HIKMAH KE-100 SIFAT SANG ‘ARIF BILLAH

العارف لا يزول إضطراره ولا يكون مع غير الله قراره

"Al ‘arif billah itu tidak akan hilang keadaan dhorurotnya (kesulitan dan selalu butuh kepada Allah), dan akhir dari semua cita-cita atau harapannya selalu bersama Allah tidak yang lain-Nya"

Seorang hamba bisa dikatakan 'arif billah apabila tauhidnya sudah sampai kepada Allah, kepercayaan, tawakkal dan pasrahnya hanya kepada Allah. ini adalah derajat yang mana kehendak seorang yang 'arif sudah sirna didalamnya dan hanya memandang pada kehendak Allah, serta dihadapannya semua sebab-sebab menjadi hilang dibawah kekuasaan-Nya dan hilang juga semua makhluk (selain Allah) dikarenakan ia sedang menyaksikan-Nya.

Orang yang 'arif ini hidupnya tidak diwarnai dengan kelapangan dan kesengsaraan seperti tingkahnya kebanyakan orang yang kadang-kadang mereka disuatu saat merasa lapang dan tidak butuh untuk kembali kepada Allah dan menyibukkan diri dengan beribadah kepadaNya. Dan terkadang mereka dihinggapi rasa gelisah atau sengsara yang bisa membawa mereka kepada perasaan yang sangat butuh kepada Allah.

Sesungguhnya sang 'arif di dalam hidupnya, tidak tahu akan hal ini, ia selalu melihat pada dirinya dalam keadaan dhorurat (kesulitan dan sangat butuh kepada Allah). Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

أَمَّن يُجِيْبُ الْمُضْطَرُّ إِذَا دَعَاهُ.

Artinya : Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya.QS.An Naml : 62

Sesungguhnya sebab-sebab kauniyyah (makhluk) hilang dan sirna dihadapan seorang 'arif sehingga semuanya tidak tersisa di hadapannya kecuali hanya Allah Dzat yang membuat sebab, Maha Esa dan berbuat sekehendak-Nya. Jadi, ia tahu bahwa kelapangan dan cobaan itu datangnya dari Allah, dan ia didalam kedua tingkah ini selalu bergerak dengan keyakinan bahwa ia dalam penguasaan dan pengaturan Allah dan selalu tunduk akan kekuasaan-Nya.

Dari segi ini, ia tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari dan ia tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh Allah untuknya. Sesungguhnya ia selalu hidup dengan beri'tiqod dengan apa yang difirman oleh Allah :

وَمَآ أَدْرِى مَا يُفْعَلُ بِي وَلا بِكُمْ.

Artinya : " Aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu.QS.Al-Ahqaaf: 9.

Baik itu sesuatu yang berhubungan dengan kematian, kehidupan, rizqi, mata pencaharian, keamanan dan ketenangannya, serta ia menangguhkan semua urusannya kepada Allah.



Ini merupakan arti yang meliputi secara umum pada kalimat "al-fuqara" dalam firman Allah:

يَآ أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ اِلَى اللهِ صلى وَالله ُهُوَ الْْغَنِيُّ الْحَمِيدُ.



Artinya: "Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji". QS.Fathir : 15



Dan kalimah ini mempunyai perbandingan dengan kalimat yang mempunyai makna yang meliputi secara umum pada kalimat "al-ghina'" dalam firmanNya:



.والله هو الغني الحميد



Jadi, orang yang 'arif tidak akan merasa aman dari rekayasa-Nya dalam setiap detik hidupnya. Sesungguhnya ia takut akan keluar dari jalan-Nya setelah ia mendapatkan nikmat berupa kepatuhan kepada-Nya dan takut akan cobaan dari Allah yang berupa ketidak tahuan terhadap sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya setelah ia diberi nur / cahaya yang mana ia bisa melihat dengan nur tersebut, dan juga ia takut akan dicoba dengan hati yang keras yang menyebabkan ia tidak bisa menerima anugerah ilahiyyah / ruhaniyyah.

Barangkali ia selalu ingat dengan perasaan takut akan firman Allah :



وَاعْلَمُوآ اَنَّ الله َيَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَاَنَّهُ ÿاِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ.



Artinya : " Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan".QS. Al Anfal : 24

Orang yang 'arif tidak bisa merasa aman dan tenang memandang bahwa air hujan yang turun dari langit bisa saja berubah menjadi kerikil, sumber-sumber air bumi berubah menjadi gunung-gunung berapi dan ketetapan gunung-gunung berapi tersebut menjadi goncang ganjing serta bisa jadi tenggelam. Itu semua bisa terjadi dalam sekejap saja atas perintah Allah jikalau Allah memerintahkan : كن.

Dan juga, barang kali ia takut akan terjadinya semua itu yang disebabkan dari satu dosa yang diperbuatnya atau karena suatu sebab yang menjadikan kurang beradabnya disisi Allah. ini semua dengan tanpa memandang bahwa sesungguhnya ia sangat faqir dalam kayanya, sangat lemah didalam kuatannya dan ia tahu bahwasanya ia tidak memiliki sedikitpun dari semua itu.

Jadi, orang yang arif, disetiap haliyahnya/tingkahnya selalu hidup dengan keadaan dhorurot (merasa kesulitan dan sangat membutuhkan kepada Allah) yang mana perasaaan itu akan terbawa terus disetiap doanya bahkan disetiap ia mengadu kepada-Nya, karena perasaan butuh dan lemahnya tidak bisa lepas darinya baik itu dalam keadaan sengsara ataupun keadaan lapang.

Akan tetapi kegelisahan itu tidak menjadikannya berpaling kepada perasaan takut dari ujian seperi halnya fakir setelah kaya dan sakit setelah sehat dan juga tidak menjadikan ia berpaling untuk memohon sehat apabila ia sakit atau kaya apabila ia fakir, memang orang yang arif adalah orang yang hilang kehendaknya serta hanya pasrah terhadap apa yang dikehendaki oleh Allah akan tetapi perasaannya selalu takut akan keluarnya dari jalan ketaataan kepada Allah menuju kepada sesuatu yang dimurkai oleh Allah atau sesuatu yang mengesankan kurang sopan dan beradab disisi-Nya atau takut akan dibukanya tutup-tutup kesalahan dirinya yang menyebab-kan manusia yang lain tahu akan ‘aibnya.

Maka, dengan alasan ini (bukan karena memperolah kedunia-wian) ia selalu merasa khawatir dan selalu kembali kepada Allah dan menyibukan diri dengan ‘Ibadah kepada-Nya. maka dari arah ini, tidak akan sirna keadaan dlorurot (merasa kesulitan) dan perasaan selalu butuh kepada Allah.Bagaimana perasaan itu bisa muncul sedang disetiap tingkahnya ia selalu mengulang-ulang didalam hati dan lisannya akan firman Allah :



وَخَافُونِ اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya : " Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. QS.Al-Imron :175



Barangkali ia memandang bahwasanya Allah tidak berfirman :

(وخافون إن كنتم عاصين) akan tetapi Allah berfirman (وخافون إن كنتم مؤمنين.), maka setiap orang mukmin seharusnya takut kepada Allah dalam setiap keadaan apapun.

Dan perasaan takut ini adalah dari ketidak tahuan akan akibat akhirnya, tidak ada perhatian pada lembutnya nilai adab di sisi Allah dan juga dari sikap bersandarnya orang yang taat atas ketaatannya, orang yang beribadah atas ibadahnya, orang yang berjihad atas jihadnya dan sikap orang yang alim atas ilmunya, maka taat dari itu taat dan amalnya akan berubah menjadi hijab yang menjadi penghalang dari maghfiroh dan ampunan Allah. Sehingga menjadi sebab kehancurannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :



لا يدخل أحدكم الجنة عمله



"amal salah satu diantara kalian tidaklah bisa memasukkan kesurga"



Ini semua adalah sesuatu yang bisa menjurumuskan orang yang sedang beribadah dan orang yang menuju Allah, dan itu semua juga merupakan perkara penting yang bisa membangkitkan rasa khouf dan idhtiror ( merasa kesulitan dan selalu butuh kepada Allah ) didalam qolbunya sang ‘arif billah, karena itu kebanyakan ihwalnya mereka adalah selalu tunduk kepada Allah, selalu menangis karena takut kepada-Nya dan selalu memohon/berdoa kepadaNya agar mereka dikukuhkan imannya dan supaya tidak dibuka kejelekannya serta supaya Ia tidak memasrahkan mereka kepada diri mereka sendiri.

