HIKMAH 51 : JANGAN MENYEPELEKAN AMAL

لا عمل أرجى للقبول من عمل يغيب عنك شهوده ويحتقر عندك وجوده

"Tiada amal yang lebih bisa diharapkan untuk diterima ketimbang amal yang tidak engkau sadari dan engkau pandang tidak berarti"

Dalam hikmah ini Ibnu 'Athaillah menjelaskan bahwa seorang hamba tidak boleh meremehkan suatu amal walaupun sangat kecil. Belum tentu amal yang kelihatan besar akan sangat mudah diterima oleh Allah swt. Karena amal yang dipandang adalah keihlasannya, maka walaupun berupa ibadah dan pekerjaan yang tidak berarti, di sisi Allah akan sangat berharga jika disertai rasa ihlas.

Seorang hamba jika melakukan ibadah maka dia harus sadar dan tidak boleh lupa untuk meminta pertolongan dari Allah swt. Sekecil dan seenteng apapun ibadah yang dikerjakan jika tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka pasti tidak akan terwujud. Dalam Al-Qur'an telah disebutkan :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) [الفاتحة/5]

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].

[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, Karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

Oleh karena itu seorang mukmin juga harus melakukan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya.

لا حولا ولا قوّة إلا بالله

Artinya :

"Tidak ada daya untuk melakukan ibadah dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali Allah"

استعن بالله ولاتعجز وان أصابك شئ فلا تقل لو أني فعلت كذا لكان كذا, فان لو تفتح عمل الشيطان ولكن قل قدر الله وما شاء فعل. (رواه مسلم)

Artinya :

"Mintalah pertolongan pada Allah dan janganlah lemah, jika kamu tertimpa sesuatu janganlah kamu mengatakan bahwa sendainya saya melakukan seperti ini niscaya tidak akan terjadi seperti ini, karena mengandai-andai itu akan membuka pintu syaitan. Akan tetapi katakanlah bahwa Allah telah menakdirkan seperti ini dan Allah berhak untuk melakukan apa saja yang Dia inginkan"

Kalau seorang hamba telah merasa ditolong oleh Allah maka dia akan merasa bahwa dia belum melakukan suatu amal dan ketaatan. Dia akan merasa bahwa amal yang telah dilakukan adalah amal yang masih sedikit dan tidak bisa dibanggakan, walaupun begitu dia tidak boleh melupakan untuk selalu berdo'a dan meminta pertolongan kepada Allah sebagaimana do'a yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada sahabat Muadz.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَأُحِبُّكَ يَا مُعَاذُ فَقُلْتُ وَأَنَا أُحِبُّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَدَعْ أَنْ تَقُولَ فِي كُلِّ صَلَاةٍ رَبِّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

سنن النسائي - (ج 5 / ص 86)

Sayyidah 'Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat :

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (60) [المؤمنون/60]

60. Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka[1008],

[1008] Maksudnya: Karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, Maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.

Sayyidah 'Aisyah menanyakan kenapa orang yang bersedekah tersebut takut kepada Allah padahal dia melakukan amal kebaikan. Lalu Rasulullah menjawab bahwa mereka takut kalau amal yang mereka kerjakan tidak diterima oleh Allah swt.

Orang yang paling takut kepada Allah adalah orang yang paling dekat kepada-Nya. Seperti para Khulafah Al Rasyidin. Sayyidina umar adalah orang yang sangat takut kepada Allah. Suatu ketika dia pernah melihat seorang wanita yang menanak batu karena tidak memiliki apapun. Hal ini dilakukan untuk menjaga hati anak-anaknya yang telah sangat lapar. Sayyidina umar selaku kepala negara merasa bersalah karena tidak mengetahui ada rakyatnya yang menderita. Akhirnya dia membawa sekarung beras yang dibawanya sendiri untuk diberikan kepada wanita tersebut. Lalu seorang budaknya berkata : biar saya yang membawanya wahai tuanku. Lalu sayyidina umar menjawab : apakah kamu akan membawa dosa-dosaku di hari kiamat. Dasar kamu tidak memiliki ibu.

Suatu hari sayyidina umar sholat dan membaca ayat :

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (7) مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ (8) [الطور/7، 8]

7. Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi,

8. Tidak seorangpun yang dapat menolaknya,

Lalu dia pingsan seketika. Hal ini terjadi karena dia sangat takut kepada Allah. Suatu ketika sayyidina Umar juga bertemu sahabat Khudzaifah. Lalu dia bertanya : apakah saya ini termasuk orang yang munafik? Betapa takutnya sayyidina Umar sehingga dia juga pernah meminta do'a kepada orang yang masih kecil. Dia berkata : do'akanlah aku karena kamu adalah orang yang belum berdosa. Ini semua adalah amal yang telah dilakukan oleh sayyidina Umar yang notabene adalah orang yang sangat mulia di sisi Allah. Lalu bagaimana dengan seorang hamba seperti kita. Untuk itu apa yang telah diajarkan oleh Ibnu 'Athaillah tidak boleh kita lupakan bahwa tidak ada amal yang lebih bisa diharapkan untuk diterima ketimbang amal yang tidak engkau sadari dan engkau pandang tidak berarti.

0 komentar:

Poskan Komentar