Hikmah 172

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 172*

                   ﺍﻟﻔﺎﻗَﺎﺕُ ﺑُﺴُﻂُ ﺍﻟﻤَﻮَﺍﻫبِ

Artinya:
“Berbagai macam ujian bala’ (yang manjadikan engkau merasa fakir) itu, bagaikan hamparan (alas) untuk hidangan pemberian dan karunia dari Alloh.”

*_Syarh:_*

💎 Musibah yang mengingatkan seseorang akan kefakirannya akan menuntun dia kepada kedekatannya kepada Allah SWT berupa penghambaan diri, memelas kepada Allah meminta rahmat dan keselamatan. Seseorang yang meminta kepada Allah dengan mengedepankan kefakirannya dan kebutuhannya, maka Allah akan mengabulkan doanya, memberikan permintaannya serta memberikan pemberian yang tidak ada batasnya.

Sebagaimana badan ini tidak bisa hidup tanpa ruh, begitu juga ibadah tidak bisa hidup tanpa ruhnya. Ruhnya ibadah adalah "ubudiyah". Ubudiyah ini timbulnya dari kerendahan diri yang hakiki kepada Allah SWT. Dan kerendahan diri ini timbulnya karena perasaan butuh dalam segala hal kepada Allah SWT.

Kebanyakan manusia biasanya lupa akan penghambaannya kepada Allah SWT, ketika dia bergelimpangan dalam kenikmatan. Maka di sini pentingnya musibah untuk mengingatkan dia akan kefakirannya kepada Allah SWT. Perasaan ini yang dinamakan ubudiyah dan ini adalah ruhnya ibadah.

💎 Ketika kita melihat gambar-gambar keagamaan di masyarakat, maka kita akan melihat banyak gambar-gambar itu. Akan tetapi ketika kita melihat ke dalam ubudiyah yang berupa perendahan diri dan kehinaan diri di depan Allah SWT, maka kita akan melihat gambar yang banyak itu menjadi sedikit dan semakin sedikit, sehingga yang ada cuma golongan kecil dari orang-orang "Al Ghuroba" ( orang asing).

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang "Al Ghuroba".

*Syarh tambahan*

Musibah yang menjadikan seseorang merasakan kefakirannya kepada Allah SWT, maka musibah ini akan mengantarkannya kepada kedekatan dengan Allah SWT.

Sebagaimana jasad yang tidak bisa hidup tanpa ruh, begitu juga "ibadah" tidak bisa hidup tanpa ruhnya dan ruhnya ibadah adalah "ubudiyah". Yaitu merendahkan diri yang hakiki di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

_Merendahkan diri dihadapan Allah Swt ini bisa timbul karena perasaan hina, lemah, dan fakir (butuh) kepada Allah SWT._

Biasanya manusia lupa akan kelemahannya dan kefakirannya ketika dia mendapatkan kenikmatan-kenikmatan yang banyak. Maka di sini pentingnya peran musibah untuk mengingatkan akan kelemahannya. Perasaan kelemahannya ini dinamakan "Ubudiyah" yang menjadi ruh dari ibadah yang dilakukan oleh anggota badan kita.

Wallahu A'lam Bissowab.

0 komentar:

Poskan Komentar