Hikmah 257 Berfikir positif

الفكرة سير القلب و ميادين الاغيار



"Berfikir merupakan perjalanan hati dan lapangan selain Allah (makhluq Allah)".

A. Penjelasan.


Yang dimaksud dengan Al-Aghyar disini ialah segala sesuatu selain Allah, dalam kata lain yaitu makhluq Allah. Kata tersebut terkadang diungkapkan dengan bentuk mufrod yaitu ghoir karena dipandang dari jenis berupa makhluq Allah, tidak memandang anwa'nya (macam-macam). Dalam hal ini, akan menimbulkan sebuah pertanyaan. Kenapa dalam hikmah ini, Ibnu Atho'illah memakai ‘ibarat Al-Aghyar yang berupa jama' bukan menggunakan mufrodnya?

Semua ini karena memandang dari nau'nya. Menurut aqal, memandang selain Allah itu akan terfokus hanya pada satu yaitu makhluqNya, akan tetapi kalau melihat isinya maka akan terlihat juga macam-macam dari makhluk tersebut seperti nikmat, laut, langit, bumi dan sebagainya. Maka dari itu Ibnu Atho'illah meng'ibaratkan pada hikmah ini dengan lafadz jama'. Berfikir tentang makhluq Allah membuthkan pemikiran yang positif ialah menjalankan hati melalui pemikiran tentang ciptaan Allah, dan berfikir tentang keadaan sekitarnya.

B. Macam-macam tafakur dan perbedaannya.

Tafakur merupakan perantara untuk bisa wushul (sampai) kepada Allah subhanahu wata'ala, dengan berfikir tentang ciptaan atau makhluq Nya. Akan tetapi dalam bertafakur, Allah memberikan dua macam cara untuk melakukannya yaitu dengan bertafakur secara mutlaq atau secara muqoyyad sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an tentang masalah tersebut.

Dalam hal ini, tafakur dibagi menjadi dua, tafakur mutlaq dan tafakur muqoyyad. Ibnu Atho'illah membedakan antara kedua tafakur tersebut, karena disesuaikan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an. Tafakur mutlaq ialah memikirkan tentang ciptaan Allah tanpa ada pembatas. Hal ini dikarenakan perintah Allah dalam Al-Qur'an dengan menggunakan fi'il (kata kerja) yang lazim, sehingga dalam permasalahan disini bisa dikatakan tafakur yang tidak membutuhkan maf'ul (obyek).

Tafakur muqoyyad ialah memikirkan sesuatu yang ada di alam semesta ini, tetapi pemikiran tersebut diberi batas-batas oleh Allah sesuai dengan firmanNya, dan Al-qur'an menyebutkannya dengan menggunakan fi'il (kata kerja) yang muta'adi. Hal ini obyek sangat berperan sekali dalam menentukan sesuatu yang akan dijadikan sebuah tafakur oleh seorang hamba.

C. Kenapa bertafakur harus terhadap makhluq Allah tidak terhadapNya. ?

Alam semesta dan isinya bahkan alam ghoib (tidak kelihatan) merupakan ciptaan Allah. Seluruh makhluq hidup yang ada di alam semesta ini menyukai ciptaanNya.Dan ini merupakan dari kekuasaan, keesaan dan keagunganNya. Dengan adanya seperti ini, maka mereka akan senang jika bisa mengetahui sang penciptaNya.

Dalam permasalahan ini akan timbul pertanyaan seperti diatas. Kenapa bertafakur harus terhadap makhluq Allah tidak terhadapNya, sedangkan bertafakur kepada selain Allah akan menyebabkan sibuk kepada selainNya?

Bertafakur tentang Dzat Allah merupakan hal yang mustahil, Karena aqal manusia tidak akan mampu untuk memikirkanNya, sebab aqal tersebut diciptakan olehNya dan ada batasnya, bahkan bisa terjerumus pada kekafiran. Hal ini akan menjadikan kebingungan bagi orang yang memikirkanNya.

Maka dari itu, ketika ada orang yang bertanya tentang Allah. Apakah Allah itu pendek, tinggi, laki-laki, perempuan, atau banci ? sedangkan Allah bukan merupakan Dzat yang sebagaimana ditanyakan dan dalil yang menunjukan hal ini tidak ada.

