Hikmah 259 Fikiran yang bisa mendekatkan diri kepada Allah

الفكرة فكرتان فكرة تصديق وإيمان وفكرة شهود وعيان

فالأولى لأرباب الاعتبار والثانية لأرباب الشهود والاستبصار

"Fikiran dibagi menjadi dua, fikiran yang timbul dari tashdiq dan iman, dan fikiran yang tumbuh dari menyaksikan Allah dan membuktikan wujudNya, yang pertama buat orang-orang yang mempunyai pertimbangan sedangkan yang kedua bagi orang-orang yang mempunyai persaksian kepada Allah dan penglihatan dengan menggunakan hati".


A. Penjelasan.

Dalam hikmah ini, Ibnu Athoillah menerangkan tentang perjalanan orang-orang yang ingin taqorub (mendekatkan diri) kepada Allah subhanahu wata'ala. Perjalanan tersebut dibagi menjadi dua, salikun dan madzdub.

Salikun ialah orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala dengan cara berangan-angan tentang ciptaanNya dan berusaha untuk bias mendekatkan diri kepadaNya. Jika keadaan ini diteruskan, maka akan menemukan atsar pada dirinya tentang tafakur tersebut, dan mereka bias sampai pada derajat ma'rifat kepada Allah.

Madzdub ialah orang-orang yang telah diberi keanugerahan oleh Allah yang tidak bias dimiliki orang banyak. Mereka bias melihat langsung kepadaNya melalui mata hati yang dimilikinya, dan bias menyaksikan kepadaNya tanpa memikirkan ciptaanNya secara mendalam, terkadang keadaan mereka bisa melupakan pekerjaan yang berhubungan dengan duniawi.

Allah memberikan keterbukaan dalam hati orang yang madzdub tanpa berfikir atau berangan-angan dahulu. Keadaan ini bias memberikan kepada hati mereka kesenangan tentang sang pencipta dan tahu tentangNya. Tetapi madzdub dan salikun sama-sama diturunkan ke Alam dunia ini, yang akhirnya mereka akan mendapatkan derajat yang sama dihadapan Allah dengan perjalanan yang berbeda.

B. Perjalanan salikun dan madzdub.

Alam semesta merupakan tempat berteduh bagi makhluq Allah, baik yang berada di lur angkasa maupun di dunia ini, dan disana pulalah makhluq tersebut bisa mencari rezeqi untuk kehidupannya. Disamping itu dialam tersebut antara makhluq yang satu dengan lainnya ada saling membutuhkan. Ini semua bertujuan untuk saling membantu dalam segi apapun terutama bagi manuisa.

Hal ini menjadikan sebuah pekerjaan bagi seorang hamba Allah untuk bisa tambah imannya jika dia mau berangan-angan atas ciptaan Allah subhanahu wata'ala seperti diatas, karena dalam ciptaan tersebut mengandung kekuasaan Nya. Dan akan terbuka juga sifat-sifat yang wajib diketahui oleh makhluqNYa.

Jika seorang hamba sudah melaksanakan seperti ini, maka akan bertambah keimanannya dan mempunyai kemantapan pada hatinya tentang wajud Allah san sifat-sifatNya. Ini merupakan perjalanan yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Dengan metode seperti ini, Ibnu Atho'illah memberikan nama terhadap hamba tersebut dengan sebutan salikun.

Sedangkan madzdub, tanpa berangan-angan terhadap ciptaan Allah subhanahu wata'ala, langsung bisa menyaksikan Nya dalam hati dan senang tentang Nya. Ini semua merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada hambaNya, karena dalam diri hamba tersebut tidak mempunyai rasa takabur (sombong) kepadaNya. Dalam hal ini, dia mendapatkan derajat disisi Allah dengan sebutan Wahdatussyuhud.

Dia melakukan ma'siat atau sesuatu yang bias dibenci Allah, bukan karena menantang perintahNya. Tetapi kelemahan dan ketidak kuasaan untuk meninggalkan ma'siat yang dilakukannya, dan akhirnya dia akan mengembalikan semuanya kepada sang kholiq. Ini adalah perjalanan seorang madzdub yang telah dipilih oleh Allah untuk bisa dekat dengan Nya.

Keadaan seperti ini, akan menimbulkan kedengkian pada seorang hamba yang tidak diberi oleh sang kholiq tentang perjalanan yang kedua. Tetapi jika hamba tersebut banyak bertafakur tentang keadaan tersebut, maka dia akan mengetahui tentang tujuan Allah yang sebenarnya. Hal itu akan tumbuh pada dirinya dengan mengetahui bahwasanya semua budi pekerti yang dimiliki manusia adalah haq progresif Nya, Sedangkan manusia tidak akan bias menetang Nya, walaupun dengan kekutaan yang sangat penuh.

Seorang hamba yang masih manjalankan pada tingkatan pertama tidak boleh meniru seorang hamba yang sudah masuk pada tingkatan kedua, karena dia tidak akan mampu untuk mengikuti jejak hamba tersebut, dan juga merupakan anugerah Allah yang telah diberikan kepadanya.

Kalau dipandang secara kebiasaan yang sering dilakukan oleh makhluq Allah tersebut, maka kebanyakan dari mereka tidak akan menerima tentang keadaan seorang hamba yang diberi keanugerahan oleh Allah seperti diatas. Karena hal tersebut diluar jangkauannya.

Mu'jizat adalah salah satu contoh dalam pembahsan ini. Disamping itu karomah dan ma'unah yang diberikan kepada kekasih Allah untuk meneguhkan hati seseorang yang tidak tahu tentang kekuasaan Nya.

C. Dalil

a. Firman Allah

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26) (البقرة2/26)

Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (Q.S. Al-Baqoroh : 26).

Lalat, semut, tinggi (red. jawa) dan binatang yang paling kecil merupakan tanda kekuasaan Allah. Dan tidak akan ada seorangpun yang bias membuat hewan yang diciptakan-Nya. Ayat ini menunjukan kekuasaanNya.

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (13) ( الشورى42/13)

Artinya : "Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Q.S. As-Syura' : 13).

Kebiasaan yang dilakukan seorang hamba merupakan suatu yang lazim dan tidak asing dikalangan orang lain, tetapi terkadang Allah menjadikan seseorang berbeda dari kebiasaannya. Hal ini menunjukan segala sesuatu adalah milik Allah, dan Allahlah yang berhak memilih dan berkehendak, seperti ayat disini.

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (4) (الجمعة 62/4)

Artinya : "Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar". (Q.S.Al-Jum'ah : 4).

Ayat ini menunjukan, segala sesuatu yang dimiliki oleh seorang hamba baik dari segi kemuliaan, ilmu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT, merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.

D. Aplikasi

Allah menjadikan makhluq didunia ini bermacam-macam dari segi bentuk, sifat, ataupun bahasa. Hal ini yang menjadikan Dia menyuruh kepada hambaNya untuk banyak bertafakur atas ciptaanNya, supaya bias meningkatkan iman kepadaNya.

Seperti semut kecil atau tinggi (red. Jawa) Allah menjadikan binatang tersebut bisa menggigit manusia, dan hal tersebut merupakan rezeqi yang dimilikinya. Tetapi Allah menjadikan hikmah dibalik semua itu, gigitan binatang tersebut bisa menegluarkan darah kotor dari jasad manusia.

Nyamuk juga merupakan makhluq yang mempunyai hikmah dibalik ciptaanNya, padahal binatang tersebut dipandang secara dlohir, gigitannya sangat membahayakan manusia karena dengan gigitan tersebut telah membawa penyakit yang dinamakan dengan demam berdarah.

Tetapi Allah menjadikannya hikmah pada binatang tersebut. Jika tidak ada nyamuk yang berkeliaran disekililing menusia, maka sebagian makhluq Allah yang mempunyai aqal tersebut akan kesulitan dalam mencari ekonomi untuk kehidupannya.

Di karenakan nyamuk yang selalu menggit manusia, perlu ada pembasmi yang bias menghancurkannya. Sedangkan pembasmi tersebut perlu pengolahan yang memerlukan biaya yang akan dijual belikan dipasaran untuk kemaslahatan manusia. Ini merupakan berkah dari nyamuk yang diciptakanNya.

Disamping itu juga, Allah menjadikan pada bintang yang bertaring tersebut, sebuah senjata yang bisa menghirup bau manusia untuk digigitnya walaupun jarak yang ditempuh sangat jauh, dan dia tahu tentang mana yang perlu disuntik atau digigit dan tidak.

Tetapi hal ini, akan berbeda dengan orang yang sedang memperbaiki jam, dia akan kesulitan dalam memperbaiki jam yang kecil dibandingkan dengan jam yang besar, karena unsur-unsur yang ada dijam kecil tersebut sangan sulit sekali untuk dilihat dan diterpkan, berbeda dengan jam yang besar.

Semua ini merupakan kekuasaan Allah subhanahu wata'ala yang tidak akan bisa di tiru oleh manusia ataupun makhluq lain, karena semua itu merupakan makhluq yang diciptakanNya. Sedangkan segala sesuatu yang diciptakan Nya akan kesuliatan untuk bisa menirukannya.

