Hikm 24

🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 24*

لا تستغرب وقوع الاكدار ما دمت في هذه الدار فإنها ما أبرزت الا ما هو مستحق وصفها وواجب نعتها

*_Artinya:_*

Jangan heran adanya kesusahan selama kamu tinggal di rumah duniawi karena dunia ini pasti akan mengeluarkan perkara yang semestinya dan wajib sifatnya.

*_Syarh:_*

Allah ﷻ membuat dunia ini penuh dengan cobaan, dikarenakan Allah ﷻ menjadikan dunia ini ruang ujian dan tempat untuk melakukan kewajiban yang berat (taklif).

Allah ﷻ menciptakan manusia untuk melakukan penghambaan kepada-Nya dengan sukarela, sebagaimana Allah ﷻ menjadikannya sebagai hamba-Nya secara terpaksa.

Manusia bisa dikatakan hamba yang baik apabila dia melakukan perintah-perintah Allah ﷻ dan tunduk akan kekuasaannya. Dengan begitu dia telah melakukan kewajibannya.
Maka seandainya Allah ﷻ menjadikan dunia ini penuh dengan kesenangan tanpa ada kesusahan, penuh dengan kenikmatan tanpa ada cobaan maka bagaimana seorang manusia bisa menghambakan diri kepada Allah ﷻ dengan sukarela? Melakukan penghambaan diri kepada Allah ﷻ itu buah dari kewajiban (taklif), kewajiban itu tidak dikatakan kewajiban kecuali kalau manusia itu diberikan beban yang berat. Kalau dunia ini cuma ada kenikmatan saja maka bagaimana hal berat ini akan timbul?

Allah ﷻ memerintahkan hambanya untuk berdoa. Berdoa adalah ibadah, berdoa kepada Allah itu hasil dari kebutuhannya kepada Allah ﷻ, hasil dari ketakutannya pada cobaan cobaan-Nya. Maka ketika dia tidak membutuhkan Allah ﷻ, dia tidak takut akan cobaan-cobaan-Nya, yang ada cuma kesenangan dan kenikmatan, maka tidak akan ada yang namanya berdoa kepada Allah ﷻ.

Inti dari taklif atau kewajiban yang diembankan oleh Allah ﷻ itu terkandung dalam dua perkara, sabar dan syukur. Dengan melakukan keduanya seorang hamba akan menjadi hamba Allah ﷻ yang baik. Sabar ketika menghadapi cobaan-cobaan, dan syukur dengan menggunakan nikmat-nikmat Allah ﷻ untuk beribadah kepadanya.

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

_"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan". QS. Ali Imran: 186._

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

_"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". QS. Al Mulk: 2._

Bagaimana engkau bisa dikatakan orang yang cinta kepada Allah ﷻ kalau engkau dalam keadaan serba kecukupan, selalu mendapatkan kenikmatan, mobilmu banyak, rumahmu mewah, semua orang menghormatimu, pengikutmu banyak? Akan tetapi cinta itu, ketika engkau diberi cobaan, engkau sedang mendapatkan kesusahan akan tetapi engkau mengatakan, _"Ahlan wa sahlan atas kedatangan cobaan Allah ﷻ. Selamat datang akan takdir Allah ﷻ. Aku cinta kepada-Mu Ya Allah ﷻ"._ Engkau mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Mu'adz bin Jabal ketika dia dalam sakaratul maut, beliau kadang sadar, kadang tidak sadar. Ketika sadar, beliau mengatakan, _"Ya Allah cekiklah aku dengan cekikan-Mu. Engkau tahu bahwasanya hatiku cinta pada-Mu"._

Cinta adalah ketika pertentangan antara  kesenangan syahwatmu dan yang disenangi oleh Allah ﷻ. Kamu membuang dan menginjak-injak kesenangan syahwatmu dan kamu tetap istiqamah dijalan Allah ﷻ. Kamu mengatakan kepada Allah ﷻ sebagaimana Nabi Musa mengatakan, _"Aku cepat-cepat kepada-Mu supaya engkau ridlo kepadaku"._

Semoga kita diberi nikmat kecintaan ini untuk menjadi bekal menghadap Allah ﷻ kelak.

_Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin_

Wallahu A'lam Bisshowab

0 komentar:

Poskan Komentar