HIKMAH 253 Kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya

أكرمك بكرمات ثلاث, جعلك ذاكرا له, ولولا فضله لم

تكن أهلا لجريان ذكره عليك وجعلك مذكورا به, إذحقق

نسبته لديك, وجعلك مذكورا عنده, فتمم نعمته عليك

"Allah memuliakanmu dengan tiga kemuliaan. Dia menjadikanmu orang yang ingat kepadaNya, kalau tidak ada keanugeranNya, maka kamu bukan termasuk yang ahli untuk ingat kepadaNya. Dan Dia menjadikanmu orang yang diingatkan sebabNya, karena Dia menyatakan penisbatanNya kepadamu. Dan Dia menjadikanmu orang yang diingat disandingNya, maka Dia meneyempurnakan nikmatNya untukmu".

A. Penjelasan

Manusia diciptakan oleh Allah tidak lain hanya untuk menyembah kepadaNya, seperti yang sudah difirmankan dalam Al-Qur'an. Jika sudah melakukan hal ini, maka Allah telah memuliakannya. Begitu juga, dengan penjelasan dalam hikmah ini, bahwasanya Allah memuliakan hamba Nya dengan tiga kemuliaan:

a. Kemuliaan pertama.

Allah memberikan kekuasaan kepada seorang hamba untuk bisa berdialog denganNya melalui dzikir, karena dengan adanya dzikir, Allah akan mencintai hamba tersebut. Begitu juga dengan lisannya, ketika selalu menyebut asma Allah, semua anggota badan selalu bergerak karena tunduk kepadaNya. Maka Allah akan memuliakanmu. Tetapi Allah tidak membutuhkan hal tersebut. Dan ini sudah menjadi kekhususiyahan manusia dibandingkan dengan hewan lainnya. Kenapa bisa dinamakan khususiyyah ?


Karena segala sesuatu yang ada di dunia ini selain manusia , seperti tumbuh-tumbuhan, pensil yang sering kita gunakan untuk menulis, dan lain-lain, semuanya membaca tasbih kapada Allah subhanahu wata'ala Dan tunduk kepadaNya.Tetapi, mereka mengingatNya tidak dengan ikhtiyari. Karena Allah memberikan kepada makhluq selain menusia sebuah insting. Dalam permasalahan ini, seorang hamba terkadang cinta kepadaNya terkadang tidak. Karena cinta hamba tersebut dengan ikhtiyari. Hal ini, ketika sudah cinta kepadaNya dengan cara mendekatkan diri. Maka cinta hamba tersebut akan lebih sempurna dibandingkan dengan hewan lainnya.

Ruh dalam diri manusia berbeda dengan ruh hewan, sebab manusia pernah melakukan percakapan dengan Allah subhanahu wata'ala sebelum dia lahir ke dunia ini. Maka dari itu, manusia akan merasakan kerinduan terhadap alam sejatinya dikarenakan ada kenikmatan yaitu bertemu dengan Allah dan berkhitob (percakapan) denganNya. Hal ini. Ketika seorang hamba terlalu lama di dunia ini yang penuh dengan keruksakan, maka dia akan merasa kangeng dengan alam tersebut yaitu akhirat.

Dengan adanya seperti ini. Maka dzikir seorang hamba kepada Allah lebih baik dibandingkan dengan dzikir hewan yang tidak mempunyai aqal. Hal ini bukan saja dengan hewan tersebut, tetapi dengan malaikat yang notabennya lebih baik daripada manusia, karena dia diciptakan oleh Allah dari nur (cahaya) dan tidak mempunyai nafsu. Ini merupakan pemikiran Ahli sunnah waljama'ah.

b. Kemuliaan kedua.

Selalu ingat kepada Allah merupakan simbol cinta seorang hamba kepadaNya, karena Dia banyak menceritakan hamba tersebut dan penisbatanNya kepadanya. Ini merupakan, bahwasa Allah telah memuliakannya. Dengan menundukan semua makhluq Allah dan memberikan nikmat kepadanya.

Tetapi Allah juga menceritakan tentang seseorang yang banyak berbuat ma'siat kepadaNya. Dalam hal ini, Allah tidak memuliakan orang yang seperti ini dan juga bukan pembahasan dalam hikmah ini. Karena akhlaqnya (perbuatan) hampir sama dengan makhluq Allah selain manusia.


c. Kemuliaan ketiga.

Allah subhanahu wata'ala selalu ingat kepada hambaNya dengan firman-firman didalam Al-Qur'an dan hadist qudsiNya. Disamping itu Beliau mengungkapkan firman atau hadist tersebut dengan disandarkan DzatNya kepada hamba Nya. hal ini menunjukan bahwa Dia cinta kepadanya.

Dengan adanya hal ini, seorang hamba tidak boleh men ta'wili permasalahan ini, bahwasanya cinta Allah kepada seorang hamba akan memberi kelonggaran kepada hamba tersebut untuk masuk surga. Begitu juga dengan pen ta'wilan bahwa cinta Allah kepada hambaNya sama dengan cinta seorang hamba dengan temannya karena cinta tersebut ada unsur saling membutuhkan, hal ini, apakah Allah cinta kepada hambaNya ada unsur membuthkan ? jawabannya tidak.


B. Dalil.

a. Semua makhluq Allah yang ada di dunia ini membaca tasbih kepadaNYa, karena mereka tunduk atas perintah Nya. Seperti yang sudah difirmankan dalam Al-Qur'an :

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ (أالإسراء : 44:17)

Artinya : "Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya". (Q.S. Al-Isra' : 44)


b. Firman Allah dalam Al-Qur'an :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا (ألإسراء 17: 70)

Artinya : "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan".(Q.S. Al-Isra' : 70).

