HIKMAH 61 : JANGAN BERANGAN-ANGAN

ما قادك شيء مثل الوهم



"Tiada sesuatu yang menuntunmu seperti angan-angan"





Semua manusia pasti sangat suka jika memiliki jabatan, harta yang banyak, dan dipuji oleh masyarakat. Semua bisa terjadi karena adanya Waham (menghayal bahwa semua itu bisa diperoleh). Manusia berangan-angan bahwa dia memiliki kekuatan sehingga dia bisa berhasil, kaya, pandai, alim, dan sebagainya. Keinginan semacam ini, penyebabnya tak lain adalah waham. Dan untuk menghilangkannya kita harus meyakini bahwa Allah lah dzat yang bisa memberi kemanfaatan dan kemadlorotan.





Kita bisa belajar di pondok adalah suatu keistimewaan karena kita bisa tahu aqidah yang benar, tata cara shalat yang benar, dan muamalah yang sah. Kalau ada seorang teman yang memberi waham bahwa jika kita telah selesai dalam belajar di pondok dan telah kembali ke daerah kita, dan akhirnya kita tidak bisa mendapatkan rizki karena kita tidak memiliki keahlian dalam bekerja, maka kita harus meyakini bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang menuntut ilmu secara ihlas. Kita harus meyakini bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu, dan untuk itu kita harus mencari ilmu tersebut semata-mata karena Allah. Kita tidak boleh memiliki tujuan duniawi dalam mencari ilmu seperti ingin menjadi ulama', ingin agar dihormati oleh masyarakat, dan sebagainya. Jadi kita harus belajar dan mencari ilmu murni karena mencari ridlo Allah.





Dewasa ini banyak sekali muslim yang hidup di negara barat seperti Amerika, Eropa, Jepang, dan lainnya. Tujuan mereka tak lain adalah untuk mencari uang (bekerja). Misalnya bekerja di supermarket yang pasti akan menjual barang-barang yang diharamkan oleh syari'at islam. Hukum bekerja di sini adalah haram. Dan tentunya hidup di negara barat pasti sangat sulit untuk melakukan ibadah sehingga akhirya dia akan jauh dari Allah. Begitu juga orang yang bekerja di sebuah bank, hukumnya adalah haram karena di dalamnya terdapat unsur-unsur riba yang dilarang oleh syara'. Namun ada sebagian ulama' yang mengatakan bahwa semua pekerjaan tersebut tidak apa-apa, melihat zaman sekarang yang sangat sulit dan agama islam adalah agama yang mudah. Semua ini tak lain adalah karena ada waham (angan-angan yang ingin diwujudkan).





Zaman sekarang juga banyak sekali perempuan yang telah memakai jilbab. Namun di sisi lain banyak orang yang berasumsi bahwa mereka yang memakai jilbab tidak akan disukai oleh orang (laki-laki) karena tidak menampakkan rambut yang merupakan mahkota kepala. Hal ini tak lain adalah waham yang harus kita hindari. Kita harus berpikir lebih realistis bahwa belum tentu perempuan yang berjilbab itu tidak cepat dalam menikah (disukai laki-laki), justru telah banyak perempuan berjilbab yang telah menikah dan hidup bahagia.





Ada juga orang yang memiliki banyak uang dan telah berkewajiban menunaikan zakat sampai milyaran atau ratusan juta. Dia pun berasumsi bahwa jika dia tidak membayar zakat maka dia akan cepat kaya, tapi kalau dia mengeluarkan zakat maka uangnya akan habis. Ini tak lain adalah waham yang sangat salah. Kita harus ingat kepada hadits nabi :



حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ



عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ



صحيح مسلم - (ج 12 / ص 474)



Artinya : "Rasulullah saw telah bersabda : shodaqoh itu tidak akan mengurangi harta sedikit pun, Allah tidak akan menambah seorang hamba yang pemaaf kecuali tambahnya kemulyaan, dan seseorang tidak tawadlu' kepada Allah kecuali Allah akan mengangkatnya"



Dan dalam Al-Qu'an surat Al-Baqarah : 245 juga telah dijelaskan :





مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (245) [البقرة/245]



245. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.







Syaikh Ramdlan Al-Buthi pernah diwasiati oleh ayahnya bahwa jalan yang bisa menunjukkannya kepada Allah hanyalah ilmu. Oleh karena itu beliau harus mencari ilmu hanya karena Allah dan jangan karena ijazah. Kita tidak boleh berpikir bahwa kalau kita tidak memiliki ijazah maka kita tidak bisa bekerja. Kita harus mencari ilmu agar kebodohan pada diri kita bisa hilang. Banyak orang yang berilmu namun dia tidak digunakan dan diakui di masyarakat. Hal ini tak lain karena tujuan dalam mencari ilmu sudah salah yaitu mengharapkan kenikmatan duniawi semata. Setelah Syaikh Ramdlan Al-Buthi mondok, beliau pasrah kepada Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang berilmu dan kita harus menerima apa yang diberikan oleh Allah. Syaikh Ramdlan pun tak lupa untuk selalu berdo'a, membaca surat yasin, dan wirid-wirid tiap pagi dan sore. Akhirnya dia menjadi ulama' yang besar. Ijazah beliau yang dari pondokan juga bisa diterima sehingga bisa melanjutkan sekolah dan mendapatkan gelar doktor. Beliau pun sudah tidak lagi memikirkan pekerjaan karena beliau telah diberi rizki yang tidak disangka-sangka. Inilah yang telah dijelaskan oleh Allah dalam surat At-Talaq ayat 3 :



وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3) [الطلاق/3]



3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

0 komentar:

Poskan Komentar