Hikmah 23

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah ke 23*

 لا تَتَرقَّب فراغَ الأَغْيارِ، فإنَّ ذلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجودِ المُراقَبَةِ لَهُ فيما هُوَ مُقيمُكَ فيهِ.

*Artinya:*

"Jangan mengharapkan kosongnya selain Allah, karena itu akan menjauhkan kamu dari adanya pengingatan kepada Allah di dalam maqom yang telah diberikan kepadamu"

*_Syarh:_*

Allah ﷻ berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
[سورة آل عمران 14]

Artinya:
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)".

Ayat ini menunjukkan bahwasanya dunia ini penuh dengan perkara menawan dan melalaikan yang menyebabkan jauhnya hamba dari Allah ﷻ. Bagaimanapun manusia berusaha untuk membersihkan dirinya dari kesibukan dunia, maka dia tidak akan bisa, selama dia hidup di dunia ini.

🍎 Ketika dia masih muda maka dia menganggap masa muda adalah masa yang harus dilalui dengan menuruti nafsu birahi. Setelah melewati masa muda akan hilang sendiri nafsu birahi itu. Pemikiran ini menjadikan dia semakin tenggelam dalam nafsunya.

🍎 Ketika dia hidup di Eropa, Amerika, atau di belahan dunia yang lain, baik untuk belajar atau bekerja, dia berangan-angan bahwasannya dia tidak bisa lepas dari lingkungan yang merusak agama ini. Pilihannya cuma satu, yaitu menunggu selesainya tugas yang dia lakukan di tempat itu. Keadaan ini menyebabkan dia semakin tenggelam dalam kerusakan dengan tanpa merasa dia butuh meminta perlindungan kepada Allah ﷻ.

Maka di sini Syekh Ibnu 'Athoillah menasehati supaya kita tidak menunggu bisa lepas dari urusan duniawi, karena hal itu tidak akan bisa dihindari. Ketika muda dia mempunyai urusan duniawi yang membahayakan. Begitu juga di usia tua juga banyak rintangan. Ketika hidup di negara Eropa, tidak akan hilang urusan dunia dengan pindah ke negara aslinya, karena di negara aslinya juga banyak urusan dunia.
Bagaimana bisa lepas dari urusan dunia padahal dirimu penuh dengan urusan dunia?

🍎 Hatimu berbicara tentang keistimewaanmu, amal ibadahmu, itu adalah urusan dunia yang merusakmu walaupun engkau hidup sendirian di tempat tersembunyimu.

🍎 Gundah hatimu karena dicaci orang, perasaan sakit hatimu karena dimusuhi orang, itu juga termasuk bahaya yang terus-menerus akan bersamamu.

🍎 Keinginanmu untuk mempunyai rumah yang bagus, keinginanmu kepada kesenangan-kesenangan yang tidak kau dapatkan, semuanya itu perkara yang menyibukkanmu sehingga engkau rusak karena engkau lupa akan Allah ﷻ.

Lalu bagaimana kita menghadapi kesibukan kita dengan urusan dunia ini? Cara satu-satunya adalah lari kepada Allah ﷻ. Arti lari kepada Allah ﷻ adalah memperbanyak berdoa, mengadu ringkihnya kekuatanmu, beserta memperbanyak ingat kepada Allah ﷻ dengan berdzikir. Manusia yang mengobati dirinya dengan obat ini maka Allah ﷻ akan menjadikan obat ini sebagai perahu penyelamat di bahtera lautan yang penuh dengan ombak keduniawian. Dia melakukan perdagangan, berinteraksi dengan masyarakat yang banyak ada yang baik ada yang jelek, banyak teman disekolah yang jauh dari Allah ﷻ.

Di dalam lingkungan yang rusak ini, dia akan mendapatkan kapal penyelamat kalau dia lari meminta kepada Allah ﷻ supaya dilindungi dari kerusakan-kerusakan lingkungannya. Penyelamat itu adalah berdoa kepada Allah ﷻ dengan sepenuh hati, dan memperbanyak dzikir mengingat Allah ﷻ.
Hal-hal semacam itulah yang dilakukan para sahabat-sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Mereka menyebarkan agama Islam di penjuru dunia yang penuh dengan kerusakan, kefasikan, fitnah harta dan jabatan. Mereka selamat dari fitnah dunia karena mereka _bertawakkal_ kepada Allah ﷻ dengan _tawakkal_ yang hakiki (bukan hanya ucapan sebagaimana tawakal

0 komentar:

Poskan Komentar