HIKMAH 107 Dua Unsur Penting Seorang Murid

"متى جعلك فى الظاهر ممتثلا لأمره ورزقك فى الباطن الإستسلام لقهره، فقد أعظم المنة عليك"



"Ketika Allah menjadikan dhahir (tubuh) kita ringan diajak beribadah menjalankan perintah-Nya, sedang bathin (hati) kita tabah serta tulus menerima ketetapan-Nya, maka yang seperti ini berarti Dia telah memberikan anugerah terbesar-Nya."

Ibadah merupakan keniscayaan bagi kita sebagai hamba. Mau ataupun tidak, kita tetap "dibebankan" untuk menjalankannya.

Ada sistem reward and punishment, pahala dan hukuman. Mereka yang menjawab ajakan (beribadah) tersebut disediakan baginya pahala yang melimpah. Sedangkan hukuman dakan dijatuhkan kepada mereka yang kufur. Di sinilah peran setan di dalam menjerat manusia agar menempuh jalan kesesatan.

Setan mempunyai kegigihan yang luar biasa di dalam mengajak manusia menuju jalan tersebut. Tidak berhasil melalui satu pintu, ia akan mencari pintu yang lain. Dan jika semua pintu tertutup, ia akan setia menunggu celah di saat kita lengah. Tidak berhasil mengganjal dari luar, setan akan masuk ke dalam.

Inilah sebabnya, tubuh kita sering merasa malas untuk beribadah. Oke lah, tubuh kita mudah diajak beribadah. Namun saat terkena musibah, giliran hati kita yang kurang ikhlas menerimanya.

Dari sini didapat kesimpulan bahwa manusia dapat digolongkan menjadi empat. Ada orang yang merasa ringan untuk beribadah, tetapi ketika dihadapkan sebuah musibah, hatinya tidak tabah. Ini yang ada pada umumnya orang.

Yang kedua, ogah-ogahan beribadah, tetapi mengaku memiliki hati yang kuat. Seperti yang dapat kita temukan pada masyarakat kebatinan.

Ketiga, kelompok yang tidak beribadah, juga mempunyai hati yang hampir tidak berfungsi. Mereka adalah golongan yang paling merugi.

Dan kelompok yang terakhir, merekalah yang sedang dibahas oleh Imam Ibn Atha'illah As-Sakandari dalam hikmahnya yang ke 107 ini. Merekalah golongan yang paling beruntung. Mendapat fadlal yang sangat agung. Yakni orang yang dhahirnya mendukung diajak ta'at, bathinnya pun tulus menerima putusan dari Yang Mahakuat. Dua unsur ini yang akan menjadikan pengabdian kita lebih sempurna.

Namun, jangan sampai golongan keempat ini merasa aman. Hingga terjerumus dalam jurang takabur dan merasa diri paling sempurna. Hakikatnya kita dianugerahi keringanan melakukan ibadah itu juga merupakan sebuah ujian. Kembali lagi, setan akan menanti celah yang terbuka sekecil apapun itu.

Adapun kelompok yang pertama - yakni dhahirnya ta'at, bathinnya tidak ridlo - maka terdapat dua kemungkinan. Adakalanya mereka itu orang munafiq yang diancam akan ditempatkan bagian paling bawah dari neraka. Allah berfirman:

ان المنافقين فى درك الأسفل من النار

Dan adakalanya mereka bukan termasuk munafiq, akan tetapi orang-orang muslim yang tidak sempurna imannya. Dalam Al-Qur'an, orang yang seperti ini dilukiskan Allah sebagai orang yang ibadanya (imannya) berada di ujung tanduk. Artinya, mudah goyah ketika dirundung musibah. Mereka inilah orang yang merugi di dunia dan akhirat dengan kerugian yang sangat nyata.
ومن الناس من يعبد على حرف، فان أصابه خير اطمأنّ به، وان أصابته فتنة انقلب على وجهه،

خسر الدنيا والأخرة، ذلك هو الخسران المبين

Kebalikan kelompok ini adalah kelompok yang kedua. Enggan beribadah tetapi mengaku berakhlak karimah. Sampai-sampai berkata, "Yang penting hati kita yang bagus. Ibadah tidak penting. Buat apa taat beribadah kalau hatinya rusak." Mereka tak segan-segan menyertakan hadits Rasulullah untuk mendukung omongannya. Hadits itu berbunyi:

انما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Mereka yang mengaku seperti ini sebenarnya mereka adalah pembohong besar. Dan dikhawatirkan terperosok dalam kezindiqan. Bagaimana mungkin mengaku cinta akan tetapi perintah kekasihnya saja dianggap sebuah cerita. Didengar, setelah itu dilempar. Diperintah shalat yang telah ditentukan waktunya, sedikitpun tak diindahkan. Apa ini pantas disebut akhlak karimah?

Ada yang bertanya, "aku telah berlaku baik, taat beribadah. Tapi apa yang aku dapat?" Kemudian seolah tak bersalah dia melanjutkan, "Allah tetap saja memberiku musibah."

Tidak ada jawaban yang lebih indah kecuali memberinya pertanyaan di bawah ini:

Di saat sakit, pernahkah kita marah karena seorang dokter memberikan obat melalui media injeksi (sutik)? Apa yang kita lakukan setelahnya? Pernahkah kita berpikiran kalau dokter yang menangani kita mempunyai maksud buruk terhadap kita? Kita justru senang bahkan rela merogoh kantong kita untuk membayar dokter tersebut. Kita pun tak pernah menaruh rasa curiga sedikitpun.

Inilah yang musti kita terapkan antara hubungan hamba dengan Sang Kholiq. Dokter masih mempunyai kemungkinan salah di dalam mendiagnos penyakit. Obatnya pun tidak selalu manjur. Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Mahamengetahui segalanya, sebagaimana firman-Nya:

والله يعلم وأنتم لا تعلمون

Wallahu A'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar