HIKMAH 117 KHUSUSIYAH SHOLAT

الصلاة محل المناجاة ومعدن المصافاة تتسع فيها ميادين الأسرار وتشرق فيها شوارق الأنوار علم وجود الضعف منك فقلل أعدادها وعلم احتياجك إلى فضله وكثر أمدادها

Artinya : " Sholat merupakan tempat untuk munajat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, tempat penyelesaian masalah, yang didalamnya terhampar luas rahasia-rahasia yang tersimpan dan memancarkan beberapa nur/cahaya, Ia mengetahui kelemahanmu sehingga Ia menyedikitkan bilangan sholat, dan Ia mengetahui kamu sangat butuh anugerah Allah maka Ia memperbanyak isi/kandungan dari pada sholat tersebut ".

Hikmah ini mengutarakan beberapa kekhususan-kekhususan sholat yang tersendiri dibanding ibadah lainnya, diantaranya adalah sholat merupakan tempat untuk munajat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, nilai kekhususannya adalah ketika sholat, seorang hamba bisa bermunajat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala yang mempunyai arti musyarokah (khitobnya orang yang sholat kepada Allah tidak dari satu arah), artinya ketika ia sedang menghadap kepada Allah dengan tauhid, tahmid dan do'a yang terdapat didalam sholat, Allah juga menghadap kepadanya dengan artian menjawab dan mengabulkan permintaan hamba-Nya maka dari itu munajat lewat sholat mempunyai kekhususan tersendiri.
Kekhususan kedua yang terkandung didalam Sholat adalah sholat merupakan tempat untuk menyelesaikan permasalahan. Artinya seorang hamba ketika menghadap kepada Allah, didalam sholat ia bisa memohon ampunan atas kekhilafan yang telah dilakukan, menyatakan taubat, dan berniat untuk tidak kembali melakukan kesalahan yang telah lewat, kemudian Allah mengijabahinya dan melebur dosa-dosanya. Ini berdasarkan kaidah حقوق الله مبنية على المسامحة" :" ( haq-haq Allah itu berlandaskan atas kemurahan ), berbeda dengan haq-haqnya hamba yang mempunyai kaidah : " حقوق العباد مبنية على المشاحّة " ( haq-haq hamba itu berlandaskan atas pertentangan ).
Adapun kekhususan ketiga bahwsanya sholat itu diserupakan dengan hamparan yang luas yang mana rahasia-rahasia langit dan cahaya-cahaya ilahiyah bisa memenuhi dan meliputi hati orang yang sholat dengan memenuhi adab dhohir maupun bathin. Karena setiap insan ketika berada diluar sholat ia sering disibukkan dengan banyaknya faktor-faktor yang menjadikan ia lupa kepada Allah dan semakin tebalnya hijab antara hamba dan Robbnya. Akan tetapi ketika ia hendak menjalankan sholat kemudian menghadap kiblat, mengucapkan takbir dan mulai bermunajat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala lewat bacaan-bacaan sholat, maka Allah akan menghadap kepadanya dengan artian nur/cahaya dan rohmat Allah akan turun dan meliputi hati orang yang sholat dengan khusyu' sehingga bisa mengingatkannya kepada janji yang telah lalu dan telah diikrarkan ketika masih dialam arwah yang mana Allah mengkhitobinya dengan firmannya :

وإذ أخذ ربك من بني ءادم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على أنفسهم ألست بربّكمصلىقالوا بلى شهدنا ¡ أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين (الأعراف : 172)

Artinya : " Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan) " (Al A'rof : 172).

Fitrohnya setiap insan setiap melakukan ibadah itu merasa senang dan nikmat serta rindu kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Namun orang yang tidak bisa merasakan hal seperti itu berarti ia tidak bisa memahami hakikat dari pada hidup dan tidak ingat akan janjinya pada Allah ketika masih dalam arwah sebagaimana ayat diatas.
Kemudian Ibnu 'Athoillah menerangkan sesuatu yang bisa menunjukan dan menerangkan kasih sayangnya Allah, luasnya anugrah dan rohmat yang diberikan kepada mereka yaitu sesungguhnya Allah senang memuliakan hamba-Nya dengan menyuguhi mereka suatu suguhan (sholat) akan tetapi Allah mengetahui kelemahan hamba-Nya apabila sholat lima puluh kali diwajibkan pada mereka di setiap harinya, maka dari itu Ia hanya membebani mereka dengan seperpuluhnya (1/10) yaitu lima kali dalam setiap harinya. Kemudian ketika Allah mengetahui sangat butuhnya mereka kepada rohmat, ampunan dan anugrah Allah Subhanahu wa ta'ala, maka Allah meringankan beban mereka dengan sholat lima waktu tadi dengan tidak mengurangi pahalanya. Ini adalah kandungan hikmah yang di sampaikan oleh Ibnu 'Athoillah " علم وجود الضعف منك فقلّل أعدادها وعلم احتياجك إلى فضله فكثّر أمدادها"
Kalau kita menengok kembali sejarah, sudah ada tauladan dari kumpulnya para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam yang menjalankan sholat jama'ah sebelum akhir hayatnya beliau Shallallahu'alaihi wa sallam, ketika itu, beliau sedang dalam keadaan sakit, namun sebelum menghadap sang Ilahi beliau menghendaki sesuatu supaya jiwanya tentram, kemudian Allah Subhanahu wa ta'ala memperlihatkan beliau sesuatu yang menyenangkannya (melihat para sahabat sedang jama'ah) sehingga pandangan terakhir ini bisa menyirnakan sakitnya sakarotulmaut. Inilah hikmah Allah Subhanahu wa ta'ala yang menjadikan janji terakhhir yaitu sholat, maka dari itu hendaknya hamba Allah harus memenuhi janji ini, janji yang ditinggalkan oleh Rasullah Shallallahu'alaihi wa sallam sedang ia ridho dengannya. Wallahu a'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar