Hikmah 11 Intropeksi diri sebelum terkenal

اد فن وجودك فى أرض الخمول

فما نبت مما لم يد فن لا يتم نتاجه

"Sembunyikanlah dirimu terhadap tanah yang jauh dari kemasyhuran, karena. Pepohonan yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam melalui proses, maka hasilnya tidak akan sempurna".



A. Penjelasan

Yang dimaksud Al-Khomul menurut bahasa ialah menjauhi dari kemasyhuran dan sebab-sebabnya, sedangkan menurut istilah menjauhi dari kemasyhuran dan aktivitas-aktivitas kesosialan serta menenangkan diri untuk menyempurnakan penegetahuan, keistimewaan tentang hal tersebut, kemudian memasukan diri dalam perjalanan pembelajaran dan pensucian diri.

Maka dari itu. Yang dikehendaki Ibnu Atho'illah dalam kalimat. (ادفن وجودك فى أرض الخمول ) ialah sebelum kamu dipandang dan terkenal dalam masyarakat dikarenakan sudah memberikan subatansi kepada mereka melalui organisasi atau lembaga-lembaga, baik dari segi kagamaan ataupun kesosialan, maka sembunyikanlah jati dirimu yang sebenarnya dihadapan mereka dan bersihkanlah hatimu dari keinginan-keingina duniawi yang bisa menjerumuskanmu, supaya aqal dan hatimu menjadi matang untuk mengahadapinya.

B. Perumpamaan

Ibnu Atho'illah menyamakan penjelasan ini dengan pepohonan, ketika benihnya ditanam dengan diletakan diatas tanah, tidak dimasukan kedalamnya, maka benih tersebut tidak akan tumbuh. Sedangkan cara untuk menumbuhkan pepohonan yaitu menanamnya dengan cara memasukan benih kedalam tanah kemudian ditinggalkan beberapa hari, minggu atau bulan, dikarenakan didalam nya terjadi proses antara tanah dan benih yang bisa menimbulkan akar atau dahan, kemudian Allah menyimpan kepada akar-akar tersebut sebuah kekuatan yang bisa menerobos keatas tanah bahkan bisa membelah bebatuan-bebatuan yang menghalanginya, supaya mendapatkan energy sinar matahari.

Dengan adanya seperti ini, maka. Pepohonan bisa tumbuh dengan sempurna dikarenakan melewati dua fase :

1. Proses didalam tanah
2. Pertumbuhan dan pemberian energy matahari

Hal ini disamakan dengan perkembangan manusia dalam proses untuk menuju jati diri seorang hamba Allah juga dibutuhkan beberapa waktu bahkan hari.

Begitu juga perumpamaan orang yang lupa terhadap resef ini, dengan seseorang yang berbicara dengan temannya didalam diskotik dengan music yang sangat keras tentang masalah yang bisa menguntungkan pada dirinya yatiu bisnis, hal ini tidak akan mungkin mendapatkan keungtungan kepadanya dalam bisnis kecuali ditempat yang tenang, karena apa yang dibicarakan temannya terhadap dirinya tidak akan bisa didengar.

C. Dalil-dalia.
a. Melalui tarbiyyah (pendidikan) Allah terhadap Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam, dengan melakukan tahannus (melakukan ‘ibadah ditempat-tempat yang sunyi), seperti yang diriwayatkan didalam kitab shoheh oleh sayyidah ‘Aisyah R.A

عن عائشة أم المؤمنين أنها قالت أول ما بدىء به رسول الله صلى الله عليه و سلم من الوحي الرؤيا الصالحة في النوم فكان لا يرى رؤيا إلا جاءت مثل فلق الصبح ثم حبب إليه الخلاء وكان يخلو بغار حراء فيتحنث فيه.

Artinya : "Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ummil Mukminin, beliau berkata : "Wahyu yang pertama kali diterima Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam yaitu dengan melalui mimpi yang bagus dalam tidur, kemudian dia tidak melihat mimpi kecuali datangnya seperti mega pada waktu shubuh, kemudian Allah memberikan rasa cinta kepadanya terhadap kesunyian dalam beribadah, dan dia melakukan kesunyian tersebut didalam Goa hiro' kemudian melakukan ibadah".

Dalam hadist ini Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam melakukan ibadah dalam kesunyian di Goa hiro' beberapa malam secara terus menerus, hal ini termasuk perbuatan yang mendasar dalam membangun tujuan yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata'ala.

b. Hadist nabi yang diriwayatkan oleh ‘Uqbah Bin ‘Amir

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ « أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ ».

Artinya : "Dari ‘Uqbah bin ‘Amir beliau berrkata : Saya pernah berkata : "Wahai Rasulallah, apa keselamatan itu ? beliau berkata : "Jagalah lisanmu yang akan menjerumuskanmu dan luaskanlah rumahmu dan bersedihlah atas kesalahanmu".

Hadist ini termasuk metode Rasulallah dalam menjalankan tugas yang diperintahkan Allah subhanahu wata'ala, dan akibat dari mengamalkan hadist ini ialah kemewahan-kemewahan dunia akan hilang sedikit demi sedikit dari perasaan seseorang yang menginginkannya.

c. Tsuri tauladan ‘ulama-ulama terdahulu.

