Hikmah 255 Barokah yang tidak bisa dilihat oleh panca indera

من بورك له في عمره أدرك في يسير من الزمن من منن الله تعالى

مالا يدخل تحت دوائر العبارة, ولا تلحقه الإشارة


"Barang siapa orang yang diberkahi umurnya, maka dia akan menemukan dari beberapa keanugerahan Allah dalam waktu yang sedikit, sesuatu yang tidak masuk dibawah kepahamannya, dan tidak ditemukan isyaroh".

A. Penjelasan


Hikmah ini merupakan hasil dari hikmah sebelumnya yang berbunyi :
رب عمر إتسعت اماده وقلت أمداده

ورب عمر قليلة اماده كثيرة أمداده

Dalam hikamh ini, Ibnu Atho'illah menerangkan bahwasanya, banyak sekali orang yang mempunyai umur panjang, tetapi isinya sedikit dan banyak sekali orang yang umurnya pendek tetapi dia mempunyai isi yang banyak. Hal ini menunjukan ada rahasia yang telah diberikan oleh Allah kepada hambaNya, yang disebut dengan barokah.

Keterangan ini menimbulkan pertanyaan kepada mukhotob. Kenapa Ibnu Atho'illah memberikan rahasia terhadap barokah tersebut ? yang di'ibarotkan dengan.

من بورك له في عمره أدرك في يسير من الزمن من منن الله تعالى

مالا يدخل تحت دوائر العبارة, ولا تلحقه الإشارة



Seorang hamba yang telah diberi kebaikan oleh Allah subhanahu wata'ala, bisa dilihat dari kehidupannya yang penuh dengan yang barokah. Dalam hal ini, yang menjadi rahasia bukan umur panjang atau pendeknya, tetapi amal (pekerjaan) dan kesunguhannya. Dan juga, itu semua merupakan keberkahan yang diberikan Allah subhanahu wata'ala.


Dalam pernikahan, barokah merupakan sesuatu yang diinginkan oleh semua orang. Hal ini bisa terlaksana dengan menjadi keluarga yang sakinah (tenang) wamaddah warohmah (saling menyayangi), dan sebagian bentuk dari tenang ialah mempunyai rumah sendiri, parabotan dan lain-lain yang berhubungan dengan kecukupannya. Mawaddah sakinah akan terbentuk ketika satu sama lain saling membutuhkan.

Disamping itu, barokah bisa diibaratkan dengan buah-buahan yang asli dan tidak asli (mainan). Karena hamba Allah yang sudah diberi kebaikan olehNya berupa berokah, akan berbeda dengan hamba yang tidak mendapatkan barokah dariNya.

B. Cara mendapatkan barokah.

Seorang hamba. Ketika ingin mendapatakan barokah maka dia harus menetapi dua syarat yaitu :
1. Waktu dan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada hambaNya untuk beribadah Jangan sampai digunakan untuk hal duniawi, dan gunakanlah waktu tersebut, dengan semangat.

2. Syarat pertama, harus dibarengi dengan kegiatan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, hal itu bisa dilakukan dengan selalu meminta pertolongan dan membutuhkanNya untuk mendapatkan taufiqNya dalam hati seorang hamba.

Ketika hamba tersebut, melaksanakan ibadah dengan semangat, dan selalu meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wata'ala, maka Dia akan memberikan kemudahan dan keterbukaan terhadapnya. Umur yang panjang bukanlah sebuah ukuran dalam mendapatkan barokah, tetapi yang menjadi tolak ukur ialah pertolongan Allah, amal dan tugas yang bias mendekatkan diri kepada Nya.

Hal tersebut, ketika dipandang secara dlohir maka akal tidak akan menerima, karena dengan umur yang panjang seorang hamba akan mendapatkan banyak kesempatan untuk beramal baik dan melalukan ibadah kepada Allah. Ini merupakan tuntutan kepada hamba untuk selalu meminta kepada Allah.


C. Barokah yang terucap pada lisan.

Nama istilah yang sudah beredar di Negara kita, khususnya dalam permasalahan bahasa, sudah menjadi sebuah istilah yang masuk ke dalam bahasa Indonesia dan juga menjadi kebiasaan lisan yang sering diucapkan oleh bangsa kita.

Begitu juga dengan kata barokah yang menjadi pembahasan dalam hikmah ini. Kata tersebut merupakan ejaan yang diambil dari bahasa arab dan sudah menjadi kebiasaan sering diucapkan oleh lisan orang Indonesia. Seperti halnya orang Indonesia, ketika sudah melaksanakan 40 hari orang yang mati atau 7 hari orang melahirkan yang merupakan tradisi di Negara kita, dia akan mendapatkan sebuah bingkisan yang isinya makanan. Maka dia akan mengatakaan saya telah mendapatkan berkat.

Kata ini diambil dari bahasa arab yaitu barokah, kemudian dimasukan kedalaam bahasa Indonesia menjadi berkah, dan sudah menjadi kebiasaan pada lisan orang Indonesia dengan perkataan berkat. Hal ini, menunjukan adanya kata tersebut berbeda dengan kata barokah yang menempel pada para ulama atau wali-wali Allah yang telah diberikan keanugerahan oleh Nya.

Disamping itu kata tersebut hanya bias diucapkan oleh lisan, tidak bias dirasakan oleh perasaan yang bias mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala. Karena kata tersebut hanya bias dinisbatkan kepada sesuatu yang berhubungan dengan makanan seperti keterangan diatas.

E. Dalil

a. Firman Allah dalam surat Al-‘Ala' : 1-3

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى (1) الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى (2) وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى (3) (الأعلى : 87 / 1-3)

Artinya : "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi.(1) Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya).(2) Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk".(3). (Q.S. Al-‘Ala' : 1-3).

Allah subhanahu wata'ala dalam memberikan kebaikan kepada makhluqNya berupa rahasia yang tidak bias dijangkau dengan panca indra. Dikarenakan itu semua merupakan kekuasaan Nya.

b. Hadist nabi

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :استعن بالله و لا تعجز

Artinya : "Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda : "Minta tolnglah kepada Allah dan jangan lemah".

Hadist ini menerangkan, bahwa rasulallah menyuruh kepada umatnya untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah.

D. Bukti sejarah.

Allah memeberikan kekhususiyahan kepada hambaNya dengan berbagai penomena yang tidak mungkin terjadi menurut aqal manusia.Hal ini merupakan pemberian anugerah dari Nya, seperti yang terjadi pada sebagian wali Allah atau ulama yang notabennya sudah taqorrub kepada Allah.

Barokah menjadi peran utama dalam pembahasan disini, dan juga merupakan anugerah dari Allah subhanahuw ata'ala kepada hambaNya, atas melakasanakan perintahNya dan mejauhi laranganNya. Hal itu sudah terbukti pada zaman rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam, katika beliau menikahkan purtinya saidah Fathimah Az-Zahro' dengan putra pamannya saidina ‘Ali karomallahu wajhah, beliau berdo'a kepada Allah dengan kelimat.

بارك الله لكما وعليكما وجمع بينكما بخير

Kalimat ini menunjukan do'a yang dibacakan oleh rasulallah shalallahu ‘alaihi wasalam, Bentuk dari adanya barokah pada kalimat tersebut ialah lapadz وجمع بينكما بخير

Disamping itu, sebagian wali Allah dalam menghasilkan ilmu dan mengarangnya yang begitu banyak, ditempuh dalam jangka waktu yang relative singkat. Dan ilmu yang dipelajarinya merupakan ilmu syari'at yang bias mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala.

Seperti Imam Nawawi dari Damasqus. Beliau bisa mengrang kitab yang notabennya diatas rata-rata, disamping itu karang beliau sangat banyak dengan ditempuh dalam jangka waktu yang relative sangat singkat, karena umur beliau hanya empat puluh lima tahun. Pada waktu belajar beliau sorogan kepada gurunya sebanyak dua belas kitab, diantara fan yang beliau pelajari waktu sorogan yaitu fiqih, ushulfiqh dan lain-lain.

Waktu belajar dan mengarang yang digeluti olehnya, jika dibandingkan dengan umurnya, maka tidak akan mencukupi. Karena dua belas kitab dengan fersentase satu kitab satu jam, maka beliau akan membutuhkan dua belas jam, dan jika waktu persiapan untuk sorogan satu jam per kitab, maka beliau juga akan membutuhkan waktu dua puluh empat jam dalam mencari ilmu. Kapan beliau makan, ke kamar mandi dan tidur ?.

Ini semua merupakan rahasia Allah yang diberikan kepada beliau, anugerah yang diberikan Allah kepadanya begitu banyak sampai tidak ada orang yang menandingi ke ‘aliman beliau, karangan beliau yang peling kecil yaitu "Arba'in Nawawi dan yang paling besar yaitu Riyadus sholihin.

Kalau secara matematika angka empat puluh lima yang menjadi umur beliau. Maka beliau menghabiskan waktu dua puluh tahun untuk belajar dan dua puluh lima tahun untuk mengarang kitab yang begitu banyaknya. beliau mengarang kitab dalam jangka waktu sehari hanya sekuras, jika sehari semalam, maka beliau akan mendapatkan dua halaman. Dan hal ini, akan terbukti jika dihhitung antara umur dan karangannya. Disamping menulis beliau juga mengajar, berdzikir dan ibadah.

Syaikh As-Sakakir dari Damasqus Syiria'juga mengalami hal seperti ini, beliau mengarang kitab tarikh yang mencapai delapan puluh jilid. Hal ini terbukti dengan adanya percetakan yang memperbanyak kitab tersebut melewati beberapa tahap yang terus berlanjut sampai hitungan tahun. Setiap tahun kitab tersebut dicetak lima jilid, tetapi terkadang satu jilid tapi besar. Keadaan seperti ini, dilakukan secara terus menerus sampai mencapai delapan puluh jilid. Ini menjadikan sebuah pemikiran. Seperti apa belaiu menulis ini, sedangkan kemungkinan antara umur dan karang beliau tidak sesuai ? Kemudian kitab ini diringkas sama Imam Mundzir.

0 komentar:

Poskan Komentar