Banyak ulama yang meriwayatkan bahwasannya Syeikh Abdul Qodir Al Jailany pada suatu saat ia berada di Multzam ia memohon kepada Allah seraya berkata :

اللهم إن كان في قضائك أن لا تستر قبائحي عن الناس يوم القيامة فاحشرني أعمى,

كي لا أفتضح بين الخلائق الذين يحسنون الظن بي اليوم



Artinya : "Ya Allah....! apabila didalam qodho-Mu bahwa besok di hari kiamat Engkau akan membuka kejelekan-kejelekanku dihadapan manusia, maka giringlah aku dalam keadaan buta supaya kejelekanku tidak terlihat dihadapan mereka yang mana hari ini mereka sedang berprasangka baik padaku".



Adapun sifat sang ‘arif billah yang kedua, dipaparkan oleh Ibnu ‘Athoillah dengan ibarot :



ولا يكون مع غير الله قراره

Sesungguhnya termasuk dari beberapa sifat orang yang ‘arif adalah semua sebab sirna dihadapannya, karena ia selalu memandang kepada Dzat yang membuat sebab dan semua kauniyyah (makhluk) menjadi hilang darinya karena ia selalu menyaksikan Allah, dihadapannya tidak ada orang yang membuat tenang dan merasa nikmat dengannya serta bisa diharapkan dan ditakuti kecuali hanya الله subhanahu wa ta'ala.

Maka dari itu tujuan akhir dari semua cita-cita tidak lain adalah bersama Allah, karena yang dimaksud dengan kalimah : Al Qororالقرار / disini adalah harapan/cita-cita akhir dibalik semua lantaran atau sebab dan yang manjadi tumpuan akhir didalam kehidupan orang-orang yang ‘arif billah hanyalah satu yaitu Allah.

Apabila kamu bertanya kepada orang yang ‘arif : apa yang kamu inginkan dari hidup ini ? ia akan menjawab : saya menginginkan apa yang diinginkan oleh Allah, Apabila kamu bertanya kepadanya : apa yang menjadikan kamu semangat dan gembira ? ia akan menjawab : ridhonya Allah, Apabila kamu bertanya kepadanya : kenikmatan apa yang bisa kamu lihat di yaumil qiyamah ? ia akan menjawab : melihat Allah, Apabila kamu bertanya kepadanya : apa yang membuat kamu takut ? ia akan menjawab : murka Allah. Apabila kamu bertanya kepadanya : siapa kekasih yang mampu menguasai hatimu ? ia menjawab : kekasihku adalah Allah.

Inilah kandungan dari pada makna kalimah Al Qoror القرار / bagi orang yang ‘arif billah.

Mungkin kita bertanya : apa tujuan membicarakan derajat tinggi yang disandang oleh Robbaniyyun (ahli ketuhanan) padahal kita tahu bahwa pada diri kita sangat lemah dan sulit untuk bisa meniru jejak mereka ?

Sebagai jawabannya, bahwa sesunguhnya jalan yang mampu mengantarkan kejalan mereka (Robbaniyyun) selalu terbuka dihadapan kita semua walaupun jauh dan lama masanya. Kemudian seorang muslim tidak akan merasa prihatin akan kelancangannya dalam maksiat kepada Allah kecuali dengan menyimak ihwalnya orang-orang soleh dan besarnya perjuangan mereka didalam mencari ridho Allah, dan dengan ini akan menyebabkan timbulnya rasa mahabbah kepada mereka dan dengan rasa mahabbah ini akan membawa kita agar bisa mengikuti mereka walaupun kita tidak termasuk kedalam golongan mereka. Cinta kepada orang-orang soleh merupakan jalan yang dekat untuk mengantarkan kita kepada ridho-Nya.

0 komentar:

Poskan Komentar