HIKMAH KE-30 ARTI SHODAQOH BAGI "AL WAASHILUN" DAN "AS SAAIRUN"

( لينفق ذو سعة من سعته ) هم الواصلون إليه , ( ومن قدر عليه رزقه

فلينفق مما أتاه الله ) السائرون إليه

Artinya : " (Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.QS.Ath Thalaq:7) merekalah orang-orang yang telah sampai kepada Allah. ( Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya QS.Ath Thalaq:7) merekalah orang-orang yang masih menempuh perjalanan menuju kepadaNya.

Haliyah orang-orang yang wushul kepada Allah yang telah ma'rifat / kenal dengan Allah dengan tanpa membutuhkan suatu dalil dari makhluqnya, mereka itu seperti apa yang telah difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta'ala :

.لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ



Artinya : " Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.(QS.Ath Thalaq:7)

Karena rasa syukur kepada Allah dan tahu akan anugerah yang diberikan olehnya kepada mereka, bentuk infaq yang diperintahkan disini bisa terealisasikan dalam bentuk syukur yang direflesikan dengan selalu menegakan haq-haq Allah, termasuk dari pentingnya haq-haq Allah adalah da'wah dan suatu ‘amal yang bisa menumbuhkan rasa mahabbah kepada Allah didalam hati, sungguh benar firman Allah :

وَمَنْ اَحْسَنَ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآإِلَى الله وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(QS. Fushshilat : 33)

Adapun orang -orang yang masih berjalan menuju Allah mereka masih berusaha keras untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang melekat pada dirinya. Kesibukan duniawi maupun kesenangan nafsu yang makan bakteri-bakteri kesenangan tersebut bisa menjauhkan mereka dari Allah dan bisa menjadikan mereka butuh menempuh perjalanan panjang dan menepis semua rintangan untuk berjalan menujuNya, dan juga kotoran-kotoran tersebut bisa membangkitkan mereka untuk mencari dalil-dalil kauniyyah (makhluq) yang menunjukan kepadaNya. Maka mereka ini sebagaimana tergambarkan didalam Al-Qur'an. :

وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَآاَتَاهُ الله

Artinya : Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya ( QS.AtThalaq:7)

Infaq juga bisa digambarkan dengan syukur kepada Allah atas taufiq yang diberikan kepada mereka di dalam memerangi hawa nafsu dan menghilangkan debu-debu yang mengotori qolbu dan kesibukan duniawi. Berusaha merupakan kesusahan untuk bisa menuju perjalanan yang masih samar antara mereka dan Allah dengan mengetahui ayat-ayat kauniyyah yang berbicara tentang wujudnya Allah dan menyaksikan atas keesaan Allah dan menerangkan tentang besar sifat-sifat Allah.

Bahwa pada awal perjalanannya dua golongan ini sudah berbeda, maka sesungguhnya mereka kelak akan bertemu dengan kenikmatan ma'rifat kepada Allah, walaupun salah satu di antara mereka tertinggal dari yang lain dalam hal wushul kepadaNya, sebagaimana keduanya juga akan bertemu pada khitob yang ditujukan kepada mereka dari Allah Swt. Dialah Dzat yang memerintahkan kepada mereka untuk berinfaq yaitu yang memerintahkan kepada mereka untuk bersyukur atas nikmat yang berharga yang dititipkan oleh Allah kepada mereka berupa kenikamatan ma'rifat pada dzatNya dan penglihatan hati atas sifat-sifat ketuhanan dan kekuasaanNya yang agung.

Apakah di dalam kenikmatan-kenikmatan dunia itu ada nikmat yang lebih besar dan lebih abadi dari pada Allah memuliakan kamu dengan ma'rifat kepadaNya dan mencicipkan kamu kelezatan (rasa enak) dekat dariNya dan cinta kepadaNya?

Baik itu Allah memberikan kema'rifatan kepadamu atas dzatNya yang tinggi atau Allah memberangkatkanmu sampai pada penghujung yang dibersihkan dari keruksakan yang ada di dunia ini, maka anugerah dan pemberian Allah itu bisa konsisten dan melekat kepadamu. Dengan dasar itulah, syukur yang hakiki itu hukumnya wajib.

Hikmah ini mengingatkan kepada saya dengan perkataan yang diambil dari orang barat yang ‘alim, namanya baskal beliau berkata : Umat manusia yang beruntung itu ada dua golongan. Pertama, adalah golongan yang diberi kema'rifatan oleh Allah dan mereka selalu berusaha keras untuk menuju jalan yang diridhoiNya. Kedua, adalah golongan yang bersungguh-sungguh dalam mencari Allah. Sedangkan umat manusia yang celaka adalah orang-orang yang tidak tahu tentang Allah dan tidak mau bersungguh-sungguh dalam mencariNya.

Semoga Allah Yang Maha Esa selalu menemanimu untuk menunjukan pada jalan yang benar dan menjauhkanmu dari penyimpangan. Sekarang kamu telah sampai pada sesuatu yang kamu inginkan dengan selamat, tetaplah bersyukur atas dalil kemudian tinggalkan dan lewatkanlah supaya kamu bisa meraih apa yang kamu inginkan secara keseluruhan yang telah lama kamu nanti-nantikan dan kamu dambakan.

Beberapa dalil ilmiah yang kamu lakukan sungguh telah membantumu menuju area keyakinan. Maka sekarang hiduplah bersama area tersebut, dan janganlah kau kotori beningnya keyakinanmu di dalamnya dengan kembali pada dalil-dalil dan silogisme yang bisa menarik kembali tanpa ada kebutuhan. Sungguh kamu tidak tahu kapan datangnya maut secara tiba-tiba. Dan jika maut datang menyerangmu sedangkan kamu sibuk dengan dalil-dalil dan mencari tambahannya, maka kelak hal tersebut akan menyibukanmu dari tarjet/tujuan yang mana kehidupanmu telah kamu infaqkan untuk sampai kepadaNya dan mencari kedekatan denganNya dalam kehidupan yang sebentar ini yang mana kamu telah meninnggalkan kedua tanganmu dari dunia untuk menghadap kepada Allah.

0 komentar:

Poskan Komentar