Dalam pembahsan diatas, Ibnu Atho'illah menerangkan tentang orang yang langsung bisa syuhud (menyaksikan Allah dalam hati) atau bisa disebut dengan madzdub. Banyak sekali kejadian yang bisa menimbulkan heran pada diri manusia. Dan hal itu merupakan kejadian yang berada diluar kebiasaan mereka.

Seperti keadaan di pondok pesantern yang diprioritaskan untuk mencari ilmu syari'at. Kebanyakan dari mereka setelah menyelesaikan belajarnya dari tempat ini akan mendapatkan gelara seorang tokoh agama atau bisa dikatakan dengan nama kiyai (red. jawa). Jika orang tersebut bersungguh-sungguh dalam belajar ditempat tersebut.

Tetapi kejadian tersebut akan menjadi heran. Jika salah satu dari mereka mendapatkan gelar seperti diatas kelak dirumah, keheranan tersebut terjadi atas orang yang belajar tetapi tidak dengan sungguh-sungguh atau sama sekali tidak pernah belajar.

Semua ini tidak bias diprediksi oleh siapapun dan tidak boleh membuat hukum sendiri yang bisa mengakibatkan su'u dzon (berburuk sangka) kepada Allah. Dan ini merupakan kehendak Allah yang tidak bisa dibantah oleh siapappun. Dibalik semua itu ada tujuan yang bisa membangkitkan seorang hamba untuk bias mendekatkan diri kepada Allah, dengan selalu menetap di pondok tidak cepat mukim yang nantinya akan selalu berhubungan dengan masyarakat dan hal ini pasti akan membutuhkan obat yang bias diaplikasikan kedalam hati.

E. Bukti sejarah.

Waliyullah (kekasih Allah) mempunyai perjalanan yang sangat panjang dalam mencari jati dirinya untuk bias dekat dan menyaksikan-Nya dalam hati. Sebagian dari mereka, ada yang diberi langsung oleh Allah bisa syuhud (menyaksikan dalam hati) kepada-Nya. Dan juga ada yang melalui tafakur kepada-Nya, kemudian Allah memberikan keterbukaan dalam hati- Nya untuk bisa syuhud kepada -Nya.

Fudail bin iyad adalah salah satu dari kekasih Allah dengan melalui perantara kedua. Beliau bisa menjadi kekasih-Nya karena telah mendengar ayat yang menerangkan tentang perintah untuk berhenti menjalankan maksiat kepada Allah. Hal ini juga terjadi kepada Abdullah bin Mubarok.

Maksiat yang telah dilakukan oleh para kekasih Allah seperti diatas merupakan maksiat yang bukan karena sombong terhadap Allah. Akan tetapi maksiat tersebut yang bisa menyebabkan dekat dengan Allah. Disamping itu Allah juga memberikan kekayaan yang melimpah kepada orang yang durhaka dan sombong, yang akhirnya Allah memilih orang tersebut menjadikan kekasih-Nya.

Misalnya Bisyr bin Harist, Hal ini terjadi ketika ada orang yang sedang berbincang-bincang membicarakan tentang masalahnya didepan rumahnya, salah satu dari mereka berkata: siapakah orang yang mempunyai rumah ini, apakah seorang budak atau orang yang benar-benar kaya. Kemudian salah satunya lagi menjawab: kamu tidak tahu, dia adalah orang yang paling kaya tidak ada yang menyaingi, lihatlah rumahnya, kendaraannnya, dan lain-lain merupakan bukti kekayaannya.

Akhirnya pertanyaannya seorang hamba sampai pada Bisyr bin Harist orang yang paling kaya, setelah mendengarkan pertanyaan tersebut beliau langsung sadar atas kekayaan yang dimilikinya dan keangkuhan terhadap orang lain. Karena perkataan seorang hamba yang diuraikan dengan pertanyaan tersebut membuat dia bisa berfikir.

Manusia diciptakan oleh Allah tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, dan menjadi hamba-Nya. Kekayaan, kehormatan dan kemuliaan merupakan pemberian dari Allah SWT. Oleh karena itu tidak layak , jika seorang hamba memiliki berbudi pekerti sombong, angkuh, dan kikir terhadap orang lain. Karena berbudi pekerti sombong, angkuh dan kikir itu tidak disenangi Allah Swt, Setelah beliau berangan-angan tentang hal tersebut, semua harta yang dimilikinya ditinggalkan dan akhirnya beliau menjadi orang yang zuhud, tidak lama kemudian beliau menjadi kekasih Allah SWT.

4 komentar: