Hikmah 112 Zuhud

" إنما يستوحش العباد والزهاد من كل شيئ لغيبتهم عن الله في كل شيئ فلو شهدوه في كل شيئ لم يستوحشوا من شيئ "

"Sesungguhnya orang - orang yang tekun beribadah dan zuhud itu merasa asing dari segala sesuatu dikarenakan mereka tidak bisa menyaksikan Allah di setiap sesuatu, jikalau mereka bisa menyaksikan Allah ketika menemui sesuatu, maka mereka tidak akan merasa asing dari sesuatu tersebut".

Sebagian dari orang-orang yang tekun beribadah dan zuhud ada yang menyangka bahwa untuk membersihkan qolbu (hati) mereka diperlukan 'uzlah (mengasingkan diri) dari manusia dan gemerlapnya dunia. 'Uzlah mereka jadikan metode untuk mempraktekkan nilai kezuhudan, kemudian mereka mencari tempat-tempat untuk ber'uzlah seperti gua, gunung dan lainya supaya terhindar dari pengaruh negatif gemerlapnya dunia. Sebenarnya, apakah ini bisa dikatakan derajat yang tinggi yang seyogyanya dipraktekkan oleh hamba-hamba Allah yang ingin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala sehingga mampu meraih derajat Abror atau shiddiqin (درجة الأبرار والصدقين) ?

Dengan hikmah diatas, Ibnu 'Athoillah memberikan penjelasan bahwa ber'uzlah kegua-gua, dan meninggalkan keindahan-keindahan dunia tidaklah menjadi jalan utama untuk beribadah dan berzuhud yang dimaksud oleh syara'. Bahkan itu semua akan berdampak pada hancurnya bumi ini, tidak terwujudnya bumi yang subur, bangunan -bangunan rumah dan lain-lain. Dan yang paling bahaya adalah akan dikuasainya dunia ini oleh musuh-musuh Allah (orang-orang kafir), dan ini semua sangat bertentangan dengan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

هو أنشأكم من الأرض واستعمركم فيها فاسغفروه ثم توبوا إليه جإن ربي قريب مجيب (61

"Dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya*, Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (Hud : 61)
* Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia

هو الذي جعل لكم الأرض ذلولا فامشوا في مناكبها وكلوا من رزقه صلىوإليه النشور (15

" Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan". (Mulk : 15).

قل من حرم زينة الله التي خرج لعباده والطيبات من الرزق قل هي للذين امنوا في الحيوة الدنيا خالصة يوم القيمة كذلك نفضل الأيات لقوم يعلمون (32

" Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat*. " Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui.
*Maksudnya: perhiasan-perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia Ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman, sedang di akhirat nanti adalah semata-mata untuk orang-orang yang beriman saja.

Kemudian bagaimana thoriqoh (metode) yang harus di tempuh oleh seorang muslim agar bisa mengaplikasikan perintah Allah yang tersirat dalam kandungan ayat di atas untuk membangun bumi ini, mengambil faidah dari kebaikan-kebaikan yang terdapat di dunia ini dan berinteraksi dengan gemerlapnya dunia, namun semuanya itu tidak menyibukkan dan melupakan hati kita untuk selalu ingat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, menghadap ke hadiratNya serta mejalankan risalah yang tersirat dalam firman Allah Subhanahu wa ta'ala

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون (56) ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون (57

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (56). Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan (57)".(Ad-Dzariyat 56-57)

Menanggapi pertanyaan di atas Ibnu Athoilah menjawab :

" إنما يأسرك من الدنيا تعلقك بها لا تعاملك معها, والمطلوب منك أن تتعامل معها لا أن تتعلق بها "

"Sesungguhnya yang bisa membui kamu adalah ketergantungan anda kepada dunia bukan interaksi (hubungan) kamu dengan dunia, dan yang menjadi tuntutan bagimu adalah supaya kamu berhubungan dengan dunia namun tidak bergantung kepadanya."

Metodenya tidak lain adalah dengan menjalankan factor-faktor yang bisa mengantarkan dan membuahkan mahabbah kepada Allah (محبة الله). Adapun sebab yang paling pokok adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah dan muroqobah kepada-Nya serta ingat terus kepada Dzat yang memberikan anugerah nikmat-Nya kepada kita. Apabila metode ini diistiqomahkan maka akan sangat mudah untuk membuahkan nilai mahabbah yang hakiki kepada Allah. Ketahuilah bahwa mahabbah kepada Allah itu sudah menjadi fitroh yang terpendam pada diri hamba-hamba Allah, akan tetapi fitroh ini terhijab dengan adanya nafsu/sahwat yang selalu mengarahkan kepada kejelekan, akan tetapi dengan melanggengkan dzikrullah akan tersingkaplah Mahabbah Robbaniyah (المحبة الربانية) .

Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah kalau kita sudah cinta kepada Allah apakah kita tidak di perbolehkan cinta kepada yang lainnya seperti halnya orang tua mencintai anaknya, suami mencintai istrinya, seorang muslim cinta kepada saudaranya ? Jawabannya adalah sesungguhnya orang yang hatinya diliputi rasa cinta kepada Allah, maka tidak akan mungkin mencintai selain-Nya, adapun mencintai selain Allah harus kita dasari cinta karena Allah (الحب في لله), sedangkan mencintai selain-Nya dengan tidak didasari karena Allah adalah salah satu bentuk dari syirik (الحب مع لله).

