HIKMAH 55 : CAHAYA HATI

الأنوار مطايا القلوب والأسرار



"Cahaya adalah kendaraan hati dan rahasia-rahasia"





Allah memberi Al-Warid lewat نور dan menuju hati agar bisa dekat kepada Allah. Hati adalah suatu organ tubuh yang berisi perasaan-perasaaan yang mendorong pada kebaikan dan mencegah maksiat. Hati dibuat Allah agar manusia cinta kepada-Nya. Namun ketika manusia sibuk dengan dunia yang notabene melalaikan manusia dari Allah maka dia disebut قطاع الطريق (pemberontak). Dia seperti perampok yang menghadang di jalan dan agar selamat dari dari perampok tersebut, maka hati harus ingat dan menghayati firman Allah dalam surat Al-Imran : 14:





زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ (14) [آل عمران/14]



14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

[186] yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.





Kesenangan-kesenangan duniawi telah merampok hati sehingga lalai kepada Allah. Akhirnya hati hanya mengurusi keindahan dunia. Hakikat dari semua keindahan adalah Allah karena dialah yang menciptakan segala sesuatu. Setelah manusia diberi Al-Warid oleh Allah maka manusia akan tahu bahwa semua itu datangnya adalah dari Allah swt.



Inilah yang dikehendaki oleh Rasulullah saw kepada sahabat Abu Harits Al-Anshari. Rasulullah bersabda :



عبد نور الله قلبه



"Abu Harits adalah hamba yang telah disinari hatinya oleh Allah"





Jadi nur (cahaya Allah) adalah kendaraan hati. Seseorang ingin menuju Jakarta maka dia membutuhkan kendaraan. Begitu juga dengan hamba yang ingin menuju kepada Allah, maka dia juga membutuhkan kendaraan yaitu nur (cahaya).





Pada zaman dahulu sebenarnya manusia telah berkomunikasi dengan Allah yaitu pada zaman azali. Namun manusia tidak menyadarinya karena peristiwa tersebut terjadi pada alam arwah. Inilah yang telah dijelaskan Allah dalam surat Al-A'raf : 172



وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172) [الأعراف/172]



172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)",





Oleh karena itu manusia harus senantiasa berusaha agar bisa mendapatkan nur Allah sehingga mampu menuju makam ma'rifat dan wushul kepada Allah. Dan yang paling penting adalah selalu ingat pada hikmah Ibnu Athaillah yang mengatakan bahwa "Cahaya adalah kendaraan hati dan rahasia-rahasia"

0 komentar:

Poskan Komentar