Hikmah 245

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 245*

ﺩﻝ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﺁﺛﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ ﻭﺑﻮﺟﻮﺩ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ ﻋﻠﻰ ﺛﺒﻮﺕ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻭﺑﺜﺒﻮﺕ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺫﺍﺗﻪ ﺇﺫﺍ ﻣﺤﺎﻝ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﻮﺻﻒ ﺑﻨﻔﺴﻪ . ﻓﺄﺭﺑﺎﺏ ﺍﻟﺠﺬﺏ ﻳﻜﺸﻒ ﻟﻬﻢ ﻋﻦ ﻛﻤﺎﻝ ﺫﺍﺗﻪ ﺛﻢ ﻳﺮﺩﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﺷﻬﻮﺩ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﺛﻢ ﻳﺮﺟﻌﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﻌﻠﻖ ﺑﺄﺳﻤﺎﺋﻪ ﺛﻢ ﻳﺮﺩﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﺷﻬﻮﺩ ﺁﺛﺎﺭﻩ . ﻭﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻋﻜﺲ ﻫﺬﺍ ﻓﻨﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﻤﺠﺬﻭﺑﻴﻦ ﻭﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﺠﺬﻭﺑﻴﻦ . ﻟﻜﻦ ﻻ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻭﺍﺣﺪ ﻓﺮﺑﻤﺎ ﺍﻟﺘﻘﻴﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺗﺮﻗﻴﻪ ﻭﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺗﺪﻟﻴﻪ

Artinya:
Allah menunjukkan dengan wujud  ciptaanNya akan wujud namaNya. Allah menunjukkan dengan wujud asmaNya akan sifat-sifatNya. Allah menunjukan dengan wujud sifat-sifatNya akan wujud dzatNya, karena mustahil sifat itu berdiri dengan sendirinya. Allah membukakan kepada wali-wali _majdzub_ akan kesempurnaan DzatNya. Lalu mengembalikan mereka untuk melihat sifat-sifatNya. Adapun _salikin_  sebaliknya mereka ini. Maka akhir maqomnya salikin adalah permulaan maqomnya wali-wali _majdzub_, dan permulaan maqomnya salikin adalah akhir maqomnya wali-wali _majdzub_, akan tetapi bukan dengan arti yang satu, mereka berdua bisa bertemu dalam satu jalan. Ini (salikin) dalam naiknya dan itu (majdzubin) dalam turunnya.

*_Syarh:_*

Hamba Allah yang diberikan _kema'rifatan_ kepada Allah itu ada dua golongan,

*1. _Al Majdzubin_*, yakni golongan yang berpindah dari menyaksikan keagungan Allah menuju menyaksikan ciptaan Allah.

*2. _As Salikin_*, yakni golongan yang berpindah dari menyaksikan ciptaan Allah menuju menyaksikan keagungan Allah Ta'ala.

الله بجتبي اليه من يشاء ويهدي اليه من ينيب

_"Ijtiba"_ (الله يجتبي ) isyaroh pada orang _majdzubin_, golongan ini khusus dan sedikit.
_"Al-Hidayah"_ (ويهدي) isyaroh pada orang _salikin_. Kebanyakan washilin dari golongan ini.

Salikin bisa mendapatkan _ma'rifatullah_ dengan cara mengangan-angan ciptaan Allah Ta'ala. Ketika dia melihat ciptaan Allah ini penuh dengan keindahan dan hikmah maka dia mengetahui bahwa di balik penciptaan ini ada Dzat yang dinamakan Sang Pengatur. Lalu salik ini meneruskan angan-angannya bahwasanya Sang Pengatur ini tidak mungkin kecuali mempunyai sifat-sifat kesempurnaan seperti sifat _'Ilmu, Qudroh, Irodat, Hayat_, dan seterusnya. Ketika dia meneruskan pemikirannya maka dia akan berkesimpulan bahwasanya sifat itu tidak mungkin berdiri dengan sendirinya, pasti membutuhkan Dzat, yaitu Allah Ta'ala.

Adapun wali-wali _majdzub_ tidak melalui proses yang seperti ini, akan tetapi sebaliknya, mereka pindah dari kelalaiannya menuju _ma'rifatullah_ dengan tanpa proses menggunakan akal dan ilmiah dan tidak perlu menyaksikan ciptaan-ciptaan Allah SWT.

Wallahu A'lam Bisshowab.

0 komentar:

Poskan Komentar