Hikmah 227 Pemikiran ilmuwan yang dangkal

خير العلم ماكانت الخشية معه

"Sebaik-baiknya ilmu yaitu ilmu yang bisa memberikan rasa takut kepada Allah subhanahu wata'ala"



A. Penjelasan

Dalam kandungannya, hikmah ini memberi pengertian bahwasanya, ilmu, ada yang bisa menyebabkan takut kepada Allah dan juga ada yang tidak, dengan adanya hal seperti ini, maka Ibnu Atho'illah mengutamakan ilmu yang bisa menghasilkan takut kepada Allah atas orang yang mempunyai ilmu tersebut, dan memberikan keistimewaan kepadanya mengungguli orang lain.

Ibnu Atho'illah menghendaki bahwa ilmu yang tidak menyebabkan takut kepada Allah itu bukan ilmu. Maka dari itu, hikmah ini menjelaskan bahwasanya, ketika ada orang mempunyai wawasan luas tetapi dengan adanya hal tersebut dia tidak takut kepada Allah, maka ilmu yang dia miliki merupakan ilmu palsu dan tidak bisa dikatakan orang ‘alim, mungkin kalau dilihat secara dlohir orang ini ketika bicara cara menyampaikannya enak dipandang, tetapi orang seperti ini adalah orang yang mengaku ‘ulama (ilmuwan) mungguh (menurut) Allah, dan juga dinamakan penipu.

B. kebodohan Ilmuwan

kenapa orang tersebut bisa dikatakan ilmuwan dengan penemuan-penemuan yang sempurna, sedangkan dia orang yang bodoh dan penipu ?

karena isi alam semesta ini, kalau diangan-angan adalah sebuah ciptaan yang menunjukan adanya sang pencipta. sekarang, ada orang mengetahui adanya tanda, tapi tidak tahu yang di tandai, orang ini adalah bodoh, begitu juga dengan orang mengetahui pepohonan tapi tidak tahu buahnya, ini juga sama dikatakan orang bodoh.

ketika ada orang yang sudah selesai dari belajar dan penelitian ilmiahnya sampai dia bisa menemukan sesuatu yang ada dialam semesta ini dengan penelitian yang membutuhkan pemikiran fropesional, tanpa memandang adanya ayat-ayat Allah (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan tidak memperhitungkannya, maka tidak diragukan lagi dia pada hakikatnya termasuk orang bodoh pada sesuatu yang semesta alam berbicara dengan cakrawala dan keindahannya bahwasanya ini semua adanya sang pencipta.

Apakah kamu tidak melihat ! bagaimana mengetahui sesuatu yang menunjukan, ketika berpisah dari yang ditunjukannya, maka pengetahuan tersebut akan menjadi mati, tidak ada arti dan juga tidak ada harganya.

Alam semesta ini menunjukan adanya hikmatul hakim (hikmah dari dzat maha bijaksana), semua yang ada di dunia ini menunjuukan adanya Allah dan ciptaan NYa. Maka dari itu. Ada seorang ilmuwan sedang meneliti salah satu bagian dari dunia ini seperti pegunungan, lautan, dan lain-lain, dia mempelajarinya dengan detail, sampai menguasainya, tapi orang seperti ini tidak mengetahui Allah. apakah orang yang seperti ini disebut ‘ulama?. Kamu tidak tahu tentang gunung (asal mula pegunungan), tapi, kalau ditanya kepada ahlinya pasti akan menjawab dengan detail, sedangkan diri kita tidak bisa menjawabnya karena tidak tahu, apakah mungkin orang seperti ini tidak tahu tentang Allah ? mereka tahu tentang adanya Allah, tetapi mereka tidak takut denganNYa. kalau kamu menyakini bahwa dia seorang ‘ulama, maka kamu mengetahui fil tapi tidak tahu kegunaannya. Ketika kamu menyakininya sebagai ilmuwan maka kamu juga termasuk orang bodoh.

terkadang orang yang seperti itu tahu tentang adanya Allah tapi tidak takut denganNYa. Dia merasa cukup, dengan menyakini bahwa Allah itu ada.

C. Beriman, tapi tidak takut kepada Allah subhanahu wata'ala

Ada dua keyakinan pada ilmuwan barat :

1. hanya dengan beriman orang tersebut bisa tentram hatinya.
2. Tidak usah beriman, karena akan membuat pusing, tapi keadaan mereka kelihatan beriman. Kedua-duanya tidak ada yang dibenarkan, sebab tidak ada rasa takut kepada Allah, hal seperti ini hakikatnya tidak ada keimanan pada hati mereka. Jadi ilmuwan-ilmuwan yang ada di barat secara dlohir mereka tidak beriman. Keindahan alam semesta ini pasti ada yang mengatur dan membuat yang tidak bisa diatur atau dibuat oleh siapapun kecuali Allah subhanahu wata'ala.

Maka maknanya , para ilmuwan yang menemukan hasil dari penelitian-penelitian yang mereka lakukan ketika tidak ada rasa takut kepada Allah maka, mereka, akan mendapatkan kebingungan ketika tidak ada dasarnya yaitu dunia ini semuanya di atur oleh Allah. mereka tidak tahu atau tidak ingin tahu bahwa mempelajari ilmu alam semesta atau juz dari alam semesta ini bisa menyusahkan mereka karena banyak pertanyaan-pertanyaan yang harus mereka teliti secara detail. Ada orang mempelajari pepohonan tapi tidak tahu asal mulanya, dia hanya mempelajari dahan dan akarnya saja, ilmu yang seperti ini bisa menyusahkannya.

D. pendapat ilmuwan

Ilmuwan Fisika, Kimia, ketika tidak tahu tentang Allah maka dia merasa bahwa keilmuwannya masih kurang, seperti :

Albert einstain : ketika ditanya mengenai kematian, dia menjawab : "secerdas apapun aqal yang dimiliki manusia tidak akan mungkin mengetahui segalanya". Dia mengakui sendiri bahwa dirinya masih banyak kekurangan. hal seperti ini, diibaratkan seperti anak kecil masuk ke perpustakaan didalamnya banyak sekali segala macan buku, tetapi dia tidak tahu siapa yang menulis, bagaimana cara membaca atau bahkan kandungan buku tersebut.

Peter anderson, seorang ahli filsafat, mengatakan : "tujuan hidup itu sebenarnya ada tiga perkara : 1. Kasih sayang
2. Perdamaian
3. Keilmiahan
dia mengatakan : bahwasanya dia bisa merealisasikan kedua tujuan tersebut (no.1,dan 2) tetapi tujuan no. 3, dia telah gagal untuk merealisasikannya.

Angel, seorang ahli filsafat lainnya juga mengatakan :"banyak sekali kelemahan pengetahuan kita tentang sirkulasi darah dan banyak sirkel-sirkel yang tidak diketahui karena kekurangan pengetahuan kita pada waktu itu walaupun dengan berbagai cara penelitian antara bermacam-macam penyakit dan sebab-sebabnya. Banyak sekali kejadian sebagian penemuan-penemuan yang mana kita tidak bisa untuk meneliti kembali sampai pada titik terakhir.

Dan dia juga merasa resah dengan suatu perkataan yang pernah dia dengar yaitu : "sesungguhnya generasi penerus kita yang akan membenarkan kesalahan-kesalahan kita sangat mungkin mereka itu banyak pengetahuannya atau lebih dari pada ketika kita membenarkan sebelum kita".

E. Dalil-dalil

A. firman Allah dalam surat faathir : 28

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ (فاطر : 28)

Artinya : "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama". (faathir : 28)

Firman Allah disini, bisa dipahami sesungguhnya antara ilmu dan rasa takut kepada Allah saling berkaitan, ketika ditemukan ilmu maka akan ditemukan juga rasa takut kepada Allah, karena penjelasan firman Allah tersebut sebatas rasa takut kepada Allah hanya ada pada diri ulama. Maka dari itu ayat tersebut menunjukan adanya orang yang takut kepada Allah hanya ‘ulama dengan memakai kata-kata إنما.

B. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam surat Al-Bainat :5 dan Ad-dzariyyat :56 :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء (البيّنة :5 )



Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595],(Q.S : Al-Bayyinah : 5)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات :56)

Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Q.S : Addzariyyah : 56)


Kedua ayat diatas menunjukan bahwasanya, Semua yang ada didunia ini pasti mempunyai tugas, dan tidak bisa lepas dari tugas tersebut, seperti macan, yang terkenal dengan hewan buas, padahal diri kita sendiri juga buas karena ada unsur penyimpanan ketika ada sisa dari makanan, seperti makan ikan, sedangkan macan ketika sudah makan dia tidak penyimpanannya lagi, untuk besok atau nanti. Allah memberi tugas kepda makhluqnya supaya semuanya bisa hidup. Seharusnya manusia bisa bertanya pada dirinya sendiri. "manusia diciptakan oleh Allah dengan bentuk yang sempurna seharusnya dia bisa mencari tugas yang ia lakukan". Ketika dia sudah mempunyai rasa kehambaan kepada Allah, maka rasa takut akan timbul pada dirinya.

