HIKMAH 59: TIDAK MEMANDANG AMAl

قطع السائرين له والواصلين إليه عن رؤية أعمالهم وشهود أحوالهم أما السائرون فلأنهم لم يتحققوا الصدق مع الله فيها . وأما الواصلون فلأنه غيبهم بشهوده عنها



"Allah menghindarkan orang-orang yang menuju-Nya dan juga orang-orang yang sampai kepada-Nya dari melihat amal mereka dan menyaksikan keadaan mereka. Yang demikian, bagi orang-orang yang tengah menuju kepada-Nya adalah karena mereka belum benar-benar yakin dalam amal mereka (apakah amalnya baik atau buruk). Dan bagi orang-orang yang telah sampai kepada-Nya adalah karena mereka sibuk menyaksikan-Nya"





Dalam hikmah ini Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa As-Sairin (orang-orang yang baru menuju Allah) tidak pernah melihat amal mereka. Hal ini karena mereka belum benar-benar yakin dalam amal mereka. Begitu juga Al-Washilin (orang yang telah sampai kepada Allah). Mereka tidak pernah melihat amalnya karena yang dia tuju hanyalah Allah swt. Lalu apakah wushul itu ada finishnya, padahal dalam Al-Qur'an surat Al-Hijr telah dijelaskan :





وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (99)



99. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).





Al-Washilin bukanlah orang yang berhenti dan tidak beribadah lagi, tapi dia adalah orang yang telah lama beribadah dan membersihkan nafsunya. Dia telah menempuh jarak yang sangat jauh sehingga kegelapan nafsu menjadi hilang dan hanya cahaya hati lah yang nampak. Dia selalu berusaha beribadah karena terkadang kegelapan tersebut datang kembali dan cahaya yang telah muncul terkadang hilang lagi. Mereka inilah yang mendapatkan hidayah oleh Allah untuk menuju jalan yang benar. Dalam Al-Qur'an surat Al-Ankabut : 69 telah disebutkan :



وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69)

69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.







Memang dalam hidup ini ada sebab dan ada musabbab. Kita bisa kenyang karena telah makan, dan kita bisa memotong karena ada pisau. Namun Al-Washilun tidak memandang sebab-sebab tersebut karena semua itu adalah dari Allah swt. Dulu dia dikuasai oleh nafsu tapi sekarang sudah terbebas. Inilah yang disebut dengan Al-Wasilun. Dia bukannya berhenti dalam beribadah tapi justru selalu beribadah sampai mati. Bukan berarti kalau sudah sampai pada makam yang tinggi dia tidak lagi beribadah dan berani menerjang keharaman.



Adapun As-Sairin adalah orang yang berjalan menuju Allah melalui tazkiyyatun nafsi (membersihkan nafsu) dengan mujahadah-mujahadah. Orang yang baru dalam perjalanan terkadang jalannya terang dan terkadang gelap. Al-Wasilun dan As-Sairun tidak memandang amalnya karena mereka tidak meyakini apakah amal yang dikerjakan itu baik dan sesuai dengan kehendak Allah.



Kalau ada orang yang menganggap bahwa dia selalu melakukan amal baik dan semua perintah Allah telah dilakukan maka itu merupakan penyakit ujub yang harus dihindari. Orang yang semakin dekat dengan Allah maka dia akan merasa bahwa dia tidak mampu untuk memenuhi hak-hak Allah. Amal yang telah dilakukan selalu terasa sedikit dan kurang. Dan dia juga merasa bahwa dia bukanlah orang yang dekat kepada Allah swt.



Imam Junaid Al-Baghdady pernah berkata :



لا يصفو لاحد قدم في العبودية حتي تكون الافعال كلها عنده رياء واحواله كلها عنده دعاوى



Imam Junaid selalu mujahadah dan wushul kepada Allah sehingga dia merasa bahwa semua amalnya adalah riya' dan keramat-keramatnya adalah da'awy (pendakwaan yang tidak ada artinya). Orang yang berhasil menuju derajat hakiki adalah orang yang bisa seperti Imam Junaid ini.



Al-Washilun dan As-Sairun semakin dekat kepada Allah maka dia merasa bahwa dia belum wushul kepada Allah karena bisa saja semua derajatnya adalah cobaan dari Allah swt. Jadi dia merasa takut karena semua keistimewaan adalah dari Allah. Oleh karena itu tidak ada yang diingatnya kecuali hanya Allah swt semata.





Jika mereka tidak melihat amal mereka lalu bagaimana mereka beribadah? Apakah ibadah mereka tidak sesuai dengan syari'ah?



Semua wali Allah pasti beramal secara sah dan sesuai dengan syari'at namun amal tersebut tidak dipandang oleh mereka karena semua adalah anugrah dari Allah swt. Oleh karena Imam Ahmad Ar Rifa'I pernah berkata :



الاولياء يستترون كاستتار المرءة من دم الحيض



"wali-wali Allah tidaklah menampakkan keramatnya sebagimana perempuan yang menutupi darah haidnya"

0 komentar:

Poskan Komentar