Dalam firman ini, Allah meneguhkan bahwasanya Dia telah memuliakan seorang hamba dibandingkan dengan hewan lain .

c. Firman Allah dalam surat Al-Mu'minun : 12-14

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (المؤمنون 12:23- 14)

Artinya : "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik". (Q.S. Al-Mu'minun : 12-14).

Ayat ini, disamping Allah memuliakan manusia dibandingkan dengan hewan lain. Dia juga menjadikan manusia sebagai makhluq yang paling bagus bentuk atau jasadnya.

d. Firman Allah dalam surat Al-Hajr : 49

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (الحجر 15: 49)

Artinya : "Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(Q.S. Al-Hajr : 49).

Betapa bahagia seseorang yang dipanggil oleh Allah subhanahu wata'ala dengan sebutan ‘ibadi (hambaKu), hal ini, menjadi bukti bahwa Dia sangat cinta kepada hamba tersebut.

e. Sya'ir yang disenandungkan oleh Ibnu Atho'illah As-Sakandari

ومما زادني شرافا وتيها # وكدت بأخمصي أطأ الثريّا
دخولي تحت قولك ياعبادي # وأن صيرت أحمد لي نبيّا

"Sebagian sesuatu yang bisa menambah kemuliaan dan keagungan kepadaku" # "Dan hampir saja saya bisa menginjakkan kaki saya ke bintang tsuroya".

"Yaitu saya termasuk dibawah firmanMu dengan ungkapan ya ‘ibadi" # "Dan aku memuji kepada ku sendiri seolah-olah aku menjadi sorang nabi".

Hal ini akan menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang hamba yang notabennya merupakan makhluq yang paling lemah dibandingkan dengan makhluq lainnya.

f. Hadist Qudsi

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى إِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ

Artinya : "Dari Abi hurairoh beliau pernah berkata, rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata : Allah ‘Azza wajala berfirman : "Saya berada disanding perasangka hambaKu dan saya bersamanya ketika dia mengingatKu, jika dia mengingatKu dalam dirinya maka saya akan mengingatnya dalam DzatKu, jika dia mengingatKu dalam satu golongan maka saya akan mengingatnya dalam satu golongan yang lebih bagus daripada golongan lain".

Dalam hadist ini, Allah mengingat hambaNYa ketika hamba tersebut ingat kepadaNya, hal ini menurut Ibnu Atho'illah mengandung beberapa makna, diantaranya : Seorang hamba ketika dirinya ingat kepada Allah dalam bentuk ibadah seperti apapun, maka Dia akan memberi ganjaran kepadanya tanpa memandang siapa orangnya.

Disamping itu, ketika hati dan lisan hamba tersebut selalu disibukan dengan memuji kepada Allah dan mensykuri atas nikmat yang diberikanNya dan berangan-angan atas sifat dan kekuasaanNya, maka Allah akan membalasnya dengan mencintai dan menjaganya.

C. Aplikasi

Kerinduan terhadap alam sejati yaitu akhirat seperti yang sudah diterangkan diatas, disamakan dengan anak pondok (santri) yang sebelumnya dia mengenyam pendidikan dirumahnya. Ketika dia dimasukan ke pondok pesantren, maka dia akan merasakan kerinduan terhadap kampung halamannya. Begitu juga, kerinduan tersebut akan terjadi. Ketika dia ketemu tetangganya baik satu desa ataupun daerah dan makanan khas daerahnya. Maka kesenangan yang dia miliki sangat tiada tara.

Akan halnya dengan kemuliaan kedua, bahwa Allah memuliakan seorang hamba yang diaplikasikan dengan Dia memanggil hambaNya ya ‘ibadi diadalam Al-Qur'an. Hal ini sama dengan seorang santri ketika dipanggil oleh kiyainya dengan sebutan cung, atau dengan sebutan khodamail ma'had, maka dia akan bangga sekali atas sebutan atau panggilan tersebut.

Tetapi nama Abdullah, ketika diterapkan pada zaman sekarang maka nama tersebut akan menjadi kuno dipandang orang banyak, dengan adanya seperti ini. Maka. Ketika ada orang meminta nama anaknya kepada seorang kiyai dengan nama zaman sekarang maka dia akan bangga atas pemberian nama tersebut, karena dipandang layak, berbeda dengan nama Abdullah yang kuno.

Hal ini merupakan kesalahan besar atas seorang hamba yang memberikan dan memandang sebelah mata nama tersebut, padahal nama Abdullah akan membwa kebahagiaan pada dirinya kelak diakhir qiyamat seperti yang sudah diterangkan dalam hadist nabi. Penisabtan seorang hamba kepada Allah subhanahu wata'ala sebuah kebanggana bagi makhluq Nya. Karena dengan penisbatan ini akan memberi perbedaan antara manusia dengan makhluq lainnya.

Tetapi, ketika manusia sudah diperbudak dengan hal-hal yang bersifat duniawi seperti jabatan, cinta harta dan lain-lain. Maka dia belum menjadi hamba Allah secara haqiqi, hal ini akan menjadi kebanggan, ketika hamba tersebut di puji orang lain tentang jabatannya dan harta yang dia miliki, padahala semua yang dia miliki adalah milik Allah subhanahu wata'ala.

0 komentar:

Poskan Komentar