HIKMAH 258 Cahaya dalam fikiran

الفكرة سراج القلب فإذا ذهبت فلا إضاءة له


"Pikiran merupakan lampu hati, ketika hilang pikiran tersebut, maka tidak ada penerangan baginya".


A. Penjelasan


Memikirkan sesuatu yang bisa menerangi hati dan aqal merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh seorang hamba yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Dan ketika hilang memikirkan hal tersebut, maka aqalnya tidak ada penerangan sama sekali. Dalam hikmah ini yang dimaksud dengan kata Al-Qolbu ialah Al-‘Aqlu.

Yang menjadi kesemangatan pada diri seorang hamba untuk berangan-angan dan bertafakur terhadap sesuatu apapun bukanlah aqal, tetapi kesungguhan nya. Dan yang membangkitkannya yaitu penemuan terhadap sesuatu yang dia lihat.

Begitu juga dengan penggunaan nikmat yang telah diberikan Allah subhanahu wata'ala berupa aqal, yang digunakan untuk memikirkan nikmat yang dirasakan seorang hamba. Disamping itu alam yang bermacam-macam juga merupakan bahan untuk menjadi tafakur seorang hamba, tujuan dari tafakur ini ialah untuk bisa whusul (sampai) kepada Allah subhanahu wata'ala. Sedangkan alat untuk berfikir ialah aqal, yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya tidak kepada makhluq selainnya.

B. Perumpamaan

Dalam hikmah ini, Ibnu Atho'illah memberikan perumpamaan dengan seseorang yang sedang berada di dalam kamar dengan keadaan gelap, dikarenakan tidak ada lampu yang menerangi kamar tersebut, sama halnya, otak seorang hamba tidak akan berfungsi kecuali diterangkan dengan bertafakur terhadap ciptaan Allah subhanahu wata'ala.

Ada dua cara untuk memahami hubungan antara fikiran dan aqal.

1. Jadikanlah aqal tersebut sebuah lampu untuk berfikir. Karena berfikir tentang alam semesta membutuhkan sebuah lampu untuk bias menerangkan hatinya yaitu aqal.

2. Jadikanlah fikiran tersebut sebuah lampu untuk aqal. Jika diibaratkan aqal sebuah pedang atau alat dan bayangan yang menunjukannnya terhadap gerakan ialah fikiran.

Sesungguhnya aqal merupakan alat yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk selalu tunduk kepada menusia. Dengan tujuan, supaya dia menggunakannya untuk bias mencapai pada tingkatan yang lebih tinggi yatiu ma'rifat. Tetapi cahaya yang keluar dari tingkatan itu tidak akan bias bersinar kecuali dengan bergerak dan amal. Hal itu bias dilakukan dengan adanya tafakur dan berangan-angan.

C. Akibat tidak bertafakur

Di dunia ini banyak sekali orang-orang yang pinter tetatipi tidak digunakan dalam hal untuk memikirkan ciptaan dan sang pencipta, terutama orang barat, yang selalu mengedepaankan realita dibandingkan dengan sesuatu yang tidak bias dilihat, sedangkan Allah subnahau wata'ala adalah Dzat yang go'ib, dan kita sebagai seorang yang beragama islam wajib untuk beriman kepada alam gho'ib.

Hal ini terjadi pada ilmuwan barat, yang tidak menggunakan aqalnya untuk bertafakur terhadap ciptaan Allah secara mendalam yang akhirnya akan mengetahui sang pencipta. Tetapi berhenti pada titik temu yang dicarinya. Adapun tentang wujudnya sang pencipta dia tidak menghiraukan. Hal ini dilandaskan rasa malas yang dialaminya. Sedangkan jalan tersebut merupakan pekerjaan yang tercela dan pemikiran yang menyesatkan.

D. Dalil

a. Firman Allah dalam surat Al-‘Arof ayat : 179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف : 7/179)

Artinya : "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai". (Q.S. Al-‘Arof : 179)

Ilmuwan barat merupakan orang yang suka meneliti tentang alam yang diciptakan Allah, tetapi penelitian tersebut tidak bisa menjadikannya iman kepada-Nya, karena dia hanya mengandalkan keilmiyahannya saja.

0 komentar:

Poskan Komentar