Ketidakmampuan mereka terhadap memikirkan Allah subhanahu wata'ala, kerena kemampun manusia untuk berfikir sesuatu yang bisa dilihat dan diindra terbatas. Disamping itu, Dia berbeda dengan makhluq yang diciptakanNya, sama halnya dengan orang yang pekerjaannya membuat kursi, meja, lemari dan lainnya, maka hal tersebut yang dia kerjakan tidak akan sama dengan dirinya dari segi bentuk atau sifat-sifatnya.

Begitu juga dengan rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam. Ketika orang quraisyi ‘arab bertanya kepadanya tentang Allah, karena mereka penasaran terhadap tuhan yang disembah rasulallha shalallahu ‘alaihi wasalam, maka beliau menjawabnya dengan sifat-sifat Allah yang sudah tertera didalam Al-Qur'an.

Padahal mereka menanyakan tentang Dzat Allah yang sudah lama menjadikan penasaran begi nya, karena mereka menyembah tuhan yang sudah diketahui bentuk dan sifat nya. Tetapi rasulalah shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab dangan sifat-siafatNya, supaya manusia bertafakur terhadap sifat-sifat Allah atau ciptaan Nya.

D. Aplikasi

Allah Dalam menciptakan alam semesta dan isinya, banyak sekali yang bisa dijadikan bahan pemikiran bagi seorang hamba yang sedang mempertebal imannya, seperti halnya amal yang sering kita kerjakan yaitu tho'at. Tho'at merupakan ibadah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala. Dengan melalui hal tersebut, kita bisa bermunajat kepadaNya. Shalat, puasa, zakat dan perintah-perintah lainnya, merupakan bentuk ketaatan terhadapNya dengan dibarengi sifat roja', khouf, dan tawadlu'. Hal ini, ketika diangan-angan maka akan timbul rasa mengharapkan ridhonya.

Begitu juga, dengan maksiat yang telah dikerjakan oleh seorang hamba. Jika dia memikirkan apa yang di kerjakannya,bahwa hal itu akan menjerumuskannya kedalam murka Allah dan membuat hidupnya tidak nyaman. Maka akan timbul pada dirinya rasa atau sifat seperti yang sudah diterangkan diatas. Hal ini masuk pada perkataan Ibnu ‘Athoillah dengan ‘ibarot mayadiinul aghyar.

Disamping itu, siksa Allah kelak diakhirat juga merupakan pemikiran bagi hambaNya, karena dengan adanya siksa tersebut akan menimbulkan prasangka pada dirinya tentang masuk surga atau neraka. Ketika kamu banyak memikirkan hal seperti ini, maka kamu akan mendapatkan rasa khouf terhadap Allah subhanahu wata'ala yang bisa mengakibatkan dekat dengan Nya. Langit dan bumi, juga menjadi sebuah tafakur bagi hamba Nya, karena hal itu bisa menjadikan nya ingat atas sang pencipta.

Semua ini sebagai pelantara untuk mengetahui wujud (ada) Allah secara hakikat, seperti yang sudah diterangkan pada hikmah sebelumnya, karena rasa ingin mengetahui Allah dengan melalui DzatNya, akan mengalami kebingungan bahkan stress. Sebab dalam permasalahan ini ada unsur daur (mengelilingi tidak ada ujungnya).

E. Dalil

a. Allah subhanahu wata'ala, menyuruh kepada hambaNya untuk berfikir atau tafakur terhadap ciptaanNya yang tidak dibatasi, hal ini bias dinamakan dengan tafakur mutlaq, sebagaimana firman Allah dalam surat yunus ayat 24.

كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (يونس : 10/ 24)

Artinya : "Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir". (Q.S. Yunus : 24).

b. Firman Allah dalam surat Al-Imron : 191

وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (ال عمران :3/ 191)

Artinya : "Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi". (Q.S. Al-Imron : 191).

