Amal-amal dhohir itu ibarat gambaran-gambaran yang berdiri, sedangkan keikhlasan adalah ruh yang terwujud di dalamnya

Maaf buletin himma untuk hikmah ini belum jadi desainnya jagi belum bisa didownload nanti kalau sudah jadi akan saya tampilkan disini biar bisa dicetak oleh temen-temen semua.

HIKMAH IBNU ‘ATHOILLAH KE-10

الأعمال صور قائمة وأرواحها وجود سر الإخلاص فيها

"Amal-amal dhohir itu ibarat gambaran-gambaran yang berdiri, sedangkan keikhlasan adalah ruh yang terwujud di dalamnya"



a.   Penjelasan .
Hikmah ini merupakan penyempurna dari Hikmah yang telah lewat sebelumnya yang berbunyi: "Bermacam-macam jenisnya amal karena bermacam-macam tujuannya".
Di dalam Hikmah ini Ibnu 'Atha'illah mencoba mengulas tentang pentingnya Ikhlas. Setelah kita mengetahui bahwa amal-amal yang dilakukan seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak hanya terbatas pada hal-hal yang wajib, melainkan mencakup semua hal yang bisa memberi manfaat dan maslahah kepada individu maupun masyarakat. Dan setelah kita mengerti bahwa Allah membagi amal-amal tersebut kepada para hamba-Nya sesuai dengan kemampuan dan kapasitas mereka, maka Ibnu 'Atha'illah mengingatkan kita melalui hikmah ini, bahwa untuk mencapai ridla Allah SWT, amal-amal ini di syaratkan harus di lakukan dengan ikhlas tanpa tercampur dengan tujuan-tujuan lain kecuali hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Untuk mengetahui makna hikmah ini kita harus mengerti bahwa setiap ibadah yang dilakukan oleh setiap muslim untuk mencapai ridla Allah SWT itu tersusun dari dua komponen, yaitu amal dan tujuan (Qasdu). Sehingga amal ibadah yang baik dan bermanfaat secara dhahirnya. Akan tetapi tidak ada niat mencari ridla Allah SWT, maka amal tersebut tidak ada harganya. Sedangkan niat yang baik tanpa di wujudkan dengan amal ibadah, maka niat tersebut tidak ada harganya di dalam kebanyakan hal. Dalam masalah yang kedua ini, masalah niat yang tidak diimplementasikan dengan ‘amal, kami selalu menambahi dengan kata “ dalam banyak hal dan kesempatan “. Hal ini di karenakan niat yang baik dan benar-benar hanya kerena Allah SWT tanpa di wujudkan dengan amal terkadang bisa bernilai, semisal ketika seseorang tidak mampu melakukannya. Contohnya adalah orang miskin yang berniat untuk shadaqah, hanya saja dia tidak mampu melakukannya, karena tidak memiliki uang dan harta, atau ada orang yang membutuhkan bantuan berupa pertolongan yang bersifat ma’nawi, semisal melayani, menjaga, menangkal mara bahaya atas diri seseorang sedang ia tidak mampu untuk melakukan semua itu, karena tidak memiliki kekuatan untuk melakukan.

b. Dalil.
Surat Al-Furqan ayat ke-23
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.
Artinya:
“ Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”.
Dari ayat di atas, kita bisa mengambil sebuah makna bahwa amal ibadah itu harus di sertai dengan Ikhlas. Hal ini di karenakan amal perbuatan orang-orang yang berdosa dan amal ibadah yang di lakukan dengan ikhlas itu di ibaratkan seperti debu yang tertiup oleh angin, atau nama lainnya adalah amal yang sia-sia dan batil.

