HIKMAH KE-58 Pangkal Dari Kehinaan

HIKMAH 58

Pangkal Dari Kehinaan

مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلاَّ عَلَى بذْرِ طَمَعٍ



"Pangkal kehinaan tidak akan tumbuh kecuali di atas bibit ketamakan"

Sebelum mengkaji lebih jauh makna mutiara hikmah ini, terlebih dahulu kita membahas sebuah mukaddimah yang mendasari hikmah di atas.

Islam merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai kemuliaan yang sejati dan sempurna. Mencintai kemuliaan dan keluhuran sudah menjadi watak asli manusia sejak diciptakannya. Hal ini menunjukkan betapa Islam adalah agama yang cocok dan sesuai dengan watak dan kebutuhan pokok manusia yang bermacam-macam. Seperti yang diketahui, pondasi dasar Islam adalah keyakinan tauhid, yakni meyakini bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan yang satu, yaitu Allah. Satu dalam dzat-Nya, sifat-Nya, pekerjaan-Nya. Hanya Dia yang memberikan kemanfaatan dan kemadlorotan, Yang menghidupkan, mematikan, Maha Kuat dan Kuasa.

Ketika seseorang mempunyai keyakinan seperti ini dan menancap kuat dalam hatinya, maka ia akan memasrahkan seluruh kebutuhan dan hidupnya hanya kepada Allah, yang ia yakini sebagai tempat mengadu dan juga mengatur segala urusan. Sebesar apa dia memasrahkan urusan hidupnya kepada Allah, sebesar itu pula ia berpaling dari selain-Nya, siapa pun mereka. Ia tidak mempunyai sifat thoma' (berharap pada orang lain) terhadap mereka. Hatinya tidak terjangkiti rasa takut terhadap ancaman musuh serta tidak menaruh harapan kepada makhluk. Keadaan yang demikian akan membuatnya menjadi orang mulia di hadapan Allah.

Tapi kemuliaan itu harus ditebus dengan kerendahan dan kelemahan di hadapan Allah. Seperti halnya timbangan, jika takaran sikap tadzallul (merendah) terhadap Allah ini unggul, maka takaran sikap tadzallul di hadapan makhluk akan melemah. Sehingga orang yang demikian akan terbebas dari sikap merendahkan dirinya di hadapan orang lain, karena dia tidak membutuhkan dan tidak menaruh haapan apapun pada mereka. Sebaliknya, jika sikap tadzallul kepada Allah ini kalah, ditandai dengan hilangnya keyakinan bahwa dia mempunyai Penolong yang maha kuasa, maka sikap tadzallul kepada makhluk akan menguat. Dia akan menjulurkan lidahnya di samping mereka sambil berharap. Inilah yang disebut dengan kehinaan yang sesungguhnya. Dia akan menyerahkan apa saja yang dimilikinya agar harapan dan keinginan hatinya terkabul.

Sekarang ini banyak orang-orang yang mengaku-ngaku Islam, tapi mereka tidak mendapatkan kemuliaannya. Jiwa mereka tidak terbebas dari ketundukkan terhadap makhluk. Yang demikian ini tidak lain karena Islamnya hanya ikut-ikutan saja. Golongan seperti ini tidak punya kecondongan terhadap Islam dalam hati dan pikirannya. Adapun orang yang hati dan pikirannya telah diisi dengan hakikat Islam, maka akan terlihat pengaruh dari keadaannya ini dalam kehidupan dan hubungannya dengan sesama makhluk.

Kita bisa mencontoh perjalanan Badi'uzzaman Sa'id an-Nursi (1293 H-1379 H). beliau pernah ikut berperang bersama pasukan Turki dalam Perang Dunia I. Hingga akhirnya beliau tertawan oleh pasukan Rusia. Suatu hari, datang seorang komandan Rusia kepada rombongan tawanan, yang di dalamnya terdapat Badi'uzzaman. Tiap kali komandan itu lewat di depan tawanan, semuanya berdiri untuk menghormatinya. Pada saat lewat di depan Badi'uzzaman, beliau tetap duduk di tempatnya. Sehingga sang komandan pun menoleh kepadanya lalu berkata: "Mungkin engkau tidak mengenalku!"

Badi'uzzaman menjawab: "Aku mengenalmu. Engkau adalah komandan tentara Rusia." Komandan itu berkata lagi: "Kalau sudah tahu, mengapa tidak menghormatiku? Engkau telah menghina kebesaran Rusia." Badi'uzzaman berkata lagi: "Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja Tuhanku melarangku untuk merendahkan diri terhadap selain-Nya." Mendengar ini, bangkitlah kemarahan komandan tersebut. Lalu dia berusaha untuk menyeret Badi'uzzaman ke hadapan pengadilan. Ketika Syekh Badi'uzzaman dibawa ke pengadilan, komandan itu menghadap sekali lagi setelah sebelumnya dia merenungi kejadian ini. Komandan berkata sambil menepuk-nepuk pundak Badi'uzzaman: "Sungguh, aku kagum dengan agamamu yang telah memuliakanmu sedemikian rupa." Komandan itu lalu memaaafkan Badi'uzzaman.

Sikap Syekh Badi'uzzaman yang menolak untuk merendahkan dirinya terhadap pasukan Rusia itu merupakan suatu bentuk kemuliaan. Dia menjadi mulia karena tidak menjilat-jilat di hadapan makhluk dan menggantungkan harapan padanya. Dia bukannya tidak tahu akan hukuman atas sikapnya itu. Hanya ia tidak sudi jika kemuliaan yang telah didapatkannya dari Islam digadaikan untuk menebus jiwanya dari tangan musuh. Dia menjadi mulia karena tidak ada rasa thoma' dalam hatinya.

Orang yang batinnya telah terjangkiti penyakit ini akan memupuk kehinaan yang diakibatkan oleh sifat ini yang selau ingin menumpuk harta, mengejar pangkat dan kesenangan-kesenangan nafsu. Untuk mendapatkan semuanya itu, seseorang bisa berbuat apa saja, yang mana hal ini akan menimbulkan kehinaan dan kerendahan lainnya. Jikakehinaan diibaratkan sebuah pohon, mama bibitnya adala sifat thoma' ini. Kalau tidak ada sifat ini, seseorang tidak akan tunduk pada sesamanya karena hal ini adalah sebuah kehinaan yang berlawanan dengan kemuliaan yang telah diberikan Allah kepada manusia. Allah berfirman:

ولقد كرّمنا بني آدم. [الإسراء : 70]

"Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan." QS. Al-Isra': 70.

Sepatutnya kita tidak menodai kemuliaan ini dengan sifat-sifat yang rendah dan hina. Terutama sekali sifat thoma' yang merupakan akar dari seluruh kehinaan. Wallahu a'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar