HIKMAH 12 ‘Uzlah merupakan fase yang pertama dalam bersosial

مانفع القلب مثل عزلة يدخل بها ميدان فكرة
"Segala sesuatu yang bisa bermanfa'at dalam hati seperti ‘uzlah, akan masuk didalamnya lapangan pemikiran".


A. Penjelasan

Keterkaitan hikmah ini dengan hikmah sebelumnya sangat erat sekali, karena ketika dikumpulkan, maka akan ada kesempurnaan pada seorang hamba dalam mengamalkan Hikmah ini, tetapi kalau dipandang dari depinisi masing-masing, maka akan ada perbedaan diantara keduanya. Dalam hikmah sebelumnya, ketika seseorang ingin mengetahui jati dirinya maka dia harus melewati tingkatan khomul, berbeda dengan hikmah disini menyendiri dalam kesunyian, hening tanpa ada seorangpun merupakan tingkatan yang harus dilewatinya. Hal ini oleh Ibnu atho'illah disebut dengan ‘uzlah.

Dalam hal ini ada perbedaan antara ‘Uzlah dan Khomul. ‘Uzlah adalah tidak ada seorangpun yang menemaninya dalam kesunyian, sedangkan Khomul ialah menjauhkan diri dari keinginan yang bersifat duniawi walaupun dalam keadaan bermasyarakat. Maka dari itu ‘uzlah lebih khusus dari pada khomul. Ketika keduanya dikumpulkan maka akan terealisasi pula kesempurnaan.

Kata Al-Qolbu mempunyai dua ma'na (arti) yaitu : ‘Aqal dan segumpalan darah yang berada dibelakang tulang dada manusia yang sebelah kiri. Tetapi yang dimaksud Al-Qolbu disini ialah perasaan-perasaaan yang lembut seperti rasa cinta, takut, mengagungkan. Ini, menurut Ibnu Atho'illah bukanlah makna yang majazi tetapi makna yang haqiqi.

Disamping itu, kata Al-‘Uzlah juga menjadi pembahasan pada hikmah disini, lapadz tersebut menurut Ibnu Atho'illah merupakan isim nakiroh dikarenaka tidak memakai alif lam, dengan adanya seprti ini, maka lapadz tersebut menunjukan adanya makna sedikit,ketika Ibnu Atho'llah berkata : seperti hikmah diatas, maka yang dikehendaki oleh beliau yaitu sesuatu dari ‘uzlah.

Kalau dilihat dari arti kata Al-‘uzlah sendiri. Maka, arti tersebut bertentangan dengan fitroh manusia yatiu makhluq hidup yang bersosial. Maka dari itu, Ibnu Atho'illah memakai lapadz tersebut dengan berupa isim nakiroh.

‘Uzlah yang disunahkan oleh islam dan diingatkan oleh Ibnu Atho'illah ialah adanya hal tersebut tempat untuk berangan-angan dan berfikir yang bisa memberikan faidah kepada manusia dan mendekatkan diri pada Allah.

Fikr adalah menyibukan dengan urusan yang bisa mengetahui dirinya sendiri dan mengakui bahwa dirinya seorang hamba yang dimiliki Allah subhanahu wata'ala, kalau sudah seperti ini maka tidak lama kemudian, akan mencapai pada taqorub kepada Allah kemudian mempunyai rasa mahabbah kepada Allah.

B. Perumpamaan

Dalam menemukan jati diri, ‘Uzlah merupakan fase yang pertama, kemudian diteruskan dengan bertafakur, kedua-duanya diibaratkan demam dan obatnya yang dinisbatkan kepada orang sakit.

Seorang dokter menasihatinya, pertama yang ditanyai adalah tentang masalah demam yang dialaminya, dokter tersebut menyarankan kepadanya supaya menjauhi makanan-makanan yang membahayakan terhadap demam tersebut, kemudian dia memberikan obat penawar demam tersebut untuk diminum, kedua-duanya antara obat dan demam yang dialaminya saling berkaitan, ketika obatnya tidak diminum atau meminum tapi tidak demam maka obat tersebut tidak akan memberikan faidah kepadanya.

Hal ini juga sama dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Atho'illah dalam hikmah ini, karena ‘Uzlah dengan tanpa bertafakur akan membahayakan pada diri manusia, seperti yang sudah dikatakan diatas.

C. Dalil

a. Firman Allah dalam surat As-saba' ayat 46

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ ( سبأ : 46)

Artinya : Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Q.S : As-saba' : 46)

Ayat ini menunjukan bahwa, menyendiri tidak ada seorangpun yang menemaninya kecuali Allah subhanahu wata'ala dan berfikir tentang makhluq Allah itu merupakan suatu pertanda bahwasanya hamba tersebut sudah bias melaksanakan ‘uzlah sebagaimana yang sudah diterangkan pada hikmah disini.

Disamping itu, ayat tersebut juga menerangkan bahwasanya dalam permasalahan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam dan tanda-tanda kenabiannya menunjukan bahwa beliau adalah seorang rasul, ini juga merupakan pemikiran atas orang-orang yang melakukan ‘uzlah seperti diatas.

b. Hadist nabi

عقبة بن عامر - رضي الله عنه - قال : قلت: « يا رسول الله ! ما النجاة ؟ قال: أَمْسِكْ عليك لِسانَكَ ، ولْيَسَعْكَ بَيْتُكَ. وابْكِ على خطيئتك ». أخرجه الترمذي

Artinya : ‘Aqobah bin ‘Amir RA, beliau berkata : saya pernah berkata : ya Rasulallah ! apa keselamatan itu ? beliau menjawab : jagalah lisanmu, jembarkanlah rumahmu, dan nangislah atas kesalahanmu. (diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi )

Dalam hadist tersebut Rasulallah menyuruh kepada umatnya bahwa keselamatan itu bias terlaksanakan pada orang yang melaksanakan Khomul atapun ‘Uzlah, karena keduanya ada anjuran untuk melaksanakan seperti hadist diatas.

c. Metode praktek yang sudah disampaikan oleh Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam.

D. Aplikasi

Dalam melakukan ‘uzlah diwajibkan kepadanya untuk mengisi dengan hal-hal yang positif, seperti membaca Al-Qur'an, bertafakur terhadap suasana yang ada, bahkan terhadap diri kita sendiri seperti siapakah saya ? kalau sudah melakukan hal seperti ini, maka akan tertancap dalam diri kita, rasa mahabbah kepada Allah subhanahu wata'ala.

Dalam hal ini Rasulallah juga melaksanaknnya setiap malam bukan hanya di Go'a hiro' saja tetapi didalam rumah juga beliau sering melaksanakannya dengan melakukan shalat, bermunajat kepada Allah dan seuatu yang berhubungan dengan ibadah.

Kenapa kholwah atau ‘Uzlah dilakukan pada malam hari seperti yang dilakukan oleh Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam ? malam hari merupakan waktu yang tepat untuk merenungkan sesuatu yang bisa mengubah diri seseorang , dikarenakan sunyi, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang diri kita, begitu juga dengan kesusahan-kesusahan yang menimpa pada diri seseorang akan hilang seketika, hal ini bisa terjadi ketika keadaan sudah bangun tidur. Maka dari itu, sebagian ulama mengatakan seseorang tidak bisa dikatakan orang yang sadang tahajud kecuali keadaannya sudah bangun tidur.

Hal ini di umpamakan dengan orang yang sedang asyik membicarakan bisnis nya, kemudian dipertengahan pembicaraan tersebut, mereka dikagetkan dengan perkataan orang yang membacakan hadist nabi :

عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ أَنَسٍ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ : لَوْ كَانَ لابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ مَالٍ لابْتَغَى إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ كَانَ لَهُ ثَانِيًا لابْتَغَى إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلا يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلا التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Artinya : Dari Qotadah, dari anas, sesungguhnya Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata : "seandainya mempunyai harta sejurang maka dia akan minta dua jurang, ketika diberi dua jurang maka dia akan minta tiga jurang, dan tidak akan penuh perut anak adam kecuali hanya sebatang tanah, dan Allah akan menerima taubat bagi orang yang taubat".

Maka dia akan melupakan hadist yang dibacakan secara kaget tersebut, dalam jangka waktu tiga menit.

Tetapi, ketika diumpamakan dengan orang yang sedang mengerjakan ibadah pada waktu malam hari, dengan khusyu' dia bermunajat kepada Allah, kemudian setelah melakukan hal tersebut, dia berangan-angan atau tafakur tentang ciptaan Allah, tidak lama kemudian ada orang yang secara kaget membacakan hadist nabi yang berbunyi seprti diatas.

Maka akan ada pengaruh yang besar pada dirinya atas hadist tersebut, dan akan hilang juga hal-hal yang berhubungan dengan kemewahan tentang keduniawian kepada dirinya. Ketika kita sering melakukan ini, maka akan mendaptkan faidah yang tidak bisa diumpamakan dengan hal lain.

Begitu juga dengan seseorang ketika mengambil hikmah hanya baris pertama saja pada hikmah ini, tanpa memandang pada baris yang kedua, dengan menafsiri bahwa jauh dari perkumpulan orang, jauh dari membaca Al-Qur'an, dan berfikir tentang keadaan itu lebih baik dari pada bersosial dengan masyarakat. Maka hal tersebut tidak akan mendatangkan yang baik tetapi akan mendapatkan jalan yang bisa membahayakan dirinya. Hal ini ketika lapadz ‘uzlah dipandang dari segi ma'ripat seperti diatas.

E. Apakah dalam hikmah ini membutuhkan mursyid ?

Mursyid adalah orang yang paham tentang ilmu-ilmu syari'at dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah itu dalam hatinya dia tidak mempunyai rasa cinta dunia yang dia cari hanyalah ridlo Allah subhanahu wata'ala, kemudian dia menerapkan kepada muridnya supaya bisa wushul kepada Allah.

Maka dengan adanya hal seperti ini. Ketika dalam pembahasan hikmah ini ada mursyid yang membantunya, maka ini adalah suatu nikmat yang besar yang dimiliki seorang hamba yang sedang menjalankan syari'at, tetapi mursyid bukan merupakn syarat dalam melaksanakan syari'at ini, Karena mursyid merupakan cabang dari orang yang mendidik sedangkan pendidikan merupakan dasar social yang harus dimilikinya.









.

0 komentar:

Poskan Komentar