HIKMAH 65 : NIKMAT ATAU ISTIDRAJ

string(204) "Smarty error: [in evaluated template line 3]: syntax error: unrecognized tag: سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (Smarty_Compiler.class.php, line 446)" string(117) "Smarty error: [in evaluated template line 3]: syntax error: unrecognized tag '' (Smarty_Compiler.class.php, line 590)"



خف من وجود إحسانه إليك ودوام إساءتك معه أن يكون ذلك استدراجاً لك

"Takutlah bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau tetap berbuat maksiat kepada-Nya akan menjadi istidraj bagimu. Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui"



Ibnu Athaillah memberi pengertian bahwa suatu ketika walaupun kita maksiat kepada Allah tapi terkadang Allah masih bersifat baik, memberi nikmat kepada kita. Namun perlu diketahui bahwa ini adalah istidraj dari Allah. Terkadang ada orang yang tidak pernah bersyukur tapi masih diberi nikmat maka tidak lain ini adalah istidraj. Sebagaimana firman Allah :



فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (44) [القلم/44]



44. Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan Ini (Al Quran). nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,





Allah membiarkan orang-orang kafir hidup dalam kenikmatan tapi besok di hari kiamat mereka akan disiksa. Oleh karena itu jika kita diberi nikmat, harus takut dan hati-hati kemungkinan ini adalah istidraj. Kita harus berfikir apa kita sudah bersyukur dan beramal baik. Kalau kita mau berfikir, pasti kita akan berbuat baik dan tidak berani maksiat. Ada orang mengira bahwa dia telah bersyukur dan telah beramal (zakat, sholat, shodaqah) oleh karena itu orang ini beranggapan bahwa karena amalnyalah dia diberi nikmat. Ini adalah orang yang hatinya telah keras. Dia telah berfikir bahwa semua mahluk adalah lemah dan tidak mempunyai kekuatan apapun.



Sayyidina Umar menerima ghonimah di Madinah lalu dia berkata : "demi Allah, Allah tidak memberi harta yang banyak kepadaku (yang belum pernah diberikan pada nabi dan Abu Bakar) adalah suatu kebaikan. Ini adalah istidraj dari Allah" walaupun kita tidak sederajat dengan sayyidina Umar, namun kita bisa mengetahui istidraj dengan tanda-tanda.



Orang yang mau bekerja lalu diberi nikmat dan digunakan untuk amal sholeh maka ini bukanlah istidraj. Ada orang bekerja lalu mendapat keuntungan, dia berpendapat bahwa itu semua adalah hasil kerjanya. Maka ini adalah istidraj. Allah membiarkannya agar hidup dalam kegelapan sebagaimana firman Allah :



فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (44) [الأنعام/44]



44. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.





Orang yang seperti ini malah diberi kenikmatan yang banyak. Mereka hidup dalam keenakan. Namun akhirnya dia akan mendapat siksa dari Allah karena telah lupa dengan nikmatnya. Sebagaimana Qarun dia adalah orang yang telah diberi kenikmatan yang tidak ada batasnya. Setiap orang ingin seperti dia, tapi dia adalah orang yang lupa kepada Allah sehingga akhirnya ditenggelamkan dalam bumi dengan semua hartanya. Dalam Al-Qur'an telah dijelaskan :



فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (79) وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ (80) فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81 [القصص/79-81]



79. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya[1139]. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang Telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".

80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar".

81. Maka kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

[1139] menurut mufassir: Karun ke luar dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan pengawal, hamba sahaya dan inang pengasuh untuk memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya.



Fir'aun adalah contoh lain yang juga dirusak oleh Allah, bangsa rum juga dihancurkan. Lalu kenapa orang kafir selalu menang dan orang islam kalah ? (أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً)



Ini semua karena orang islam sudah tidak seperti dalam firman Allah. Kita bukan orang islam yang benar-benar islam. Allah benar-benar akan menolong kalau kita adalah orang yang benar islam dan beriman. Kita di Indonesia ini banyak yang menentang berlakunya syari'at islam. Dalam Al-Qur'an telah dijelaskan :



إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ (51) [غافر/51]



51. Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),





Seharusnya orang islam adalah yang menjadi pemimpin tapi banyak orang yang tidak menjadi pemimpin dengan baik. Oleh karena itu Allah memberikan kepemimpinan pada orang kafir. Jika orang islam sudah tidak mau menerima amanat dari Allah, maka amanat tersebut akan diberikan kepada orang lain sebagaimana orang yahudi yang dulu dihancurkan orang majusi (bukhtanasar). Sa'ad Ibnu Ubadah diberi nasehat oleh sayyidina Umar "jangan sampai tentara islam maksiat kepada Allah, saya tidak takut pada tentara musuh tapi saya lebih takut pada orang islam kalau maksiat kepada Allah".



Memang benar orang islam sekarang ini kalah, tapi bukan berarti orang kafir menang. Ini hanyalah tauliyyah agar orang islam ingat dan kembali pada jalan Allah. Dalam surat Al-An'am ayat 129 telah dijelaskan :



وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (129) [الأنعام/129]



129. Dan Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.





Dalam hadits nabi juga disebutkan :



عن ابن عمر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إذا تبايعتم بالعينة واخذتم اذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم



السنن الكبرى للبيهقي - (ج 5 / ص 316)



Oleh karena itu kita harus kembali dan ingat pada hikmah Ibnu Athaillah Takutlah bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau tetap berbuat maksiat kepada-Nya akan menjadi istidraj bagimu.

0 komentar:

Poskan Komentar