HIKMAH 90

Ma'siat yang menjadikan orang itu merasa hina itu lebih baik dari pada taat yang menjadikan orang itu takabur. Dalam hikmah sebelumnya di terangkan bahwasannya ketika kamu di beri oleh Allah bisa melakukan taat, tapi taat kamu tidak di terima. Tapi sebaliknya, ketika kamu diberi oleh Allah melakukan ma'siat, malah ma'siat kamu bisa menyebabkan wusul kepada Allah. Jadi apa sebenarnya yang menyebabkan taat kamu tidak diterima oleh Allah? ini disebabkan karena kamu merasa bahwa taat kamu melebihi dari pada taatnya orang lain (takabur). Hal seperti inilah yang menyebabkan taat kamu tidak di terima. Tapi ma'siat yang kamu lakukan dan kamu merasa hina dihadapan Allah inilah yang bisa menyebabkan wushul kepada Allah, karena dengan adanya melakukan ma'siat kamu akan merasa hina di hadapan Allah.

Sekarang jangan sampai kita salah paham dan beranggapan "berarti kalau begitu ma'siat bisa menjadikan wushul kepada Allah, ya kalau begitu ma'siat saja" jangan seperti itu, itu merupakan anggapan dari orang yang tidak mengerti dengan maksud dari ma'siat yang bisa menjadikan wushul kepada Allah itu yang bagaimana. Kemuadian apa alasan yang menyebabkan ibnu athaillah berkata "ma'siat bisa mengalahkan taat". Ini disebabkan kita melihat taat hanya dari dhohirnya saja, sedangkan Allah melihat hatinya. Allah berfirman dalam al qur'an

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ الله مِنَ المتقين

"sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertaqwa"

Allah berfirman lagi

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بالله إِلاَّ وَهُمْ مُّشْرِكُونَ

"kebanyakan dari orang-orang tersebut tidak beriman kepada Allah, malah mereka memilih menjadi orang-orang yang menyekutukan Allah"

Secara dhohir dia memang iman, tetapi dalam hatinya ada sesuatu yang bertentangan dengan iman. Artinya bagaimana?, bahwasannya Allah hanya melihat kepada orang-orang ikhlas. sekarang bandingkan antara ma'siat yang bisa menjadikan orang itu wushul kepada Allah dengan taat, tapi taat tersebut menjadikan orang tersebut ma'siat kepada Allah, mana yang lebih baik?! hal seperti inilah ma'siat yang lebih utama dibandingkan dari taat. Tapi walaupun begitu, jangan membandingkan taat lebih jelek dari pada ma'siat, tapi membandingkannya antara ma'siat dan ma'siat.

Sekarang kamu harus tahu bahwasanya tujuan taat itu apa? Yaitu supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah, merasa bahwa kita hambanya Allah, apapun yang bisa menghasilkan wushul kepada Allah, dalam keadaan apapun harus ingat kepada Allah. Maka dari itu supaya orang bisa seperti itu harus ada rasa ngemawulo kepada Allah, Artinya membutuhkan Dzat yang menolongnya. Dengan keadaan seperti itu maka Allah memberikan cobaan kepada hambanya tersebut yang termasuk salah satu hikmahnya adalah supaya hamba tersebut bisa kembali kepada Allah.

Jka di beri materi jangan sampai materi tersebut menjadi sesuatu yang bisa menyebabkan segala-galanya, maksudnya materi tersebut sebagai motifator kita dalam melakukan segala sesuatu). Sekarang coba kita bahas pada permasalahan ma'siat, ma'siat itu adalah cobaan. Tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan ma'siat kecuali para Nabi. Jadi orang tersebut di beri cobaan untuk melakukan ma'siat supaya tidak takabur, walaupun sudah berusaha dengan sungguh-sungguh tapi tidak melakukan ma'siat tapi ternyata masih juga melakukannyabisa melakukan, maka Allah memberikan cobaan dengan ma'siat tersebut supaya bisa dekat dengan Allah.

Allah berfirman dalam al qur'an yang berbunyi:

وَخُلِقَ الإنسان ضَعِيفاً

"dan manusia itu diciptakan dalam keadaan yang lemah"

Allah berfirman lagi

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ

"wahai para manusia sesenungguhnya kamu sekalian itu faqir (butuh) kepada Allah, dan Allah lah Dzat yang maha kaya"

Faqir disini jangan sampai diartikan hanya dengan arti orang yang tidak memiliki materi, tapi faqir disini adalah macam-macam faqir, baik itu faqir secara dhohir maupun batin.

Sekarang lihatlah zaman dulu yang membuat adalah Allah yang membuat jelek juga Allah, jangan sampai taat kita menjadikan kita takabur pada Allah. Hal ini seperti kita membunyikan sirine yang akan memulai peperangan atau bencana dan kalau di teruskan kita akan terjerumus ke jurang bahaya. Hal ini menunjukan bahwa kita itu lemah, jadi kita jangan takabur baik itu masalah taat ataupun yang lainnya.

وقيل لا تنسى صحتك وقوتك وشبابك وغناك أن تطلب بها الآخرة

"dan diucapkan: jangan sampai kesehatan, kekuatan, masa muda dan kekayaanmu membuat dirimu lupa untuk menjadikan itu semua sebagai jalan menuju akhirat"

Akhirnya orang tersebut terus berdo'a kepada Allah, sampai do'a nya bisa menyebabkan orang tersebut wushul kepada Allah.

Sekarang sudah tahu seperti ini, maka yang dipraktekkan pada masyarakat itu harus husnudzan (berprasangka baik), jangan sampai kita menghina hamba Allah, karena apakah kita tahu orang tersebut ma'siat apa tidak? Masuk neraka atau sorga? Dan lain sebagainya. Jadi yang penting kita meminta pada Allah supaya Allah menerima do'a kita dan tetap menjalankan amar ma'ruf nahi mungkar. Jangan sampai kita menghina ahli ma'siat. Walapun begitu, kita harus tetap nahi mungkar Allah berfirman dalam al qur'an

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah dan mereka adalah orang-orang yang beruntung"

Sekarang orang yang ikhlas lillahi ta'ala harus berda'wah dengan diiringi husnudzan. Tapi kebanyakan dari para penceramah selalu su'udzan (berprasangka buruk) pada orang yang melakukan ma'siat. hal seperti inilah yang menyebabkan dosanya lebih besar dari pada orang yang di su'udzani. Padahal perasaan seperti ini bisa merusak pada dirinya sendiri.

0 komentar:

Poskan Komentar