HIKMAH KE-115 FOKUS PADA IBADAH

لما علم الحق منك وجود الملل لوّن لك الطاعات وعلم ما فيك من وجود الشره فحجرها عليك في بعض

الأوقات ليكون همك إقامة الصلاة لا وجود الصلاة فما كل مصل مقيما

" Allah Subhanahu wa ta'ala mengetahui bahwasanya kamu itu mempunyai sifat bosan, makanya Ia menetapkan bermacam-macam ketaatan, dan Ia mengetahui bahwa di dalam diri kalian mempunyai sifat rakus ( dalam berbuat ta'at ) maka Allah melarang kamu untuk menjalankan ketaatan di sebagian waktu supaya perhatianmu itu fokus untuk menegakkan sholat bukannya wujudnya gerakan sholat, karena tidak semua orang yang sholat itu bisa menegakkan sholat".

Dengan hikmah diatas Ibnu Atho'illah menjelaskan kenapa Allah Subhanahu wa ta'ala menetapkan bermacam-macam keta'atan kepada hamba-Nya. Tidak lain dikarenakan seorang hamba Allah pasti mempunyai sifat bosan, dan adanya sifat bosan ini menunjukan bahwa seorang hamba itu sangat lemah (tidak mampu menghadapi situasi dan kondisi). Dengan ditentukanya berbagai macam ketaatan ini menunjukan sifat rohmat Sang Kholiq kepada hamba-Nya.

Menurut ilmu kedokteran, sudah maklum bahwasannya dibutuhkan berbagai macam vitamin untuk menjaga kesehatan tubuh, yang mana vitamin ini dihasilkan dari buah-buahan, sayur-mayur dan lain sebagainya. Begitu juga dengan tubuh kita, ia juga membutuhkan berbagai macam vitamin agar jiwanya selalu sehat yang berupa ibadah seperti wudlu, sholat, wiridan, baca Al Qur'an, puasa, haji ketika musim haji, tafakkur dan lain sebagainya. sungguh ini merupakan nikmat agung yang dicurahkan Allah SWT kepada hamba-Nya.

Ibadah juga mencakup sesuatu yang maslahah (kebaikan) di masyarakat asalkan diniati taqorrub kepada-Nya, semisal mencari nafkah untuk keluarga jika diiringi dengan niat taqorrub maka akan mempunyai nilai ibadah tersendiri. Namun, tidak semua pekerjaan bisa kita masukkan pada ibadah, karena tidak semua ibadah itu mempunyai maslahah. Akan tetapi pekerjaan tersebut harus masyru' (tidak melanggar syari'at), karena tidak mungkin kita menggunakan sesuatu yang melanggar syari'at untuk beribadah kepada-Nya dan yang paling pokok adalah didasari niat taqorrub. Namun perlu diingat bahwa niat taqqorrub ini harus sejalan dengan pekerjaan tersebut, maksudnya niat taqorrub ini harus dibarengkan dengan pekerjaan yang masyru'. Karena tidak mungkin kita meniati taqorrub pada pekerjaan yang tidak masyru', itu bagaikan menyatukan dua hal yang saling bertolak belakang. Peran niat taqorrub di sini itu sangat penting, karena jika suatu pekerjaan tidak diniati taqorrub maka diakhawatirkan pelakunya akan terjerumus menjadi orang-orang yang lalai dari taat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, sebagaimana firman-Nya :

ألهاكم التكاثر (1

" Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu* (Al Kautsar :1).

" Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya Telah melalaikan kamu dari ketaatan.

Dengan adanya berbagai macam bentuk ibadah, rasa bosan yang terdapat pada diri hamba yang maha lemah akan menghilangkan, Allah Subhanahu wa ta'ala sungguh Maha Rohim kepada hamba-Nya. Perlu diketahui, bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala menentukan larangan untuk beribadah pada sebagian waktu seperti halnya ketika pada hari tasyrik dilarang untuk berpuasa, dilarang sholat ketika terbitnya matahari (setelah subuh) dan ketika terbenamnya matahari (Setelah ashar) waktu-waktu yang lain, itu dikarenakan Allah tahu bahwa pada diri hamba terdapat sifat rakus atau keinginan yang sangat untuk selalu menjalankan ibadah.

Larangan untuk beribadah di sebagian waktu yang di tentukan oleh Allah SWT bukannya tanpa maksud. Karena dibalik pelarangan tersebut terkandung hikmah, yakni supaya perhatian atau fokus seorang hamba itu lebih tertuju kepada peningkatan kualitas ibadah yang di lakukannya bukan hanya memburu kuantitas. Sepertihalnya memperhatikan hakikat menegakkan sholat (إقامة الصلاة) bukan hanya pada wujudnya gerakan sholat (وجود الصلاة) . Hendaknya kita semua tidak mempunyai anggapan yang penting sholat atau yang penting puasa atau yang lainnya tanpa di dasari beribadah kepada Allah SWT. Kalau kita tela'ah, orang muslim yang rakus akan beribadah kadang-kadang akan mempunyai rasa bosan. Bahkan karena sifat bosannya itu bisa menyebabkan ia berbalik arah (meninggalkan ibadah). Hal ini sesuai sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam :

" فإن المنبتَّ لا أرضا قطع ولا ظهرا أبقى "

Artinya : Orang yang memberatkan kendaraannya dengan beban yang berat/beratnya perjalanan maka ia tidak akan sampai pada tujuan dan akan kehilangan kendaraannya.

Ini adalah perumpamaan orang yang terlalu memaksakan diri untuk selalu beribadah terus tanpa memandang waktu dan aturan sehingga ketika ia diliputi rasa bosan maka ia akan berbalik arah untuk meninggalkannya dan tidak akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Maka dari itu Ibnu 'Athoillah mengiasyaratkan dalam hikmah yang disampaikannya bahwa yang menjadi perhatian seorang hamba Allah Subhanahu wa ta'ala adalah Iqomatus sholat artinya kualitasnya bukan kuantitasnya, disebutkan dalam Al qur'an bahwa tujuan sholat adalah hanya untuk ingat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala :

1وأقم الصلاة لذكري (طه :4

Artinya " Dan Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku "(Toha : 14)

وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة وأقرضوا الله قرضا حسنا (المزمل :20

Artinya " Dan Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik ". (Al Muzzammil :20)

Didalam sholat sunnah muthlak syari'at menuntut untuk bisa sholat dengan khusyu' artinya yang diperhatikan adalah kualitas, sehingga sholat sunnah mutlak dua rokaat dengan khusyu lebih utama dari pada seribu rokaat dengan tanpa khusyu', begitu juga dalam membaca Al Qur'an, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

فاقرؤوا ما تيسر من القرآن (المزمل :20)

Artinya : " Karena itu Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran " (Al Muzzammil : 20).

Dan ketika dalam sholat sunnah yang ditentukan rokaatnya (kuantitas) seperti Dhuha, Tarawih, Rawatib dan yang lainnya kita dituntut untuk memenuhi khusyu' (kualitas) dan jumlah rokaat yang dianjurkan Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam.

Sebenarnya orang yang sudah masuk ke tingkat mahabbah yang hakiki ia merasa sangat senang ketika ia melakukan sholat, ini di karenakan ia faham bahwa ketika itu ia sedang menghadap dan munajat pada sang Kholik, Nabi bersabda : " وجعلت قرة عيني في الصلاة " (dan dijadikan kesenanganku didalam sholat). Wallahu a'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar