HIKMAH 14 : AGAR HATI TIDAK TERALINGI

الكونُ كلُّه ظُلْمةٌ وإنَّما أنارَهُ ظهورُ الحقِّ فيه فمن رأى الكونَ ولم يشهدُهُ فيه أو عنده أو قَبْلَه أو بَعْدَه فقد أَعْوَزَهُ وجودُ الأنوارِ وحُجبَتْ عنه شموس المعارفِ بسُحُبِ الآثار



“Alam ini serba gelap. Ia terang hanyalah karena tampaknya Allah didalamnya. Siapa melihat alam namun tidak menyaksikan tuhan di dalamnya, padanya, sebelumnya, atau sesudahnya, maka ia benar-benar memerlukan cahaya dan surya makrifat teralingi baginya oleh awan benda-benda ciptaan”

Mutiara hikmah ini bermula dari firman Allah yang berbunyi:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [النور/35]

35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[1039], yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[1040], yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

[1039] yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, Biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.
[1040] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.

Dalam penggalan pertama hikmah ini Ibnu 'Athaillah mengatakan bahwa semua alam ini serba gelap dan Allah lah yang menyinarinya. Alam yang terlihat oleh mata kita ini bisa saling tersusun dan berinteraksi karena adanya cahaya yang masuk pada alam tersebut. Sumber cahaya tersebut tak lain adalah dari Allah swt. Hal ini terjadi karena alam semesta ini tidak bisa wujud dengan sendirinya melainkan karena diciptakan oleh Allah swt.

Cahaya yang menjadi pondasi wujudnya alam semesta ini dibagi menjadi dua :
1. Cahaya yang terlihat oleh mata
Cahaya ini adalah cahaya yang menyinari segala sesuatu yang terlihat oleh mata. Cahaya ini tersusun oleh dua unsur yaitu cahaya matahari yang menyinari alam semesta dan cahaya dari dalam mata manusia. Kedua cahaya ini saling mendukung dan jika salah satunya tidak ada, maka kita tidak mungkin bisa melihat alam semesta ini.

2. Cahaya yang terlintas oleh akal
Cahaya ini adalah cahaya yang masuk pada juz-juz suatu benda. Dengan adanya cahaya tersebut suatu benda bisa terlihat dan terlintas dalam akal walaupun tidak terlihat oleh mata. Jadi akal sendiri adalah sebuah cahaya yang menyinari otak sehingga bisa menemukan kenyataan suatu benda yang tidak bisa dilihat oleh mata.

Dalam kehidupan manusia ini ada 2 alat yang sangat fital yaitu mata manusia (بصر) dan mata hati (بصيرة). Masing-masing memiliki cahaya yang mempunyai pekerjaan dan fungsi sendiri-sendiri. Cahaya mata adalah untuk melihat dhahirnya suatu benda sedangkan cahaya mata hati adalah untuk menemukan hakikat benda-benda yang samara (belum jelas).

Jika penglihatan mata tergantung pada wujud dan tidaknya cahaya atau sinar mata hari maka penglihatan dengan cahaya hati juga tergantung pada cahaya yang menyerupai wahyu ilahi. Cahaya ini akan membuka akal dari hakikat sesuatu yang masih samar.

Alam pada asal mulanya adalah suatu kegelapan lalu muncul cahaya sehingga alam tersebut bisa terlihat oleh mata. Mata pun sebelumnya adalah sesuatu yang gelap lalu di dalamnya terdapat cahaya dan akhirnya mata menjadi alat untuk melihat gambar ataupun warna suatu benda. Adapun akal, sebelumnya adalah sesuatu yang tidak ada wujudnya (ketika manusia lahir) lalu timbul adanya cahaya yang menyinari otak sehingga bisa menemukan benda-benda yang samar.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa cahaya adalah rahasia alam semesta ini. Cahaya juga merupakan alat wujudnya alam dan mutiara mahluk yang di dalamnya terdapat mata untuk melihat dan akal untuk berfikir.

Lalu dari manakah sumber cahaya yang menjadi rahasia wujudnya alam semesta tersebut? Cahaya tersebut tak lain adalah dari Allah swt. Cahaya tersebut menyinari kegelapan (sesuatu yang tidak wujud) sehingga alam semesta ini bisa terwujud. Inilah makna dari penggalan pertama hikmah Ibnu 'Athaillah :

الكونُ كلُّه ظُلْمةٌ وإنَّما أنارَهُ ظهورُ الحقِّ فيه

Sumber hikmah ini tak lain adalah dari firman Allah :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [النور/35]

Dan sebaik-baik penafsiran adalah yang mengatakan bahwa "النور" di sini bermakna "المنور" yaitu Allah swt.

