Hikmah ke-38 Pertolongan Allah

Hikmah ke- 38

(لاتتعدّ نية همتك إلى غيره)

(فالكريم لا تتخطاه الامال)

"Janganlah cita-citamu tertuju kepada selain allah karena harapan seseorang tidak akan dapat malampui Al-Karim (yang maha pemurah)".

Hikmah ini sebagai buah/hasil dari hikmah sebelumnya dengan mengangan-ngangan serta mempelajarinya, yakni Dzat yang memiliki wujud yang haq yaitu wajib wujudnya (adanya) yang tiada duanya maka dari itu wujudnya adalah wujud yang azaly yang tiada awalnya.

Sedangkan apa yang kau saksikan disekililingmu dari dunia itu wujudnya tidak seperti Allah melainkan wujudnya bertahap (sedikit demi sedikit) dalam rentan waktu yang lama.

Disaat aqalmu telah sempurna dalam keyaqinan ini dan ilmu dan haqiqatnya telah terpatri dalam hatimu maka itulah tauhid yang telah ditetapkan Allah dan yang terkandung dalam suatu kalimat yang Allah mensifatinya dengan kalimat thoyyibah yaitu (لااله الا الله).

Jika kita telah mengetahui bahwa wujud Allah, kekuasaanNya, kemurahanNya, serta kepemilikanNya tiada yang membandingi, maka jelaslah bagi kita untuk hanya menggantungkan cita-cita pada Dzat yang tunggal dalam segala makna dan sifat-sifat yang telah disebut sebelumnya.

Dan telah kau ketahui bahwa sang pemilih wujud/lari dari sifat wujud hanya Allah saja, maka wajiblah bagi kita untuk tidak melampui Allah dengan cita-cita kita, apapun cita-cita itu dari mana cita-cita muncul.

Dan jikalau cita-cita (harapan) itu berhubungan dengan rizqi, maka tujukanlah harapanmu hanya pada Dzat yang seluruh kerajaan langit dan bumi ada pada kekuasaanNya.

Jikalau harapan itu berhubungan dengan kesehatan, maka tujukanlah harapan itu hanya pada Allah yang nabi Ibrohim kholilulloh berkata :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (الشعراء : 80)

Artinya : "Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku".(QS. As-Syu'ara'-80)

Jikalau harapan itu berhubungan dengan keturunan dan kesejahteraan serta rasa aman maka mantapkanlah harapan itu berdasar ayat Allah :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً(النحل : 97)

Artinya : "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik". (QS. An-Nahl- 97)

Jikalau harapan itu berhubungan dengan tercegahnya sesuatu yang tidak dia sukai seperti amannya dia dari orang dzolim atau musuh maka mantapkanlah harapan itu hanya pada Allah yang telah mengkhitobi nabi musa dan harun dengan ayat :

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى (طه : 46)

Artinya : Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (QS. Thoha: 46)

Dan demi umurku, berdasarkan keterangan-keterangan diatas bagi orang yang berharap dengan harapan-harapan diatas kepada selain Allah maka dia telah menyekutukannya dan dia telah ragu pada kalimat thoyyibah لاإله إلاالله

Jika kau bertanya tentang ucapan nabi musa dan harun saat keduanya menyatakan takut pada fir'aun :

قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَى (طه : 45)

Artinya : "Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas". (QS. Thoha : 45)

Maka saya jawab : bahwasanya harapan keduanya untuk terlepas dari kekejaman fir'aun tersebut itu tertuju pada Allah, bukan fir'aun, karena yang dikehendaki dari ucapan tersebut adalah agar Allah tidak menjadikan fir'aun mampu untuk berbuat buruk kepada keduanya. Maka dari itu ucapan tersebut adalah puncak dari ketauhidan kepada Allah SWT dan sifat-sifatNya yang agung maka dari itu Allah menentramkan hati keduanya dengan jawabanNya :

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى (طه : 46)

Artinya : Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (QS. Thoha: 46)

Oleh karena itu maka tauhid, ‘itiqod dan ucapan lisan wajib terbangun darinya tauhiduttholla'at As sulukiyyah. Dan juga hubungan-hubungan sosial sedangkan untuk yang kedua (hubungan sosial) ini sebagaiman yang telah diperintahkan nabi kepada Abdullah bin Annas disaat dia mnegikuti nabi dari belakang,

"Wahai anak muda, saya akan memberi tahu kepada kamu beberapa kalimat : " meminta penjagaanlah kepada Allah maka Allah akan menjagamu , meminta penjagaanlah kepada Allah maka kamu akan menemukanNya dengan menghadap kearah kamu, ketika kamu meminta maka memintalah kepada Allah, dan kekita kamu meminta pertolongan maka meminta pertolonganlah kepada Allah, sesungguhnya suatu umat ketika berkumpul untuk meminta pertolongan kepada kamu atas sesuatu yang sudah Allah berikan kepada kamu, dan kekita mereka berkumpul untuk membahayakan kamu dengan sesuatu yang sudah Allah pastikan, maka akan dihilangkan catatan-catatan dan ditutup beberapa buku.

Dan perkara tersebut bukanlah tauhid yang mencukupi dalam hakikatnya, akan tetapi sebuah aqidah yang tidak bisa terlepas dari hasil sebuah aplikasi (praktek) disaat praktek atau aplikasi kemantapan hati untuk mengarahkan harapan hanya kepada Allah subhanahu Wata'ala maka segala hal yang berhubungan dengan sebab-sebab (rizki, kesehatan, kekuatan, aman,tentram) akan selaras dengan perintah Allah dan menjadi begian yang tak akan terpisahkan dari tauhid Allah.

Jika ini sudah jelas, maka antara sebab-sebab pokok dan sebab-sebab rohmat ilahi juga perantara-perantarNya tidak akan ada bedanya, karena sebagaimana menjadikan hujan sebagai sebab adanya tumbuhnya tanaman , makanan sebagai sebab adanya kenyang, obat sebagai sebab sembuhnya seseorang, begitu juga derajat rasulallha disisi Allah dan cinta rasul sebagai sebab turunnya rohmat dan syafa'at bagi hamba-hambanya sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An Binya : 107

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (الأنبياء : 108)

Artinya : "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". (QS. Al-Anbiya' : 108)

juga pada surat An nisa' : 64

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا ( النساء : 64)

Artinya : "Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang". (QS. An-Nisa' : 64)

Dan semua itu boleh dijadikan perantara asal dalam hatinya tidak boleh hilang bahwa semua itu adalah kehendak dan perintah dari sang tunggal dalam wujudnya. Serta perbuatan "makan" saat lapar, minum saat haus serta memakan obat saat sakit adalah sebuah bentuk aplikasi dari seorang hamba atas apa yang telah menjadi perintah Allah / kehendakNya. Serta bentuk memuliakannya untuk hamba tersebut yang mengherankan, terkadang ada seseorang yang sakit meminta tolong kepada dokter seraya berkata : "Dok, tolong sembuhkan penyakit saya ini dan dia tidak merasa bersalah dan menghiraukan ucapan tersebut, dan dia tidak tahu bahwa ucapan tersebut akan merusak ketauhidannya.

Tiada beda antara Assabab Al ja'liyyah yang ada dalam obat untuk penyembuhan, Assabab ajja'liyyah Yang ada dalam tawashul untuk sembuh lewat derajat rasullah salallhu'alaihi wasalalam, sebab Allah menaruh sebuah hikmah yang jelas atau tidak terang dalam penyembuhannya lewat obat maupun tawashul kepada rasulallah maupun yang meminum air zamzam.

Dan yang lebih mengherankan lagi sebuah golongan yang membeda-bedakan antara kebolehan tawashul kepada nabi saat hidup dan wafatNya, disyari'atkan saat beliau masih hidup, tidak disyari'atkan saat beliaui telah wafat.

Jelas sekali ini adalah ucapan yang keliru mareka berasumsi bahwa masyru'nya adalah kekuatan dzatiyyah /jasad beliau ketika masih hidup kekuatan itu ada tapi ketika sudah mati kekuatan itu sudah redup dan hilang, padahal tawasshul yang kita bahas disini adalah tawashul letak derajat rasulallah disisi Allah dan lebih jelas lagi maqom /derajat rosul terus ada meskipun beliau sudah wafat. Cukuplah do'a yang disunahkan rasulallha shalallahhu'alalihi wasalam setelah adzan sebagai bukti yang bisa dijadikan justifikasi.

Akan tetapi takutlah kamu untuk memahami sebab-sebab tersebut dengan "kekutan yang dititipkan pada sebab tersebut" karena pemakaman tersebut dapat mengarahkan bahwa Allah sengaja menaruhnya disebagian wujud sesuatu serta memberinya kekuasaan dan bisa berfungsi, pemikiran seperti ini adalah syirik yang jelas karena akan muncul apa bedanya kamu membuat berhala atau seseorang untuk disembah dengan kamu membuat sesatu dengan disebut "kekuatan yang ditiitpkan sebagai sesembahan ?

Adakalanya kamu menjadikan kekuatan tersebut sebagai kekuatan Allah SWT yang mana kekuatan tersebut disandarkan kepadanya dan tidak terpisah darinya yang telah ditiitpkan dan ditaruh pada sesuatu yang disebut dengan sebab jika demikian jelaslah kamu menjadikan kekuatan tersebut sebagai sekutu Allah, bahwa sekutu yang lebih kuat dari Allah yang mana Allah tidak bisa dikatakan tuhan jika tanpa kekuatan tersebut . padahal jelaslah bahwa Allah terlepas dari kesalahan-kesalahan pemakaman seperti ini sebab Allah telah berfirman :

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ(الروم : 25)

Artinya : "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya". (QS. Ar-Rum : 25)

Juga pada ayat :

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ( فاطر : 41)

Artinya : "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah". (QS. Fathir : 41)

Katakanlah padaku, mana dari ayat-ayat tersebut yang menetapkan adanya kekuatan yang ditiitpkan pada sebab ?

Ingatlah bahwa segala sesuatu didunia ini yang tumbuh dan berkembang besar dan kecil, jelas dan samar, semua telah diatur oleh Allah untuk membaca tasbih yang tak pernah terputus dan mengesakannya yang tak pernah diam dengan aturanya " لاحول ولاقوّة الا بالله"

Semoga Allah menghidupkan kita dan mematikan kita, serta menggiring kita berdasar tuntutan aturan yang kokoh ini, keyaqinan dalam aqal keteguhan dalam hati, dzikir dengan lisan, dan menjadikan perkara-perkara tersebut sebagai pemberi syafa'at bagi kita dihadapan keburukan dan kekuarangan.

0 komentar:

Poskan Komentar