C. firman Allah dalam surat Arrum : 7

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (الروم : 7)
Artinya : "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai". (Arrum : 7)


Ayat ini menunjukan bahwasanya apabila ada orang yang lupa atas sang pencipta alam semesta ini dan lupa atas siksaannya yang akan menyebabkan rasa takut kapada Allah pada pertengahan pembelajaran dan penelitiannya, maka pemikiran dan penelitiannya akan menjadi hampa, dengan adanya seperti ini maka pengetahuan tentang alam semesta akan menjadi mati, karena pengetahuan tersebut diperinci dalam hatinya tentang hasil pengetahuannya.

F. Aplikasi

Ketika kamu melihat kepada orang yang sedang meneliti bagian atas dari pohon yang besar dengan mempunyai banyak dahan dan juga bercabang-cabang, kemudian dia hanya berkonsentrasi pada bagian atasnya saja dari beberapa dahan tersebut. Maka kamu akan mengetahui apa yang akan menjadi kesimpulan tentang penelitiannya terhadap bagian atas tersebut ?
tidak diragukan lagi sesungguhnya dia telah kebingungan di tengah-tengah penelitiannya, yang mana pada pohon tersebut banyak sekali dahan-dahan yang saling berhubungan, hal itu bisa menyebabkan dia tidak bisa menjelaskan secara keseluruhan hubungan tersebut, dikarenakan jalan penelitiannya telah tertutup, maka dari itu dia akan berputus asa ketika daun-daun yang ditelitinya telah berjatuhan.
Dan dia menerima dengan penemuan- penemuan yang dicapainya, walaupun tidak bisa sempurna untuk mengetahui pohon secara keseluruhan.

Ini adalah kisah orang yang aqalnya terbatas pada penegtahuan-pengetahuan alam dengan ilmu falak, fisika, kimia, atau kedoktoran. Dia tidak bisa mendalami ilmu yang bisa kembali kepada cabang tersebut, yang sudah dipelajarinya. hanya dahan seperti inilah yang bisa dijadikan contoh dalam pengaturan Allah yang maha pencipta dan maha bijaksana.

Menurut pandangan islam versi tasawuf, Ilmuwan adalah orang yang mempelajari sesuatu dengan tidak detail, tapi bisa memberikan rasa takut kepada Allah subhanahu wata'ala. Ketika seorang ilmuwan bisa membuat Mobil Balap, Pesawat Terbang, dan lain-lain yang berhubungan dengan teknologi, sedangkan diri kita sendiri tidak bisa, walaupun seperti itu, kita masih mempunyai rasa takut kepada Allah, contoh: ketika kamu melihat pepohonan yang sangat indah sekali, kamu mempunyai keyakinan bahwa semuanya itu ciptaan Allah dan Dia pula yang merusaknya, maka dalam diri kamu akan mempunyai rasa takut kepada Allah. Begitu pula dengan ilmuwan yang bisa menciptakan Hanpond yang bisa menghubungkan satu sama lain dengan tidak kelihatan sambungannya, hal seperti ini bisa disamakan dengan hubungan kita sama Allah. Yang mana, Allah menyuruh kita untuk mengerjakan kewajiban, walaupun kita sendiri tidak tahu cara membuat hanpond. Maka, kalau dibandingkan antara professor atau ilmuwan yang membuat Hanpond dengan kita sendiri dalam segi derajatnya maka kita sendiri yang mengungguli mereka menurut Allah.

Contoh : matahari, ketika diteliti, maka akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul darinya yang menjadikan dirinya dangkal dalam pemikirkannya, tapi kalau sudah tahu adanya Allah maka akan diketahui titik dasarnya, seperti ketika tidak ada sinar matahari, maka keadaan alam akan menjadi dingin dan gelap, dengan adanya seperti ini makhluq yang ada di alam semesta ini Akan mati karena tidak ada mata pencaharian, ketika hal seperti ini dijadikan sebuah pemikiran, maka akan tambah imannya. Hal ini juga disamakan dengan orang yang memegang gajah tapi yang dipegang ekornya, maka ketika ditanya, gajah itu apa? maka dia akan menjawab "gajah itu adalah pucuk". Maka dari itu mempelajari apapun jangan sebagian saja tapi keseluruhan.

G. kesimpulan

Ilmu dan pengetahuan-pengetahuan tentang alam masih ada hubungan yang sangat kental, hal itu, dikarenakan tidak akan ada ilmu pengetahuan-pengetahuan tersebut kecuali dengan adanya dahan-dahan yang berbeda-beda dari hakikat alam semesta ini. Maknanya, alam semuanya mencakup pada satu kakikat, dan ketika alam semesta ini direkayasa kepada ilmuwan-ilmuwan yang sedang meneliti, sesungguhnya alam semesta terdiri dari beberapa hakikat dan cabang-cabang yang bermacam-macam maka akan terbentuk pula satu kesempurnaan yang hakikat.

0 komentar:

Poskan Komentar