Cahaya akal memang tidak terlihat namun mengingkari wujudnya wujud cahaya tersebut merupakan suatu kebodohan. Akal yang bisa menemukan sesuatu adalah cahaya sedangkan mata yang bisa melihat gambar-gambar dan warna-warna juga merupakan cahaya. Suatu benda yang dilihat oleh mata dan ditemukan oleh akal adalah bagian dari cahaya yang saling tersusun dan menyatu sehingga menjadi benda yang bisa terlihat dan memiliki jenis atau nama yang berbeda-beda.

Dalam ayat di atas lafadz "نور" disandarkan (diidlofahkan) pada "السموات والارض". Lalu apakah ini berarti bahwa cahaya tersebut muncul dari langit dan bumi itu sendiri? Tentu saja tidak. Ayat tersebut justru memberikan pemahaman yang berbalik dari argumen di atas. Walaupun sama-sama bermakna cahaya namun antara "النور" dengan "الضياء" atau "السراج" ada perbedaan yang sangat signifikan. نور adalah sinar yang menetap pada suatu perkara yang terpantul dari perkara lain sedangkan الضياء atau السراج adalah sinar yang muncul dari dalam perkara tersebut. Oleh karena kita tidak boleh mengatakan "غرفة مضيئة" tapi harus mengatakan "غرفة منيرة". Hal ini tak lain karena sinar pada kamar tersebut berasal dari sinar lampu. Adapun matahari maka sinar tersebut muncul dari dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu kita harus mengatakan "شمس مضيئة" bukan "شمس منيرة".

Pemahaman di atas juga dapat kita telaah dalam firman Allah yang lain yaitu dalam surat yunus : 5 :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ [يونس/5]

5. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.

[669] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.

Di sini Allah meredaksikan "الشمس" dengan "ضياء" dan "القمر" dengan "نورا". Hal ini tak lain karena sinar matahari berasal dari dirinya sendiri sedangkan sinar rembulan adalah pantulan dari sinar matahari. Dalam surat Al-Furqan : 61 juga dijelaskan :

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا [الفرقان/61]

61. Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.

Inilah sebuah bukti bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah swt yang telah menciptakan matahari dan rembulan serta memberitahu sumber dari cahaya masing-masing. Marilah kita merujuk pada ayat Allah :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [النور/35]

Coba kita lihat bagaimana Allah meredaksikan ayat tersebut dengan kata "النور" bukan "الضياء". Dari sini kita bisa memahami bahwa sinar yang ada pada langit dan bumi (alam semesta) bukan muncul dari dirinya sendiri melainkan dari dzat yang menciptakan alam tersebut yang tak lain adalah Allah swt.

Seandainya cahaya alam semesta ini muncul dari dalam dirinya sendiri maka redaksi pada ayat tersebut pasti akan menggunakan "الضياء" bukan "النور". Lalu kenapa Allah menisbatkan cahaya tersebut pada dzatnya sendiri? Dari sini dapat dipahami bahwa semua mahluk yang ada di alam semesta ini muncul dari cahaya rabbany (cahaya ketuhanan) dan semua yang terlihat oleh mata atau terpikirkan oleh akal kita, tak lain adalah dari cahaya Allah swt.
Sekarang kita menuju pada penggalan kedua hikmah Ibnu 'Athaillah. Di sana beliau mengatakan :

فمن رأى الكونَ ولم يشهدُهُ فيه أو عنده أو قَبْلَه أو بَعْدَه فقد أَعْوَزَهُ وجودُ الأنوارِ وحُجبَتْ عنه شموسُ المعارفِ بسُحُبِ الآثار

“Siapa melihat alam namun tidak menyaksikan tuhan di dalamnya, padanya, sebelumnya, atau sesudahnya, maka ia benar-benar memerlukan cahaya dan surya makrifat teralingi baginya oleh awan benda-benda ciptaan”

Meskipun seluruh alam ini diciptakan dari nur ilahi, tetapi semua perwujudannya tampil sebagai cahaya dan bayang-bayang, baik dan buruk, siang dan malam. Penciptaan manusia mempunyai makna dan tujuannya sendiri, yang berasal dari nur azali, yakni sebab yang selalu ada di balik perubahan pengalaman duniawi yang tampak.

Inti dari hikmah Ibn 'Athaillah adalah mendorong kepada kita semua agar jangan sampai segala apapun di bumi ini menjadikan kita buta akan dzat yang suci yang menciptakan segalanya. Dan juga mendorong agar segalanya dapat dijadikan cermin pada individu masing-masing. Akhir kata kemulyaan manusia adalah kembali kepada Allah dengan lantaran Nur Ilahi.

0 komentar:

Poskan Komentar