HIKMAH 60 : Kehinaan adalah benih tamak

ما بسقت أغصان ذل إلا على بذر الطمع



"Dahan-dahan kehinaan tidak tumbuh kecuali dari benih-benih ketamakan"





Ibnu Athaillah menjelaskan hikmah mutiaranya bahwa kehinaan itu tidak akan muncul kecuali dari benih-benih ketamakan. Tumbuh-tumbuhan bisa besar jika ada bijinya. Tumbuh-tumbuhan diibaratkan pada kehinaan. Jika tamak ditanam maka akan tumbuh kehinaan. Dan jika ingin mulia (tidak hina) maka seorang hamba harus mengikuti agama Allah. Dalam surat Al-Munafiqun : 8 telah disebutkan



يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ (8) [المنافقون/8]



8. Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita Telah kembali ke Madinah[1478], benar-benar orang yang Kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui.





[1478] Maksudnya: kembali dari peperangan Bani Musthalik.





Allah adalah dzat yang telah menciptakan semua yang ada di alam semesta ini. Allah adalah yang paling berkuasa dan Allah lah yang paling kaya. Ini adalah ajaran tauhid yang harus ditanam dalam hati sejak kecil. Tauhid semakin tertanam maka seseorang akan semakin mulia. Seseorang tidak akan takut kepada selain Allah dan tidak akan tamak kecuali kepada Allah. Seperti hanya timbangan, jika yang berat adalah ingat kepada Allah maka dia telah menang melawan hawa nafsu.





Jika seseorang masih tamak kepada yang lain maka islamnya belum sempurna. Imam Sa'id An-Nursy adalah orang kurdi. Dia pernah ditahan di Rusia ketika negara tersebut perang melawan Daulah Utsmany. Suatu ketika jendral pasukan Rusia datang sehingga semua pasukan langsung berdiri menghormatinya. Namun hal tersebut tidak dilakukan oleh Imam Sa'id An-Nursy, dia tetap saja duduk. Imam Sa'id pun ditanya apakah dia tidak tahu siapa yang datang? Imam Sa'id menjawab bahwa dia telah mengetahuinya. Selanjutnya dia menjelaskan bahwa dia tidak mau berdiri karena Allah telah memerintahkannya agar menjadi orang yang mulia dan tidak boleh menjadi hina dihadapan mahluk lain. Atas jawaban ini maka Imam Sa'id pun diputuskan untuk dihukum mati. Sebelum dibunuh, Imam Sa'id meminta agar dia boleh shalat 2 rakaat terlebih dahulu. Karena keberaniannya tersebut maka jendral pun heran kepadanya sehingga akhirnya Imam Sa'id tidak jadi dibunuh. Hal ini tak lain karena hati manusia itu bisa berubah-ubah tergantung oleh Allah swt. Dalam hadits nabi telah disebutkan :





إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا وَأَشَارَ الْأَعْمَشُ بِإِصْبَعَيْهِ



سنن ابن ماجه - (ج 11 / ص 286)





Oleh karena itu kita tidak boleh terlalu senang kepada orang lain dan juga tidak boleh terlalu benci karena hati itu dikuasai oleh Allah swt.



Orang menginginkan jabatan dan kekayaan karena dalam dirinya ada sifat tamak dan hal ini sangatlah bertentangan dengan firman Allah dalam surat Al-Isra' : 70 :



وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا (70) [الإسراء/70]



70. Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.





[862] Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan.





Namun hal ini juga tidak perlu kita ragukan lagi karena inilah watak manusia. Dalam surat Al-Adiyat ayat 8 telah disebutkan :



وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (8) [العاديات/8]



8. Dan Sesungguhnya dia sangat bakhil Karena cintanya kepada harta[1597].





[1597] sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud ayat Ini ialah: manusia itu sangat Kuat cintanya kepada harta sehingga ia menjadi bakhil.



Dan juga dalam surat Al-Fajr ayat 20 :



وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20) [الفجر/20]



20. Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.





Lalu bagaimana agar manusia tidak menjadi hina? Agar tidak menjadi hina maka dia harus kembali pada ajaran tauhid bahwasanya yang memberi segala sesuatu hanyalah Allah swt. Tidak akan ada harta atau kekayaan kecuali hanya Allah lah yang memberi. Dalam surat Al-Imran ayat 26 Allah telah menjelaskan :



قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (26) [آل عمران/26]



26. Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.





Perasaan inilah yang harus selalu ditanamkan dalam hati setiap manusia. Dalam surat Ad-Dzariyat ayat 58 juga telah dijelaskan :



إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58) [الذاريات/58]



58. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.





Dengan demikian maka manusia harus mencari rizki dan memintanya hanya kepada Allah. Karena Allah lah Dzat yang maha melihat dan maha mendengar. Dalam surat Thaha ayat 46 telah dijelaskan :



قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى (46) [طه/46]



46. Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat".



Sebelum nabi diutus, masyarakat arab adalah orang yang sangat hina karena mereka tidak pernah ingat dan berdzikir kepada Allah. Mereka tidak tahu bahwa yang memberi sesuatu adalah Allah. Namun setelah nabi muncul maka mereka menjadi mulia karena mereka telah tahu bahwa pertolongan hanyalah dari Allah. Oleh karena itu kita tidak boleh melupakan hikmah Ibnu Athaillah bahwa "Dahan-dahan kehinaan tidak tumbuh kecuali dari benih-benih ketamakan"

0 komentar:

Poskan Komentar