Cinta kepada selain Allah yang didasari karena Allah (الحب في لله) merupakan buah dari tauhid. Orang yang hatinya di penuhi mahabbah kepada Allah, ia tidak memandang kepada sesuatu kecuali sesuatu tersebut mampu menjadikannya selalu ingat kepada Allah, tidak hanya mengambil kenikmatan saja, namun dia mampu berinteraksi dengan dunia yang disertai penuhnya rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Sesungguhnya mahabbah kepada Allah bisa menjadikan orang tersebut tidak melihat sesuatu kecuali hanya menyaksikan sifat-sifat Allah yang indah serta rahmat-Nya yang luas. Dan maqom (derajat) ini hanyalah bisa dirasakan oleh yang selalu istiqomah dalam dzikir dan muroqobah (mendekatkan diri) kepada Allah, derajat ini juga bisa disebut : WAHDATUS SYUHUD (وحدة الشهود) , melihat apapun bisa mengantarkannya ingat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala .

Orang yang senang ber'uzlah untuk mengaplikasikan sifat zuhudnya belum bisa dikatakan sempurna derajatnya, karena kebanyakan orang-orang yang ber'uzlah menjadikan uzlah tersebut sebagai obat dari berbagai macam penyakit hati, dan supaya terhindar dari gemerlapnya dunia yang bisa melupakannya dari Allah.

Perlu diketahui bahwa orang-orang yang soleh atau orang yang ahli ketuhanan yang hakiki bukanlah orang yang tidak mempunyai bagian dari substansi dari kholwat ini. Akan tetapi Ibnu Athoilah menerangkan bahwa mereka juga mengaplikasikan tauhidnya dengan tanpa meninggalkan aktifitasnya untuk berhubungan dengan manusia dan membangun kehidupan sosial kemasyarakatan yang diperintah oleh Allah.

Cobalah kita merujuk kepada khulafaurrosidin yang mana kiprahnya sayyadina Abu Bakar dalam mengatur perekonimian sosial dalam pasar dan juga kiprahnya sayyadina Umar Bin Khottob yang mahir dalam bidang keinsinyuran dalam pembangunan Kufah serta mendirikan Diiwanul 'Atho. Walaupun berkecimpung dalam urusan umat namun nilai keibadahan dan kezuhutannya tidak tertandingi dan tidak berkurang sedikitpun. Maqom seperti inilah yang dimakudkan oleh Ibnu 'Athoillah

فلو شهدوه في كل شيئ لم يستوحشوا من شيئ

Inilah ahwalnya salafus soleh, mereka menyaksikan Allah disetiap sesuatu dari makhluk-Nya, yang mana makhluknya Allah mereka jadikan dalil untuk menuju Sang Kholik (Allah), bukan menjadi hijab (tutup) dari makrifat kepada-Nya. Mereka selalu mempraktekkan konsep : التعامل مع الدنيا والتعلق بالله

Namun ini hanya bisa terealisasikan dengan memperbanyak dzikrullah dan muroqobah kepada-Nya, sehingga akan timbullah Mahabbah kepada-Nya, dan dengan rasa cinta itu mereka akan menemukan dan menyaksikan Allah dengan tanpa mengesampingkan peranan makhluk di dunia ini sesuai dengan firman Allah

وابتغ في ما أتيك الله الدار الأخره ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لايحب المفسدين (77

" Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan".
(Al Qoshos : 77).

Ibarat Ibnu 'Athoillah diatas bukanlah bermaksud menghina orang-orang yang senang ber'uzlah (mengasingkan diri) dari gemerlapnya duniawi dan jauh dari manusia dengan tujuan ibadah dan mempraktekkan zuhudnya mereka, beliau hanyalah menjelaskan bahwa orang yang berhubungan (berinteraksi) dengan manusia dan gemerlapnya dunia, keindahan-keindahannya serta kebaikan -kebaikan yang berada didepannya namun tidak menjadikan mereka lupa kepada Allah Subahanahu wa ta'ala justru malah tambah ingat dan dekat kepada Allah, itu lebih utama dan tinggi derajatnya dari pada orang yang apabila berhubungan dengan urusan duniawi maka ia menjadi terhijab dari Allah.

Zuhud bukanlah mengosongkan saku kita dari uang, membuang harta benda dan menjauhi dunia, akan tetapi zuhud adalah membersihkan hati dari ketergantungan dan perhatian qolbu kepada dunia, dan cukuplah seorang yang zahid bertendensi dengan Rohmat Allah Subhanahu Wa Ta 'Ala sebagaimana yang telah difirmankan olah-Nya

: ورحمة ربك خير مما يجمعون (32

"Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.(Az zukhruf : 32)

Serta sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

" ليست الزهادة في تحريم الحلال ولا في إضاعة المال إنما الزهادة أن تكون بما في يد الله أوثق مما في يدك"

"Arti dari zuhud bukanlah mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta benda, akan tetapi zuhud adalah apa yang berada disisi Allah itu lebih penting dari apa yang berada disampingmu "

Akan tetapi ketika ada seorang muslim yang hidupnya selalu bergantung dan perhatian kepada dunia, maka tidaklah salah kalau ia ber'uzlah dalam rangka mengobati penyakit tersebut dan mencari nilai kezuhudan yang mengandung makna kosongnya hati dari kesibukan dunia, Wallahu a'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar