HIKMAH 70 : TANDA-TANDA KEBODOHAN

من رأيته مجيباً عن كل ما سئل ومعبراً عن كل ما شهد وذاكراً كل ما علم فاستدل بذلك على وجود جهله

"Siapa yang engkau lihat sebagai orang yang selalu menjawab segala yang ditanyakan kepadanya, mengungkapkan segala yang disaksikannya dan menyebut segala yang diketahuinya maka simpulkanlah bahwa itulah tanda kebodohannya"



Setidaknya terdapat 3 (tiga) indkator lebodohan seseorang:

1. Kalau ditanya sesuatu dia pasti menjawab. Ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang bodoh karena pertanyaan itu sangat bermacam-macam. Ada yang bisa dilihat (dipikir) dan ada yang tidak. Sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia itu pasti lebih banyak dari pada yang diketahui. Seseorang mempunyai pengetahuan cuma pada zaman sekarang ini (زمن حاضر) dan di tempat yang dia tempati. Allah telah berfirman dalam Al-Qur'an

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا (85) [الإسراء/86]

Kalau seseorang selalu menjawab pertanyaan berarti dia adalah orang yang bodoh. Orang ini hanya menutupi kebodohannya dengan dakwaan-dakwaan (argumen) yang belum tentu benar. Orang ini juga bisa dikatakan orang yang sombong karena dia merasa malu kalau tidak menjawab. Oleh karena itu dia menutupinya dengan jawaban-jawaban walaupun tidak benar. Inilah yang menjadikan seseorang menjawab dengan seenaknya walaupun realitanya tidak sama dengan jawaban yang diucapkan.

Kalau hal di atas dilakukan terus-menerus maka akan mengakibatkan bahaya yang sangat besar karena dapat mendustakan ilmu. Sekarang ini ada ilmu kimia, fisika, dan kedokteran. Disiplin ilmu-ilmu tersebut tentu tidak layak dibahas kecuali ahlinya (ilmuwan). Namun dalam konteks ini, ilmu agama banyak sekali orang yang membicarakannya walaupun sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa. Inilah yang menjadikan orang barat berusaha menghancurkan islam. Contoh saja dalam ilmu fiqih, banyak sekali orang yang menerapkan ilmu tersebut pada zaman sekarang ini. Kalau ilmu tersebut sesuai dengan akal maka bisa diterima, tapi kalau tidak maka tidak akan diterima. Oleh karena itu mereka berusaha menghilangkan ilmu-ilmu islam yang banyak sekali dipelajari di pondok pesantren. Mereka berusaha agar semua orang dan semua kalangan dapat dan berani berbicara tentang agama walaupun mereka tidak memiliki ilmu dan pengetahuan tentang islam sendiri.

Sahabat Abu Bakar pernah ditanya tentang tafsir suatu ayat, namun beliau tidak menjawabnya. Beliau teringat pada hadits nabi :

أخبرنا محمد بن بشار قال ثنا يحيى قال ثنا سفيان قال ثنا عبد الاعلى عن سعيد بن جبير عن بن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قال في القرآن برأيه أو بما لا يعلم فليتبوأ مقعده من النار السنن الكبرى للنسائي - (ج 5 / ص 31)

Imam Malik juga pernah ditanya seseorang dari Andalus tapi beliau hanya menjawab sedikit. Lalu orang tersebut mengkritik Imam Malik dan Imam Malik pun menjawab : katakan saja kalau Imam Malik tidak tahu jawabannya.

Sekarang ini banyak sekali fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga atau organisasi. Kita harus hati-hati dalam mengambil fatwa tersebut. Banyak sekali fatwa-fatwa yang tidak sesuai dengan sayari'at islam karena tertekan dengan arus globalisasi. Oleh karena itu kalau kita berada dalam termpat yang penuh maksiat maka kita wajib hijrah dari tempat tersebut.

2. Selalu menceritakan apa yang dia saksikan. Ini juga menunjukkan betapa bodohnya orang tersebut. Kalau dia menceritakan suatu kecacatan (kejelekan) dari orang lain maka hal ini akan sangat berbahaya dan merupakan dosa besar. Kita tidak boleh menceritakan kejelekan orang lain karena itu merupakan rahasia Allah swt. Oleh karena itu kalau kita ingin menasehati teman kita yang melakukan maksiat kita harus menasehatinya di tempat yang sepi bukan di tempat umum, sehingga bisa diketahui orang banyak. Orang yang selalu menceritakan kejelekan orang lain selalu merasa bahwa dialah orang paling baik dan yang lain berada di bawahnya. Kalau dia sadar bahwa dia adalah orang yang rendah maka dia pasti tidak akan berani menjelekkan orang lain. Dalam sebuah hadits telah disebutkan :

ان الله ستير يحب الستر السنن الكبرى للبيهقي - (ج 7 / ص 97)

3. Selalu mengatakan kepada orang lain apa saja yang ia ketahui. Terkadang seseorang menceritakan bahwa dia telah melakukan ibadah-ibadah maka hal ini adalah kebodohan yang sangat parah. Dia tidak pernah memikirkan apa yang dia omongkan. Dia juga tidak pernah berpikir apakah omongan tersebut termasuk tahddus bin ni'mat atau hanya ingin menunjukkan bahwa dia adalah orang yang tinggi derajatnya. Memang Al-Qur'an telah menjelaskan :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11) [الضحى/11]

Kalau memang tahadduts maka itu adalah hal yang baik.

Diantara kebodohan yang lain adalah menceritakan kejelekan atau maksiatnya sendiri. Ini adalah kesalahan yang fatal dan kalau sampai mengarah pada kekafiran maka dia menjadi kafir. Kalau kita melakukan maksiat maka kita tidak boleh berkeluh kesah kepada orang lain. Kita harus kembali kepada Allah. Dalam Al-Qur'an telah disebutkan :

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) [الذاريات/50]

Kalau ada orang yang telah taubat dari kemaksiatannya maka semua dosanya diampuni. Jadi kita tidak boleh menceritakan kemaksiatan orang tersebut karena terkadang orang tersebut telah bertaubat.

Kalau kita memiliki banyak ilmu maka kita tidak boleh menceritakan semuanya kepada masyarakat. Kita harus bisa memilah-milah. Dalam sebuah hadits telah disebutkan :

124 - وَقَالَ عَلِيٌّ حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ صحيح البخاري - (ج 1 / ص 217)

Contoh saja kita menjelaskan ilmu tauhid dengan sangat dalam sekali maka hal tersebut akan membingungkan masyarakat. Oleh karena itu seorang khotib haruslah orang yang pintar menyampaikan dan dia harus bisa mengarahkan masyarakat pada kebaikan. Walhasil jika kita melihat tiga indikator di atas pada diri seseorang maka dia adalah orang bodoh sebagaimana penjelasan Ibnu Athaillah dalam hikmahnya.

0 komentar:

Poskan Komentar