Ayat ini menunjukan bahwasanya tafakur, selain mutlaq juga ada yang muqoyyid yaitu bertafakur terhadap ciptaan Allah dengan adanya pembatas seperti ayat di atas. Dan fi'il yang digunakan berupa muta'adi.

c. Pahala bertafakur lebih baik dari pada melaksanakan ibadah malam hari seperti perkataan syaikh Hasan bishri.

تفكر ساعة خير من قيام ليلة

Artinya : "Bertafakur satu jam lebih baik daripada mendirikan shalat pada waktu malam".

Hal ini, kebaikan tafakur dipandang dari segi pahala bukan hakikatnya.

d. Firman Allah dalam surat Al-Ikhlas.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) (الاخلاص :112/ 1-4)

Artinya : "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Q.S. Al-Ikhlas : 1-4).

Ayat ini merupakan jawaban rasulallah pada waktu di beri pertanyaan oleh kafir Quraisyi tentang Dzat Allah subhanahu wata'ala. Dan juga sebuah himbauwan bagi umatnya supaya bertafakur terhadap sifat-sifat atau makhluqNya.

e. Banyak sekali dalam Al-qur'an, ayat yang menerangkan tentang ciptaan Allah, salah satunya yaitu tentang langit, bumi dan juga bergantinya malam dan siang seperti firman Allah dalam surat Al-Imron ayat 190.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (ال عمران : 3 /190)

Artinya : "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal".(Q.S. Al-Imron : 190).

f. Firman Allah dalam surat At-Thoriq.

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7) (الطارق :86/ 5-7)

Artinya : "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan". (Q.S. At-Thoriq : 5-7).

Ayat ini menerangkan tentang Allah menciptakan manusia melalui proses yang tidak akan bias dilakukan oleh makhluq lain. Hal ini menunjukan adanya kekuasaan Allah dan wujudNya.

g. Firman Allah dalam surat An-Nahl.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ (10) يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (11) (النحل :16/ 10-11)

Artinya : "Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan". (Q.S. An-Nahl : 10-11).

Allah memberikan rizqi kepada hambaNya melalui air tawar yang turun dari langit ataupun langsung dari bumi dengan perantara tumbuh-tumbuhan, seperti firman Allah diatas.

h. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا (البقرة : 2/ 219)

Artinya : "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". (Q.S. Al-Baqoroh : 219).

Dalam firman ini Allah juga menyuruh kepada hambaNya, untuk bertafakur tentang masalah khomr (minuman keras) yang bias menyebabkan murka Allah terhadap hambaNya.

i. Begitu juga dengan shadaqoh yang telah diperintahkan oleh Nya seperti Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh : 219

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ (البقرة : 2/219)

Artinya : "Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir". (Q.S. Al-Baqoroh : 219).

j. Firman Allah dalam surat Thoha.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126). (طه :20/ 124-126).

Artinya : "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (Q.S. At-Thoha : 124-126).

Dalam ayat ini Allah menyuruh kepada hamabNya untuk bertafakur tentang siksa hari qiyamat, yang akan mengakibatkan rasa khouf dan roja' kepada Allah subhanahu wata'ala kelak di hari akhir tersebut. Disamping itu, dalam ayat ini Allah berfirman dengan menggunakan lapadz فَنَسِيتَهَا . Hal ini menunjukan bahwasanya, Allah telah memberikan pengetahan kepada hambaNya tentang wujudNya dialam dunia tetapi mereka berpura-pura lupa tentang hal itu.

F. Kesimpulan.

Segala sesuatu yang ada dialam semesta ini semuanya tercantum didalam Al-Qur'an tanpa terkecuali baik itu yang paling kecil, tidak kelihatan, atau yang paling tinggi dan besar. Karena yang menciptakan semua itu adalah Allah subhanahu wata'ala, sedangkan Al-Qur'an merupakan firman Allah secara langsung dengan melalui malaikat jibril.

Maka dari itu. Allah menyuruh kepda hambaNya untuk memperbanyak baca Al-Qur'an, supaya bisa menambah iman pada dirinya karena dalam Al-qur'an sendiri banyak sekali menerangkan tentang ayat-ayat yang mrnunjukan wujud Allah subhanahu wata'ala.

0 komentar:

Poskan Komentar