D. Kebutuhan-kebutuhan dalam beraktivitas dimasyarakat.

Ada bebrapa kebutuhan yang harus dimiliki dalam beraktivitas dimasyarakat
Diantaranya :

1. Ilmu.

Ilmu merupaka begian besar yang terpenting dalam bermasyarakat, karena dengannya sebuah masyarakat akan menjadi harmonis, maka dari itu. Seseorang tidak akan bisa menjadikan sebuah masyarakat yang harmonis tanpa ilmu.

2. Membersihkan diri (nafsu).

Seperti yang sudah kita ketahui bahwasanya nafsu selalu menyuruh kepada hal-hal yang jelak, seperti menginginkan pangkat yang lebih tinggi, dipuji orang, kenikmatan dengan mengumpulkan harta, tidak akan ada obat yang bisa menyelamatkan bahaya-bahaya ini, kecuali dengan mengikuti metode ini yaitu membersihkan diri (nafsu).

3. Mensucikan hati dari keinginan-keinginan yang bersifat duniawi.

Seperti cinta terhadap harta, pangkat, istri, anak atau benda-benda yang bisa melupakan kepada Allah. Maka dari itu, seseorang dituntut untuk mensucikan hati dari keinginan-keinginan tersebut.

Tiga tujuan ini Tidak akan bisa terlaksana kecuali merendahkan diri dengan malakukan kholwah (menyendiri) yang hanya sementara, dengan adanya kholwah ini, seseorang bias mengetahui jati dirinya sendiri dengan mengakui bahwa dia adalah seorang hamba yang dimiliki Allah subhanahu wata'ala, dan menjalankan pengetahuan ini dengan metode dzikir kepada Allah, dengan adanya seperti itu. Maka dia akan merasa bahwa dirinya selalu paling rendah dihadapan orang banyak. Sedikit demi sedikit akan terlihat juga dihadapannya hakikat wujud dunia yaitu lebih rendah dan kecil di bandingkan dengan hubungan hati kepada Allah, dan akan bersih juga nafsu tersebut dari kemewahan-kemewahan bersifat duniawi.

E. Aplikasi

Setelah kita mengetahui tentang keterangan diatas , maka hal itu sudah sering terjadi di masyarakat. Ketika seseorang yang sudah menjadi penggerak, penasihat, amar ma'rup nahi mungkar, dimasyarakat kemudian dia dikagetkan dengan mendapatkan derajat / kehormatan dalam masyarakat tersebut. Maka kalau dia tidak mempunyai penawar seperti diatas, maka penyakit yang bersifat keduniawian tersebut akan menimpanya seperti riya', ‘ujub dan lain-lain.

Diriwayatkan bahwa, dalam suatu majelis yang dipimpin oleh ayahku ada sebagian dari mereka yang bertanya kepadanya dengan berkata : "wahai guruku bagaimana cara untuk bisa menyelamatkan dari riya' ? kemudian beliau terseyum dengan rasa heran dan berkata kepadanya : apakah ditemukan seseorang selain Allah yang pantas untuk dipamerkan amalmu kepadanya ?

seandainya orang yang melakukan amal dengan riya' ketika dia menemukan pengganti dari Allah subhanhau wata'ala atas amalnya, maka siapakah pengganti tersebut dan dimana dia berada ? sesungguhnya orang yang mengetahui makna taauhid yang sebenarnya dari lafadz
( لا حول ولا قوّة إلا بالله ). Maka, tidak ada riya' dalam hatinya dan perasaannya.

Disamping itu juga, banyak sekali orang-orang yang baru terjun di masyarakat langsung tampil sebagai penceramah, pansihat, dan penggerak tetapi apa yang dia katakana atau lakukan sangat fatal dalam malaksanakannya, dikarenakan segala sesuatu yang dia kerjakan tidak didasari dengan pemahaman terhadap situasi dan kondisi, hal ini tidak akan bisa berjalan kecuali dengan adanya khomul pada dirinya.

Seperti diceritakan oleh Sa'id Romadlon, bahwa ada sekelompok pemuda yang berkunjung kepadanya, mereka sudah terbiasa beraktivitas diorganisasi kemasyarakatan mereka selalu mengajak ‘amar ma'rup nahi mungkar kepada masyarakat dengan cara berda'wah, tanpa melewati ketentuan-ketentuan yang sudah diungkapkan oleh Ibnu Atho'illah. Ketika keadaan sedang tenang, salah satu dari mereka berkata kepadaku dengan gaya seperti penasihat, dia termasuk yang paling muda, kemudian dia melontarkan firman Allah subhanahu wata'ala yaitu :

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ (هود : 113)

Dia membaca lafadz (تمسكم) dengan dibaca dlomah mimnya, bacaan tersebut terus diulangi lagi tanpa mengetahui ada kesalahan, saya berkata kepadanya : "Ayat tersebut seperti yang ada didalam Al-Qur'an yaitu dibaca fathah, ulangi dan benarkanlah bacaanmu. Pemuda tersebut terus berusaha membenarkan bacaannya tapi tidak ada hasilnya. Kemudian saya berkata kepadanya : Hai, sesungguhnya kamu telah kebujuk yang menyebabkan kamu tergesa-gesa untuk menjadi seorang penasihat, da'i, ya kalau seandainya kamu kebujuknya dengan mempelajari al-Qur'an dulu ?.

0 komentar:

Poskan Komentar