubkan.

Masyarakat harus bisa berpikir lebih sehat dalam menanggapi tindakan dan trik-trik para caleg tersebut. Dan yang paling penting adalah masyarakat harus berusaha untuk memilih pemimpin yang adil dan bertanggung jawab dalam mengemban amanah. Dengan demikian maka syari'at islam akan berjalan walaupun belum bisa sempurna sebagaimana yang kita impikan.

0 komentar:

Poskan Komentar