c. Aplikasi.
Jika kita melihat realita disekeliling kita maka akan banyak sekali kita temukan dalam kehidupan masyarakat mengenai amal-amal yang tidak di dasari rasa Ikhlas.
Diantaranya adalah ada seseorang yang banyak menanggung hutang. Ketika tiba waktu pelunasan dia melihat orang yang menghutanginya sedang menuju kepadanya dari jauh. Sehingga dia bergegas menuju masjid yang terdekat dan melakukan rantaian shalat sunnah yang banyak. Tidak bisa diragukan lagi bahwa dia melakukan shalat bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, melainkan semata-mata hanya ingin lari dan terbebas dari tagihan hutang yang telah melilitnya.
Contoh lain adalah, seorang pekerja yang tersibukkan oleh tugasnya di perusahaan, ketika mendengar adzan dhuhur dia bergegas meninggalkan pekerjaannya dengan dalih ingin melakukan shalat dhuhur. Lalu dia berwudlu dengan waktu yang lama dan shalat dengan panjang, kemudian dia mengambil tempat bersandar untuk istirahat,  memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur'an. Tentunya ibadah-ibadah dengan keadaan ini bukanlah termasuk amal-amal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena dia melakukan ibadah-ibadah ini tidak lain hanyalah menjauhi tugasnya agar bisa beristirahat.
Salah satu yang bisa menjadi contoh adalah kelompok jamaah haji. Mereka sepakat untuk saling membantu dan menjaga kemaslahatan yang kembali pada mereka. Diantara mereka ada seseorang yang ingin lari dari pekerjaan dan tugas yang telah dibebankan kepadanya, walaupun seakan-seakan hal tersebut remeh. seperti menghidangkan makanan, mencuci piring atau yang lain. Sehingga diapun menyibukkan diri dengan selalu thawaf, shalat, membaca Al-Qur'an dan berdzikir, jelas sekali sesungguhnya ibadah-ibadah ini dilakukan bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan tetapi agar bisa terbebas dari pekerjaan-pekerjaan yang dibebankan padanya.
Ada sebagian orang yang sibuk dalam sebuah pergerakan yang menurut persepsi dia dianggap sebagai satu bentuk khidmah bagi Islam dan Dakwah Islamiyah, padahal dalam hatinya ia mengatakan bahwa semua kegiatan yang ia lakukan semata hanya untuk memperoleh keuntungan duniawi belaka, baik yang berupa pangkat, harta ataupun posisi yang strategis secara politik, hal itu terbukti secara lahir bahwa jika ia tidak melakukan shalat subuh kecuali matahari telah terbit diufuk timur. Akan tetapi jika ada orang yang datang mengingatkannya, ia malah berkata dengan bangga dan congkaknya: “ allah telah menempatkanku dalam posisi dakwah dan melayani islam, bukan dalam ibadah, membaca Al-Qur’an ataupun Aurad “. Jelas yang ia lakukan adalah salah, karena dakwah yang ia lakukan tidak disertai dengan keikhlasan.
Ada pula sebagian kawan kita yang pekerjaannya adalah sebagai pedagang atau karyawan sebuah perusahaan. Ia semangat sekali dalam melakukan semua pekerjaan diatas, sampai ia lupa akan semua tugas-tugas kegamaan yang menjadi tanggungannya, kecuali hal-hal yang merupakan rukun dan fardlu yang pokok baginya. Suatu saat ada orang yang mengingatkan padanya tentang kewajiban-kewajiban dan tugas-tugas keagamaannya yang telah terlupakan olehnya, maka ia pun menjawab dengan ketus “ engkau sendiri kan yang bilang bahwa Amal itu bermacam-macam sesuai keadaan manusia, sedang Allah SWT sekarang sedang menempatkan aku pada satu bentuk amal yang berupa pekerjaan dagang yang aku geluti, jadi ini pun juga merupakan sebuah ibadah “. Ungkapan ini pun tidak benar dan tepat dalam menginterpretasikan hikmah Ibnu ‘Athoillah diatas, semua amal yang ia lakukan pun juga tidak bisa masuk dalam kategori amal yang sholih, karena ia tidak melakukan usaha perdagangannya atau yang lain dengan niatan hanya karena Allah semata, akan tatapi ucapan tadi adalah sebuah usaha yang tersembunyi dibalik kedok hawa nafsunya sendiri dan mengorbankan semua perintah dan larangan Allah SWT.
b. Kesimpulan.
Intisari dari keterangan di atas adalah kita harus mengetahui dan tidak boleh lupa bahwa amal-amal shaleh yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya di dalam Al-Qur'an tidak hanya terbatas pada perkara-perkara yang wajib dan rukun Islam, akan tetapi amal shaleh itu juga mencakup semua hal yang bisa mewujudkan kemaslahatan. Baik kemaslahatan individu maupun kemaslahatan sosial.
Adapun kemaslahatan-kemaslahatan ini harus di jaga sesuai dengan urutan-urutan yang telah di tetapkan syara', yaitu di awali dengan mendahulukan kemaslahatan agama (Hifdhu Diin), kemudian kemaslahatan hidup (hifdhu nafsi), lalu kemaslahatan akal (hifdhu 'aqli), kemudian kemaslahatan keturunan (hifdhu nasab) dan terakhir adalah kemaslahatan harta (hifdhu mal).
Jadi semua hal-hal tersebut merupakan ibadah-ibadah yang dilakukan seorang muslim untuk mewujudkan makna Ubudiyyah kepada Allah SWT.
Dan perlu kita ingat bahwa di dalam ummat Islam pasti akan selalu terdapat segolongan yang benar dan Ikhlas didalam beribadah, dan mereka tidak mendapatkan madlarat dari orang-orang yang menentangnya. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW :
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خالفهم حتى يأتي أمر الله وهم ظاهرون. (متفق عليه)
Artinya: :
"
Di dalam umatku selalu ada golongan yang memperlihatkan kebenaran dan tidak mendapatkan bahaya dari orang-orang yang menentangnya sampai datang hari Qiamat sedangkan mereka dalam kebenaran".
          Semoga kita termasuk bagian dari golongan diatas tadi, semoga. Amin. Wa allahu a’lam bis showab.

0 komentar:

Poskan Komentar