HIKMAH KE-103 Kewelasan di Balik Takdir Allah

Msi

HIKMAH KE-103

Kewelasan di Balik Takdir Allah

« مَنْ ظَنَّ إِنْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ, فَذَلِكَ لِقُصُوْرِ نَظَرِهِ »

"Barang siapa yang mengira bahwa dalam qadarnya Allah tidak terdapat kewelas asihan, maka hal itu karena kepicikan pikirannya."

Imam Ghazali berkata: "Al-lathif adalah orang yang mengetahui seluk beluk kemaslahatan yang samar dan sukar dipahami, kemudian merealisasikan dan mewujudkannya dengan cara yang lemah lembut tanpa kekerasan. Jika kewelasan dan kelembutan ini terkumpul dalam sebuah tindakan dan pengetahuan, maka disitulah terdapat makna luthf. Dan makna ini hanya terdapat secara sempurna dalam dzat Allah."

Memang, karena kesamaran serta tersembunyinya sebuah kemaslahatan, terkadang sebuah usaha harus ditempuh dengan cara yang kelihatannya merupakan cobaan dan kekerasan. Untuk mencapai sebuah kemaslahatan, tidak harus ditempuh dengan cara yang kelihatannya halus dan lemah lembut. Sebagai contoh, untuk membangunkan orang yang tidur agar dia berjaga-jaga dari pencuri atau musuh yang mengintainya, terkadang kita harus melakukannya dengan sedikit keras dengan tujuan agar orang tersebut sadar serta mengawasi keadaan sekitarnya.

Sisi kewelasan (luthf) dalam hal ini adalah melindunginya walaupun sisi ini tidak kelihatan. Bahkan cara tersebut lebih menyerupai tindakan menyusahkan ketimbang menolong dan melindunginya. Akan tetapi, yang menjadi pegangan dalam setiap urusan adalah akibat dan hasil akhirnya. Bukan kulit luarnya dan yang tampak dari hal tersebut.

Sikap melindungi yang wujudnya tidak kentara dan samar, tapi hasilnya terlihat nyata itu merupakan salah satu sifat Allah SWT dalam memperlakukan hamba-hambaNya. Allah berfirman:

اللهُ لَطِيْفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ اْلعَزِيْزُ.

Artinya: "Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; dia memberi rezki kepada yang di kehendaki-Nya dan dialah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa." QS. Asy-Syuro: 19.

Sifat kelemahlembutan (al-luthf) ini adalah yang dikehendaki dalam setiap qadla dan qadar Allah, walaupun qadla dan qadar tersebut berupa wujud bencana dan malapetaka. Artinya, segala bencana dan malapetaka yang Allah turunkan kepada hamba-hambaNya adalah media perantara untuk menunjukkan sifat kewelas asihan dan kelembutan Allah. Jadi, yang dikehendaki bukanlah bencana itu sendiri. Jika Allah memberikan cobaan kepada hambaNya berupa kemiskinan setelah kecukupan, penyakit setelah kesehatan, atau kesusahan setelah kebahagiaan, maka hal itu semata-mata dimaksudkan untuk mengobati dan membersihkan penyakit dan keburukan yang dideritanya.

Begitu pula seorang hamba yang mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya, baik dalam hal perdagangan, pendidikan, pekerjaan, atau urusan keluarganya, hal itu karena apa yang diinginkannya itu tidak terdapat kebaikan dan kemaslahatan baginya. Karena kebaikan dan kemaslahatan tersebut justru terdapat dalam keputusan yang telah Allah pilihkan sebagai gantinya. Keputusan Allah tersebut lebih baik dan lebih maslahat bagi dirinya. Jadi, jika seseorang menganggap bahwa apa yang terjadi ini tidak sesuai dengan yang diharapkannya sebagai suatu keburukan dan siksaan, maka hal itu karena orang tersebut berpikiran sempit. Hal inilah yang akan ditangani oleh Imam Ibnu Athoillah dalam hikmah ini.

Obat untuk mengatasi penyakit di atas adalah rasa yakin dan mantap terhadap kebijaksanaan Allah, rahmat dan kelembutannya. Obat lain adalah pengalaman-pengalaman yang dialami manusia. Jika kita mau merenungi segala macam cobaan dan kejadian yang datang tiba-tiba dan tidak sesuai dengan keinginan kita, maka kita akan bersyukur kepada Allah sebanyak dua kali atas datangnya cobaan-cobaan itu. Yang pertama untuk mensyukuri atas kebaikan-kebaikan yang terkandung dalam cobaan itu. Dan yang kedua atas nikmat bahwa Allah telah menjaga kita dari keburukan yang ada dalam keinginan kita, sehingga Allah menggantinya dengan yang lebih baik dari itu.

Walhasil, apa yang tampak oleh mata kita tidak selamanya menunjukkan terhadap hakikat di belakangnya. Jika kita mau merenung dan tidak mempersempit pikiran dan akal, kita akan melihat kebaikan dan hikmah yang agung di balik setiap cobaan yang menimpa pada setiap manusia.

Selanjutnya, perlu digarisbawahi, bahwa hal yang demikian itu, yakni dalam setiap kodratnya Allah selalu ada hikmah dan kebaikan yang tersembunyi di belakangnya, hal ini tidak berlaku bagi setiap golongan manusia. Ketetapan ini tidak berlaku untuk orang-orang yang sombong (al-mustakbirin) dan yang mengingkari Islam (al-jahidin). Semua hikmah-hikmah ini khusus untuk orang-orang mukmin dan mereka yang dijaga dari sifat sombong dan ingkar.

Adapun golongan yang kedua ini, yakni mereka yang sombong (al-mustakbirin) dan yang mengingkari Islam (al-jahidin), maka sudah menjadi sunnatullah bahwa mereka akan diperlakukan dengan kebalikan dari hikmah yang sedang dibahas ini. Artinya, Allah akan melapangkan jalan mereka menuju kesenangan dan pemuasan nafsu syahwat, mewujudkan semua keinginan dan ambisi mereka. Tapi, pada akhirnya mereka akan mendapatkan akibat yang sangat menyakitkan atas semua nikmat-nikmat yang mereka terima itu. Banyak ayat-ayat yang menjelaskan rahasia ketuhanan (sirah rabbaniyyah) ini. Di antaranya adalah surat al-Qolam ayat 44 yang berbunyi:

فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا اْلحَدِيْثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَايَعْلَمُوْنَ. وَأُمْلِيْ لَهُمْ إَنَّ

كَيْدِيْ مَتِيْنٌ.

Artinya: "Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan Ini (Al Quran). nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi penangguhan (atas siksaan) kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh." QS. Al-Qolam: 44-45.

Dan juga surat al-Hijr ayat 3:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ اْلأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ.

Artinya: "Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)." QS. Al-Hijr: 3.

Kita akan melihat sunnatullah ini secara lebih jelas dan gamblang dalam surat al-An'am ayat 6 yang berbunyi:

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا

السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوْبِهِمْ وَأَنْشَأْناَ مِنْ

بَعْدِهِمْ قَرْناً آخَرِيْنَ.

Artinya: "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami mapankan kedudukan mereka di muka bumi dengan kemapanan yang belum pernah kami berikan kepadamu, dan kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, Kemudian kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." QS. Al-An'am: 6.

Jika kamu sudah meresapi dan memahami hakikat dari hikmah ini, maka janganlah kamu merasa aman dan menjadi lengah jika mendapatkan nikmat yang berlimpah. Begitu juga ketika kamu mendapat musibah dan cobaan, jangan berburuk sangka kepada Allah. Yakinlah bahwa segala kepahitan yang menimpa kita itu merupakan cara Allah untuk menggiring kita mengobati penyakit yang bersarang dalam diri kita. Jika kita sudah bisa menerapkan sikap ini dalam kehidupan kita, maka sesungguhnya kita telah menempuh jalannya para rabbani yang hidup dalam kenikmatan dan menjauhi dunia dan isinya menuju Allah. Wallahua'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar