HIKMAH KE-114 : PERASAAN RINDU UNTUK BISA MELIHAT SANG KHOLIK

"علم أنك لا تصبر عنه فأشهدك ما برز منه إليك"

Artinya : Allah Subhanahu wa ta'ala mengetahui bahwa sesunguhnya kamu sudah tidak sabar untuk melihat-Nya, makanya Ia memperlihatkan kepadamu sesuatu yang bisa menunjukkan kepada-Nya.

Hikmah ini merupakan bayan / penjelasan dari hikmah sebelumnya. Seorang hamba yang sudah masuk kemaqom mahabbah, perasaan rindu untuk bisa melihat Sang Kholik selalu meliputinya setiap saat. Dan kalau kita telaah dari hikmah ini dan sebelumnya, ihwal hamba Allah yang diperintah untuk memperhatikan ciptaan-Nya ada dua macam :

1. Orang yang masih jauh dari Allah Subhanahu wa ta'ala dan masih dikuasai oleh nafsunya, tidak ingat akan kebesaran dan keindahan sifat-sifat Allah yang bisa disaksikan lantaran dari memperhatikan makhluk-Nya. Maka, orang ini diperintah Allah Subhanahu wa ta'ala dengan Amrun Taklifi / أمر تكليفي ( dipaksa ) untuk menyaksikan dan memperhatikan ciptaan-ciptaan-Nya yang bisa mengantarkannya mengenal Allah Subhanahu wa ta'ala.

2. Orang yang sudah dimaqom makrifat (Muqorrobin), yang mana ia sudah sangat dilanda rindu untuk melihat Allah Subhanahu wa ta'ala walaupun ia faham bahwa rukyatullah tidak bisa terwujud selama masih di alam yang fana' ini. Maka dengan kesadarannya sendiri ia mengobati kerinduannya dengan menyaksikan kebesaran dan keindahan sifat-sifat-Nya lantaran makhluk yang diciptakan-Nya, hal ini sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah (Amrun Irsyadyأمر إرشاديّ / ).

Hamba Allah Subhanahu wa ta'ala yang rindu untuk bisa melihat Allah Subhanahu wa ta'ala, besok diakherat akan dibukakan hijabnya, sehingga ia mampu menyaksikan Allah Subhanahu wa ta'ala "وجوه يومئذ ناضرة. إلى ربها ناظرة" yang tidak bisa disamakan dengan ketika memandang sesuatu didunia ini. Dan ini sesuai dengan faham Ahlu Sunnah Wal Jama'ah, berbeda dengan fahamnya orang Mu'tazilah yang mengatakan : kalau Allah bisa dilihat berarti Allah Subhanahu wa ta'ala bisa dibatas. Rukyatullah diakherat yang tiada batas dan tidak bisa dibayangkan jangan dibandingakan dengan rukyah yang berada didunia. Dan lafadh لن تراني pada ayat :

قال لن تراني ولكن انظر إلى الجبل فإن استقرّ مكانه فسوف تراني.

tidak bisa di jadikan hujah bahwa lapadz tersebut mempunyai makna "Kamu tidak akan bisa melihat-Ku selama-lamanya", karena arti لن (tidak mampu rukyah kepada Allah) pada ayat tersebut hanya terjadi ketika masih di dunia akan tetapi makna tersebut akan selesai ketika seorang hamba sudah meninggalkan dunia ini.

Dengan hikmah diatas Ibnu 'Athoillah Rahimahullahu ta'ala bermaksud memberikan penjelasan kepada orang yang sudah diderajat dimaqom makrifat. Namun pada hakikatnya, semuanya diperintahkan untuk selalu bertafakkur dan memperhatikan makhluk-Nya, sehingga dengan ini bisa mengantarkannya untuk lebih mengenal dan selalu ingat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

إنّ في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار والفلك التي تجري في البحر بما ينفع الناس وما أنزل الله من السماء من ماء فأحيا به الأرض بعد موتها وبثّ فيها من كل دابة وتصريف الرياح والسحاب المسخر بين السماء والأرض لآيات لقوم يعقلون.

Artinya : " Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan ". Q.S. Al Baqoroh : 164.

0 komentar:

Poskan Komentar